
Hari ini ditengah keluarga Kendra Kenichi sedang bersiap menyambut kedatangan Ray dan Viona.
Ken mengambil cuti karna tak ingin meninggalkan kedua anaknya. Kio sedari bangun tidur merengek ingin digendong Daddy.
Saat ini Ken, Kei, dan kedua anaknya tengah berjemur dihalaman rumah yang sangat luas. Dengan hamparan bunga dan bermacam pohon buah-buahan.
Kei yang duduk dikursi roda tengah memangku baby Kyura yang asik tidur.
Sedangkan Ken mencoba merayu Kio agar mau turun dan bermain seperti biasanya.
"Kio mau main bola," ucap Kio.
"Siap, Bos. Kita akan bermain bola." Ken menyuruh pengawal untuk mengambil bola mainan milik Kio.
Keduanya bermain bola ala-ala anak kecil.
Dari tempatnya duduk Kei terus mengawasi. Hatinya begitu menghangat melihat pemandangan indah di depannya.
"Auh.. Dad kalah." ucap Ken.
Kio malah terbahak-bahak, merasa senang dan puas sudah mengalahkan Daddy nya.
"Ayo kita lihat Adik bayi," ajak Ken.
"Ayo ...." Kio berteriak dan setengah berlari menghampiri Mommy nya. Sedangkan Ken berjalan berlawanan arah menuju kran air.
"Eh... eh, nggak boleh deketin Adik bayi kalau Kakak Io belum cuci tangan ya," Kei mengajarkan Kio untuk menjaga kebersihan. Bayi yang baru lahir sangat rentan dengan kuman, mudah terserang penyakit gatal, bintik kemerahan dan lainnya.
"Oke Mom, Kakak Io mau cuci tangan dulu." Kio menurut.
"Hei Boy, kemari... cuci tangan dengan Daddy." Ken baru sadar jika Kio tidak mengikutinya, ia segera melihat kearah istrinya. Dan benar saja, Kio sudah berada disana. Ken segera memanggil.
"Yes, Dad." Kio berlari menuju kran air, Ken membantu membersihkan tangan dan kaki bahkan membersihkan muka Kio.
"Dad, rambut Io basah. Nanti tidak keren lagi." sungutnya sebal.
Ken tergelak mendengar gerutuan anaknya, sangat lucu dan menggemaskan.
"Memang Io keren?! tapi masih keren Daddy loh..." Ken sengaja melempar candaan pada putranya. Yang ditanggapi dengan maju nya bibir Io dengan mendengus sebal.
Setelah puas mengerjai putranya, Ken mengajak Io menghampiri Kei lagi.
"Mom, Dad nakal. Perlu dihukum!" ternyata bocah itu masih menyimpan kemarahan.
__ADS_1
Kening Kei mengerut dengan wajah kebingungan, tapi bibirnya tersenyum tipis.
"D**ad nakal kenapa?! kamu diapain?" tanya Kei dengan pura-pura serius. Padahal ia menahan suara tawa agar tidak pecah karna melihat wajah putranya yang sangat lucu.
Kio menceritakan dengan bahasa yang sering diulang-ulang, membuat Kei tidak sabar tapi harus tetap menunggu sampai cerita itu selesai. Kalau tidak, pangeran kecil itu kembali marah.
Jika Kei menanggapi celotehan Kio, kini Ken beralih menggendong putrinya.
"Hei, putri tidur. Bangun, kenapa kau selalu tidur? apa kau tidak mau melihat indahnya dunia?" ucap Ken lembut dengan menatapi wajah putri kecilnya. Mata kecilnya masih terpejam, namun mulut kecil itu menguap lebar. Benar-benar menggemaskan.
"Dad, Io mau liat Adik bayi." Kio merengek dengan menarik celana pendek yang dikenakan Ken.
"Baiklah baiklah," Ken beralih duduk dikursi agar Kio bisa menjangkaunya.
"Kok Adik bayi tidur terus?! kapan bisa mainan sama Io?" tanya Kio.
"Iya dari tadi tidur terus, kita panggil saja putri tidur." ucap Ken.
"Haha.. iya Dad, bagus. Hei, putri tidur... putri tidur" Kio kesenangan.
"Malah ngajarin yang nggak benar sih?" Kei terlihat sebal. Ken tersenyum simpul.
***
Ken dan Kei menyusul turun kebawah.
