Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Izin Untuk Berjalan-jalan.


__ADS_3

Kejujuran adalah pondasi rumah tangga, jika kejujuran sudah tidak penting maka rumah tangga akan rentan dengan pertengkaran kecil yang semakin lama akan menjadi semakin besar. Kejujuran yang utama dan kesetiaan yang kedua, keduanya memiliki kedudukan yang setara seringkali berakhirnya bahtera rumah tangga hancur karna kedua kata itu ternoda.


Kei merasa lega setelah mengatakan sebuah kejujuran yang selama ini ia simpan, perasaanya kini sudah tidak lagi was-was jika tuan Ken mengetahui semuanya.


Setelah semuanya sudah tidak ada yang tersimpan, Kei dan Ken menjalani kehidupan seperti biasa. Tuan Ken tidak memberi respon langsung tentang ketidaksempurnaan Kei tetapi dia juga tidak menunjukkan reaksi penolakan. Semua berjalan seperti biasanya. Ken masih sama, menjadi suami yang over protective dan juga over posesif.


Sampai detik inipun lelaki itu belum pernah mengatakan kejujuran apapun, baginya sikap dan perbuatannya sudah mewakili segalanya. Meski Kei sangat bingung dengan sikap tuan Ken tetapi tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk menanyakan sebuah alasan kenapa masih mempertahankan pernikahan ini, rasanya tidak akan berani. Kei hanya diam dan menuruti semua sikap tuan Ken. Meski suaminya suka berlebihan tetapi Kei mulai terbiasa dan menyukai, untuk itu Kei sangat bersyukur setelah menceritakan kejujurannya kemarin sikap tuan Ken tidak berubah dan sama sekali tidak menunjukan kemarahan.


"Kau tidak ingin kembali bekerja diKantor?" Ken memberi pertanyaan kepada Kei. Sekarang mereka sedang menikmati sarapan pagi. Sudah 5hari Kei berdiam diri dirumah.


"Aku masih takut dan malu ingin kembali keKantor." Kei menjawab dengan mengunyah makanan yang ada di mulutnya.


"Tidak akan ada yang berani berbuat macam-macam, semua sudah tau."


"Aku terlalu malu."


"Hem... baiklah, jika kau siap kembali ke Kantor kau tinggal berangkat saja. Bukan menjadi OB, menjadi sekretaris pribadiku."


"Tuan..."


"Hem.."


"Bolehkah aku keluar jalan-jalan, aku bosan tinggal dirumah saja." Kei memberanikan diri meminta izin. Ken nampak berpikir, sangat berat untuk memberi izin.


"Sebentar saja, aku ingin mencari angin segar."


"Baiklah aku izinkan, tetapi ada 2pengawal yang akan menjagamu."


"Tetapi tuan, aku tidak akan nyaman jika diikuti pengawal."


"Tidak ada bantahan." bagai kata keramat, jika kata itu keluar. Mau tidak mau daripada tidak bisa keluar lebih baik menurut.


"Diluar rumah tidak boleh lebih dari 1jam, jika telat 5menit aku akan mengeluarkan pasal." seakan tidak percaya, Kei membelalakan kedua bola mata.


"Kau berani denganku!"


"Tidak-tidak. Tapi tuan, kenapa waktunya hanya 1jam berikan tambahan waktu 1jam lagi... ya-ya... plis.." bernegosiasi.


"Mau apa selama itu berkeliaran diluar?"

__ADS_1


"Aku ingin bertemu temanku."


"Teman?"


"Mbak Dewi, temanku bekerja jadi OB."


"Selama berada diluar, harus sering menelponku."


"Iya, terimakasih tuan." Kei tersenyum lebar dan kembali menikmati makanan hingga habis. Ken merasa senang ketika melihat Kei bisa tersenyum lebar, seakan luka yang kemarin sudah hilang.


Kei mengantar tuan Ken kedepan pintu mengantar keberangkatan suaminya.


"Aku berangkat, ingat! kau harus menelponku saat berada diluar rumah."


"Iya... tuan Ken." Kei mencium punggung tangan suaminya, Ken berganti mencium kening Kei.


"Hati-hati." Kei berpesan, Ken mengangguk.


Mobil yang dikendarai tuan Ken sudah melesat kejalan raya, Kei ingin segera bersiap-siap.


Ketika akan melewati meja makan, terlihat Ita sedang membereskan sisa makanan bersama 2pelayan lainnya.


