
"Sekretaris Lee, bagaimana keadaan suamiku?" tanya Kei dari sambungan telpon.
"Tuan muda sedang makan malam di Restauran." jawabnya singkat.
"Bisa-bisanya dia makan, padahal aku disini tidak nafsu makan." kesal Kei.
"Saya yang memaksa tuan muda untuk makan Nona. Bagaimanapun kesehatan tuan muda sangat penting."
"Eum, iya. Kau benar, harusnya aku juga tidak menyiksa perutku dan membiarkannya kelaparan." ucap Kei.
"Apa semua sesuai rencana kemarin?" tanya Kei lagi.
"Iya Nona." lagi-lagi jawaban Lee singkat padat dan jelas. Ia sudah terlalu memendam kekesalan. Hari ini sama sekali belum beristirahat.
"Baru beberapa jam aku sudah rindu. Kalau sampai besok malam, apa aku sanggup?" seolah Kei bertanya dengan dirinya sendiri.
'Huh, bukan hanya suaminya yang lebay, tapi istrinya juga lebay. Kalian memang pantas disebut pasangan alay.' Lee memutar bola mata malas.
"Anggap saja tuan muda sedang pergi melalukan perjalanan bisnis. Anda tidak akan terlalu berat menahan rindu." jawab Lee. Tapi tak lama ia menutup mulut dengan tangannya.
'Kenapa aku ikut-ikutan lebay? Ah, mereka bisa mendominasi sikapku.'
"Malam ini terasa panjang." kata Kei.
'Oh, Nona. Berhentilah bercerita curhatan, telingaku bisa tuli dadakan. Bukan hanya suaminya yang bercerita, tapi aku harus mendengar cerita dari Nona Kei juga! padahal aku jarang mendengar cerita dari istriku sendiri. Bukan-bukan itu masalahnya, aku selalu menjadi pendengar setia, tapi tidak ada yang menjadi pendengar setiaku? apa aku hanya dibodohi?'
"Hallo, sekretaris Lee. Apa telpon ini masih tersambung?" Kei berbicara memanggil Lee yang tidak lagi terdengar suaranya.
"Masih Nona."
"Hei, apa aku harus membayar suaramu biar kau menjawab dengan benar? dari tadi jawabanmu tidak ikhlas!" kesal Kei, respon sekretaris Lee sangat irit.
"Maafkan saya Nona, hari ini saya lelah sekali. Ini saja masih menemani tuan muda, belum pulang kerumah." kini berganti Lee yang menceritakan keluh kesahnya.
"Eum, maafkan aku. Ini semua gara-gara aku." sesal Kei. Ia tidak enak hati dengan Lee yang banyak menanggung imbas.
__ADS_1
"Tidak pa-pa Nona, demi tuan muda mudah-mudahan tuan muda suka dengan kejutan kita."
"Sepertinya saya harus kembali, tuan muda pasti sudah menunggu." Lee ingin menyudahi pembicaraan.
"Baiklah. Terima kasih ya atas kerja kerasmu, jika suamiku susah dibilangin, kau pukul saja." kata Kei menggebu-gebu. Ia tau sekretaris Lee pasti sudah mendapat bogem mentah mengingat sikap Ken yang susah dikendalikan saat marah atau panik.
"Iya Nona." tak lama-lama Lee langsung mematikan ponselnya. 'Jika aku berani memukul tuan muda, sudah pasti aku akan menyusul Deny dengan Tasya.' menghirup udara dalam-dalam dan membuangnya pelan, sepatu pantofel yang dikenakan terdengar berbunyi karna bergesekan dengan lantai. Ia melangkah mendekati meja Ken.
Saat sampai disamping meja Ken ia memperhatikan menu makanan diatas meja yang masih utuh hanya berkurang beberapa sendok saja.
"Tuan muda tidak makan dengan benar?" tanya Lee. Ia mulai duduk disamping Ken.
"Bagaimana aku bisa makan dengan benar, aku tidak berselera." jawabnya lemah.
"Tuan jangan menyiksa diri anda, nanti sakit." sekretaris Lee memang sangat perduli dengan kesehatan tuan Ken, dia lah sultan yang harus dijaga.
"Tidak pa-pa aku sakit Lee, mungkin dengan sakit Kei akan pulang. Dia tidak akan menghukum ku dengan kesendirian seperti ini." sebelah tangan memainkan sendok diatas piring dan mengacak-acak makanan.
