Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Gerah.


__ADS_3

Tok...tok... sekretaris Lee mengetuk pintu dan masuk, berjalan menuju tuan Ken.


"Ada apa, Lee?" tanya tuan Ken, dia tau jika Lee pasti ada urusan dengannya. "Maafkan saya tuan muda jika mengganggu, lihatlah." sekretaris Lee menyodorkan notebook didepan tuan Ken. Tuan Ken mencermati, hanya hembusan nafas berat yang terdengar.


"Dia memanfaatkan kesempatan, Lee. Dia pikir bisa menghancurkanku dalam sekejap."


"Iya tuan muda, mereka berdua bekerja sama ingin menghancurkan anda. Tapi saya sudah menghubungi Toni, dia akan membereskan semuanya."


"Bagus Lee, jangan biarkan mereka berdua bebas. Tunggu saja, semua akan berbalik." tuan Ken terlihat tenang, namun terlihat sekali ada kemarahan yang tersorot didalam bola matanya.


"Ada apa?" Kei bertanya, dia penasaran sepertinya ada masalah. "Tidak ada apa-apa, Honey. Kau tidak perlu khawatir, ini masalah kantor." jawab tuan Ken. Kei mengangguk mengerti.


Sampai pukul 19.00 sekretaris Lee masih menemani tuan Ken dirumah sakit. Menyiapkan makan malam untuk tuan Ken, setelah itu ia akan pulang.


"Lee, pulanglah... istrimu pasti menunggumu." tuan Ken mengatakan itu disela-sela kunyahannya. Saat ini sedang makan malam disofa, setelah tadi menyuapi Kei bubur ayam.


Kei disuruh istirahat, ia sedikit memiringkan tubuhnya. Membelakangi tuan Ken.


"Baik tuan muda, saya akan pulang setelah anda menyelesaikan makan malam anda." sekretaris Lee duduk disofa yang berseberangan dengan tuan Ken.


"Apa Toni berhasil mengatasi semuanya?" tanya tuan Ken.


"Iya tuan, kita bisa mengandalkan kemampuannya. Saat ini sudah 80persen tinggal 20persen lagi kita bisa mengambil alih perusahaan Senjaya Grup." sekretaris Lee melaporkan hasil tugasnya.


"Bagus Lee. Aku tidak sabar ingin melihat reaksi mereka. Ini bukan salahku, mereka lebih dulu menyerangku. Aku hanya membalasnya." kata tuan Ken.


"Benar tuan muda, mereka lebih dulu mengibarkan bendera perang. Kita hanya meladeni saja." sekretaris Lee mendukung keputusan tuan Ken.

__ADS_1


Tok...tok... kini berganti dokter dan perawat yang masuk dan akan mengecek kondisi Kei. Dokter dan perawat membungkuk sebentar dan berjalan mendekati ranjang pasiennya.


"Nona, apa yang anda rasakan sekarang?" dokter itu sudah mulai memeriksa detak jantung Kei dan juga detak jantung bayi yang ada didalam perut Kei.


Kening Kei berkeringat, bulir-bulir keringat sampai membasahi dahi dan rambutnya. "Dok, dari tadi perut bagian bawah terasa sakit." Kei memelankan suaranya. Dokter itu memeriksa dengan teliti.


Meski kandungan itu masih 7bulan bisa saja mengalami kontraksi palsu, itulah yang kini dialami Kei. Dokter memberikan obat agar kandungan itu bisa bertahan.


Tuan Ken segera menyudahi makan malamnya, melihat dokter yang sibuk memeriksa istrinya ia ingin mendekat dan melihatnya langsung.


Sekretaris Lee membereskan bekas makan tuan mudanya. Tiba-tiba Ray sudah berdiri disampingnya. "Kakak ipar baik-baik saja kan? kenapa dokter mengelilingi kakak ipar?" Ray bertanya kepada sekretaris Lee.


"Nona Kei baik-baik saja. Ini memang jam dokter memeriksa kondisi nona Kei." kata sekretaris Lee.


"Syukurlah kalau begitu. Aku kira kakak ipar down lagi. Apa kau tidak ingin pulang, Paman? aku akan berganti menemani kak Ken." Ray menjatuhkan tubuhnya diatas sofa.


"Haha... kau pantas disebut Paman, kau tidak ingat umurmu sudah lebih dari kepala tiga?" kata Ray meledek.


