
Hampir satu minggu Herlambang dan mami Lyra terus bergantian menjaga Ken. Mereka tidak bisa mengandalkan Lee untuk berjaga di rumah sakit. Ketika Ken tidak ada maka semua urusan kantor hanya Lee yang bisa menggantikan.
Pagi menyambut dengan udara dingin yang menusuk ke tulang-tulang persendian. Mami Lyra masih nyaman tidur di ranjangnya yang berada di dekat Ken. Sedangkan Herlambang tidur diatas sofa dengan posisi duduk.
Masih terlalu pagi, bahkan matahari belum menampakan diri dan belum ada suara aktivitas penghuni rumah sakit yang membersihkan lantai atau sekedar mengecek kondisi Ken.
Mata yang sering menyorot dengan tajam itu sudah satu minggu belum juga terbuka. Orang-orang terdekat selalu menantikan Ken membuka mata, tapi sampai detik ini pun Ken masih betah memejamkan matanya.
Ketika matahari mulai muncul kepermukaan bumi, mami Lyra yang sudah lebih dulu bangun segera melesat ke kamar mandi untuk mencuci muka dan aktivitas lainnya didalam kamar mandi.
Ketika melewati Herlambang, suaminya masih pulas dalam tidurnya. Begitu juga dengan Ken, putranya terlihat seperti orang tidur. Mami Lyra berlalu masuk kekamar mandi.
Tidak lama mami Lyra menutup pintu, bola mata Ken mulai bergerak. Dan perlahan mulai terbuka, mata Ken mengerjap-ngerjap beberapa kali menyesuaikan keadaan.
Keadaan sekitar tampak hening dan hanya terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Ken melirik tubuhnya sendiri, banyak alat medis yang terpasang. Ketika melihat sekitar, tidak ada siapapun.
Baru saja melirik arah sofa, ternyata ada papa Herlambang yang sedang tidur disana.
"Papa Herlambang" ucap Ken sangat lirih.
Tentu saja Herlambang tidak mendengar, posisinya berjarak beberapa meter dari posisi Ken terbaring.
Saat Ken ingin bangun, tapi tubuhnya terasa sangat sakit. Apalagi kepala samping kanan mendekati bagian kepala belakang begitu terasa nyeri. Ken memejamkan mata untuk menghalau rasa sakit itu agar tidak terasa, tapi tetap saja sakit itu tidak hilang.
Ken merintih kesakitan, kepalanya terasa akan pecah.
Dari pintu kamar mandi yang terbuka munculah mami Lyra dengan wajah yang lebih segar. Tapi alangkah terkejutnya saat mendengar suara Ken yang merintih sakit. Mami Lyra tergopoh-gopoh menghampiri Ken.
"Ken, Sayang. Kamu sudah bangun, Nak?" mami Lyra memegang lengan Ken.
"Kepala Ken sakit sekali, Mi." keluh Ken.
"Iya iya Nak, Mami panggilkan Dokter." mami Lyra beralih ke sisi ranjang sebelah Ken dan menekan tombol dokter.
Mami Lyra nampak cemas, ia segera membangunkan suaminya. "Mas... Mas...!" mami Lyra setengah berteriak.
Herlambang yang terkejut langsung bangun dengan wajah kebingungan. Melihat ke arah istrinya yang tadi memanggil.
"Ken sudah sadar," kata mami Lyra memberitahu.
__ADS_1
Herlambang langsung berdiri dan mendekat ke ranjang. "Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Ken." ucap Herlambang.
Ken tidak menjawab, ia fokus merasakan sakit kepala yang teramat.
"Sayang, kamu sudah memanggil Dokter?" Herlambang menanyai mami Lyra, ikut cemas melihat Ken kesakitan.
"Sudah."
Tidak berapa lama dokter dan perawat beriringan memasuki kamar rawat Ken, segera mendekat dan mengeluarkan alat medis yang diperlukan untuk memeriksa kondisi Ken.
Dokter memberi obat pereda sakit lewat selang infus agar sakit kepala itu berangsur hilang.
Beberapa saat Ken merasa tenang, perawat melepas alat medis yang tidak lagi dibutukan.
"Dok, bagaimana keadaan Ken?" tanya mami Lyra masih terlihat cemas.
