
Satu bulan berhasil Kei lewati tanpa kehadiran Ken, tanpa belaian kasih sayang seorang suami. Satu bulan menjadi single parent untuk kedua anaknya. Tidak mudah, memang. Tapi lagi-lagi senyum dan keceriaan Kio dan Kyura mampu menguatkan dan menjadi penyemangat.
Selama satu bulan itu terhitung hanya beberapa kali Kei mengamati Ken dari kejauhan. Itu pun hanya dalam hitungan menit untuk melihat wajah tampan nan rupawan. Kini Kei merasakan menjadi orang biasa yang sangat sulit hanya untuk memperhatikan wajah Ken dari jarak dekat.
Kio, putra pertamanya sudah mulai mengenyam pendidikan TK tahun ajaran baru. Awal keberangkatannya pergi ke sekolah tentu hanya diantar Kei, tanpa dampingan sang ayah seperti anak-anak lainnya.
Beruntung Kio memperlihatkan sikap cuek dan acuh, membuat Kei tidak begitu terbebani jika harus melihat putranya bersedih.
Sebenarnya jauh dari bayangan Kei, Kio amat merasa sedih. Beberapa kali melirik kearah temannya yang lain, ketika mereka diantar jemput oleh ayah mereka. Kio harus memendam iri dan kesedihan, karna hanya berdua dengan ibunya dan bertiga dengan adik bayi.
Selama satu bulan Kio mengabaikan rasa rindunya pada sang ayah, yang ada dalam ingatannya Daddy Ken melupakan dirinya, ia pun juga melupakannya. Untuk itu Kio mulai jarang menanyakan tentang ayahnya.
Setiap pagi hati Kei menghangat, melihat penampilan putranya yang begitu tampan menggunakan seragam sekolahnya. Meski dari tas, sepatu dan barang lain yang digunakan bukanlah dari merk terkenal tapi Kio terlihat tampan bagi Kei. Ya, penampilan Kio dan Kei terhitung sederhana. Mereka harus membiasakan itu.
Herlambang, mami Lyra juga Lee setiap satu minggu sekali tidak pernah absen memberikan uang untuk kebutuhan sehari-hari dan juga kebutuhan Kio bersekolah.
Meski begitu Kei selalu menggunakan uang dengan hemat. Tidak mau bergantung dan terus menerus merepotkan orang lain hanya untuk biaya hidupnya. Miris, istri Kendra Kenichi si raja bisnis harus berhemat karna kekurangan ekonomi.
Jika publik tau tentang itu, tentu akan menjadi trending topik seantero jagat.
"Tidak Mi, uang yang dikasih Mami kemarin masih ada. Mungkin Mami punya kebutuhan sendiri. Aku dan anak-anak sudah berkecukupan. Dan terima kasih untuk semuanya."
"Terima kasih sekretaris Lee, anda selalu baik pada ku dan juga Kio. Maaf jika keluarga ku merepotkan mu. Dan untuk uang ini, aku tidak mau menerima. Uang yang kemarin masih ada, aku masih bisa menggunakan sisa yang kemarin."
Begitulah jawaban Kei saat orang terdekat memberinya uang untuk biaya hidup. Itulah sisi kebaikan yang dimiliki Kei, tidak pernah berubah dalam situasi apapun. Tidak mau memanfaatkan kebaikan orang lain.
Bulan kedua dilalui hampir sama dari bulan sebelumnya, tak ada perbedaan yang berarti. Kei masih menebarkan hati untuk menahan rasa rindu yang semakin menggunung. Satu bulan, dua bulan berhasil dilalui tanpa berada disamping Ken.
Menyiksa, menyayat hati, terbebani akan rindu dan juga kesedihan dari Kio.
__ADS_1
Sewaktu malam Kei terbangun dari tidurnya dalam keadaan yang remang-remang, samar ia mendengar suara Kio yang menahan tangis.
Hatinya kembali hancur kala mendengar Kio menyebut Ken dalam tangisannya.
Kei baru tahu, jika selama ini yang dianggapnya baik-baik saja tapi tak sebaik yang dikira. Ternyata tetap saja hati kecil itu merindukan sosok ayahnya.
