Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Berlebihan


__ADS_3

"Io, kamu sudah pulang?" tanya sang oma yang sudah berumur namun masih memancarkan sisa kecantikannya.


"Tadi baru selesai kuliah, ke cafe dan dapet telepon dari Kyu, terus aku langsung pulang, Oma," jawab Akio. Dia mendekat dan duduk di tepi ranjang, tepat di samping kaki mommy-nya.


"Mommy kenapa bisa pingsan? Ayo, Io antar ke rumah sakit." Akio tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran. Dia takut terjadi suatu serius dengan Mommy Kei.


"Enggak-enggak, Akio! Mommy nggak kenapa-napa. Tadi cuma lemas dan sedikit berkunang-kunang, mungkin kecapekan," tolak tegas dari Mommy Kei.


Akio sendiri tidak lantas marah dengan penolakan itu. Dia tahu pasti apa penyebab sang Mommy tidak mau ke rumah sakit, kecuali dalam keadaan mendesak. Tak lain dan tak bukan adalah Daddy Ken.


"Atau ... Io panggilkan dokter?" Akio menawari pilihan ke dua.


"Itu juga enggak usah, Io. Sungguh, Mommy tidak kenapa-napa, cuma kecapean aja. Kamu nggak usah berpikir takut." Kei menjulurkan tangan untuk meraih tangan Akio dan menggenggamnya. Berharap putranya itu tidak khawatir lagi. Memang, Akio sedari kecil sangat menyayanginya. Apalagi setelah kejadian Daddy Ken hilang ingatan, Akio tidak pernah ingin jauh darinya.


"Kak, dari tadi aku sudah menanyai Mom untuk dibawa ke rumah sakit, tapi Mom nggak mau. Mom pasti takut kalau Dad tahu," kata Kyu menyela.


"Ken memang tidak berubah. Semua-semua selalu ditanggapi dengan berlebihan. Apalagi tentang Mommy kalian, mengeluh pusing saja sudah harus menginap di rumah sakit." Oma Lyra ikut menyahut.


"Betul sekali itu, Oma." Kyu terkekeh kecil.


Selama ini kita pasti tahu bagaimana sikap Tuan Kendra Kenichi, pria dengan sikap over posesif dan over protektif. Semua akan dibuat susah ketika pria itu dalam keadaan panik atau marah. Apalagi begitu mengetahui istri tercintanya terluka sedikit saja, maka semua akan kewalahan untuk menenangkannya. Maka dari itu lebih baik Kei menahan sakit daripada membangunkan sikap over suaminya.


"Kak, tadi sebelum Mom pingsan, Mom muntah-muntah terus di kamar mandi. Apa jangan-jangan ...?" Kyu melirik anggota keluarganya satu per satu. Kalimat yang diucap dibiarkan menggantung di udara. Membuat yang lain penasaran.


"Jangan-jangan apa, Kyu?" Kei menimpali dengan cepat. Menelisik putrinya yang masih menggunakan seragam SMA. Dia tidak sabar menunggu kata selanjutnya.


Sedangkan Kyunara justru menyengir kuda. "Jangan-jangan Mommy hamil," ujarnya.


"Hust! Kamu ini mikir apa? Enggaklah, Mommy nggak mungkin hamil," sergah Kei.


"Ya siapa tahu aja, Mom, kan persis ciri-ciri orang hamil."


"Huh, kamu kejauhan mikirnya, Kyu. Bayangin, umur Mom udah berapa? Nggak mungkin Mom hamil. Lagian, emang kamu mau punya adik?" Akio ikut bersuara lagi.


"Enggaklah. Aku bakal malu sama temen-temen."


"Gitu mikir aneh."


"Ya kan cuma nebak, soalnya hampir mirip orang ngidam, Kakak!" Kyu terlihat kesal.


"Sudah-sudah! Kalian ini kalau nggak dilerai bakal berantem." sang oma menghentikan keduanya.


"Kalian bersih-bersih dulu sana," titah Kei.

__ADS_1


"Tapi Mommy ...." Akio seperti enggan beranjak.


"Mommy nggak papa. Kalian jangan terlalu khawatir, nanti Dad tahu kalau Mom sakit. Oke!"


Akio dan Kyu mengangguk serempak. "Oke!" Akhirnya keduanya beranjak meninggalkan kamar Kei.


"Mami juga kembali ke kamar saja. Kei sudah nggak papa, Mi."


"Kamu yakin?"


Kei mengangguk. "Kalau begitu Mami ke kamar dulu." Oma Lyra ikut meninggalkan kamar Kei.



Pukul 7 malam, Ken baru menginjakan kali di rumah. "Sayang ...!" Pria dewasa itu memanggil sang istri tercinta.


"Dad, selamat datang," sambut Kyunara. Saat Daddy Ken mengarah padanya, dia menunjukan wajah cemberut. "Kalau pulang yang dicari selalu Mommy. Dua anak Daddy enggak dicari," protesnya.


