Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Mencari Kio


__ADS_3

Hari semakin gelap, bocah lima tahun itu masih duduk ditrotoar. Tak ada rasa takut, semua tertutup dengan kekesalan dan kekecewaan.


Duduk melamun dengan menopang dagu, persis seperti orang dewasa yang lagi galau. Ia pun cuek dengan orang-orang sekitar yang terus memperhatikannya. Ada sebagian yang bertanya.


Adik tersesat ya?


Adik lagi ngapain disini?


Adik nunggu siapa?


Adik terpisah dari orang tuamu ya?


Kasihan sekali.


Ayo ikut kami.


Seperti itu pertanyaan mereka, tapi tak sekalipun dijawab oleh Kio, bahkan setiap ada yang melontarkan pertanyaan, ia hanya mendelikkan mata.


Dia memang anak kecil, tapi sudah memiliki sikap arogan yang mungkin turunan dari sikap Daddy nya. Bahkan jika sudah besar bisa lebih parah dari sikap Ken dulu.


Mendengar pertanyaan dari orang-orang malah membuat Kio semakin kesal.


Mobil putih berhenti didepan Kio, seorang laki-laki turun dan membujuk bocah itu untuk ikut. Entah apa yang dikatakan, hingga Kio mau ikut dan masuk kedalam mobil itu.


Ken dan Lee kelimpungan menyusuri jalan sekitar rumah sakit. Kedua matanya tak henti dan dengan pandangan jeli terus menyusuri pinggiran jalan.

__ADS_1


Ken tidak bisa duduk dengan tenang, kaca mobil yang diturunkan hingga bawah. Hal yang jarang ia lakukan, membiarkan debu-debu jalanan menerpa wajahnya.


Hati dan pikiran semakin kalut saat menatap matahari yang kian tenggelam. Bahkan hari akan terganti dengan malam tapi ia belum berhasil menemukan putranya.


Umpan kasar, eraman kesal, semua jadi sasaran kemarahannya. Berkali-kali menjambak rambutnya sendiri, menandakan ia sangat frustasi. Ingin segera mengakhiri semua yang membuatnya pusing dan lelah.


Rasa khawatir dengan jantung yang berdebar semakin membuatnya tak nyaman, seolah terserang penyakit jantung.


Lee terus memperhatikan lewat kaca spion. Ia sangat kasihan melihat tuan mudanya frustasi. Tapi apa yang bisa dia perbuat untuk menenangkan Ken. Semakin dia banyak bicara maka amarah tuan Ken akan memuncak. Untuk itu ia lebih memilih diam dan membungkam mulut.


"Lee, apa belum ada yang menghubungi?" tanya Ken.


"Belum, Tuan Muda."


"Huh... tidak ada yang becus. Percuma aku menggaji kalian. Semua tidak bisa diandalkan." suara Ken meninggi.


"Tapi Tuan, hilangnya Kio belum ada 24jam, apa polisi mau menerima laporan."


"Apa mereka harus menunggu putraku hilang 24jam baru mau mencari? Ba****t, tuntut saja semuanya ratakan kantor polisi itu dengan tanah!" sentak Ken marah.


'Beginilah sikap tuan muda yang menyebalkan, memberi perintah tidak masuk akal. Lalu yang lain harus menuruti perintah itu! yang waras bisa ikut gila kalau dekat dengan tuan Ken.'


Jika dipikir dengan benar memang, polisi tidak akan menerima laporan orang hilang sebelum memenuhi batas waktu 24jam. Tapi terpaksa Lee harus melapor pada polisi, jika tidak tuan Ken akan marah.


Tangan sebelah menyetir, dan yang sebelah pun digunakan untuk menelpon polisi. Ia menghidupkan loud speaker dan menaruh ponsel didasboard mobil. Cukup lama Lee bernegosiasi agar polisi mau membantu, hingga suara Ken yang mengerikan terdengar barulah polisi itu menjawab. "Baik Tuan."

