
Meski kaki Kei lemas dan bergetar, tapi tetap ia paksa untuk melangkah. Tangannya ikut bergetar hebat, tapi menggenggam erat tangan mungil Kio.
Saat ini seluruh kehidupannya ingin diakhiri, padahal dulu pernah bernasib seperti ini, tapi entah rasanya tidak terlalu sakit dan sesak. Apa yang dilakukan Ken barusan mampu melukai hati yang paling dalam, melihat Kio menangis dan kecewa pada ayahnya sendiri membuat Kei hancur sehancurnya.
Suara tangisan kedua anaknya membuat telinga Kei berdengung. Ingin sekali menutup kedua gendang telinga agar tidak mendengar suara yang begitu menyayat hati. Tidak tega melihat kedua anaknya ikut menanggung beban ujian seberat ini. Satu yang menghatui pikiran Kei, apakah setelah ini Kio membenci ayahnya sendiri?
Kio masih terlalu dini untuk memahami situasi yang terjadi, bisakah dia diberi pengertian jika sikap Ken begitu karna sedang sakit.
Suara tangis Kio dan Kyura mengiringi langkah kaki yang terasa ringan itu tetap keluar dari istana megah milik suaminya. Tanpa perasaan Ken mengusirnya begitu saja.
Kaki yang seolah tak bertulang ia seret paksa untuk melangkah menuju pintu gerbang yang lumayan jauh dari halaman rumah Ken.
Terik matahari menyengat kulit tak dihiraukan, lebih sakit dan lebih panas kejadian yang baru dialami.
Kei tak mampu lagi bersuara. Lelah, rasanya sangat lelah terus-menerus menangis. Tuhan, kuatkan aku.
Suara tangis Kio masih terdengar jelas, pandangan matanya tak henti menengok kebelakang, melihat rumah ayahnya yang sedari lahir ia tempati. Memandang ayahnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Bulir-bulir kristal yang menggenang menetes tak henti dari pipi mungil Kio.
"Daddy jahat..." suara Kio terdengar lirih, masih menoleh ke belakang.
Kei memegang kepala Kio agar tidak melihat kearah Daddynya.
"Kei... jangan pergi.... Mami ikut, Nak..." terdengar mami Lyra berteriak memanggil Kei dan anaknya.
Mendengar itu Kei menoleh kebelakang. Terlihat mami Lyra yang mengejar langkahnya.
"Mi..." Ken berganti memanggil mami Lyra, tapi mami Lyra tidak menghiraukan dan terus melangkah.
"Kei... jangan pergi Sayang. Siapa yang akan menemani Oma." mami Lyra menangis tersedu-sedu.
"Oma, Daddy jahat." Kio menyela.
__ADS_1
Mami Lyra berjongkok dan memeluk Kio. Kio adalah cucu pertama yang sangat diidamkan kehadirannya, rasanya tidak sanggup jika harus berpisah dengan cucu-cucunya.
"Sayang, maafin Daddy ya Nak, Daddy melakukan itu karna dia tidak mengingat kalian. Daddy sedang sakit. Io jangan benci Dad ya," mami Lyra memberi pengertian.
"Dad udah bikin Mom nangis dan suruh pergi. Daddy udah nggak sayang lagi sama Mom dan Io." ucap Kio sedih.
"Mi, Kei dan anak-anak harus menjauh dulu. Tolong titip suamiku. Aku tidak bisa merawatnya, maafin Kei, Mi." Kei kembali terisak.
Mami Lyra menggelengkan kepala, tidak setuju dengan kata yang diucapkan oleh Kei.
Mami Lyra berdiri dan memeluk Kei dari samping. Keduanya sama-sama menumpahkan tangis.
"Mami ingin ikut dengan kalian." ucap mami Lyra.
Kini berganti Kei menggeleng tidak setuju. "Jika Mami ikut kami, siapa yang akan menjaga suamiku. Sebaiknya Mami tetap disini." kata Kei.
"Mami marah dengan Ken, teganya dia mengusir kamu." mami Lyra menggebu-gebu.
"Mi, kita tahu apa yang terjadi dengan suamiku. Kei bisa memaklumi."
"Belum tau Mi, tapi kata sekretaris Lee didepan ada Tony yang menunggu, Kei disuruh ikut dengan Tony." kata Kei.
