
Tiga bulan sudah berlalu, selama itu sangkar emas tuan Ken terus mengurung si tuan putri.
"Apa kau sudah bersiap?" Ken bertanya, Kei hanya mengangguk. Ken menggenggam tangan Kei, mereka berdua berjalan keluar rumah. Bukan pakaian formal yang Ken kenakan, ia hanya memakai baju Koko berwarna putih begitu juga dengan Kei yang memakai gamis putih. Hari ini mereka akan mengunjungi makam almarhum Olive, hari ini tepat hari ulang tahunnya.
Ketika Ken meminta izin untuk pergi tetapi Kei ingin ikut ke-pemakaman itu, tentu tuan Ken tidak melarang. Keduanya sudah berada didalam mobil, didepan sekretaris Lee memakai pakaian yang sama.
"Apakah dua orang itu juga akan pergi kesana?" Ken bertanya tidak mengatakan pertanyaan itu untuk siapa, tetapi Lee yang sudah lama menemani hari-hari tuan Ken tau maksut pertanyaan itu. "Saya rasa iya, tuan muda. Tetapi kita tidak tau mereka berdua pergi jam berapa, mudah-mudahan tidak bertepatan dengan kita." Lee menjawab.
"Aku sangat malas!" menyandarkan kepala dikursi belakang. Kei menjadi pendengar seksama, tidak tau maksut mereka.
Tidak terlalu lama mobil mereka sudah sampai di Tempat Pemakaman Umum, sebenarnya Ken ingin memakamkan jasad istrinya ditempat pemakan keluarganya, tetapi pihak keluarga almarhum Olive tidak menyetujui.
Mereka bertiga berjalan melewati makam-makan yang lain, Ken sangat hapal makam istri dan calon anaknya, segera menuju kesana. Ditangannya membawa buket bunga yang indah.
Ketika sampai didepan makam bertuliskan nama Olive dan anaknya, Ken terdiam sejenak. Setelah mengatur diri, Ken duduk disamping makam dan mulai bersuara. "Aku datang mengunjungimu, Olive. Selamat ulang tahun, jika kau masih ada aku bisa mengatakannya kepadamu. Bukan hanya karna hari ulang tahunmu, aku juga sangat merindukan calon anak kita yang juga ikut denganmu." Tanpa menoleh, tangan Ken meraih tangan Kei dan membimbing untuk duduk disampingnya.
"Perkenalkan, ini istriku yang sekarang. Kepribadiannya hampir sama denganmu, Aku selalu mendo'akan kedamaian mu." ucap Ken terlihat sedih.
"Mbak Olive, aku Kei istrinya tuan Ken. Meski aku tidak mengenalmu, tetapi aku yakin mbak pasti orang yang sangat baik." belum selesai Kei mengakhiri kalimat, sudah ada yang menyahut.
"Apa... wanita ini istrimu, Ken?" Viona sudah berdiri dibelakang mereka melayangkan pertanyaan yang membuatnya terkejut, bahkan disampingnya Tristan juga sangat terkejut.
__ADS_1
Ken menarik Kei untuk berdiri dan memeluknya dari samping. "Iya, dia memang istriku. Sudah beberapa bulan kami menikah." Ken mengatakan yang sesungguhnya.
"Hua... kau jahat Ken! aku yang sedari kecil sudah menyukaimu dan harus merelakan mu dengan kak Olive, tapi saat ini setelah kak Olive tidak ada kau malah menikah dengan wanita lain. Huhu... perasaanku tidak pernah kau balas, Ken!" Viona marah dengan nada manjanya, dia memang bersikap seperti anak kecil. Memang benar, jika umur tidak bisa menunjukkan kedewasaan seseorang. Jika itu Viona, berbeda dengan Tristan yang menyembunyikan kemarahan besar. Ternyata yang dipikirkannya itu benar, kalau Ken dan Kei memiliki hubungan.
"Vio, harusnya dari dulu kau tau, aku tidak lebih menganggapmu sebagai teman dan adikku."
"Huuh, iya sekarang aku harus menerima status itu lagi! hanya adikmu, hanya temanmu! huh, hari ini patah hati lagi." Viona menghentakkan kakinya.
"Hei, siapa namamu?" Viona bertanya kepada Kei. "Nama dia, Kei." bukan Kei yang menjawab, tetapi Ken. "Haha,,, bahkan nama kalian hampir sama, lucu seperti couple-an ya...." ucap Viona dengan tertawa, Kei mengerutkan dahinya, tadi wanita itu menangis sekarang tertawa. 'Aneh' hanya itu pandangan Kei terhadap Viona.
