
"Papa... Mama... doa'kan Zee biar pentas nyanyinya lancar ya," Zee berkata dengan centil, sedangkan Kio yang berada dibelakangnya tersenyum kearah Mommynya. Mata kecil nan indah itu hanya mengamati wajah Daddy Ken tanpa senyuman, namun dari sorot matanya terlihat sendu. Tersirat kerinduan namun terbungkus ego.
Tak menutup kemungkinan bahwa Kio pun sangat rindu dengan pelukan seorang ayah, tapi entah kenapa bocah kecil itu masih belum mau berbaikan dengan ayahnya.
Hal yang sama dilakukan oleh Ken, hanya mampu memandang Kio dari tempatnya berdiri. Meski hatinya ingin sekali memberi kata penyemangat tapi keberaniannya menipis kala Kio memandangnya tanpa senyuman.
'Sangat berat hukuman yang kau berikan, Nak. Daddy harus membayar mahal untuk kesalahan yang tak sengaja. Meski tak terucap, tapi Daddy selalu mendo'akan mu, kau lah jagoan Dad, Io pasti bisa.' Ken hanya mampu mengatakan itu dalam hati. Tak ada keberanian untuk mendekati Kio dan memeluknya.
Lee dan Dewi sudah memasuki aula, Ken berada dibarisan belakang. Setelah Kio berlalu tanpa menyapanya hati Ken sudah tak berbentuk. Termangu ditempatnya berdiri dengan bibir yang membisu.
Semua sudah masuk kedalam aula, hanya tertinggal Kei dan Ken. Kei menoleh kebelakang tempat suaminya tergugu diam.
"Sayang," panggil Kei untuk menyadarkan Ken bahwa sudah waktunya masuk dan menyaksikan penampilan anak-anak.
Ken mendongak dan menatap wajah Kei, masih tanpa suara. Lidahnya terasa kaku untuk berbicara, tapi lebih tepatnya merasa enggan berbicara. Sebisa mungkin menutup dan menyimpan luka.
"Ayo kita masuk," ajak Kei, meski tahu jika suaminya tengah bersedih tapi Kei ingin menyamarkan kesedihan itu dengan menyaksikan penampilan putra mereka bersama-sama.
"Kau masuklah." Ken malah menyuruh Kei untuk masuk lebih dulu.
"Tidak. Ayo kita masuk bersama." ajak Kei.
"Nanti aku menyusul. Aku harus menghubungi rekan bisnis sebentar. Kau masuk duluan, berikan dukungan buat Io." perintah Ken.
"Tapi..." Kei ingin menolak tapi Ken keburu menggelengkan kepala.
"Aku nanti menyusul. Kau masuklah." Ken berbalik dan menyibukkan diri dengan ponsel.
Kei mengalah dan menurut, mulai masuk kedalam aula, mencari-cari Dewi. Setelah ketemu dia segera menyusul dan duduk disamping Dewi.
"Tuan Ken dimana Kei?" tanya Dewi celingukan mencari keberadaan Ken.
"Sedang menelpon rekan bisnisnya." jawab Kei mencoba fokus melihat kedepan, karna sebagian pentas anak-anak sudah dimulai.
Lamanya pentas dimulai tapi Ken tak kunjung menyusul, beberapa kali Kei menoleh kebelakang mencari keberadaan Ken tapi tidak jelas karna terhalang orang-orang.
Kei semakin cemas, sebentar lagi sudah waktunya Kio pentas diatas panggung. Dan benar saja, nama putranya sudah dipanggil.
"Selamat pagi..." Kio menyapa dengan suara riangnya.
*Ibu, memelukku dengan kasih sayang.
Ibu mengajarkan aku untuk mengenal warna dunia.
Aku sayang Ibu...
Ibu*...
Suara Kio tiba-tiba terputus kala tak sengaja melihat sang ayah memandangnya dari kejauhan.
__ADS_1
Matanya mulai berkaca-kaca saat melihat senyum dibibir ayahnya. Bukan duduk disamping Kei, bukan juga duduk di antrian para wali murid. Ken tengah berdiri disudut jendela luar ruangan.
Aku juga sayang dengan Daddy.
Io rindu dengan Dad.
Io ingin dipeluk dan digendong Dad.
Kio sudah menangis diatas panggung. Para guru dan wali murid sedikit bingung. Apalagi guru Kio yang mengajarkan sajak puisi terlihat kebingungan, pasalnya kalimat yang diucapkan Kio di baris akhir tidak ada dalam naskah.
