
'Tertawa saja sepuas mu, dasar posesif!' batin Kei kesal.
Beberapa saat memendam kekesalan, Kei teringat dengan sahabatnya. Dari kemarin ia belum menjenguk Dewi.
"Eum, sayang. Boleh nggak aku keruang Mbak Dewi?" Kei meminta izin.
"Boleh kesana, asal denganku." jawab Ken dengan ringan.
"Tapi bagaimana lukamu? nanti terbuka lagi. Kita nggak akan pulang-pulang." kata Kei.
"Tidak pa-pa, aku tidak banyak bergerak." tangan Ken sibuk memijat tangan yang sebelah.
"Tanganmu kenapa?" tanya Kei.
"Sedikit pegal, mungkin kurang gerak jadi badanku terasa sakit."
"Sini aku pijat," Kei menawarkan diri. Ken menjulurkan tangannya didepan Kei. Pijatan lembut dari Kei terasa nyaman. Tuan muda posesif itu terus menyunggingkan senyum, memandangi wajah istrinya yang cantik dan frees.
Tak seperti tadi, Kei sudah mulai luluh. Ia membalas senyum.
"Eum... pria tadi..." kalimat Kei terhenti, ia takut untuk melanjutkannya.
"Pria? Pria siapa? kenapa dengan pria tadi?" belum apa-apa, Ken sudah menunjukan sikap begitu, membuat nyali Kei tak seberani tadi.
"Tidak," jawab Kei singkat. Lebih baik tidak usah diteruskan dari pada urusan semakin runyam.
"Kenapa tidak! cepat katakan, kenapa dengan lelaki tadi? jangan membuatku penasaran." kata Ken tidak sabaran.
"Apa Tama itu anak buah mu?" tanya Kei.
Jelas Ken terkejut, dahi itu berkerut. "Tama siapa yang kau maksud?" berganti Ken bertanya dengan menelisik.
'Uh... mampus kau, Kei! padahal aku sudah sangat berhati-hati. Masih saja salah.' batin Kei.
"Tadi pria yang memakai pakaian serba hitam dan memakai topi hitam." jawab Kei. Kali ini ia yakin tidak salah berucap.
__ADS_1
"Hei, kenapa kau tau semuanya? apa kau memperhatikan dia dengan jeli?" nada suara Ken sudah terdengar kesal.
"Astaga..." Kei berucap lirih dengan menoleh kearah berlawanan. Ia melebarkan mata seperti menakuti seseorang. Kesal. Kei semakin kesal, kalimat yang disusunnya dengan hati-hati masih saja salah. Suaminya benar-benar kelewat, over posesif yang sudah tidak ada bandingannya. Hal sekecil apapun jika menyangkut lelaki lain akan luar biasa menjadi masalah besar.
"Aku memperhatikannya dengan detail, dari atas sampai bawah." Kei berucap kesal.
"Apa? berani sekali memandangi lelaki lain sampai seperti itu! keberanian mu akan berbahaya jika dibiarkan." keduanya sama-sama kesal.
"Lalu mau bagaimana? apa aku harus menutup mata saat ada laki-laki lain yang lewat atau berada di sekelilingku?"
"Ide bagus. Peraturan baru, jika ada pria lain kau tidak boleh melihat dan melirik."
'Manusia macam apa suamiku ini!!" Kei yang kesal tak terasa mengencangkan pijitan ditangan Ken, hingga ia mengaduh kesakitan.
"Kau sengaja memijat tanganku seperti itu? Honey, kau menggerutu dibelakang ku."
"Bagaimana aku tidak menggerutu, kau benar-benar keterlaluan. Aku sampai harus menaati peraturan yang tidak masuk akal begitu." sentak Kei. Kesabarannya sedang diuji.
"Aku memberi peraturan itu agar kau tidak tertarik dengan pria lain. Aku sangat mencintaimu." sorot mata tuan Ken kini meneduhkan. Tak seperti tadi yang menatap tajam.
Hati suami mana yang tak berbunga-bunga mendengar istrinya berkata seperti itu. Senyum merekah dibibir tuan Ken seakan tidak bisa hilang, hati bahagia hanya mendengar kalimat itu.
