
Hari ini keluarga tuan Ken sibuk menyiapkan acara tujuh bulanan. Bukan dirumah mewahnya, melainkan disebuah Panti Asuhan. Kei meminta pada tuan Ken jika dirinya ingin mengadakan syukuran itu dengan berbagi kebahagiaan ditempat Panti Asuhan, ia ingin melihat senyum ceria dari anak-anak kurang beruntung itu.
Tuan Ken hanya menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.
Mereka semua sedang sibuk bersiap untuk datang ke Panti Asuhan, sebelumnya sekretaris Lee sudah mengurus semuanya, termasuk meminta izin pada pemilik Panti dan juga menyiapkan segala yang dibutuhkan.
Sekretaris Lee berdiri didepan pintu kamar tuan mudanya, menunggu pemilik kamar itu keluar.
Mami Lyra sudah bersiap dan sedang menunggu putra keduanya yang juga akan ikut andil dalam acara syukuran.
Didalam kamar, pemilik acara itu sedikit melakukan perdebatan. Kei tidak percaya diri dengan tubuhnya yang semakin melebar dengan perut membuncit. "Apa aku jelek sekali? kenapa berat badanku terus naik? tubuhku seperti membengkak! kalau begini aku jadi terlihat gendut. Aku tidak sexy lagi, kau pasti tidak suka melihat badan gendutku? awas, jangan sampai kau melirik wanita lain. Tubuhku gendut karna mengandung buah hatimu, harusnya kau hargai itu. Setelah malaikat kecil kita sudah lahir, aku ingin rutin berolahraga agar tubuhku kembali kebentuk semula. Kau harus menyewa ahli Yoga terbaik." serangkaian kalimat yang keluar dari mulut Kei, sebelum mandi hingga kini sedang dirias oleh ahli make-up mulutnya tiada henti mengomel.
Tuan Ken menunggu dengan tenang, membiarkan istrinya itu mengoceh dengan suka hati. Sekian lama telinga itu semakin kebal dengan ocehan ibu hamil yang berubah-ubah. Tuan muda yang sudah selesai dengan penampilannya yang selalu terlihat keren itu mengusir bosan dengan bermain ponsel. Entah apa yang dia perhatikan dilayar itu, hingga terlihat begitu serius.
Kei sudah selesai dirias. Wanita hamil itu menghampiri tuan Ken, berdiri disamping sofa. Melihat istrinya sudah bersiap, tuan Ken segera mengalihkan pandangannya sebelum istrinya itu kembali mengomel. "Honey, bagaimanapun bentuk tubuhmu, walau badanmu gendut seperti badut, aku akan tetap cinta. Hem... kau mengerti sekarang." kata-kata penenang dari tuan Ken. Disaat seperti ini dia harus memberi kata penenang agar mood baik Kei kembali.
"Benarkah? kau bohong." Kei seolah merajuk tapi wajahnya berseri mendengar kata cinta dari tuan Ken. "Kendra Kenichi tidak pernah berbohong dengan perkataannya." jawab tuan Ken. "Heum, baiklah. Eh... tapi kamu tadi mengatakan aku seperti badut!" Kei menatap tajam.
"Itu hanya kata misal, Honey. Tentu kau lebih cantik dari badut. Sudah, ayo kita berangkat." tuan Ken harus cepat mengajak Kei pergi, jika tidak, obrolan mereka tidak akan terhenti.
__ADS_1
Mereka berdua keluar dari kamar, sekretaris Lee menundukkan badannya sebentar. "Sekretaris Lee, mbak Dewi mana? apa dia tidak ikut?" tanya Kei. "Saya harus memastikan keamanan anda dan tuan muda, setelah itu baru akan menjemput istri saya, Nona." jawab sekretaris Lee.
"Hah, kalian ini segitunya. Dirumah ini jelas keamanan kami dijaga dengan baik, harusnya kau tidak perlu membuang-buang waktukan?"
"Meskipun kebenaranya seperti itu, tetap saja saya harus melaksanakan tugas sesuai prosedur."
