
"Hei.. tidak ada yang mau menjawab?" Tristan menaruh paper bag berisi martabak manis, ia bingung akan membawa buah tangan apa? memutuskan untuk membeli martabak yang ia lewati. Tak terpikir membawa buah-buahan karna ia terlalu sibuk hingga melupakan hal penting itu. Buket bunga segar akan diberikan pada istri sahabatnya.
Kei tampak ragu untuk menerima, ia tau hubungan tuan Ken dengan Tristan tidak baik-baik saja, ia harus menjaga perasaan suaminya.
Tuan Ken sigap menyahut buket bunga yang disodorkan didepan Kei. Mengambil dan menaruhnya diatas meja.
"Aku memberikan bunga itu untuk Kei, bukan untukmu Ken. Kenapa kau yang ambil?" Tristan tau temannya tidak suka. Sudut bibir Tristan tersenyum tipis.
"Orang sakit kau bawakan bunga mawar merah, apa kau akan mengungkap sebuah perasaan?" tuan Ken berbicara sinis, tak ada kata sungguhan itu hanya sebuah candaan.
"Kau sangat lucu saat cemburu, kawan." Tristan tergelak, melihat api cemburu pada sahabat posesif itu membuatnya semakin menggebu untuk lebih berani.
"Kei, jika aku mengungkapkan sebuah perasaan apa kau akan menerima?" sengaja mengatakan itu, melirik kearah tuan Ken. Menunggu reaksi lelaki yang dikuasai cemburu, pasti menyenangkan.
"Berani sekali kau mengatakan itu! kau ingin menyusul Deny?" terpancing, emosi tuan Ken muncul. Meski sudah kembali bersahabat tak membuat tuan Ken memberi kesempatan Tristan mendekati istrinya.
Over posesif yang mendarah daging susah untuk dihilangkan, bahkan sikap itu semakin bertambah kala posisinya terancam.
Kei kebingungan, mengerutkan dahi. Melihat kearah dua lelaki itu bergantian. 'Bukankah mereka bermusuhan? tapi wajah tuan Ken tidak terlihat marah?' batin Kei.
"Ampun suhu, aku tidak mau menyusul Deny sialan itu." bukan marah, Tristan justru tertawa lucu.
"Huh, kau yang sialan!" tuan Ken melayangkan tatapan kearah Tristan yang tak henti tertawa.
Kei masih diam saja mengamati kedua pria aneh. Sekretaris Lee sibuk dengan notebook ditangannya. Tidak mengurus perdebatan keduanya yang memang tidak serius.
"Ah.. sudah-sudah, menanggapi over posesifmu aku ikut gila, Ken." Tristan sangat tau sikap Kendra Kenichi yang over posesif, bukan hanya bersama Kei tetapi bersama almarhum Olive dulu juga begitu.
"Dari dulu kau sudah gila, Tan." persahabatan mereka dipenuhi ejekan. Meledek satu sama lain selalu dilakukan, candaan itu membuat keakraban diantara keduanya.
"Kenapa kau datang kesini?" tuan Ken bertanya.
__ADS_1
"Pertanyaan macam apa itu Ken, kau ini tidak menyambut sahabatmu dengan baik." Tristan mendengus.
"Sa..ha..bat?" Kei terbata. Apa maksut Tristan mengatakan kata sabahat?
"Iya Kei, aku dan suamimu sudah kembali bersahabat. Ken tidak memberitahumu? jahat sekali manusia itu!" Tristan menyindir tuan Ken, melirik kearah lelaki yang masih kesal.
"Benarkah?" Kei bertanya. Memastikan pernyataan itu, tak percaya jika hanya Tristan saja yang mengatakan. Tuan Ken mengangguk malas.
Senyum dibibir Kei terbit, ternyata kedua lelaki itu kembali bersahabat. Pertanyaannya 'kok bisa?' tapi Kei tak ingin menanyakan itu sekarang, ia akan bertanya pada sekretaris Lee saja.
Melihat senyum dibibir Kei membuat hati Tristan bergetar, tak dipungkiri perasaan itu masih ada. Meski sudah lama tak melihat perempuan itu tapi bayangan Kei sulit dilupakan, kini bisa melihat senyum manis itu hatinya semakin dalam merasakan luka.
Luka, hanya bisa memandang tanpa bisa memiliki, dua kali terluka oleh perasaannya sendiri. Dulu Olive, sekarang Kei. Kesakitan yang sama, dan bersaing dengan orang yang sama.