'Tartawa, tersenyum. Ya ya... lakukan sesukamu, hanya seperti itu kau sudah luluh. Berati hanya perlu mengatakan cinta, maka semuanya beres.' Kei kegirangan dalam hati.
"Benarkah begitu? Aku juga mencintaimu, Honey." Ken membalas kata cinta dari Kei.
"Kembali keawal. Lelaki tadi anak buah mu?" Kei mengulang pertanyaannya.
"Iya. Status Tony dan Lee sama, ia orang penting yang ada dibelakang ku." Jawab Ken.
'Oh, dia disebut dengan nama Tony.'
"Bagiamana bisa dia bekerja sama denganmu?" keingintahuan Kei membuatnya berani mengajukan pertanyaan yang kedua.
Kali ini tatapan teduh tadi mulai memancarkan percikan api. Rasanya ada yang tidak beres, kenapa Kei sangat antusias bertanya.
__ADS_1
"Memang kenapa kau ingin banyak tau, tentang Tony? apa ada sesuatu?"
'Kenapa susah sekali bertanya padamu. Sudah seperti bertanya kepada Hakim penegak hukum yang selalu mengintrogasi dengan detail. Tinggal jawab pertanyaanku apa susahnya sih.' Kei benar-benar greget dengan tuan muda satu ini. Bagaimana pikiran Ken akan normal, atau perlu dibenturkan ke tembok biar bisa berpikir dengan akal sehat bukan dengan cemburu buta.
"Tidak ada apa-apa Sayang, apa aku tidak boleh tau tentang anak buah mu dan orang-orang terdekat mu." nada bicara itu dibuat sehalus mungkin oleh Kei. Meski ia ingin memukul suaminya sendiri tapi tidak mungkin terjadi.
"Aku tidak sengaja bertemu dengan Tony saat berada di Hotel. Waktu itu aku sedang metting dengan orang penting, saat aku sibuk ada salah satu musuh yang meretas data perusahan di Bali. Saat aku berjalan tergesa-gesa, tak sengaja anak misterius itu menabrak ku. Dan, yah... dari itu ia menawarkan diri untuk menjadi pelindung data private kantor. Sebenarnya aku sudah ada orang kepercayaan lain, tapi aku pikir tak ada salahnya menerima dia.
Tak ku sangka ternyata kemampuan yang dimiliki melebihi umurnya, dia seorang hacker handal. Sampai sekarang dia bekerja sama denganku." akhirnya Ken bercerita panjang lebar. Jika bukan dengan Kei, ia takkan pernah mau menggunakan kosa kata panjang. Ia lebih suka irit bicara, terlihat dingin didepan orang lain. Tapi menjadi hangat ketika bersama keluarga.
"Aku rasa, umurmu tidak jauh berbeda dengan Tony?" ucap Ken.
'Memang kami seumuran, bahkan kami dulu pernah berteman.' Kei menjawab dalam hati.
"Tapi aku tidak perlu takut, dia jarang menampakkan diri. Dia seperti takut dengan dunia luar dan selalu bersembunyi. Maka itu aku memanggilnya pria misterius." imbuh Ken.
Dengan berbagai proses, rasa penasaran Kei sudah terjawab. Ia cukup tau saja tentang Tony atau Tama. Toh, setelah ini tidak mungkin bertemu lagi.
Tidak ada keberanian lebih bagi Kei untuk mencari tau, atau bertegur sapa seperti seorang teman. Ia takut Ken akan marah.
"Oh ya, bukankah kita tadi akan menjenguk mbak Dewi. Kenapa bisa lupa." Kei baru ingat. Melihat dalam box, baby Kio masih tertidur.
"Sepertinya aku sendiri saja yang pergi kekamar mbak Dewi, kau bisa menjaga putra kita." kata Kei.
"Tidak bisa begitu. Kau hanya boleh pergi jika denganku." Ken menjawab cepat.
"Aku telpon Lee sebentar untuk membantuku mendorong kursi roda."
"Tidak perlu. Itu sudah ada kursi roda, biar aku saja yang mendorong."
"Kau mendorong kursi roda! Tidak! tanganmu bisa kasar."
"Aku hanya mendorong kursi roda beberapa menit, bukan seumur hidup. Begitu saja masih mau larang."
Terkadang Kei lelah menghadapi sikap suaminya yang benar-benar kelewat over.
__ADS_1