
Hari ini tepat memperingati wafatnya almarhum Olive dan calon anaknya. Anggota keluarga Ken meluangkan waktu untuk berkunjung ke makam Olive mengirim do'a bersama.
Kei terpaksa tinggal dirumah karna baby Kyura masih terlalu kecil jika harus diajak ke makam. Hanya orang-orang dewasa yang berkunjung ke makam itu.
Sesudah sampai di makam, dipimpin oleh papa Herlambang semua memanjatkan do'a untuk ketenangan almarhumah olive dan calon anak Ken yang lebih dulu pergi sebelum lahir ke dunia.
Setelah selesai, Herlambang mengajak mami Lyra untuk lebih dulu meninggalkan makam. Sedangkan Ken meminta waktu untuk sendiri.
Setelah orang-orang pergi, Ken memandang batu nisan dengan pandangan nanar. Disebelah lagi ada makam calon anaknya.
Bertahun-tahun telah berlalu, namun kejadian manis dan pahit masih terlintas sangat jelas.
"Semoga kau selalu damai di tempatmu," Ken menunduk sejenak lalu kembali menengadahkan kepala dan berganti menatap batu nisan kecil terdapat nama calon anaknya. Mengucapkan do'a yang sama untuknya.
Selesai menuntaskan do'a dan ucapannya. Ken beranjak untuk meninggalkan makam. Tapi pandangannya tertuju pada seorang yang ia hapal. "Mami?!" ucapnya lirih.
Bukankah tadi mami sudah izin pulang duluan. Lalu kenapa duduk disamping makam asing. Entah makam siapa, karna makam ayahnya bukan berada di kompleks umum.
Ken yang penasaran sudah mendekati makam itu. Sedikit terlihat tulisan sebuah nama. "John Lee." Ken mengeja dengan suara pelan lalu mengernyitkan kedua alisnya. Ia benar-benar asing dengan nama itu.
Dari silsilah keturunannya tidak ada yang memakai nama itu. Tapi, ada yang familiar, kenapa nama belakangnya sama dengan nama Lee. Apa kah ada hubungannya? Ah... tapi tidak mungkin, apa hubungannya dengan Lee?!
Tapi selama ini Ken tidak menelisik tentang asal usul sekretarisnya itu. Yang ia tau Lee tidak memiliki sanak keluarga karna sudah meninggal. Dan ia pun tidak pernah mengusut atau bertanya tentang keluarga Lee.
Ah, aku mikir apa! mungkin pikiranku terlalu jauh.
Ken menepis segala pikiran yang tidak masuk akal. Ia memutuskan untuk menghampiri maminya.
"Mi," panggil Ken ketika sudah berada dibelakang mami Lyra.
Mami Lyra tidak langsung menjawab, ia malah diam mematung dan sama sekali tidak menoleh. Dari gerik tangannya ia tengah mengusap wajah. Apakah mami Lyra menangis?
"K Ken... kenapa kau ada disini?!" tanya mami Lyra dengan gugup.
Ken semakin aneh. Menatap mami Lyra dengan keheranan. "Harusnya Ken yang tanya, Mami kenapa ada disini?!" Ken berbalik bertanya.
"Ough, Mami hanya mengunjungi makam salah satu pegawai almarhum Papi." mami Lyra tidak bisa menyembunyikan kegugupan.
Pandangan Ken terus menyorot kearah batu nisan, meski tulisan itu hampir memudar tapi Ken masih bisa membaca dengan jelas.
__ADS_1
"Mami masih ingat almarhum pegawai Papi?" Ken tidak percaya begitu saja. Melihat gerak gerik maminya seperti orang yang sedang gelisah dan gugup. Apa ada sesuatu?
"Papa mana?" Ken menanyakan keberadaan Herlambang.
"Mami suruh tunggu di mobil, Mami cuma sebentar disini. Sepertinya Papamu tadi mengeluh capek, jadi Mami suruh istirahat." jawab mami Lyra.
"Ya udah, ayo kita pulang." Mami Lyra beranjak berdiri tapi ada sebuah foto yang terjatuh. Dan mata Ken jelas melihatnya.
Dengan gerakan cepat mami Lyra memungut foto yang telah memudar. Tidak begitu jelas menggambarkan wajah siapa.
