
Duo manusia yang menjadi idola dadakan harus menelan ludah dengan kesusahan. Melihat barisan ibu-ibu rempong seperti rakyat yang menunggu bantuan sosial membuat Ken dan Lee mengerut.
Baru pertama kali berada disituasi yang tidak menguntungkan sama sekali. Bahkan cenderung mengerikan.
Ken dan Lee nampak ragu untuk melangkah. Tapi bagaimanapun kakinya tetap harus melangkah dan kini keduanya bersejajar.
"Lee, kau duluan." ucap Ken menyuruh Lee untuk menjabat tangan ibu-ibu itu.
"Hai Tuan, kenapa saya? Anda yang lebih disegani, jadi lebih bagus kalau anda duluan." Lee memberanikan diri untuk menolak.
"Kau mau kena pasal berlapis! Huh... menyebalkan." Ken mendengus sebal.
Kei melangkah lebih dulu, ajaibnya ibu-ibu tidak mau berjabat tangan dengan Kei, dan masih menunggu Ken dan Lee untuk menjabat tangan mereka.
Ken mengernyit dan memicingkan mata, rasanya sangat enggan untuk berjabat tangan.
Suara riuh dari ibu-ibu rempong tak kunjung reda, mereka semakin menjadi dengan aksi yang luar biasa. Ibu-ibu yang berhasil menjabat tangan Ken dan Lee berjoget-joget ria dengan sorak sorai yang semakin memekakkan gendang telinga.
"Mimpi apa aku semalam bisa ketemu orang korea yang gantengnya nggak ketulungan."
"Tanganku bersalaman sama orang ganteng plus horang kaya, asli... ini tangan satu minggu nggak akan aku cuci."
Salah satu ibu menjawab, "Kok bisa? la terus kalau kamu mandi apa ya nggak sama aja dicuci?"
"Kalau aku mandi bakal tak tutupin pakai plastik. Biar awet harumnya."
"Hust... Hust... ibu-ibu, kalian cuma salaman sama keponakanku, kan? hihihi... lihatlah, rumahku jadi rumah singgah. Huh... hebatan aku, kan?" bude Parmi menyombongkan diri.
"Nanti nih ya, rumahku satu minggu nggak akan aku bersihin, nggak akan aku sapu biar bekasnya nggak hilang." imbuh bude Parmi dengan menggerakkan bibir kesana kemari.
"Bude Parmi, hei... kembalikan sendalku. Bude ini kok nggak liat-liat loh, pakai sendal satu warna biru satu warna merah. Gitu juga satu pendek satu pakai high heels. Sini kembalikan sendalku!" omel salah satu ibu rempong.
"Weh... perkara sendal aja kamu ributin to Sum. Ini aku kembalikan sendal the heels mu." ucap bude Parmi ketus.
Ken dan Lee hanya saling pandang, rasanya ingin kabur dari situasi yang amat sangat buruk.
"Tumirah, ini siapa yang masak ikan? lihatlah, gosong!!!!!!!!!!!" teriak salah satu ibu-ibu yang ada didapur. Terang mereka sedang masak bersama untuk acara tahlilan nanti malam.
Kei cekikikan sendiri, sedangkan Lee dan Ken menggelengkan kepala.
Setelah uraian panjang ibu-ibu rempong sudah membubarkan diri karna tragedi ikan gosong, kini Kei membimbing Ken dan Lee untuk masuk ke dalam rumah.
Mereka berdua duduk diruang tamu.
Ketika Kei kembali dan membawa dua cangkir, Ken menyuruhnya untuk duduk.
"Honey, sebaiknya kita pergi dari sini. Lee sudah memesan hotel untuk kita menginap. Atau kita akan pulang sekarang juga. Biar Lee menghubungi Pilot." ucap Ken.
"Tapi aku nggak enak sama Pakde. Kita harus ikut acara nanti malam, mengirim do'a untuk almarhum menantunya Bude." tolak Kei.
Ken menghembuskan napas panjang, bagaimana akan membujuk Kei supaya pergi dari tempat mengerikan itu.
Melirik jam dipergelangan tangan, ternyata masih pukul 2 siang, waktunya masih sangat lama.
Clok clok.... jam di dinding terus berputar, Ken sangat jenuh menunggu dan masih duduk di ruang tamu.
Kei sudah bergabung dengan ibu-ibu rempong lainnya, sedangkan Kio bermain game dan asik sendiri. Kemarahannya pada ayahnya belum mereda, bersikap cuek dan acuh.
__ADS_1
Lee sudah tenang dan damai, ternyata dia tertidur dengan suara dengkuran yang bising.
Ken mengeluh, mendesah kesal, mengumpat dalam hati. Benar-benar situasi yang sangat menyebalkan sepanjang sejarah.
Ketika sehabis maghrib menjadi puncak kekesalan seorang Kendra Kenichi dan juga Samuel Aeron Lee.
