Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Mengunjungi Mira.


__ADS_3

Setelah menghabiskan makanan, Lee meninggalkan beberapa lembar uang diatas meja untuk membayar tagihan makanan.


"Tuan sekretaris, uangnya jangan ditaruh sembarangan nanti diambil orang."


"Biarkan saja, nanti diambil pelayan itu." dan benar seorang pelayan sudah berjalan kearah mereka.


"Ayo aku antar kamu pulang." Lee berdiri, Dewi ikut berdiri keduanya berjalan bersama keluar dari Cafe. Berjalan berdua menuju tempat parkir, mengambil helm dan memakainya.


"Jangan lupa pegangan yang erat." ucap Lee.


"Ah, tuan sekretaris bisa saja menyindirku. Kalau anda kebut-kebutan dijalan 'kan aku takut."


"Terserah kau saja. Cepat naik." Dewi kembali memegang bahu Lee dan naik diatas motor. Baru keluar dari halaman Cafe Lee melajukan kendaraanya dengan pelan.


"Tuan sekretaris terima kasih ya, sudah mau menghantarkan aku pulang dan juga terima kasih untuk makanan yang tadi. Aku akan mencicil hutangku."


"Ya." singkat, jelas, padat Lee menjawabnya. Dewi kesal mendengar jawaban sekretaris Lee yang singkat. Menggerakkan bibirnya menggerutu pelan.


"Hei nona, aku bisa mendengarmu." kata sekretaris Lee. Dewi segera menutup mulut, berganti memaki dalam hati.


"Tuan sekretaris aku tersanjung karna kau memanggilku dengan sebutan nona." Dewi tersenyum lebar, tidak bisa menutupi ekspresi kebahagiaan.


"Aku memanggilmu nona karna tidak tau namamu." senyum lebar menghilang berganti ekspresi kesal, bernafas dengan kasar menerutuki dirinya sendiri bagaimana bisa ia mengagumi lelaki didepannya ini. Ucapan yang keluar dari mulutnya selalu terdengar menyebalkan.


"Anda ingin tau namaku?"


"Tidak." menjawab dengan cepat.


"Hist..."


"Haha... aku bercanda." berganti Lee tertawa lebar, Dewi memperhatikan dari kaca spion. Baru pertama melihat sekretaris Lee bisa tertawa seperti itu. Lee yang menyadari sedang diperhatikan langsung menghentikan tawanya.


"He'em..." berdehem untuk menetralkan sikap.


"Memang siapa namamu?" akhirnya Lee menanyakan siapa namanya.


"Aku berubah pikiran tidak mau memberitahu namaku, nanti anda tidak lagi menyebutku nona."


"Tidak sulit, tinggal bertanya kepada kepala OB."


"Hem baiklah, namaku Dewi."


"Eum, nama yang bagus."


"Terima kasih." sepanjang perjalanan mereka berdua mengobrol ringan tentu saja Dewi yang lebih banyak berbicara. Tidak berapa lama sudah sampai didepan rumah Dewi. Rumah minimalis terasa sejuk karna ada beberapa pohon rindang dan banyak bunga berjejer rapi.


Dewi turun dari motor, " Tuan sekretaris, sekali lagi terima kasih." Dewi tersenyum. Lee mengangguk.

__ADS_1


"Tuan tidak ingin masuk dulu?" berbasa-basi menawari.


"Lain kali saja, aku pulang." kata Lee. Dewi mengangguk.


"Hati-hati..." melambaikan tangan, terus melihat tuan sekretaris pergi hingga tidak terlihat.


"Ah... rasanya seperti diantar oleh pacar. Hihihi..." Dewi cekikikan sendiri.


____________________


"Tuan..."


"Hem..."


"Boleh tidak, besok aku menemui Mira."


Tak...


Suara ponsel yang diletakkan dengan kasar diatas meja, menatap tajam.


"Kenapa?" begitu saja Kei sudah ketakutan, mengalihkan pandangan.


"Kau juga ingin menemani wanita rubah itu!" bertanya dingin, Ken tersulut emosi saat mendengar nama Mira.


"A-aku hanya ingin melihatnya saja, tuan."


"Kenapa masih perduli dengannya, dia sudah menyakitimu!" Kei mengangguk.


"Besok mami pulang, kita bisa mampir kesana." Kei terkejut mendengar perkataan Ken, bukankah itu artinya tuan Ken memberikan izin.


"Iya-iya...terima kasih tuan, semakin kesini kau semakin baik." senyum mengembang.


"Apa maksudmu? memang kemarin aku jahat?" bertanya, sudah merasa kesal.


