
"Lepaskan!" Kei menyentak tangan sekretaris Lee yang memeganginya, matanya menatap kearah suaminya yang mendekati Izham dan Ibu Esih.
"Hei, kenapa kalian diam saja. Cepat cegah tuan Ken, jangan sampai semuanya kacau." Kei berteriak kepada 2bodyguard yang ada dibelakangnya. Tapi kedua orang berbadan kekar itu tidak bergeming, hanya perintah dari tuan Ken dan sekretaris Lee yang didengarnya.
"Sekretaris Lee, aku mohon hentikan kegilaan tuan Ken. Lihatlah, kita jadi pusat perhatian." Kei semakin panik kala tuan Ken sudah mencengkram kerah baju Izham. Kei berhasil lolos dari sekretaris Lee dan mendekati suaminya.
"Sayang... Sayang, sudah. Hentikan, maafkan mereka." Kei menghentikan tuan Ken yang sudah bersiap melayangkan tinjunya.
"Kalian dengar! bahkan istriku masih bisa membela kalian, setelah hinaan yang ibumu ucapkan tadi. Pembelaan dari Kei semakin membuatku ingin menghancurkan kalian!" tuan Ken masih terlihat emosi.
"Iya tuan, saya mohon maafkan saya. Tolong lepaskan anak saya." Ibu Esih memohon agar tuan Ken melepaskan cengkraman tangannya yang mencengkram kerah baju Izham hingga membuatnya kesulitan bernafas.
"Saya benci mendengar orang lain menghina istri saya cacat dan mandul, istri saya wanita yang paling sempurna. Buka mata kalian dan lihat perut istri saya yang besar, itu karna mengandung anak saya, dia bukan wanita mandul!" tuan Ken mengatakan dengan suara lantang agar orang-orang mendengar, terutama ibu paruh baya, yaitu ibu Esih.
Ibu Esih tidak bisa menutupi keterkejutannya, menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Lalu menatap kearah putranya, mencari jawaban atau kebenaran yang tidak diketahui. Tetapi Izham hanya terdiam, dia sendiri merasa bersalah karna dulu pernah ikut mengklaim Kei mandul. Berfikir mereka berdua tidak ada yang mandul, mungkin sewaktu dulu menikah dengan Kei keduanya kurang bersabar maka dari itu menimbulkan kecurigaan-kecurigaan yang tidak mendasar.
"Mas...Mas, ayah jatuh dari tempat tidur." suara perempuan mengalihkan keributan itu. Mira tidak tau sedang terjadi peperangan panas antara suaminya dengan mantan bos-nya. Dia begitu panik karna mertuanya yang terkena stroke terjatuh dari atas ranjang.
Setelah mendekat, bola matanya melebar, sangat terkejut dengan orang-orang yang mengelilingi suaminya.
__ADS_1
"Tuan Ken, Kei?" panggilnya lirih.
"Mbak Mira?" Kei sendiri juga sama terkejutnya melihat Mira ada disana. Kei memandang kearah tuan Ken, karna yang ia tau Mira masih mendekam dipenjara. Ternyata tuan Ken sudah membebaskannya, tapi ia tidak tau apa-apa.
Gerobak mata pencarian uang itu tidak dihiraukan lagi, bahkan ibu dan anak tadi sudah meninggalkan tuan Ken dan segera berlari kerumahnya yang tidak jauh dari tempat kejadian.
Kei melangkahkan kakinya yang ingin ikut melihat keadaan pak Wahyu. Tuan Ken sudah menarik tangan Kei. "Kau mau kemana?" suara tuan Ken tidak terdengar keras, tapi aura dingin masih menyelimuti. "A-aku ingin melihat keadaan pak Wahyu, sayang." jawab Kei ragu.
Didalam rumah Izham anggota keluarganya sedang merasa khawatir dengan kondisi pak Wahyu yang semakin parah setelah tubuh tuanya terjatuh dari atas ranjang.
