
Lelaki keturunan sultan itu tengah bersiap diri didepan cermin, memandang wajahnya sendiri untuk mencari celah kekurangannya, namun nihil. Semua tampak sempurna, apalagi dengan jambang yang belum dirapikan, membuat sang punya empu semakin terlihat dewasa dan matang.
Merapikan dasi yang terlalu longgar dan kembali menyisir rambut yang menjuntai dikeningnya.
"Mau ke kantor apa mau kencan? rapi banget." cibir Kei yang baru selesai memandikan baby Kyura, tak ada kata serius hanya melempar candaan.
Bukannya marah atau sebal, Ken justru tergelak memandang kearah istrinya. Ia gemas ingin mendekap tubuh Kei dan ingin membungkam mulut istrinya dengan kenikmatan tiada tara.
Tapi hanya ada dalam angan-angan saja. Tentu ia takkan bisa melalukan itu, Ken masih harus berpuasa batin karna masa nifas Kei setelah melahirkan belum selesai. Dan itu menjadi siksaan terberat bagi Ken.
"Jangan seperti itu, kau terlihat menggemaskan. Aku ingin memakan mu, Baby." ucap Ken dengan menyunggingkan senyum manis.
Kei melirik dengan ujung mata, "Ingat, burung gagak hitam mu masih harus berpuasa." Kei memperingati.
Ken mendesah berat, kenapa harus berpuasa batin selama itu. Keegoisan yang dimiliki mulai terkontrol. Sewaktu kelahiran Kio, ia telah berusaha untuk mencari dokter terbaik agar masa nifas Kei bisa segera selesai. Tapi dokter hebat, dokter terpintar di dunia pun tidak akan bisa mengubah hal itu.
Kini ia tak lagi protes, hanya sering uring-uringan dan kesal dengan sendirinya.
"Huh, awas saja kalau kau sudah selesai. Jangan harap semalaman aku akan melepaskan mu." ancamnya dengan tersenyum miring.
Kei memajukan bibirnya. "Kau mau melakukan kewajiban atau mau membuatku pingsan?!" cibir Kei.
"Tidak Honey, itu imbalan setimpal karna burung gagak ku terlalu lama tidur. Jadi, ketika bangun akan sudah untuk ditidurkan." ucap Ken. Ia telah berjalan mendekati Kei.
Kei menahan senyum, kepalanya menggeleng beberapa kali. Suaminya benar-benar monster mesum. Seperti tak ada kepuasan dalam melakukan itu. Padahal keturunan mereka sudah dua, tapi tak menyurutkan gelora panas pada diri Ken.
Kata orang, semakin tua semakin menjadi, mungkin seperti itu.
Setelah duduk disamping Kei, tiba-tiba Ken telah mencium pipi Kei dan menahannya disana.
Karna reflek Kei menjauh, pipinya terasa geli saat tertusuk rambut-rambut kecil yang berada di dagu Ken.
"Hei, kenapa menghindar?! kau tidak mau aku cium!" ucap Ken kesal.
"Bukan begitu, aku kaget tiba-tiba kamu cium aku." sanggah Kei.
Ken terlihat merajuk. Wajah yang tadi tersenyum manis kini berubah ditekuk, seperti lipatan buku.
Kei memperhatikan wajah Ken, tentu tau saat ini suaminya tengah merajuk.
Jika dibiarkan, akan semakin meneror hari-harinya.
__ADS_1
"Sayang," panggil Kei lirih.
Tapi Ken diam saja, wajahnya menjadi tertunduk dan mengawasi pergerakan putri kecilnya yang tengah berbaring diranjang sampingnya.
Tidak menghiraukan Kei sama sekali.
Melihat itu Kei malah tersenyum lebar, bahkan umur suaminya sudah semakin bertambah tua. Sudah memiliki dua keturunan tapi tetap saja tingkah dan sikapnya tidak berubah.
Ken malah asik bermain ciluk ba bersama Kyura.
Kyura hanya menggerakkan tangan dan kaki memukul udara. Terkadang kakinya mengenai telapak tangan Ken, tapi sang ayah malah tersenyum. Sangat menyenangkan menemani Kyura dan bermain dengan bayi mungil itu.
"Sayang, sudah siang nanti terlambat." ucap Kei memperingatkan waktu berangkat kerja Ken, siapa tau suaminya lupa dan bisa saja terlambat.
