
Sampai didepan rumah, Lee membukakan pintu dan menyiapkan kursi roda. Setelah Kei duduk, Ken kembali mendorong kursi roda itu masuk kedalam rumah. Beberapa pelayan berjejer untuk menyambut kedatangan mereka dan memberi hormat. Sampai didepan anak tangga Kei berdiri ingin menaiki anak tangga, tetapi dengan cepat Ken menggendong Kei dan membawanya keatas. Beberapa pelayan yang berjejer sangat terkejut melihat tuan Ken menggendong Kei, mereka shok, iri, tidak percaya Kei bisa sedekat itu dengan tuan Ken.
Hampir seluruh penghuni rumah tau kalau dulu tuan muda sangat membenci Kei, tetapi saat ini dengan mata kepala mereka sendiri bisa melihat langsung kepedulian tuan Ken yang mau menggendong tubuh Kei dan membawanya keatas. Sungguh itu hal mengejutkan bagi mereka, tindakan itu terlihat so sweet sekali, membuat iri, terlebih tuan muda yang dingin tidak pernah baik semenjak keadaanya terpuruk karna kehilangan istri dan calon anaknya, tidak punya kepedulian tentang orang lain. Tetapi.. saat ini tuan Ken berubah.
"Tuan,,,"
"Heem..."
"Badanku pasti berat." Kei malu.
"Ha... bagus jika kau merasa begitu." tersenyum tipis. Kei cemberut.
"Jangan seperti itu, kita sudah akan sampai dikamar."
"Heee,,, memang kenapa?"
"Jika kau seperti itu aku ingin memakan mu sekarang juga." mengedipkan sebelah mata.
"Hiya.. tuan, aku belum pulih kau sudah ingin memakanku!" menyembunyikan wajah, semakin malu.
"Untuk itu jangan menggodaku."
"His... siapa yang menggoda anda."
Lee membuka pintu kamar, Ken menuju keranjang menurunkan Kei disana.
"Kau mau sesuatu." Ken menawari. Kei menggeleng.
"Aku ingin membersihkan tubuh sebentar." Ken mencium kening Kei lembut dan meninggalkannya masuk kedalam kamar mandi. Tuan Ken berlalu, Kei duduk bersandar diranjang.
'Aku benar-benar tidak mengerti dengan sikapmu tuan, kebaikanmu, perhatianmu seolah memiliki perasaan untukku tetapi aku pun ragu karena kau tidak pernah mengungkap itu. Aku takut itu hanya perasaan ku saja, setelah adanya harapan lebih saat itu kau membuangku. Aku sudah pernah merasakan itu, sampai sekarang aku masih sangat ingat dengan rasa sakit tentang penghianatan dan dicampakan. Pertahanan ku akan terkikis jika kau selalu bersikap baik seperti ini, membuatku semakin jatuh hati.' Kei menghela nafas. Setelah pemikiran tentang tuan Ken, kini pemikirannya beralih tentang urusan pekerjaan dikantor. Bagaimana menghadapi orang-orang kantor yang menanyakan keadaanya, terlebih lagi jika mas Izham dan Mira tau. Terdiam lama dan larut dalam pemikiran tidak menyadari jika tuan Ken sudah menghampiri diatas ranjang.
Cup...
Ken mencium bibir Kei sekilas, Kei kaget dan menoleh. Terasa dingin bibir tuan Ken menyentuh bibirnya.
"Kenapa melamun?" Ken ikut bersandar diranjang.
"Apalagi yang orang lakukan ketika sedang sendirian jika tidak melamun."
"Kau bisa bernyanyi atau menonton TV." Kei tersenyum.
"Tuan, kapan aku masuk ke Kantor lagi?"
__ADS_1
"harg... kau baru beberapa menit pulang sudah menanyakan itu? ah.. aku tak percaya!"
"Setidaknya aku harus mempersiapkan diri?"
"Mempersiapkan diri?" Ken mengulang dan Kei mengangguk.
"Ck... sudah ku bilang tidak perlu memikirkan orang lain! Biarkan mereka berasumsi. Jalani harimu, tidak perlu terbebani. Dengarkan aku dan ingat! jika di Kantor ada yang menyakitimu atau menindas mu katakan padaku." Kei hanya diam, Ken membimbing Kei ke pelukannya. Dalam pelukan itu Kei meneteskan airmata, Kei benar-benar tidak bisa mengabaikan kebaikan tuan Ken, rasa nyaman semakin tumbuh.