Kedua lelaki tampan dan gagah itu berkali-kali mendesah berat, mengumpat dengan makian kesal.
Lee dan Ken sudah berganti pakaian.
Sore hari tadi Kei menyuruh supir yang menunggu didepan untuk membeli baju Koko, sarung dan juga peci.
Maka sehabis maghrib ini mereka berdua sudah merubah penampilan seperti ustad dadakan. Pertama kali Ken mengamati Lee memakai baju Koko membuatnya tertawa terpingkal-pingkal, tapi setelah menatap dirinya sendiri didepan cermin membuat Ken merah padam menahan malu juga marah.
Meski begitu Lee tidak berani menertawai Ken, bisa saja Ken akan murka. Hanya satu orang yang mampu memberi perintah tanpa bisa menolak. Siapa lagi kalau bukan Kei. Kei menyuruh Ken dan Lee berpakaian rapi untuk mengikuti acara tahlilan dirumah Bude Parmi.
Meskipun Ken dan Lee tidak paham dengan adat istiadat dikampung itu tapi mereka tetap mengikuti serangkaian acara itu.
Kei mengintip Ken dari balik horden pintu, melihat Ken memakai Koko membuat hati Kei tersentuh. Malam ini suaminya terlihat sangat rupawan.
Tidak tahu jika Ken dan Lee sedari tadi mengumpat kesal.
"Lee, kita seperti ustad dadakan." ucap Ken dengan kesal.
"Mungkin ini salah satu jalan petunjuk untuk kita bertaubat." Jawab Lee.
"Kau kira selama ini kita berbuat dosa!" sinis Ken.
"Baju seperti ini tidak buruk Tuan, sangat nyaman digunakan." Lee tidak larut-larut mempermasalahkan pakaian yang dikenakan, dirumah dirinya sering memakai koko. Hanya saja ukuran Koko yang dipakai sangatlah besar, membuat Lee kesal dan tidak percaya diri.
Berbeda dengan Ken, Koko yang dipakai lumayan pas saat digunakan. Hanya saja mengeluhkan sarung yang dipakai. Maklum, Ken tidak pernah menggunakan bahan berbentuk segi empat itu.
Rasanya sangat aneh dan tidak nyaman. Seperti tidak memakai celana.
"Huh Lee, jika tau seperti ini, lebih baik kita tunda saja tujuan kita kesini." keluh Ken dengan kesal.
__ADS_1
"Saya sudah memberi nasehat seperti itu pada anda, tapi anda sendiri, kan...yang menyuruh untuk cepat-cepat datang." Jawab Lee.
Acara tahlilan sudah selesai, ada beberapa tetangga yang masih duduk santai sambil mengobrol.
Kei yang baru muncul di pintu belakang kini ikut bergabung disamping Ken.
Melihat raut muka suaminya yang sudah tidak nyaman Kei berniat untuk berpamitan.
"Pakde, Bude, terima kasih ya kemarin sudah menerima Kei untuk menginap disini. Karna suamiku sudah datang, Kei mau pamit."
"Loh Nduk, kamu sama suamimu mau pulang malam ini juga?" kaget pakde.
"Enggak Pakde, kita mau bermalam dihotel."
"Oh... begitu, ya... kalau itu mau kalian ya nggak pa-pa. Maaf, disini rumahnya begini mungkin tidak nyaman buat kalian."
"Pak...Pak, aku boleh nggak nemenin Kei ke hotel, enak kali ya nginep di hotel bulan 5." kata bude Parmi.
"Heh, kamu Bu, ada-ada saja. Orang kita punya rumah ngapain nginep dihotel. Nak Kei itu kan dijemput sama suaminya. Jadi ya biarkan saja mau nginap dihotel. Lagian kalau nginap disini mau tidur dimana, kamarnya sempit." ujar pakde.
"Bapak tuh nggak bisa lihat orang senang, seumur begini tua sampai rambut putih semua loh aku belum pernah tidur dihotel. Ini mumpung ada Kei, kan bisa gratis." diakhir kata bude parmi cengengesan.
"Lee, pesankan kamar hotel dua malam untuk Pakde dan istrinya itu. Biar dia merasakan menginap dihotel." Ken menyela, lalu memberi perintah pada Lee.
"Baik Tuan Muda," Lee mengeluarkan ponsel lalu mengetik sesuatu.
"Wah.... wah.... begini nih, mantu idaman banget yak. Coba anak kita yang janda bisa dapet yang mirip beginian, pasti hatiku berbunga-bunga." ucap bude parmi tanpa malu-malu.
"Bu.... jaga bicaramu." sentak pakde dengan suara tertahan.
Bude parmi melotot kearah suaminya.
Kei menanggapi dengan senyum lebar.
__ADS_1
Meskipun bude parmi pernah jahat dan berkesan tidak tahu malu, tapi Kei tetap menghormatinya karna bude parmi kakak dari almarhum ibunya.