"Lee belum datang. Aku menunggu dia." jawab Ken singkat tanpa membalas pandangan Kei.
Kei beranjak untuk mengambil baju bayi, karna baby Kyura masih terbalut handuk dan belum memakai apapun.
Saat ia kembali, wajah suaminya belum juga berubah. Kei menghembuskan napas panjang. 'Dasar, umur sudah tua tapi pemikiran seperti anak kecil.' batin Kei.
Kei menaruh stel baju kecil itu disamping badan Kyura. "Sayang," panggil Kei manja.
Kei melakukan sama seperti yang dilakukan Ken tadi. Dengan gerakan cepat bibirnya telah menyentuh bibir Ken.
Setengah terkejut Ken melebarkan bola mata. Lalu satu detik kemudian menikmati ci uman itu.
Bibir yang saling menyatu untuk menyesapi rasa yang ada. Hangat dan nikmat yang dirasakan membuat keduanya terlena.
Gerakan yang melambat kini semakin menuntut. Rasanya tidak puas hanya dengan menyesapi candu, Ken menginginkan lebih.
Tapi tangan Kei mencegah, tidak bisa dibiarkan. Bisa saja menjadi lebih berbahaya.
Keduanya telah hanyut dalam pusara candu, suara baby Kyura yang mendengung tidak mereka hiraukan makin asik untuk lebih menjelajahi.
Tangan Ken yang menjadi tumpuan diatas bed empuk merasakan ada cairan hangat yang mengalir. Tapi, lagi dan lagi kenikmatan itu telah menyihir mereka dari dunia nyata. Hingga keadaan sekitar pun tidak dihiraukan.
"Eem... Uuu." baby Kyura bersuara. Tangan dan kaki masih aktif bergerak.
Ci uman keduanya baru terlepas saat kehabisan napas. Ketika ciuman sudah terlepas napas mereka terengah-engah.
Tangan Kei menyentuh bibirnya yang dalam sekejap terasa lebih tebal dan sedikit perih.
__ADS_1
Saat menunduk manik matanya melihat ke arah putri kecilnya.
"Astaga...!" ucap Kei terkejut.
Membuat Ken ikut terkejut dan melihat kearah baby Kyura.
Wajah baby Kyura telah tertutup baju, yang tadi Kei taruh disampingnya.
Segera Kei mengambil kain itu, jantungnya sedikit berdebar takut pernapasan Kyura terhambat.
Saat membuka kain itu tak sengaja baby Kyura malah tersenyum lebar.
Tangan Ken akan berpindah, tapi ujung lengannya terasa basah. Ia baru menyadari itu. Segera mengangkat sebelah tangannya.
"Honey, lengan kemejaku terkena air seni baby Kyura." ucap Ken dengan kesal.
Kei malah tertawa, baginya itu lucu.
"Kau mengerjai Dad?! lihat, lengan baju Dad basah. Padahal Dad sudah tampan dan bersiap berangkat ke kantor." Ken mengomel kesal. Tapi baby Kyura tetap anteng pada posisinya.
Terpaksa Ken melepas jas dan kemejanya, ia harus mengulang proses persiapan dari awal.
Dengan cepat Ken telah melangkah ke kamar mandi.
Kei masih tersenyum dan kembali melanjutkan proses mendandani putri kecilnya yang tadi harus ditunda karna aksi ngambek dari suaminya.
"Princess Mom kok gitu sih, Nak. Padahal Dad sudah rapi tapi malah kamu pi pisin. Kan Dad harus bersiap lagi." Kei mengajak Kyura berbicara dengan tangan yang aktif mendandani putrinya.
"Dad... Dad....!" terdengar suara Kio yang memanggil. Tak lama berselang, handel pintu bergerak dan terbuka lebar.
"Dad mana Mom? ditunggu Paman Lee," kata Kio, bocah itu berjalan mendekat ke ranjang.
"Dad masih dikamar mandi, Sayang. Bilang sama Paman Lee untuk menunggu sebentar ya." kata Kei.
"Oke Mom..." Jawab Kio, ia berbalik dan akan keluar.
"Kakak Io sudah mandi belum?" tanya Kei.
"Sudah. Dimandiin sama Mbak." Kio sudah berlalu keluar dari kamar itu.
Kei hanya mengamati tubuh Kio yang menghilang.
__ADS_1