
Tiga hari sudah berlalu begitu saja tanpa. Tak ada tawa, tak ada ceria. Sunyi, sepi dan keheningan dirasakan oleh penghuni rumah mewah itu. Seolah tak ada sumber bahagia.
Tumpukan mainan tetap tertata rapi pada tempatnya, tidak seperti sepuluh hari yang lalu semua mainan memenuhi lantai ruang keluarga.
Tak ada suara lain selain tangisan Kyura yang terkadang masih saja rewel. Tiga hari kondisi kesehatan Kei sudah membaik, berkat tekad yang kuat untuk sembuh demi anak-anaknya.
Beberapa hari Kio terlihat lebih pendiam, seolah sedang memikirkan sesuatu. Padahal bocah kecil itu harusnya masih ceria dengan mainannya.
Nafsu makannya pun berkurang. Meski tidak mengeluh dan merengek tapi Kei tahu putranya bersedih.
"Sayang, makanannya kok nggak dihabisin?" Kei melihat dipiring Kio masih tersisa banyak makanan. Kio sudah belajar makan sendiri, tapi makanan di piringnya masih utuh dan hanya dibuat mainan kesana-sini.
"Mom," Kio ragu-ragu memanggil mommy nya.
"Iya, Sayang." jawab Kei lembut, melihat keraguan pada putranya, Kei tahu ada sesuatu yang menggangu pikiran putranya.
"Nggak jadi, Mom." Kio mengurungkan niat untuk memberitahu keinginannya. Sedikit takut melihat mommy nya.
"Sayang, kalau Kak Io ada sesuatu yang ingin disampaikan, katakan saja Nak. Mommy pasti dengerin." Kei membujuk, ia sangat tahu ada keraguan sekaligus ketakutan pada sorot mata Kio.
Kio menggelengkan kepala dan menunduk. Kei semakin sedih melihat Kio menjadi murung.
"Kalau ada yang mau Io sampaikan, bilang saja Nak, mommy nggak akan marah." Kei penasaran apa yang mengganggu pikiran putranya.
"Mommy nggak marah. Tapi Mom pasti nangis lagi." ucap Kio sedih.
Kei terdiam, padahal selama tiga hari ini setiap merindukan kehadiran Ken, Kei selalu bersembunyi untuk meluapkan tangisan. Tidak akan menangis dihadapan Kio, mereka berdua saling menghibur dan tidak boleh menangis. Mereka punya keyakinan bahwa Ken akan segera sembuh.
Tapi tanpa Kei tahu, ternyata putranya memergoki saat dirinya menangis. Apakah itu yang menjadi beban pikiran Kio? maafkan, Mom, Nak.
"Menangis itu wajar saat kita tidak bisa menahan sakit." sahut Kei agar putranya tidak terlalu berpikir.
__ADS_1
"Mom mau berjanji?" tanya Kio serius.
"Janji? janji apa?" tanya Kei dengan kening mengerut. Baru ini Kio menyuruhnya berjanji seperti ada hal yang penting.
"Emh... iya deh, mom janji." imbuh Kei menyetujui perjanjian yang belum dikatakan, semata demi senyum putranya.
"Mom jangan sedih dan jangan nangis lagi." ucap Kio.
"Iya Sayang, kemarin kita sudah sepakat kan, nggak boleh sedih nggak boleh nangis." kata Kei.
"Iya, tapi Io sering lihat Mom nangis malam-malam."
"Eum... maafin Mom ya kalau belum bisa memenuhi janji. Mom usahain nggak nangis lagi." kata Kei. Ternyata benar Kio sering melihatnya menangis ditengah malam. Pantas saja, Kio ikut bersedih.
"Apa Mom akan marah kalau Io minta sesuatu?" dari sorot mata Kio masih tersimpan keraguan.
"Enggak sayang, apapun pemintaan Io, Mom nggak akan marah. Mom janji, sekarang katakan, Io mau minta apa?" tanya Kei lembut.
"Boleh nggak, Io melihat Daddy? kalau tidak boleh tidak pa-pa." takutnya.
Setelah mengatakan permintaan, Kio menunduk dalam-dalam. Tidak berani menatap mommy nya. Ia takut mommy nya marah dan menangis. Beberapa waktu lalu Kei mengatakan jangan dulu menemui Ken, bukan tanpa alasan Kei melarang Kio berdekatan dengan ayahnya sendiri. Kei sangat takut kejadian awal penolakan itu akan terulang. Membuat Kio semakin terluka dan bersedih.