Ponsel diatas meja berdering, Ken mengambil dengan tangan kiri tampak malas untuk menjawab. Tebakannya dari orang-orang tidak penting, staf kantor, rekan bisnis yang membosankan atau dari Tristan rese'. Semua tidak ada yang penting, saat ini hanya Kei yang dibutuhkan. Tapi ia tak ada bayangan Kei mau menghubunginya.
Lee ikut terkejut, reflek memundurkan badan.
"Lee, Kei menelpon." Ken kegirangan.
Lee hanya menghembuskan nafas.
"Iya Sweety, Honey? kau dimana? apa kau minta aku menjemputmu?" Ken memberondong pertanyaan. Sorot mata terlihat berbinar-binar, wajah yang ditekuk nampak berseri-seri. Tentu bibirnya menyunggingkan senyuman.
Lee tidak tertarik mendengar percakapan dari via telpon itu, ia tertarik untuk menikmati menu makanan yang menganggur.
Menikmati makanan dengan lahap, sesekali melihat kearah tuan mudanya.
Sambungan telpon terputus raut wajah Ken kembali murung. Ia diam saja.
"Ada apa tuan muda, bukankah yang menghubungi anda Nona Kei? harusnya anda senang 'kan?" tanya Lee disela-sela kunyahannya. Ia hanya berbasa basi.
__ADS_1
"Aku kira Kei menelpon meminta untuk dijemput atau memberitahu keberadaannya. Ternyata hanya memberitahu agar aku tidak khawatir dengan keadaannya, ia dan anakku baik-baik saja. Tapi..." Ken yang lemas kini duduk dengan tegak.
"Tapi apa, tuan muda?" Lee menatap.
"Tapi ia tak ingin pulang sekarang. Dan, kenapa dia memintaku untuk tidak menyiksamu? apa itu masuk akal? kenapa Kei peduli padamu? dari mana ia tahu aku akan menyiksamu?" Ken menelisik dengan curiga.
Lee menutupi kegugupan, ia harus terlihat tenang. "Saya juga tidak tau tuan, mungkin Nona Kei hafal dengan sikap anda. Saat anda marah, siapapun bisa terkena imbas." membuat jawaban yang masuk akal, jika tidak, tamat riwayatnya.
"Lee cepat hubungi Tony untuk melacak nomor Kei! cepat." memerintah dengan tidak sabaran.
Lee segera melakukan perintah, beberapa saat kemudian Lee menggelengkan kepala. "Nomornya sudah tidak bisa dilacak tuan. Ada hacker lain yang melindungi aksesnya." tentu jawaban bohong. Lee menutupi keberadaan Kei, belum saatnya tuan mudanya tau.
Ken semakin terhenyak dengan kenyataan. Orang hebat seperti apa yang membawa istrinya kabur. Selama ini Kei tidak memiliki akses orang hebat, lalu saat ini ada yang melindungi identitasnya.
Ken semakin penasaran dan juga kebingungan, bagaimana cara ia memecahkan teka-teki yang dibuat oleh Kei.
Sampai kapan Kei akan menyiksanya.
Terdiam dan menghela nafas.
"Tuan muda, mari kita pulang." ajak Lee.
Ken tak lagi membantah atau menolak, ia berjalan gontai mengikuti Lee menuju kemobil.
Mendapat telpon dari Kei tadi, Ken tidak bersemangat untuk melanjutkan pencarian. Seperti apapun ia mencari Kei akan tetap bersembunyi.
Tidak seperti keberangkatannya tadi, yang begitu bawel dan dipenuhi emosi, Ken terdiam dikursi belakang. Memandangi lampu-lampu jalanan yang temaram. Penampilan yang berantakan.
Lee tak tega melihatnya, 'Sabar tuan muda, setelah ini semua akan kembali normal. Kebahagiaan memang mahal untuk ditebus.'
Sampai dihalaman rumah Lee akan mengikuti Ken masuk dan mengantarkan sampai kedalam kamar tapi Ken mencegah, ia mengangkat tangan sebelah sebagai tanda penolakan.
Berjalan gontai untuk masuk kedalam rumah, pot bunga yang tertata rapi dan tanpa dosa ditendang begitu saja. Kaki dan tangan yang tak bisa dikontrol saat marah.
Lee hanya memperhatikan dan menggelengkan kepala. Ia sudah menyuruh pengawal untuk mengawasi pergerakan tuan Ken, jika ada apa-apa mereka harus segera melapor.
__ADS_1
Lee sendiri sudah punya tanggungan, tak bisa terus berada disamping tuan mudanya.