Kei ikut menangis. Dia terus memperhatikan putranya dan mengangguk dengan senyuman.
Tanpa salam penutup Kio turun dari panggung dan berlari kearah Ken yang masih berada diluar ruangan. Melihat Kio berlari kearahnya, Ken merentangkan kedua tangan untuk menyambut kedatangan putranya.
Ken mengangkat tubuh Kio kedalam dekapannya.
"Kau hebat, Sayang."
"Jagoan Dad sangat pintar."
"Daddy bangga padamu, My Son." bertubi-tubi Ken memuji Kio dan menciumi pipi serta pucuk kepalanya.
Ken tak mampu mencegah kristal bening yang lolos begitu saja.
Semua yang ada didalam aula memperhatikan kearah ayah dan anak itu.
Kei beranjak mendekati wali kelas Kio dan menjelaskan sesuatu yang terjadi antara Kio dan ayahnya, agar para guru tidak lagi kebingungan.
Lalu diikuti para wali murid juga ikut berpartisipasi bertepuk tangan dengan meriah.
Kei mendekati mereka dan ikut memeluk kedua jagoan terhebat dalam hidupnya.
"Io rindu dengan Dad. Daddy jangan sakit lagi. Jangan lupain Io dan Mom lagi." tangan Kio memeluk leher Ken dengan erat.
"Tidak Sayang. Dad berjanji tidak akan melupakan Io dan Mom. Dad tidak akan membuat kalian menangis. Maafkan Daddy. Maafkan Daddy, Sayang." Ken berucap lirih disamping telinga Kio. Hanya Kei dan Kio yang mendengar ucapan maaf itu.
"Maafkan Io juga, Dad. Io udah bikin Dad sedih."
"Io sayang Dad." Kio mengucap sayang dengan mencium pipi Ken.
"Jadi Io cuma sayang sama Dad? tidak sayang dengan Mommy dan Adik Yura?" Kei pura-pura merajuk.
Kio menoleh kearah mommynya. "Io juga sayang dengan Mommy dan Adik Yura. I Love you, Mom, Dad, Adik Yura." ucap Kio dengan tersenyum lebar.
Ken dan Kei bersamaan mencium pipi Kio, "Terima kasih, Akio Ryuga Kenichi."
Semua kembali pada keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang.
Luka, kesakitan, kekecewaan dan kesedihan yang dilalui kini sudah terbayar lunas dengan kembalinya keluarga Ken yang utuh.
__ADS_1
Badai besar yang menerjang kini sudah berlalu. Menimbulkan secercah harapan baru untuk kembali bersama.
Jika sudah waktunya, hujan akan turun. Jika sudah masanya, bunga akan mekar. Dan jika sudah saatnya, do'a-do'a akan terkabul.
Seperti sekarang, do'a Kei dari beberapa bulan lalu baru terkabul pada detik ini. Meski begitu Kei sangat bersyukur, keluarga mereka bisa kembali berkumpul.
Bibirnya tak henti tersenyum dan semakin mengembang sempurna. Seperti kebahagiaanya yang hampir mendekati kesempurnaan.
Semoga untuk jalan kedepannya tidak ada lagi badai, tidak ada lagi lubang dan tidak ada lagi kerikil terjal yang akan menghadang.
Selalu seperti ini, tertawa dalam kebahagiaan bersama keluarga kecilnya.
Suami yang OVER POSESIF DAN OVER PROTECTIVE yang amat dia cintai. Dengan pangeran kecil dan juga putri kecil yang melengkapi kehidupannya.
Semua telah ditutup dalam catatan kecil, hingga kini membuka lembaran baru dan akan menulis catatan tentang kebersamaan dan keindahan.
Biarkan semua menjadi kenangan yang akan tersimpan, tanpa mengulang. Karna sejatinya yang telah menjadi kenangan tidak akan terulang. Waktu adalah hal berharga.
Dan biarkan kenangan mencatat ribuan cerita, meninggalkan luka dan kembali mengukir cinta.
Kisah yang berakhir manis, seperti penulisnya.
Salam akhir dari keluarga
Kendra Kenichi
Keihana Kazumi
Akio Ryuga Kenichi
Kyunara Almera Kenichi
Samuel Aeron Lee
Dewi
Alzeena
Alvaro
Mami Lyra
Herlambang
"Kak Io, Aku padamu..." Teriak Alzeena.
__ADS_1
"Hist... Dasar Bawel!!!" teriak Akio.