Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Berjalan-jalan di Taman


__ADS_3

"Sayang, lewat jalan taman saja, aku ingin jalan-jalan." pinta Kei.


Ken belum menjawab ia masih nampak berpikir.


"Ayolah, sekalian kita jalan-jalan. Kita nggak pernah keluar." Kei merengek. Berharap Ken mau mengabulkan permintaan sederhananya.


"Sebenarnya aku malas, lebih enak dirumah."


Mendengar itu membuat Kei berdecak, wajah cantiknya sudah dilipat. Kusut seperti buku yang diremas.


Ia yang tadi bersemangat dan bercerita mendadak diam saja, mengunci mulut rapat-rapat.


Melihat itu bibir Ken tersenyum tipis. Melirik kearah Kei tapi tak mendapat respon.


Kei fokus memandang kearah depan, padahal didepan hanya ada kemacetan yang mengurai panjang.


Keduanya terdiam.


Kemacetan didepan sudah mulai kondusif, mobil sport hitam itu mulai merangkak maju. Mobil berjalan pelan, menyusuri jalan yang tidak terlalu padat kendaraan.


Kei tau itu bukan arah jalan pulang, "Kita mau kemana?" sedari tadi terdiam, kini Kei membuka mulut untuk bertanya.


"Kemana saja yang penting istriku bisa tersenyum." jawab Ken. Mata itu masih fokus memandang kedepan.


Tangan Ken meng-klik salah satu tombol untuk membuka atap mobil, membiarkan sang istri menikmati angin sepoi-sepoi disore hari.


Jalan yang dilalui sudah tidak terlalu padat, debu dan polusi udara berkurang.


Bibir tipis milik Kei tersenyum, memang seperti ini yang ia inginkan dari tadi.


"Udah bisa senyum?"


"Eum, makasih." tersenyum manis kearah Ken.


Mobil yang ditumpangi berbelok kearah taman, setelah turun keduanya berjalan pelan menyusuri jalan setapak dengan bunga-bunga indah yang berjajar dipinggir taman.


Deretan kursi-kursi yang tersedia hampir penuh dengan pengunjung lainnya. Kei tidak memusingkan itu, ia ingin berjalan berdua dengan suaminya dan juga baby Kio.


"Baby Kio digendong Daddy, kasihan Mommy badannya kecil harus gendong jagoan gemuk ini." ucap Ken, ia mengambil baby Kio yang ada didekapan Kei.


"Meski Mommy kecil Mommy wanita kuat tau," jawabnya.


Ken menyerang pipi baby Kio sampai bocah kecil itu hampir menangis, itu kebiasaan yang sering dilakukan. Terkadang Kei sampai kesal, Ken paling suka menggangu putranya.

__ADS_1


Mereka kembali melanjutkan berjalan, kedua tangan orang dewasa saling bertautan satu sama lain.


"Makasih ya, aku senang sekali bisa berjalan-jalan ditaman. Melihat awan yang begitu cerah."


"Secerah senyum mu," jawab Ken dengan cepat.


"Ih, gombal." jawab Kei dengan tersenyum.


"Ayo duduk di bangku sana." Kei menunjuk salah satu bangku kosong. Keduanya berjalan menuju bangku itu tapi sudah keduluan orang lain, Kei menghentikan langkah dan menoleh kekanan dan ke kiri untuk mencari bangku lain tapi tak ada, semua sudah dihuni.


Ken menarik tangan Kei untuk tetap berjalan menuju bangku yang tadi. Sampai dihadapan orang yang duduk tadi, Ken berdehem.


Hanya dengan berdehem sudah berhasil membuat orang itu takut dan segera pergi.


"Ayo duduk." ucap Ken.


Kei sedikit kebingungan, padahal tak ada satu katapun yang terucap tapi orang tadi kabur seperti melihat hantu yang menakutkan.


"Kenapa diam, duduklah." perintah Ken.


Kei langsung duduk disamping Ken, "Hebat sekali suamiku ini, hanya suara berdehem sudah membuat orang lain takut." kata Kei dengan keheranan.


"Mungkin mereka paham dengan wajahku." jawab Ken acuh. Tangan kekarnya terangkat membenarkan rambut baby Kio yang berantakan karna tertiup angin.