"Kenapa malah marah, aku 'kan memujimu!" Kei ikut kesal.


"Harusnya memuji dengan benar."


"Kau selalu baik disetiap saat tuanku tersayang." pertama kali menyebut dengan tuanku tersayang, Ken yang mendengar langsung mengembangkan senyum. Merasa sangat senang mendengarnya.


"Kau memanggilku apa?" pura-pura tidak dengar.


"Ah... tidak! aku sudah lupa."


"Sepertinya aku juga lupa, besok mami ditunda kepulangannya kita tidak jadi pergi."


"Hisss..." Ken melirik. 'Kau pasti sengajakan tuan! dasar arogan! mengalah Kei, mengalah...'

__ADS_1


"Eum, baiklah aku akan mengulangi, kau yang terbaik tuanku sayang."


Cup... Ken mengecup bibir Kei sekilas dan tersenyum.


_____________________


Ken dan Kei sedang berada diperjalanan menuju ke Bandara, setelah itu mereka akan mengunjungi Kantor Polisi untuk menemui Mira.


"Halo sayang... mami merindukan kalian." mami Mira bergantian memeluk Ken dan Kei.


"Mami sehat?" Kei bertanya.


"Sehat sayang." mereka berjalan keluar Bandara menuju kemobil yang sudah siap didepan Bandara. Mobil melaju menuju ke Kantor Polisi.


"Ken, kenapa kita ke Kantor Polisi?" mami Lyra bingung ketika mobil itu berbelok kearah Kantor Polisi.


"Menemui wanita rubah." menjawab singkat. Mami Lyra masih belum mengerti tetapi tidak lagi bertanya, Kei juga enggan untuk menjelaskan. Mobil berhenti, mereka semua keluar beberapa anggota polisi menyambut kedatangannya. Anggota kepolisian yang tau dengan tuan Ken merasa segan dengan tuan pengusaha itu.


Mereka menyambut dengan ramah dan mengantarkan ke ruang tahanan Mira.


"Mi-ra..." Kei terbata menyebut nama Mira. Wanita itu duduk diatas lantai, mendengar ada yang memanggil namanya Mira lekas menoleh.


"Ke-kei..." Mira sangat terkejut melihat ketiga orang yang berdiri didepannya. Tangan menyangga diperutnya yang besar berjalan pelan menghampiri mereka. Tidak berani menatap, karna tuan Ken menatap tajam Mira hanya menundukkan pandangannya.


"Bagaimana kondisimu." Mira kembali terkejut, bagimana mungkin Kei menanyakan keadaannya.


"Hei...kau tuli! istriku bertanya padamu!" Ken menyentak Mira.


"Tuan-tuan, tenanglah.." Kei mengusap lengan tuan Ken.


"Hah... aku akan menunggu disana saja." terdengar kesal dan berjalan menuju ke tempat duduk yang tidak jauh dari mereka.


"Kei, apa dia wanita yang sudah melukaimu waktu itu?" mami Lyra juga terlihat emosi. Kei mengangguk pelan.


"Oh...jadi kau wanita rubah yang sudah mencelakai menantuku, hah!" mami Lyra berkata dengan nada tinggi.


"Mami-mami, tolong jangan seperti ini. Tenanglah dulu, mi."


"Bagaimana mami bisa tenang! jika wanita rubah itu tidak hamil besar, mami pasti akan memberinya pelajaran!" mami Lyra menggebu-gebu.


"Mami duduk bersama suamiku dulu ya, Kei ingin berbicara sebentar." mami Lyra mengangguk dan berjalan menghampiri Ken.


"Kei, aku mohon bujuklah suamimu agar mau mencabut tuntutannya. Sebentar lagi aku melahirkan, aku tidak ingin setelah lahir anakku tinggal di panti asuhan karna aku tidak bisa merawat bayiku." Mira memelas.


"Kenapa tidak dirawat oleh mas Izham, bukannya dia sangat menginginkan anak ini."


"Mas Izham marah kepadaku gara-gara foto itu, satu kali dia menemui ku setelah itu sampai saat ini pun mas Izham tidak mengunjungiku."

__ADS_1


"Kamu tau sendiri suamiku seperti apa, aku tidak bisa memberi harapan lebih tetapi akan aku coba untuk memberimu keringanan."


"Iya Kei, tolong berusaha untuk membujuk suamimu. Aku benar-benar tidak mau seumur hidup harus mendekam di penjara." Mira kembali memelas, berharap Kei orang yang sudah ia sakiti mau membantunya.


__ADS_2