"Sepertinya kau lebih muda dariku ya? eum, selamat ya atas pernikahan kalian. Pernikahan yang bahagia diatas deritaku! Apa boleh buat, aku akan memiliki mu didunia lain Ken!" ucap Viona. Ken hanya tersenyum tipis, satu teman wanitanya yang dari dulu itu memang bersikap konyol.
"Iya, jangan lupa dicatat dibuku harian." ucap Ken, bukan hanya Ken sekretaris Lee juga ikut tersenyum. "Tentu, aku pasti akan mencatatnya, kau tau Ken? aku datang ke-Indonesiaan tujuanku hanya mendaftar menjadi calon istrimu, tetapi aku keduluan. Kakak, kau ini tidak bilang denganku! tau begitu aku tidak akan kembali." setelah berbicara dengan Ken, Viona langsung memberi pertanyaan kepada Tristan.
"Hah, kalian berdua ini selalu saja begini! jangan ingat-ingat tentang kejadian buruk, ingatlah kalian dulu pernah memakai kolor yang sama."
"Diam......!!" Ken dan Tristan bersamaan mengatakan kata itu dengan nada tinggi.
"Oke...oke... kalian mengerikan." Viona tidak lagi ikut campur, dia duduk disebelah makam kakak iparnya.
"Tuan muda, mari kita pulang." Lee ingin menghentikan keduanya yang saling menatap tajam, didalam hati keduanya sedikit tercubit mendengar kalimat dari Viona tadi. Mereka berdua memang berteman sejak lama, dulu tidak ada yang ditutup-tutupi. Tetapi semenjak Ken menikah dengan Olive, semuanya berubah. Meski keduanya membenci satu sama lain, tetapi tidak bisa memungkiri bahwa dihati keduanya ada kenangan yang ingin terulang. Ego dan keras kepala dari keduanya yang tidak ingin mengakhiri permusuhan itu, tidak ada yang lebih dulu mau mengalah.
__ADS_1
Ken menyudahi tatapan tajam itu dan berjalan ingin pergi meninggalkan tempat pemakaman itu. Tristan mendekati malam seseorang yang dulu sangat ia cintai, memberikan sebuah buket yang indah juga yang diletakkan diatas tanah makam. Viona yang sudah selesai berdo'a setengah berlari menyusul Ken.
"Kak Ken..." Viona merubah nama panggilannya. Ken menghentikan langkahnya, suara itu seperti terasa kehangatan yang dia rasakan dulu ketika sama-sama berada di Amerika.
"Huh, aku memanggilmu dengan nama agar romantis seperti film-film. Tetapi hari ini aku mendapat kenyataan pahit, kau tidak bisa merubah status kita yang hanya sebagai adik dan kakak. Jadi aku kembali menyebutmu dengan kak Ken, sebutan yang menyebalkan."
"Terserah kau saja Vio." menjawab singkat. "Kakak Kei, bolehkah aku memeluk kakakku?" Viona meminta izin. "Jangan beri dia izin, kau nanti akan cemburu." Ken menyela.
"Hist... kakak, pelukan terakhir. Karna aku tidak bisa membawamu kedalam hatiku, maka aku putuskan untuk pulang ke Amerika saja. Aku akan mencari pria yang jauh darimu!" Viona mencebik.
"Kenapa harus kembali, kau bisa bersama Lee."
"Ah.... tidak-tidak, dia terlalu mudah ditindas."
"Hei nona, kau jangan asal bicara."
"Terserah ku, mulut-mulutku."
Kei hanya menggelengkan kepala melihat semuanya.
"Ah, meski kakak itu tidak memberi izin, aku akan tetap memeluk kak Ken." dengan gerakan cepat Viona mendekap tubuh Ken. Ken hanya mengacak rambut Viona, perempuan itu sudah kembali seperti dulu.
__ADS_1
"Sudah, pelukanmu tidak sehangat dulu." Viona melepas pelukannya. "Kembalilah keasalmu, semoga mendapat yang terbaik begitu juga dengan kakak sepupumu." setelah mengucapkan itu, Ken mengajak Kei untuk kemobil.
"Aku tau kak Ken, sebenarnya kau masih punya empati dengan kak Tristan. Kak Tristan juga sama, hanya saja kalian terlalu egois dan keras kepala." Viona kembali masuk kedalam pemakaman.