Kio langsung berlari menyambut pelukan Ray.
"Om..." panggilnya setengah berteriak.
"Ough, keponakan Om yang sangat tampan seperti Om." Ray menyambut Kio.
"Aku bukan seperti Om. Aku tampan seperti Daddy." Kio meralat perkataan Ray tapi justru menimbulkan gelak tawa.
"Oh... baiklah seperti Daddy mu, tapi sikapmu jangan seperti Daddy, membosankan." Ray setengah berbisik dengan matanya yang melirik kearah kakaknya.
"Aku mendengar perkataan mu, Adik bo doh!" sahut Ken dengan suara kesal.
Ray menanggapi dengan cekikikan.
Viona sedang berpelukan dengan Mami Lyra dan Kei, mereka melepas rindu.
"Kakak Ipar, tidak berubah ya, masih sangat cantik dan anggun." Viona memuji Kei.
__ADS_1
"Pantas saja, dulu Kak Ken tergila-gila." imbuhnya.
"Kamu bisa aja Vi. Kakak ya cuma gini-gini ajah, udah anak dua kulitnya udah mulai berkerut ya?" Kei lebih seperti bertanya.
"Istriku memang sangat cantik, tidak sepertimu miss bawel." Ken mengejek Viona.
Viona sudah memberengut kesal. Dari dulu Ken tidak berubah, baginya tetap rese' dan menyebalkan.
"Mi, Kak Ken ngeselin." adunya.
"Kalian ini, ada-ada aja. Seperti anak kecil." Mami Lyra tidak membela siapapun. Namun menyunggingkan senyum.
"Viona, kamu lagi hamil muda. Jangan terlalu benci dengan Ken, nanti nanti calon anakmu bisa mirip." mami Lyra memperingati, namun hanya tidak serius.
"Enak aja, nggak nggak! jangan sampai calon anakku mirip sama Kakak, nanti malah ditakuti semua orang. Wajah Kakak kan menyeramkan!" Ray menyahut dan berkata dengan setengah mengejek.
"Ini anak harus diberi pelajaran!" Ken bergerak cepat mendekati Ray ingin memberi pukulan pada mulutnya yang menyebalkan.
Tapi Ray dengan gesit sudah menghindar, berlari kearah belakang. Tak sampai disitu, Ken ikut berlari mengejar. Jangan lupakan Kio yang berusaha menjadi wasit pun ikut berlari dengan tertatih-tatih.
Sedangkan yang lain tertawa keras dengan menyaksikan kekonyolan mereka.
Kejadian seperti ini jarang terjadi, dulu seorang Kendra Kenichi sangat dingin dan kaku. Namun beberapa tahun terakhir telah menjelma seperti manusia normal lainnya.
Bercanda dan berbicara dengan panjang lebar. Padahal dulu Ken sangat jarang untuk merangkai kosa kata dan menyusun menjadi kalimat.
Tapi dengan perlahan Ken mulai berubah, tentu dengan hadirnya Kei yang telah merubah manusia es itu menjadi bersuhu normal.
Namun sikap itu berlaku hanya didepan keluarganya. Jika dihadapan orang luar, maka sikapnya masih sama. Dingin, angkuh tidak ada keramah tamahan.
Hanya saja Kei tidak bisa merubah tingkat over protective dan over posesif. Mungkin dua sikap itu telah mendarah daging hingga tak bisa dihilangkan.
"Viona, apa Papa dan Mamamu disana baik-baik saja?" tanya Herlambang.
"Baik, Om, Eh... Pa," Viona menyengir. Ia masih kagok untuk menyebut Herlambang dengan sebutan Papa, karna mereka memiliki persaudaraan sebagai Om dan keponakan. Viona pun dari kecil memanggil dengan sebutan Om.
"Ayo kita ke meja makan, sebentar lagi sudah waktunya makan siang." mami Lyra mengajak mereka menuju ruang makan.
Semua mengikuti dibelakangnya.
"Kakak Ipar, dimana bayi mungil itu? aku ingin menggendongnya. Sekalian belajar menggendong bayi, nanti kalau calon anakku sudah lahir, aku sudah tidak kaku lagi." kata Viona.
"Tadi masih tidur sama Mbak yang jaga. Kalian baru sampai, pasti lelah. Nanti saja langsung lihat ke kamar Kakak." jawab Kei.
__ADS_1
Viona mengangguk senang.