Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Masih tetap menyalahkan


__ADS_3

Tak ingin perdebatan itu berlanjut, Bramantyo mengajak kakaknya untuk pergi meninggalkan meja Ken.


Kemarahan dan kebencian terlihat jelas diwajahnya yang sudah tua. Beberapa kali terdengar hembusan nafas kasar. Pertanda Herlambang masih berusaha menguasai emosi.


"Mas, harusnya Mas tidak bersikap seperti itu." kedua pria paruh baya itu berada dipojok ruangan. Bramantyo melihat tepat diwajah kakaknya.


"Apa maksudmu? apa aku harus tersenyum didepan pembunuh anakku sendiri!" hardiknya marah.


"Mas, bukankah fakta itu sudah terjawab. Bukan Kendra yang membunuh Olive, tapi pembantu dirumahnya yang melakukan sabotase kecelakaan dan menyebabkan anakmu pergi. Bahkan Mas juga sudah melihat video pengakuan kejahatan itu 'kan? lalu kenapa Mas masih membenci Ken?" ingin sekali Bramantyo menyadarkan pemikiran kakaknya yang salah.


Herlambang terus saja menyalahkan Ken. Padahal semua bukti tidak menunjuk padanya. Dan, kasus itu sudah selesai. Harusnya semua berakhir damai.


Herlambang membuang pandangan, sebelah bibir yang terangkat seolah bersikap meremehkan. "Dengar Bram. Aku tetap akan menyalahkan Ken atas kepergian putriku. Aku menyesal telah memberi restu dan menyerahkan putriku padanya. Pada akhirnya lelaki pengecut itu tidak bertanggung jawab menjaga Olive dengan baik, hingga nyawa putriku harus menjadi korban.


Herlambang terdiam sejenak, sebelum melanjutkan kalimatnya. Menghirup udara dalam-dalam.


Andai saja Olive tidak menikah dengan Ken, mungkin putriku masih hidup. Aku tidak kesepian, aku sudah punya banyak cucu. Tapi lihatlah, dihari-hari tuaku aku hidup sendiri. Aku kesepian, angan-angan memiliki cucu telah sirna. Dan, semua itu karna Ken. Untuk itu aku sangat membenci pria pengecut itu. Sampai kapanpun aku akan membencinya. Dia yang merenggut putriku, dia yang membuatku kesepian." tersirat kesedihan dari kedua matanya. Lelaki tua itu bahkan tak sanggup menutupi kesedihan hingga kedua sudut mata mengalir cairan bening.


Bramantyo terhenyak, ia yang tadi ingin menyadarkan kakaknya kini tidak tega melihat Herlambang bersedih.


Ia meraih tubuh kakaknya, memeluk dan mencoba memberi ketenangan. Disini ia tak bisa memaksakan kehendak. Bagaimana pun kesalah pahaman yang terjadi begitu rumit, ia sendiri tidak akan bisa meluruskan kesalah pahaman itu.

__ADS_1


"Mas, coba pertimbangkan semuanya. Jangan berpatok pada kesedihanmu sendiri. Coba bersikap legowo dan menerima semuanya dengan ikhlas. Berpikirlah, bahwa kepergian putrimu juga sudah takdir dari Yang Maha Kuasa. Dia yang memiliki umur seseorang. Renungkan baik-baik, jangan sampai kebencian menutup mata hatimu dengan kebaikan Ken.


Aku yakin, kau juga tau bahwa diam-diam Kendra membantu menyumbang dana di perusahaanmu.


Itu berarti Ken masih menganggap mu orang penting. Bahkan dia menyebutmu Papa.


Jika Mas mau berdamai, aku yakin Ken akan menganggap mu sebagai ayahnya, seperti dulu.


Dari dulu kita tau, Ken anak yang baik. Kita membencinya karna kesalah pahaman. Tolong pikirkan itu. Umur kita sudah tua, jangan sampai kita pergi masih ada dendam yang belum diluruskan." panjang lebar Bramantyo memberi nasehat. Walau statusnya hanya adik, tapi ia wajib membimbing dan menasehati pemikiran kakaknya yang salah.


Ia sangat berharap semuanya bisa cepat terselesaikan. Mengingat sudah bertahun-tahun keluarganya membenci Ken, mengklaim Kendra Kenichi yang menyebabkan Olive mengalami kecelakaan.