Mami Lyra bernapas lega, "Iya Sayang, nggak pa-pa sementara kamu bersama Tony. Seenggaknya kamu dan cucu ku tidak harus terlantar. Nanti Mami bilang dengan Lee, agar kamu dibawa ketempat yang aman. Mami punya Hotel dan Vila, nanti kamu bisa tinggal disana untuk sementara."
"Iya Mi, Kei pamit dulu. Kasihan anak-anak pasti lelah." pamit Kei.
Mami Lyra tidak langsung menjawab, sibuk menciumi Kio dan Kyura. Mereka tidak bisa sering bertemu.
"Hati-hati ya Sayang, Mami akan menelponmu." kata mami Lyra.
"Tuan Muda, harusnya anda tidak melakukan ini." Lee memberanikan diri mengatakan itu pada Ken.
"Kepalaku pusing Lee, jika kau banyak bicara akan ku pukul kau! ku beri pasal berlapis." sentak Ken.
__ADS_1
Mata Ken melihat ke Kio, entah melihat bocah itu hatinya bergetar. Seolah ada suatu ikatan yang tidak dimengerti.
Melihat Kio menatapnya dengan kebencian sekaligus luka membuat hati Ken tidak tega. Tapi saat memandang Kei, entah kebencian untuk wanita itu juga sangat besar. Rasanya muak untuk melihat wajah Kei yang baginya sok polos dan munafik.
Tanpa Ken ingat, orang yang menolong nyawanya dari kematian adalah Kei. Perempuan yang memiliki kebaikan dan kesabaran yang luar biasa.
Kei melanjutkan langkahnya, mami Lyra berdiri ditempat yang tadi dan terus melihat Kei yang semakin menjauh.
Ingin sekali mami Lyra mencegah, tapi jika Kei masih disini tak ayal Ken akan terus menyiksa batin Kei dan cucu-cucunya. Maka keadaanya akan lebih buruk. Mungkin memang sementara waktu mereka harus terpisah. Semoga ingatan Ken segera kembali.
Setelah Kei menghilang dibalik gerbang, mami Lyra akan masuk kedalam rumah. Didepan pintu masih ada Ken yang bersandar didaun pintu dengan memegangi kepalanya.
"Setelah Kei dan anaknya pergi, rumah ini akan kembali sepi." ucap mami Lyra saat melewati Ken dan Lee begitu saja tanpa berhenti didepan mereka berdua.
Meski tindakan Ken sangat keterlaluan tapi Lee tidak bisa mengabaikan keadaan Ken yang merintih kesakitan. Walau bagaimana pun tidak ada yang bisa disalahkan. Ken melakukan itu dibawah alam sadarnya, bukan atas pemikiran normal.
Lee mengembuskan napas, disini dialah yang lagi-lagi dibuat sibuk dan kebingungan. Dia yang harus mengurus semuanya.
Lee segera memapah Ken untuk menuju kekamarnya.
Ken menurut tanpa banyak bicara. Sakit dikepala semakin berdenyut membuat kepalanya mau pecah.
Sampai didalam kamar Lee menyiapkan obat untuk Ken, didalam obat itu ada dosis obat tidur. Ken harus banyak istirahat dan menghindari ingatan yang berlebih.
Selain itu disaat Ken tertidur Lee akan menggunakan waktu untuk menghubungi Tony.
Didepan gerbang, mata Kei melihat ada satu mobil sedan hitam yang terparkir dibahu jalan. Mungkin itu mobil Tony. Seperti kata Lee tadi.
Kei masih menebak-nebak tapi Tony sudah keluar dari dalam mobil dan mendekati Kei.
"Hana..." sapa Tony.
"Eh, maaf. Maksutku Nona Kei." Tony meralat karna salah memanggil.
__ADS_1
Kei mengangguk. Setelah Tony membukakan pintu mobil, Kei mengajak Kio untuk masuk.
Setelah Kei dan anaknya masuk, Tony langsung tancap gas. Meski belum tau tujuannya akan pergi ke alamat mana, yang terpenting ia harus membawa Kei menjauh dari rumah itu. Seperti itu yang diperintahkan Lee padanya. Ia akan menunggu perintah selanjutnya.