"Kau terlalu lama berbicara dengan istriku, Lee. Kau sudah lupa pasal? atau kau mau, gaji persiapan istrimu melahirkan aku potong!" tuan Ken menyahut, terlihat jika dirinya tidak suka.
'Haeh... tuan muda, sikapmu tidak berubah! aku sudah memiliki candu sendiri, bahkan canduku lebih cantik dari istri, anda.' rasanya sekretaris Lee ingin melayangkan kata itu. Tapi otak warasnya masih bisa bekerja, menyuruhnya untuk menahan diri.
Kei dan sekretaris Lee akhirnya memilih diam, jika diladeni maka urusannya menjadi panjang seperti jalan kenangan.
Tuan Ken dan Kei masuk kedalam mobil yang dikemudikan sekretaris Lee, sedangkan mami Lyra dan Ray membawa mobil sendiri. Dua mobil lagi diisi para pengawal yang harus menjaga keselamatan mereka. Mobil itu mulai melaju membelah jalanan, sekretaris Lee mencari tempat Panti Asuhan yang tidak terlalu jauh dari rumah tuan Ken. Hingga tak terlalu lama mobil mereka sudah sampai didepan Panti. Semuanya turun, anak-anak panti dari umur kecil hingga beranjak dewasa sudah berjajar untuk menyambut mereka.
Senyum dibibir Kei mengembang sempurna, kini keinginannya terkabul. Dia sangat bahagia bisa berbagi kebahagiaan dengan anak-anak kurang beruntung itu.
Ibu Warsi pemilik Panti Asuhan menyambut Kei didepan pintu dan mempersilahkan tamunya untuk masuk.
Didalam ruangan itu sudah dihias sedemikian, agar terlihat indah. Kue dan makanan lainnya sudah terhidang, tumpukan snack memenuhi ruangan.
Tuan Ken, Kei, mami Lyra dan Ray berdiri diantara banyaknya anak panti yang tersenyum ceria. Tuan Ken memberi beberapa kata sambutan dan meminta do'a terbaik untuk istrinya. Meminta keselamatan dan kesehatan, meminta do'a agar persalinan Kei dipermudah dan lancar. Ibu dan anak semuanya sehat dan selamat.
__ADS_1
Seluruh penghuni Panti Asuhan itu memberi do'a tulus, semoga apa yang diminta keluarga itu terkabul.
Sekretaris Lee dan Dewi baru datang, mereka menyusul masuk kedalam dan ikut bergabung.
Tuan Ken memberi pernyataan bahwa mulai sekarang akan menjadi donatur tetap yang setiap tahunnya akan memberikan sejumlah uang untuk membantu perekonomian Panti Asuhan itu, sebelumnya perusahan tuan Ken memang sudah menjadi donatur dibeberapa Panti Asuhan. Tapi Panti Asuhan tempatnya mengadakan acara saat ini termasuk masih baru, maka belum masuk daftar donatur diperusahaannya.
Pemilik Panti Asuhan berkali-kali mengucapkan terimakasih kepada tuan Ken.
Setelah acara berbagi kebahagiaan itu selesai, Kei menyempatkan diri bermain dengan anak-anak panti.
Dirinya sudah tidak sabar untuk berjuang melahirkan anaknya, ingin melihat rupa buah hati yang dia kandung selama 9bulan 10 hari.
Saat ini usia kandungan itu baru memasuki usia 7 bulan, maka masih ada waktu 2bulan lagi tapi dirinya sudah tidak sabar.
Asiknya bermain dengan anak-anak Panti, Kei mengabaikan badannya yang mulai lelah. Dia terus memaksa ingin bermain, melupakan kesehatan yang harus ia jaga.
Kehamilan yang memiliki ginjal hanya satu benar-benar membutuhkan pengawasan extra karna memiliki resiko lebih tinggi dibandingkan dengan kehamilan wanita normal.
Ketika rasa lelah menyerang, Kei menghela nafas dan beristirahat sejenak.
Tuan Ken dan yang lain sedang mengurus tentang donasi. Sesekali tuan Ken tetap mengawasi Kei dari kejauhan, dirinya merasa lega kala melihat Kei baik-baik saja dan masih tertawa bahagia dengan anak-anak panti.
__ADS_1