Kei hanya menjaga perasaan Kio, mudah-mudahan putranya tidak takut dan tidak membenci Ken karna sikap ayahnya yang berubah.
"Io rindu dengan, Dad?" tanya Kei.
"Sangat." mata kecil Kio sudah menggenang airmata, siap tumpah kapan saja. Saat airmatanya akan terjatuh, secepatnya tangan mungil itu menghapus agar tidak ketahuan oleh mommy nya. Tapi itu tidak mungkin, karna Kei terus memperhatikan wajah putranya.
"Sayang, kemarin kita memang berjanji tidak sedih dan tidak menangis. Hari ini, perjanjian itu dihapus sebentar ya, kalau Io mau nangis. Boleh kok." ucap Kei.
Kio semakin dalam menunduk, tangannya mengotak-atik mainan boneka kecil milik adiknya.
__ADS_1
Ketika tangan Kei merengkuh tubuh kecilnya, entah pada saat itu tangisan Kio pecah begitu saja. Kio memeluk tubuh Kei dengan erat, suara tangisnya terdengar kencang.
Kei benar-benar menguatkan hati, batinnya tersayat pisau tajam, sakit tapi tak berdarah.
Hati mana yang tidak teriris ketika berada diposisi nya. Hingga tak kuasa menahan tangis. Dulu luka itu ditanggungnya sendiri, tapi saat ini ada Kio yang ikut terluka. Sungguh Kei tidak tega. Kapan kah ujian berat itu berlalu?
"Tapi kalau kita ke rumah sakit..." Kei tak sampai hati melanjutkan kalimatnya. Bingung cara menyampaikan pengertian pada Kio.
"Daddy akan marah lagi?" sambung Kio.
Kei menghembuskan napas, bahkan putranya mulai pintar membaca kejadian.
Melihat mommy nya terdiam, Kio melanjutkan bicara. "Io nggak deketin Deddy. Io pengen liat Dad didepan pintu." pinta Kio.
Mendengar itu hati Kei semakin sakit, permintaan putranya begitu sederhana tapi menyayat hati. Untuk melihat ayahnya sendiri, bocah itu sampai harus bersembunyi.
Karna merindukan sosok ayah, Kio rela hanya melihat ayahnya dari kejauhan.
Kei bisa memahami permintaan Kio untuk melihat ayahnya, bukan hanya dia yang merindukan kehadiran Ken, tapi raut wajah putranya sangat kentara bahwa anak itu sangat merindukan ayahnya.
"Hem... Io boleh lihat Daddy, nanti Mom antar." Kei menyetujui permintaan Kio. Mungkin setelah Kio melihat ayahnya, bocah itu bisa kembali ceria.
"Terima kasih, Mom." Kio memandang ibunya dengan senyuman.
Meski Kio kembali tersenyum tapi hati sama sekali belum merasa lega. Entah bagaimana nanti ketika melihat Kio memandang ayahnya dari kejauhan. Sakit dan pilu pasti menyesakan dada.
"Mom siap-siap dulu, ya. Io tunggu sebentar." pamit Kei. Ia segera berlalu untuk menemui babysister Kyura dan menyuruh menjaga Kyura.
Di rumah sakit Kei ingin fokus pada Kio, maka itu Kyura tetap berada dirumah bersama pengasuh.
Kei sudah bersiap dan kembali menemui Kio, bocah itu sangat bersemangat untuk pergi ke rumah sakit. Wajahnya berubah ceria, tapi ketika sampai dirumah sakit, apakah keceriaan Kio masih menghiasi wajahnya? atau keceriaan itu berganti menjadi tangisan lagi?
__ADS_1
Jika dirinya melarang Kio pergi ke rumah sakit, mungkin putranya semakin buruk. Kei tak henti berdo'a dalam hati, semoga semuanya baik-baik saja. Bahkan mengharapkan akan ada keajaiban yang membuat Ken bisa kembali mengingat semuanya. Semoga saja.
Kei berbicara pada pengawal untuk mengantarkannya pergi ke rumah sakit. Pengawal selalu siap menuruti perintah majikannya. Dan segera menyiapkan mobil.