"Tenang saja Nyonya, Tuan Ken sudah membaik. Sakit kepala tadi karna luka bekas operasinya belum sembuh total. Jadi, ketika Tuan Ken bergerak dengan tiba-tiba, maka luka bekas operasi itu terasa nyeri." terang dokter.
"Tapi Ken tidak apa-apa, kan?" tanya mami Lyra memastikan.
"Kita tunggu reaksi Tuan Ken, jika keadaannya sudah normal maka semuanya membaik. Tapi jika masih ada sesuatu yang dirasakan, maka kita akan lakukan pemeriksaan kembali." kembali dokter memberi keterangan.
Mami Lyra mengangguk. Setelah memberi keterangan, dokter permisi meninggalkan ruangan Ken.
Mami Lyra saling pandang dengan Herlambang, mereka kebingungan dengan sikap Ken.
"Ken, kamu mau sesuatu?" tanya mami Lyra.
Ken hanya menggelengkan kepala, seperti ada sesuatu yang sedang dipikirkan.
Mami Lyra merasa aneh, tapi keganjilan itu tidak begitu mengganggu dan lebih tertutup dengan rasa senang karna putranya telah kembali sadar.
Mami Lyra teringat dengan Kei, menantunya pasti sangat senang jika mengetahui Ken sudah sadar. Apalagi Kio, yang sudah sangat merindukan sosok ayahnya. Cucunya itu akan langsung berlari ke arah Ken dengan tawa bahagia.
Mami Lyra segera memberitahu Kei lewat sambungan telpon. Seperti dugaannya, Kei sangat senang mengetahui suaminya sadar. Kei berjanji akan segera datang bersama anak-anaknya, lalu menutup sambungan telpon.
Mami Lyra juga menghubungi Lee, agar sebelum berangkat ke kantor, Lee bisa datang lebih dulu ke rumah sakit. Mengingat Lee juga sangat menantikan Ken segera sadar.
Tidak enak dengan keadaannya yang masih berantakan, Herlambang meminta izin untuk pergi ke kamar mandi. Mami Lyra mengangguk.
Setelah Herlambang tidak terlihat, mami Lyra meraih punggung tangan Ken untuk digenggam. Dengan mata berkaca-kaca, mami Lyra sangat bahagia menyaksikan putranya sudah kembali sadar.
__ADS_1
Hatinya sudah terasa lega, napasnya sudah normal dan juga kekhawatirannya sudah sirna begitu saja.
"Mami senang sekali kamu sudah sadar," ucap mami Lyra. Tapi Ken tidak menjawab.
"Apa kepalamu masih sakit?" tanya mami Lyra.
Ken mengangguk lemah.
"Baiklah kamu istirahat saja, nanti Mami bangunkan kalau istri dan anakmu sudah datang..." baru selesai mengakhiri kalimatnya, sudah terdengar deringan ponsel miliknya. Mami Lyra segera beralih melihat siapa yang menelpon. Tertera nama 'Ray', mami Lyra segera menjawabnya.
Ketika mami Lyra berbincang-bincang, Ken memejamkan mata cukup lama dan kembali membuka matanya. Bola mata yang melirik kesana kemari menyusuri dinding-dinding rumah sakit yang bercat putih.
Herlambang yang sudah menyelesaikan ritual didalam kamar mandi sudah membuka pintu dan kembali mendekati ranjang Ken dan menanyakan keadaan Ken.
Didalam rumah, Kei kalang kabut bersiap untuk pergi ke rumah sakit.
Mendapat kabar dari mami Lyra bahwa suaminya sudah sadar membuat Kei menjatuhkan airmata kebahagiaan.
Sekian lama menunggu momen indah ketika melihat suaminya kembali sadar, kini harapan dan do'anya telah terkabul.
Hati Kei menjerit bahagia tak dapat membendung perasaan yang membuncah, Kei sampai sesenggukan. Sudah tidak sabar segera pergi ke rumah sakit dan akan mendekap Ken dengan penuh cinta.
Bersimpuh pada suaminya untuk meminta maaf atas semua yang sudah terjadi.
Kini tinggal menunggu Kio yang sedang bersiap-siap dengan babysister, bocah itu tak henti berlonjak bahagia ketika Kei memberitahu jika *Daddy* nya sudah bangun dari tidur panjangnya.
__ADS_1
Selama diperjalanan, tak hentinya Kei tersenyum dan tidak sabar ingin segera sampai.