___________________


Sebelum mengajak mbak Dewi bertemu, Kei lebih dulu mengirim massage untuk memberitahukan jika ia ingin bertemu. Awalan mbak Dewi menolak karna jadwal kerja yang tidak bisa ditinggal, tetapi Kei mulai pandai memanfaatkan kedudukannya untuk meminta bantuan kepada tuan Ken selaku pemilik Perusahaan agar bisa memberikan izin. Meski cukup sulit tetapi Kei berhasil merayu tuan Ken dan akhirnya mendapat izin.


Keduanya sudah bertemu janji disebuah Cafe klasik yang tidak terlalu jauh dari Kantor.


"Mbak Dewi..." Kei memanggil dengan melambaikan tangannya. Dewi tersenyum dan menghampiri dimeja Kei.


"Kei, aku kangen.. bagaimana, lukamu sudah sembuh."


"Aku juga kangen banget mbak, seperti yang mbak lihat lukaku sudah sembuh." .


"DiKantor aku kesepian, kamu tidak ada." kata mbak Dewi.


"Aku masih terlalu malu jika harus pergi ke Kantor mbak, kejadian itu benar-benar menghebohkan seluruh karyawan sudah tau."


"Ah iya, kau benar Kei. Ya Tuhan, aku benar-benar tidak percaya ternyata teman OB ku seorang istri dari pemilik Perusahaan. Fakta apa coba? bagaimana bisa kau menjadi OB diKantor suamimu sendiri." Dewi menggeleng-gelengkan kepala.

__ADS_1


"Itu ceritanya terlalu panjang mbak, yang jelas waktu itu aku sedang menjalani hukuman." Kei sengaja berbohong untuk menutupi kebenaran yang rumit dan panjang untuk dijelaskan, tidak tepat jika harus bercerita sekarang. Dia ingin menikmati waktu yang diberikan tuan Ken hanya untuk bersenang-senang tanpa membahas rumah tangganya.


"Hei... boleh bergabung." Kei dan Dewi menoleh. Kei terkejut Tristan sudah berdiri disamping mejanya. Dewi hanya diam karna tidak mengenal.


"Tuan... tolong menyingkirkan, jangan dekati nona kami." dua pengawal yang berjaga dimeja sebelah Kei tadi sudah berdiri untuk membentengi Kei.


Tristan benar-benar terkejut mendengar pengawal itu menyebut Kei dengan nona kami, seperti yang Tristan tau Kei hanyalah seorang OB.


"Kei, bisa jelaskan apa maksut mereka mengatakan kau nona mereka?"


"Tuan, benar yang dikatakan mereka, tolong pergilah jangan mendekatiku."


"Kau penuh kejutan Kei, sebenarnya siapa kau?" Tristan bertanya penasaran.


"Aku wanita yang sudah bersuami,"


"Jadi, kau sudah menikah?" Tristan tidak percaya.


"Iya, aku sudah menikah." Kei menjawab dengan tegas. Agar Tristan tidak lagi menghampirinya saat bertemu karna itu akan menyulitkannya jika Tuan Ken mengetahui.


"Waktu itu kukira kau hanya bercanda Kei. Hah... aku sudah patah hati sebelum berjuang." Tristan berterus terang mengatakan itu didepan Kei. Kei tidak menanggapi ucapan itu.


"Maaf tuan, kami harus pergi." Kei bangkit dari duduknya, mbak Dewi juga ikut bangkit. Kei tidak ingin mengambil resiko besar jika tuan Ken mengetahui dia bertemu dengan Tristan meski pertemuan yang tidak disengaja.


"Kei-kei, ya Tuhan... nasibmu beruntung sekali bisa dikelilingi lelaki tampan dan kaya. Kau sungguh beruntung Kei, aku iri padamu."


"Tidak perlu iri mbak, terkadang dikelilingi lelaki tampan itu menyulitkan."


"Kita mau kemana Kei, belum sempat memesan makanan tetapi kau sudah buru-buru cabut. Aku laper tau." Dewi sedikit kesal.


"Iya maaf mbak, aku tidak ingin mengambil resiko jika terus berada di Cafe itu. Kita pindah saja yuk.."


"Hem, oke deh."


"Mbak bareng naik mobilku saja."


"Tetapi motorku?"


"Motornya biar diurus sama pengawal."

__ADS_1


"Wah... enak ya, Kei kalau jadi orang kaya semua tinggal memberi perintah."


__ADS_2