"Baru kali ini aku berbicara panjang lebar selain menyampaikan teks pidato. Huh, membuat bibir ku lelah berbicara." Kei menghapus airmata dan mendongak.
"Kenapa seperti itu, memang kenapa kalau berbicara panjang lebar?"
"Kau tau, aku tidak pernah berbicara banyak."
"Ya...ya... itu memang ciri khas mu. Tapi mulai sekarang aku akan mengajarimu berbicara banyak kata dan kalimat."
"Hem, Lakukan jika kau bisa."
"Aku ingat sesuatu, diperut bagian bawahmu... bagaimana kau mendapat luka itu?" bertanya serius.
Deg....
Kei tidak siap, tidak menyangka mendapat pertanyaan itu! tidak pernah terpikir sejauh itu.
"Kau tau! lukamu hampir sama denganku."
"Tuan juga mempunyai luka?" Kei berpura-pura tidak tau.
"Hei... kita sudah berkali-kali bermain, kau tidak melihatnya?"
"Tidak..." Kei menunduk malu, tuan Ken terlalu terbuka mengatakan itu. Ken tersenyum, dia tau bahwa Kei malu.
"Baik, besok jika kau sudah sembuh kau harus melihat dari atas sampai bawah tanpa ada yang terlewat."
"Hiya.... apa-apaan."
"Hahhahaa...." suara tawa Ken pecah. Ternyata sangat menyenangkan jika berdua dengan Kei seperti ini. Kei mendesis, dirasa suaminya itu senang sekali mengerjainya.
"Aku ingin memindahkan mu dibagian yang lebih layak, jika mau menjadi sekretaris pribadi ku."
"Aku tidak mau, sedari awal aku masuk hanya menjadi OB. Jika tiba-tiba aku menjadi sekretaris, pasti mereka akan berpikir yang aneh-aneh."
"Atau kita perlu jumpa pers untuk memberi pengumuman kau adalah istriku."
__ADS_1
"Haha... tidak semudah itu Ferguso!" Kei tertawa dengan candaannya.
"Ah... aku terlalu baik padamu!" Ken kesal.
"Aku bercanda."
"Aku tidak suka bercanda."
"Baiklah baiklah..."
"Jika kau mengumumkan itu posisiku akan semakin sulit, sudah kita jalani seperti ini saja."
"Sulit? harusnya kau bangga punya suami seperti ku." mendengus sebal.
"Kau saja terlalu percaya diri tuan."
tok...tok...
Lee membuka pintu dan masuk, dilihat tuan mudanya duduk diranjang bersama Kei. Lee masih berdiri didepan pintu.
"Sudah?" ucap Ken.
"Sudah tuan muda." Lee membawa paper bag dan mendekat keranjang. Kei tidak tau apa isi paper bag itu. Tiba-tiba Ken memberikan itu kepadanya, Ken memberi kode menganggukkan kepala agar Kei segera membuka. Saat dibuka ternyata sebuah ponsel keluaran terbaru dengan harga puluhan juta.
"Pakailah ponsel itu, sudah ada nomor ku. Kau tinggal memakainya saja."
"Harusnya tidak perlu berlebihan seperti ini tuan, aku tidak perlu ponsel semahal ini."
"Ah... kau selalu saja begitu! kau itu tidak mengikuti kemajuan teknologi."
"Aku tidak pernah mengikuti kemajuan teknologi, belum tentu aku bisa menggunakan ponsel canggih seperti ini."
"Kau gunakan untuk menjawab telpon dariku dan berfoto seperti wanita pada umumnya."
"Jangan, ponsel mahal ini akan rusak jika aku pakai untuk berfoto-foto. Kau tidak tau tuan wajahku mengerikan saat difoto. Hehe..."
"Benarkah... ayo kita buktikan." Ken mengambil ponsel dan membuka fiture kamera mengarahkan kamera untuk membidik wajah mereka berdua. Bukan hanya satu, berapa foto diambil dengan berbagai gaya mulai gaya biasa, gaya wajah jelek. Ada juga Ken sengaja mencium Kei.
Lee yang masih belum keluar menggaruk kepala. Sejak kapan tuan mudanya itu menjadi raja alay seperti itu.
"Keluar saja Lee. Nanti kau iri!" Kei mencubit tangan Ken.
"Hei, aku benar! dia tidak punya pasangan."
__ADS_1
'Hina saja terus tuan! itu semakin membuatku semangat untuk mencari pacar.' Lee membatin.