Ken terkekeh kecil. "Ngapain Dad nyariin kalian. Dad hanya butuh Mom," balas Ken masih tersisa senyumannya.


"Daddy ih!" Kyunara terlihat sebal. Hal itu justru membuat Ken tertawa.


"Hei, kalian bahagia banget?" Kei yang baru keluar dari lift langsung menyambut mereka.


"Adegan yang malas Akio lihat." Akio muncul dari ruang keluarga. Dia menutup wajah dengan telapak tangannya, pura-pura tidak melihat.


"Putra putri kita sudah dewasa, Sayang. Jangan umbar kemesraan di depan mereka. Malu." Kei mencubit lengan Ken.


"Hei, apaan. Ini bukan adegan pertama kali," ujar Ken. "Justru ini bukti kalau Daddy sangat menyayangi Mom kalian. Bukan begitu?"


"Baiklah, terserah Daddy. Daddy selalu bebas melakukan apapun," kata Akio.


"Waktunya makan malam. Ayo, makan malam bersama," ajak Kei. Dia beralih pada Ken. "Kamu mau makan sekarang atau mau mandi dulu?"


"Makan dulu. Kalau mandi, nanti ketinggalan makan bersama." Ken lebih menunduk dan mendekatkan bibirnya ke telinga Kei. "Kalau mandinya nanti, kita bisa mandi bareng."


"Astaga ...!" pekik Kei tertahan. Dia kembali mencubit tangan suaminya dan membuat Ken terkekeh.


Sedangkan Kyu dan Akio mendekus. Hal seperti itu sudah menjadi pemandangan sehari-hari, mereka menganggap Daddy mereka terlalu bucin. Akio maupun Kyunara sudah tidak heran dengan keharmonisan kedua orang tuanya. Mereka justru senang dan merasa hangat.


Mereka semua menuju ruang makan. Duduk di tempat masing-masing, tetapi oma Lyra belum ada di sana.


"Mami masih di kamar? Mami nggak sakit kan?" Ken menanyakan oma Lyra.

__ADS_1


"Oma baik-baik saja, justru Mom yang sakit. Ups ...!" Kyunara langsung menutup mulut dengan bola mata melebar.


"Mom sakit? Kamu sakit apa, Sayang? Sekarang bagaimana? Kenapa kalian tenang saja, tidak membawa Mommy ke rumah sakit?!"


"Mulut mulut mulut, nggak bisa di rem!" omel Akio pada adiknya.


Kyunara mencebik. "Kelabasan, Kak."


"Pantas kamu terlihat pucat, Sayang. Kalau sakit kenapa turun ke bawah? Aturan kamu di kamar saja."


"Akio, Kyu! Mommy sakit apa?" tanya Ken tegas.


Kei menepuk kening. Inilah yang membuat Kei malas harus menghadapi sikap over dari suaminya.


"Kalau aku bisa duduk di sini berati aku baik-baik saja, Sayang. Tadi pingsan cuma gara-gara kecapean dan mungkin tekanan darahku rendah," ujar Kei berusaha menjelaskan.


"Bahkan kamu sampai pingsan?! Kenapa tidak ada yang mengabariku? Dan kamu tetap di rumah? Apa pengawal tidak membawamu ke rumah sakit!" Ken memberi tatapan berbeda.


"Tadi Mom muntah-muntah di kamar mandi, terus pingsan. Kyu pikir Mom hamil," kata Kyu.


"Mulut, Kyu! Mulut dikondisikan! Kalau nggak kamu bakal nginap di rumah sakit!" Akio memperingati Kyunara.


"Kamu muntah-muntah juga?! Kamu hamil, Sayang?" Ken yang terkejut sampai reflek bangun dari duduknya.


"Enggak, Sayang, enggak!" Kei ikut bangun. Beginilah, apapun informasi yang disampaikan selalu ditanggapi berlebihan. Tidak sampai disitu, biasanya Ken akan membuat kesimpulan dan keputusan sendiri. Oh Astaga ...


.


.


.


.


.


Hai semua ... maaf kalau Akak Mei hadir di cerita ini lagi. Dari beberapa permintaan penggemar Akio dan Zee meminta up lagi, maka dari itu Akak Mei putuskan untuk lanjut di sini.


Akak, babnya udah banyak banget. Gak apa, Say. Kalau kalian mau baca silahkan, gak juga gak apa, ya. Akak Mei gak mau buat kerangka baru karena sudah ada berapa kerangka yang belum saya selesaikan. Nanti kalau buat lagi saya kena marah. 🤭


Ini kisah Akio tetapi maaf ya kalau Akak Mei selipin cerita Daddy Ken dan Mommy Kei.


Selamat membaca dan jangan lupa LIKE, KOMEN, agar saya semangat up ya. Terima kasih.🙏

__ADS_1


Tak lupa, salam sayang dari Akak Mei.😘


__ADS_2