__ADS_1


"Lee, hari sudah mulai gelap. Kemana putraku pergi? aku takut terjadi sesuatu padanya. Ya Tuhan, harus kemana aku mencari?" suara Ken terdengar parau.


Lee terus memutari jalanan, ia juga menghubungi Tony dan yang lain. Tapi jawabannya sama, belum bisa menemukan Kio.


Sedangkan di dalam mobil putih, Kio yang tadi merajuk dan cemberut kini begitu antusias mendengarkan cerita dari lelaki yang mengajaknya tadi. Saat itu perutnya berbunyi, bocah itu kelaparan. Lelaki itu tertawa dan mengelus pucuk kepala Kio. Anak seumuran Kio memang menggemaskan.


Dirumah sakit Kei belum sadar, ia masih terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Mami Lyra duduk disampingnya, memandangi wajah Kei yang semakin pucat setelah terjadinya pendarahan yang lumayan banyak.


Jantung mami Lyra juga berdegub kencang, memikirkan keberadaan cucunya yang hilang ditambah mendengar kabar Kei yang semakin melemah. Kumpulan para dokter semua turun tangan saling membantu, hingga beberapa menit lalu kondisi Kei sudah lumayan normal. Bayi yang dikandung pun masih bisa bertahan. Dokter sangat bersyukur janin itu kuat.


Tidak bisa terbayangkan jika Kei mengalami keguguran mungkin rumah sakit tempatnya mencari nafkah besok pagi hanya tinggal puing-puing bangunan saja yang rata dengan tanah.


Mendengar tuan Ken mengamuk diruang CCTV tadi membuat mereka gemetar, apalagi jika mereka gagal menyelamatkan istri atau calon anaknya. Entah apa yang terjadi, bisa saja mereka juga hanya tinggal nama.


Setelah menangani Kei, beberapa dokter masih menunggu didalam ruang rawat itu, mereka memantau kondisi Kei. Jika mengalami penurunan lagi maka lebih cepat untuk menangani.


Saat ini mata Kei masih terpejam, jika mata itu terbuka pasti akan langsung histeris mencari keberadaan putranya.


Para dokter seolah kesusahan untuk bernafas. Nyawa mereka masih diambang pintu, berada diujung tanduk. Jika bisa memilih, saat ini lebih baik izin tidak masuk sift atau dipindah tugaskan saja kerumah sakit lain.


Mereka mengadakan do'a bersama, semoga semua kondisi kembali kondusif. Nafas mereka akan kembali lancar dan jantung mereka tidak terserang penyakit karna terlalu keras berdegub.


Hari sudah berganti gelap, jam menunjukan pukul 7malam. "Lee, ini sudah malam, Kio belum ketemu. Pasti dia kelaparan, lalu dia makan dimana? Kenapa dia harus pergi? apa ini salahku Lee? aku terlalu menginginkan anak lagi hingga menyakiti Kio. Kio selalu menentang tidak mau punya adik. Setelah tau Mommy nya hamil dia langsung marah pada kami. Dia pasti kecewa dan pergi. Aku tidak terpikir putraku yang masih kecil sampai nekad untuk pergi. Ini semua salahku Lee, apa aku harus mengorbankan janin Kei demi Kio mau kembali?" pikiran Ken benar-benar buntu, ia tak bisa berpikir jernih. Semuanya rumit, kusut seolah tak bisa diluruskan.


"Tidak Tuan, jangan mengorbankan salah satu keturunan anda. Kio masih kecil, dia belum bisa berpikir jauh. Kita beri pemahaman dengan pelan Kio pasti akan mengerti."

__ADS_1


"Tapi aku sudah memberinya pemahaman, tetap saja dia tidak mengerti."


"Belum Tuan Muda, Kio hanya merasa takut jika kasih sayang kalian terbagi. Untuk itu putra anda menunjukan aksi protesnya dengan pergi dari anda. Setelah kita berhasil menemukannya, berikan dia kasih sayang yang lebih dan juga selingi dengan pemahaman. Aku yakin putra anda pasti bisa mengerti."


__ADS_2