"Aku lupa memakaikan topi jadi rambutnya berantakan." kata Kei.


"Yah, kau benar. Tidak ada lelaki tampan selain kalian berdua."


Ken menarik Kei dalam pelukan hangat. Walau didepan umum, tapi dunia bagai milik mereka berdua.


"Apa keluarga kita akan selalu bahagia seperti ini?" tanya Kei dengan lirih, seolah kebahagiaan yang dirasakan takut akan segera sirna.


"Tentu. Keluarga kita akan selalu bahagia." jawab Ken.


"Semoga saja. Tapi aku akan bahagia lagi jika diberi sedikit kebebasan."


"Kebebasan? kebebasan apa yang kau maksud?" Ken tersentak, ia memandang Kei dengan serius.


"Huh, kebebasan keluar sesuka hati. Aku bosan dirumah dan dikurung dalam istanamu. Apa aku ikut kerja dikantor lagi?" ucapnya dengan kegembiraan.


"Bagaimana dengan baby Kio?" tanya Ken.


"Baby Kio ada yang jaga, nanti 2babysister ikut kekantor."

__ADS_1


"Tidak. Tugasmu dirumah menjaga baby Kio. Kau tidak perlu memikirkan hal lain. Jika ada waktu, kita akan sering pergi jalan-jalan."


"Benar kah?"


Ken mengangguk. Senyum Kei begitu merekah. Senang, tentu saja, ia sangat bosan terkurung dalam sangkar emas. Setidaknya saat berada diluar rumah ia bisa bebas berbaur dengan orang lain.


"Aku mau beli itu," Kei menunjuk kedai penjual es krim.


"Ah, kau seperti anak kecil." ucap Ken.


"Nggak pa-pa, ya boleh 'kan?" tanya Kei. Ia harus mendapat persetujuan dari Ken.


"Jangan beli makanan disembarang tempat, bisa saja tidak higienis. Nanti saja dirumah kau bisa meminta apapun pada koki." tentu saja tuan muda itu tidak mudah memberi izin.


Kei tidak membantah, ia malas berdebat. Menurut lebih baik.


Mereka berdua beralih bermain dengan baby Kio. Ia kini sudah pandai mengoceh dengan riang. Tertawa lebar saat tangan jahil Kei menggelitik perutnya.


Bukan baby Kio saja yang tertawa, Ken dan Kei sangat senang dan bahagia. Menikmati waktu bersama keluarga memang menyenangkan, hanya saja Ken jarang mempunyai waktu senggang jika bukan hari weekend.


Jadwal pekerjaan dikantor begitu padat, bukan hanya satu perusahaan yang ditangani ada banyak anak cabang yang juga butuh pengawasan darinya.


Langit senja semakin terlihat kemerahan, perlahan langit biru berubah menjadi lebih gelap. Waktu berputar dengan cepat, tak terasa sudah hampir satu jam mereka duduk taman. Pengunjung lain sebagian mulai beranjak pergi.


"Kita pulang," ajak Ken. Kei mengangguk setuju. Keduanya berjalan menuju mobil yang terparkir, namun jalan itu sedikit jauh.


Ken tetap menggendong baby Kio, dijalan itu ia menerbangkan baby Kio keatas, bocah itu tertawa.


Kei sedikit tertinggal dibelakang, ia menyaksikan suami dan putranya sampai tidak fokus melihat jalan yang dilalui.


Sepatu flatshoes yang digunakan tak sengaja menendang batu hingga ia akan terjatuh.


Ia berteriak tertahan dan memejamkan mata, bersiap terjatuh diatas paping yang keras.


Beberapa detik tubuhnya tidak terjatuh tapi seperti ada yang menahan.


Ketika membuka mata ia begitu terkejut hingga membuka mulut dan melotot.


Reaksi itu pun sama dengan Ken yang secara langsung menyaksikan tubuh Kei didekap lelaki lain.


Entah akan seperti apa reaksi selanjutnya. Bahkan kedua mata Ken sudah melotot sempurna. Helaan nafas berat dan mengeram kesal.


Kejadian yang sangat fatal jika mengganggu milik tuan muda satu itu.

__ADS_1


Tuan muda yang sulit mendengar penjelasan, emosi yang meluap susah untuk diturunkan.


"Ta Tama?" ucap Kei.


__ADS_2