"Terserah anda, ABG labil." sekretaris Lee menjawab dengan berganti meledek. Meskipun Ray adik tuan Ken tapi Lee tidak terlalu segan dengannya, karna Ray suka meledeknya lebih dulu. Ray memang bersikap humoris.


"Anda sudah disini, saya akan pulang. Jika ada apa-apa hubungi saya." pesan Lee, sebelum ia pergi meninggalkan ruang itu. Ray masih tergelak, ia sangat senang meledek sekretaris kakaknya itu. Dengan kakaknya sendiri ia tidak terlalu bercanda, baginya kakaknya itu manusia kayu yang lurus jarang bisa tersenyum.


Setelah kondisi Kei sedikit membaik, dokter dan perawat itu keluar, satu jam lagi mereka akan kembali mengecek.


Tuan Ken duduk disamping istrinya yang masih terbaring lemah, tidak bisa bergerak bebas. Bulir-bulir keringat masih bercucuran, tuan Ken mengambil tissu dan menyapu kering didahi Kei.


"Kakak, aku keluar sebentar ya, mau beli minuman." pamit Ray. Ken menganggukkan kepala sebagai tanda ia memberi izin.

__ADS_1


"Tubuhku sangat gerah." keluh Kei. "Eum, aku akan menaikan suhu AC-nya." kata tuan Ken, ia mengambil remote kecil dan menambah suhu AC agar lebih dingin. "Sudah?" tuan Ken bertanya, apakah suhu AC sudah pas.


"Belum dingin, aku masih kepanasan." memang benar, bulir keringat nampak keluar dari pori-pori kulitnya. Dikehamilan trisemester tiga memang ibu hamil akan lebih sering merasa kepanasan. Tuan Ken kembali menaikan suhu AC paling dingin, dia yang memiliki suhu tubuh normal sudah merasa kedinginan, tapi Kei masih mengeluh kepanasan.


Karna masih merasa gerah, Kei membuka kancing baju bagian atas hingga sampai belahan dad*nya yang montok terlihat.


Melirik itu tuan Ken hanya bisa menelan saliva. Bagaimanapun melihat pemandangan seperti itu membuat jiwa kelelakiannya meronta.


"Honey... apa suhu AC ini masih kurang dingin? kenapa kau harus membuka kancing bajumu." tuan Ken memandang kedua mainan yang dia sukai dengan tatapan nanar, bisa memandang tanpa bisa menyentuh.


"Aku sangat kepanasan, mungkin efek obat juga suhu tubuhku jadi meningkat." Kei tidak berbohong, dirinya memang benar-benar kepanasan.


'Kalau begini jiwaku yang merasa panas. Sial!' tuan Ken membatin kesal, ada sesuatu yang sudah tegang. Namun tidak bisa tersalurkan. Menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, mengalihkan pandangan keluar jendela yang belum tertutup. Berharap bisa mengalihkan pikiran panasnya, beberapa kali mendesah.


Tangan Kei menyibakkan rambut yang menutupi leher jenjangnya. Tuan Ken kembali mengamati tubuh istrinya yang semakin sexy.


Bayangan liar itu semakin berputar bagai film layar lebar. Godaan untuknya sangat berat.


Tuan Ken duduk dengan gelisah, sesuatu itu terus mendesak. Apa yang harus ia lakukan.


"Aku kekamar mandi sebentar." tidak tahan dengan sesuatu yang membayanginya, tuan Ken berpamit kekamar mandi. "Iya." jawab Kei, ia tidak mengetahui keinginan suaminya.


Tuan Ken segera melesat kekamar mandi.


Diperjalanan pulang sekretaris Lee terus diteror dengan panggilan telpon dari Dewi. Istrinya itu mengingatkan pesanannya yang ingin dibelikan siomay. Lee harus memutar balik arah laju mobilnya, jarak tempuhnya lumayan jauh dari rumah sakit. Tapi ia harus membelikan pesanan itu demi calon anaknya.


Ketika sampai di lokasi ternyata siomay itu habis, tidak ingin istrinya kecewa, Lee menyusuri jalanan sekitar untuk membeli siomay yang lain tanpa membicarakannya dengan Dewi terlebih dahulu. Dipikir, semua rasa siomay akan sama saja. Lee pulang dengan perasaan lega, dirinya sudah mendapatkan siomay pesanan Dewi. Segera menyetir mobil menuju pulang.

__ADS_1


__ADS_2