Keluarga Herlambang, serta saudara-saudara yang lain membenci Kendra. Sepenuhnya menyalahkan Ken atas kecelakaan itu. Sampai pada akhirnya video rekaman Ita dikirim dan menjadi bukti bahwa semua itu bukan salah Ken.


Herlambang terdiam dan melamun, hingga tepukan di bahu menyadarkannya.


"Saat ini tidak tepat untuk merenung, hari ini hari kebahagian putraku. Kita harus berbahagia. Mas bisa merenungkan kesalahpahaman itu dilain waktu."


"Ayo kita bergabung dengan yang lain, sebentar lagi acara foto bersama." Bramantyo mengajak kembali bergabung dengan keluarganya. Sudah sangat lama mereka menghilang, pasti anggota keluarga sedang mencari.


Herlambang mengangguk.

__ADS_1


Bramantyo berjalan lebih dulu, sedangkan Herlambang masih berdiri ditempatnya. Sorot mata yang tajam tepat memandang kearah meja Ken. Dari tempatnya berdiri dengan jelas melihat kebahagiaan keluarga itu. Kendra yang memiliki keluarga utuh, tersenyum bahagia dengan anak dan istrinya. Bahkan sudah memiliki putra kecil yang sangat tampan.


Andai, andai saja putrinya masih hidup. Ia tentu sudah bisa bermain dengan cucunya. Menghabiskan masa tua dengan bermain bersama cucu-cucu. Tapi ia harus meratapi nasib, dihari tua itu harus berteman dengan kesendirian, kesepian. Ia sangat kesepian.


Acara pesta pernikahan berjalan lancar. Waktu bergulir hingga malam semakin larut. Tepat pukul 10malam keluarga Ken dan Lee berpamit untuk pulang.


Dihalaman parkir Ken dan Lee berpencar dan menaiki kendaraan masing-masing.


"Ken, bagaimana bisa Herlambang masih saja menyalahkan mu." Mami Lyra membahas itu dengan kekesalan.


"Entahlah Mi, Ken juga tak habis pikir. Kenapa Papa Herlambang masih menyalahkan ku bahkan semakin membenciku." Ken berkata dengan sedih.


Mami Lyra terdiam, ingatannya kembali hadir disaat keluarga Herlambang begitu menyalahkan Ken hingga putranya sempat terpuruk. Bahkan sudah melihat buktinya keluarga itu masih saja tidak berubah. Mami Lyra takut jika pemikiran Ken terganggu dan kembali terpuruk untuk menyalahkan dirinya sendiri.


Kei terdiam samping Ken, ia sendiri tidak begitu paham dengan permasalahannya.


"Ken, biarkan Herlambang seperti itu. Tapi kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri seperti waktu itu. Jangan sampai kamu terpuruk. Itu sudah berlalu, bahkan semua sudah terungkap." Mami Lyra yang duduk dikursi depan kini beralih menoleh kebelakang, dari matanya terlihat kekhawatiran.


"Mami tenang saja, Ken tidak akan menyalahkan diri sendiri. Tapi aku juga sedih, dulu Papa sangat baik padaku, tapi kebaikan itu berubah menjadi kebencian. Aku merasa terbebani saat melihat sorot matanya yang begitu membenciku. Mami tau aku dulu begitu dekat dengan Papanya Olive. Ken bisa merasakan kasih sayang seorang ayah saat dekat dengan Papa Herlambang." bayangan Ken melambung jauh, mengulang ke masa lalu saat dirinya menjadi menantu Herlambang. Pria paruh baya itu sangat baik dan memberi kasih sayang tulus. Ia sudah seperti ayahnya sendiri. Dia juga sangat dekat, tapi semenjak kejadian kelam itu semua berubah.


Ken tak lagi menemukan sosok ayah pada Herlambang, bahkan pria paruh baya itu mengibarkan permusuhan.

__ADS_1


Meski begitu Ken tidak meladeni, bahkan secara diam-diam ia menyuruh orang kepercayaannya untuk membantu diperusahaan Herlambang. Perusahaan percetakan yang tidak terlalu besar, tapi masih berdiri kokoh berkat sokongan dari tuan Ken.


Jika Ken lepas tangan dan berhenti membantu, mungkin sudah dari dulu perusahaan percetakan itu bangkrut. Di jaman yang semakin maju dengan persaingan yang ketat sangat sulit mempertahankan usaha ditengah perusahaan baru yang semakin canggih dan besar.


__ADS_2