"Foto siapa Mi? coba Ken lihat." Ken menengadahkan tangannya untuk meminta lembar foto itu tapi mami Lyra buru-buru memasukannya kedalam tas.
"Sudah sudah, ayo kita pulang sekarang. Papa pasti udah nungguin kita." mami Lyra mengalihkan perhatian. Segera menggandeng tangan Ken untuk diajaknya keluar dari area makam.
Kaki Ken terpaksa mengikuti dengan penuh penasaran tentang foto tadi.
Sampai didalam mobil, Ken yang duduk didepan melirik kearah maminya lewat kaca spion.
Mami Lyra terdiam dan melamun. Sedangkan Herlambang sibuk dengan ponselnya.
Ken yang masih sangat penasaran tentu harus diam, tidak mungkin mencecar pertanyaan didepan papanya.
Didalam mobil tidak ada percakapan panjang, hanya sesekali Herlambang bertanya pada Ken tentang perusahaan.
Satu jam setelah pulang dari makam Herlambang terlihat siap dengan pakaian rapi.
Ken yang bersantai di ruang keluarga bersama Kei dan kedua anaknya menyapa Herlambang yang melewati mereka.
"Papa mau kemana?" tanya Ken basa basi.
"Papa harus ke kantor untuk mengecek laporan penting." jawab Herlambang. Terlihat mami Lyra terburu-buru menyusul dibelakang suaminya untuk menghantar sampai pintu depan.
Setelah mobil yang ditumpangi Herlambang pergi, mami Lyra segera melangkah masuk.
Dan diruang keluarga Ken menghentikan maminya. "Mi, Ken mau bicara." kata Ken.
Mami Lyra berhenti dan melihat Ken. "Mau bicara apa Ken?" tanya mami Lyra.
"Soal tadi di makam..."
__ADS_1
"Eum... sebentar, Mami ada yang kelupaan. Sebentar ya," mami Lyra sudah berlalu dengan terburu-buru.
Gerak gerik maminya semakin membuat Ken curiga.
"Honey, kau aku ingin berbicara dengan Mami." Ken meminta izin.
Kei mengangguk. "Baiklah... sini baby Kyura sama Mommy dulu ya," Kei beralih meminta baby Kyura yang tadi berada di gendongan suaminya.
"Dad, ikut." melihat Daddy nya akan pergi, Kio merengek ingin ikut.
"Kio main dulu sama Mom dan Adik Kyura, Dad mau bicara penting dengan Oma. Kio mengerti?" ucap Ken.
Meski Kio memberengut kesal tapi kepala bocah itu akhirnya mengangguk.
Ken berjalan menuju kekamar maminya. Mengetuk pintu dan langsung masuk.
Mami Lyra sedang duduk di pinggir ranjang, sedikit gugup dengan kedatangan Ken.
"Kenapa Mami aneh, apa ada sesuatu?!" tanya Ken langsung.
"Apa Ken? Mami tidak ada apapun. Tidak ada sesuatu." jawab mami Lyra.
"Kalau tidak ada sesuatu, boleh Ken tau tentang foto yang sudah hampir pudar tadi? siapa orang didalam foto itu? Kenapa Mami tidak bercerita apapun." Ken sangat penasaran.
Mami Lyra menghembuskan napas panjang. Memandang Ken dengan sendu. "Tidak ada apapun Ken. Tadi hanya foto almarhum teman Mami." sanggah mami Lyra.
"Apa teman Mami mantan pegawai almarhum Papi yang udah meninggal tadi?" selidik Ken.
"Iya," Mami Lyra menjawab singkat.
"Kenapa Mami masih menyimpan foto itu?" Ken benar-benar tidak mau menyudahi rasa penasarannya.
"Hanya sebagai kenang-kenangan Ken."
"Kalau begitu coba Ken lihat."
"Untuk apa? kamu juga nggak kenal dan nggak tau sama temen Mami." mami Lyra menolak untuk menunjukan foto tadi.
"Ken hanya ingin lihat Mi, kenapa Mami gugup begitu?" Ken semakin menelisik.
__ADS_1
"Baiklah," akhirnya Mami Lyra beranjak untuk mengambil tas yang tadi menyimpan foto usang.
Entah kenapa Ken begitu tidak sabar ingin melihat foto itu. Karna ia sangat penasaran.