"Pak, bangun pak... bapak..." Ibu Esih menangis tersedu-sedu disamping tubuh suaminya yang tak sadarkan diri. Izham menggerakkan tubuh ayahnya tapi tubuh tua itu tidak juga terbangun. Semuanya menjadi panik dengan kondisi pak Wahyu.
Mira berdiri dibelakang suaminya, mendekap anaknya yang masih balita.
"Izham, kita harus membawa Ayahmu kerumah sakit Nak. Ibu takut terjadi apa-apa dengannya." ibu Esih semakin terisak, sangat takut kehilangan orang yang selalu menemaninya.
"Tapi Bu, Izham nggak punya uang buat bawa Ayah kerumah sakit." Izham mengutuk dirinya sendiri yang tidak berdaya dengan kemiskinannya saat ini. Hidupnya benar-benar sulit.
"Kita pindahkan Ayah keatas lagi Bu, dan kita kompres air hangat." entah cara apa yang dia perintahkan, pikirannya menjadi buntu. Tidak ada pilihan lain selain berpasrah dengan keadaan. Membawa pak Wahyu kerumah sakit juga akan percuma, pihak rumah sakit tidak akan menerimanya.
__ADS_1
"Pak Wahyu? ya Tuhan, mas segera bawa pak Wahyu kerumah sakit." tidak tau bagaimana caranya Kei bisa membujuk tuan Ken. Kini Kei sudah berdiri didepan pintu, menatap iba pak Wahyu yang tergeletak lemah. Tubuhnya tidak sebugar dulu, hanya tinggal tulang dan kulit, wajahnya yang tampak pucat dengan mulut yang miring kesamping. Keadaan yang memprihatinkan.
"Kei...?" tiga orang yang ada diruangan itu terkejut melihat kehadiran Kei didepan pintu, tuan Ken dan yang lain terlihat baru datang. Dengan bujukan dan juga perdebatan, Kei memaksakan diri untuk melihat keadaan pak Wahyu. Dengan paksaan, akhirnya tuan Ken mengalah karna tidak bisa mencegah istrinya.
Melihat Izham dan ibu Esih tidak bergeming Kei menjadi tau kenapa mereka tidak membawa pak Wahyu kerumah sakit, pasti tidak memiliki uang.
"Sayang..." Kei memandang suaminya. "Apa lagi?" jawab tuan Ken, pasti ada lagi yang Kei inginkan. Terkadang tuan Ken kesal dengan sikap Kei yang terlalu baik pada orang lain, meski orang lain sudah menyakitinya dan menggoreskan luka tapi Kei tidak pernah menyimpan dendam tetap saja dia bersikap baik.
"Aku mohon..." kata itu sudah mewakili permintaan Kei. Tuan Ken memutar bola mata malas. Dia kesal dan marah dengan keadaan tapi tidak bisa melakukan itu pada istrinya. Apapun keinginan Kei akan dia penuhi.
"Lee, urus semuanya." tuan Ken memberi perintah. Dengan kalimat yang singkat itu Lee sudah mengerti maksud tuan mudanya. Asisten tangan kanan itu berganti menyuruh badyguard yang bersiaga untuk membawa pak Wahyu kerumah sakit. Keduanya segera menjalankan perintah, mendekati pak Wahyu dan mengangkat tubuh itu membawanya keluar.
"Suamiku mau dibawa kemana?" ibu Esih ketakutan, takut suaminya akan diapa-apakan oleh anak buah tuan Ken. Dia menyadari kesalahannya tadi yang telah membuat laki-laki dingin itu marah.
Lagi-lagi tuan Ken menghembuskan nafas. Lee yang tau segera mendekat untuk menjelaskan.
"Suami anda akan dibawa kerumah sakit." kata sekretaris Lee. "Sekretaris Lee, saya tidak..." perkataan Izham terpotong dengan jawaban sekretaris Lee. "Kamu tenang saja, biaya rumah sakit akan ditanggung oleh tuan Ken."
Izham dan Ibu Esih terpaku, tidak menyangka jika laki-laki yang tadi sangat marah padanya itu mau menanggung biaya rumah sakit pak Wahyu. Kejahatannya dibalas dengan kebaikan.
__ADS_1