Hati Kei yang mulai tertata harus kembali hancur, tak sanggup mendengar Isak tangis yang tertahan dan terdengar begitu memilukan.
Bulan ketiga, sewaktu Kei berbelanja harian bersama Kio, tak sengaja waktu keluar dari Mall berpapasan dengan Ken.
Tak ada sapaan dan tak ada kata yang terucap dari mulut keduanya. Bahkan Kio pun hanya menatap sang ayah dengan sorot mata yang sendu. Tanpa berani memanggil dengan sebutan Dad atau Daddy.
Dua tetes kristal bening juga lolos dari sudut mata kecil nan indah. Tapi secepat kilat tangan Kio menghapus dan kembali menarik tangan Kei untuk berlalu.
Hati Kei semakin hancur kala Kio menarik tangannya, apakah Kio tidak senang bertemu dengan ayahnya? apakah Kio benar-benar melupakan daddynya?
Didalam taksi Kei dan Kio sama-sama diam membisu. Tak ada yang menanyakan isi hati masing-masing. Mereka terkejut, shok, sekaligus kecewa dengan Ken yang hanya diam saat berpapasan.
Disaat Kei dan Kio berlalu, Ken membalikkan badan dan melihat mereka menjauh. Saat itupun Ken merasakan sesuatu yang menghangat tapi Ken tidak bisa mendeteksi perasaannya sendiri dan membiarkan anak istrinya pergi.
Bulan keempat, kelima.
__ADS_1
Mami Lyra sering berkunjung ke Apartemen Kei, tapi setiap Kei menanyakan keadaan Ken jawaban mami Lyra membuat harapan Kei tak tersampai. Bahkan dibulan kelima ini dengan segala beban yang ditanggung bahkan hampir menyerah Ken belum juga ingat tentang sepenggal perjalanan kisah mereka.
Apa yang bisa Kei harapkan lagi.
Enam bulan berlalu.
Enam bulan Kio bersekolah, tak sekalipun terlihat dia bersama ayahnya. Desas desus disekolah mulai terdengar tentang asal usul Kio, dan juga keturunan dari siapa?
Bukan lagi teman Kio, tapi para wali murid ikut kepo tentang asal usul Kio yang tak pernah terbuka.
Lagi-lagi Kio mampu menutupi perasaanya. Bersikap acuh dan tidak perduli.
Enam bulan masuk sekolah, Kio sudah berhasil mengerjakan tugas dengan baik. Ketika wali murid meminta tanda tangan kedua orang tua, Kio hanya menyuruh opa Herlambang untuk membubuhi tanda tangan dilaporan hasil nilai itu. Tidak sekalipun mengharapkan tanda tangan ayahnya seperti anak yang lain.
Enam bulan waktu yang cepat bagi pertumbuhan bayi, Kyura yang sewaktu pergi dari rumah Ken belum bisa bergerak bebas. Belum bisa menggerakkan anggota tubuh dengan cepat, kini balita mungil yang sangat cantik dan bermata sipit itu sudah pandai merangkak dan berceloteh riang. Berpindah tempat kesana kemari, sampai Kei kewalahan menjaganya.
Tapi hati Kei tetap bahagia bisa menjaga dan membesarkan mereka.
"Ziiziii bubu ba... au.. wa..." suara Kyura berceloteh. Bibir Kei dan Kio bersamaan mengembang mendengar suara Kyura yang terdengar lucu.
"Adik Yura, sini cium Kak Io." Kio memanggil Kyura untuk mendekat dengan melambaikan tangan kearah Kyura.
Kyura mulai merangkak mendekati kakaknya, setelah itu Kio menciumi wajah Kyura.
"Adik, ayo kita cium Mom." ajak Kio.
Kei tersenyum, lalu mengangkat tubuh Kyura untuk berdiri. Jadilah keduanya mencium pipi Kei yang kanan dan kiri.
Hati Kei menghangat dan merasa bahagia, meski kebahagiaan mereka belum lengkap. Tiada henti Kei berdo'a, semoga Tuhan masih berbaik hati mempersatukan keluarganya menjadi keluarga yang utuh dan bahagia.
Meski tidak tahu beberapa bulan atau beberapa tahun lagi.
__ADS_1