Terbesit rasa iri melihat nasib baik yang selalu menghampiri sahabatnya, ia selalu sukses. Bukan hanya didunia bisnis, didunia percintaan selalu bersatu dengan wanita yang dicintai.
Sedangkan dirinya berkali-kali menelan kekecewaan. Kisah percintaan yang tak pernah berbalas. Kandas sebelum dimulai.
Tuan Ken kembali duduk disamping ranjang Kei, sebelah tangan dilingkarkan dipinggang sang istri. Melihat itu Tristan semakin sebal, ia tau Ken sengaja memanas-manasinya.
Tuan Ken tersenyum miring, 'rasakan kau jomblo, jiwamu pasti meraung-raung.' dalam hati tuan Ken tergelak.
Tristan mendengus sebal, "Hei manusia tanpa ekspresi, jiwa jomblomu tidak iri melihat tuan mudamu begitu setiap hari?" Tristan bertanya pada sekretaris Lee.
Sekretaris Lee melirik sebentar dan kembali fokus menatap layar, tapi mulutnya bersuara untuk menjawab. "Saya sudah bukan jomblo lagi, jadi buat apa iri."
"Jadi kau sudah punya pacar? masih adakah wanita yang mau dengan manusia lurus sepertimu? apakah pacarmu tidak mengeluh saat berkencan denganmu?" itu salah satu sikap Tristan, selain suka bercanda ia juga suka bicara asal.
"Bukan pacar, tuan, tapi istri." menjawab singkat. Malas meladeni.
"Ah... jadi hanya aku yang belum laku?" mengatakan itu dengan terkejut, bahkan lelaki yang dianggap minim ekspresi saja sudah mendapat pasangan hidup. Sedangkan dirinya? pacar saja belum punya. Apakah ia harus menangisi nasib percintaannyaan.
__ADS_1
Berganti tuan Ken tergelak, menertawai wajah bodoh Tristan. "Wajah standar sepertimu susah laku, Tan. Kau harus berjuang extra mencari wanita."
"Huh... tak apa, aku akan mencari wanita yang lebih cantik." jawabnya.
"Secantik apapun wanitamu aku tidak perduli, bagiku Kei wanita tercantik dimuka bumi." tuan Ken mengecup pipi Kei, membuat Kei langsung menoleh dan memberikan tatapan tajam. Ia sangat malu dengan Tristan. Mencubit lengan tuan Ken hingga terdengar mengaduh kesakitan.
"Aura dirumah sakit ini membuatku panas, sepertinya aku harus segera pergi." Tristan tak ingin melihat keduanya, bola mata yang diputar keatas.
"Pemikiranmu bagus, enyahlah dari sini. Aku juga panas melihat wajah bodohmu." tuan Ken mengejek.
"Apa dari dulu kalian bersikap seperti ini?" Kei tidak banyak bicara, ia tak tahan untuk bertanya.
"Iya Honey. Aku dan Tan suka mengejek dan bercanda. Sebenarnya dia itu lelaki bodoh, tapi entahlah aku masih mau berteman dengannya." Jawab tuan Ken acuh.
"Suamimu itu menyebalkan, Kei." Tristan mengadu pada Kei.
"Memang," jawab Kei singkat. Tapi bibirnya tersenyum lucu, ia juga tertular ingin meledek tuan Ken.
"Tan, enyah atau akan ku kenakan pasal!" kesabaran tuan Ken menipis, semakin lama geram dengan kehadiran Tristan.
Waktu romantis dengan Kei harus terganggu dengan kehadiran sahabat yang kadang menyebalkan.
Tidak menanggapi ancaman tuan Ken. Tristan tak perlu takut dengan ancaman palsu itu, ia tau tuan Ken tidak serius.
"Kei, aku tadi membawa martabak manis. Dimakan ya." kata Tristan.
"Iya nanti aku makan." Jawab Kei.
"Honey, kau jangan makan yang manis-manis, jaga kadar gula dalam tubuhmu." belum apa-apa tuan Ken mencegah.
"Dasar..." Tristan menyembunyikan gerutuannya, ia hanya memutar bola mata malas.
__ADS_1
"Terserah kau, Ken. Aku pulang saja. Kei lekas sembuh, semoga kondisimu semakin membaik." Tristan berpamitan, lebih baik ia segera pergi.