Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Mulai Seperti Anak Kecil


__ADS_3

Didalam mobil Kei masih terus merengek, mengalahkan rengekan Kio ketika meminta sesuatu.


Ken menghela napas dan menatap kearah Kei.


"Nanti kalau perutmu sakit?"


"Tidak,"


"Kita pulang dan suruh koki untuk membuat mie yang kau mau,"


"Tidak mau!"


"Kenapa susah di atur?"


"Bodo'." Kei cemberut.


"Keihana Kazumi?" Ken menyebut nama lengkap, itu seperti peringatan.


"Terserah mu, kalau mau pulang ya sudah pulang saja!" jawab Kei ketus. Ia memalingkan muka kesamping. Merajuk tak mau melihat wajah suaminya.


"Ini demi kesehatanmu Honey." ucap Ken. Dalam pangkuannya ada Kio yang sudah terlelap. Balita itu kelelahan hingga cepat tertidur.


Apalagi usapan tangan penuh kasih sayang dari Daddy pada rambutnya, seolah menghipnotis mata Kio untuk terlelap.


Kei mendengus sebal saat Ken tidak mengabulkan permintaannya. Menyimpan kekesalan dalam hati, entah perasaanya sering berubah ubah.


Mobil melaju untuk kembali pulang ke rumah. Padahal Ken sudah berjanji akan ke Mall dan membelikan robot besar untuk Kio. Saat melihat putranya tertidur, ia berubah fikiran. Terlalu malas untuk berkeliling Mall, lebih baik beristirahat dirumah.


Sampai didepan halaman rumah, Kei masih cemberut. Wanita yang biasa terlihat keibuan, kini merajuk seperti anak kecil.


Ken menggendong Kio. Apa yang bisa dilakukan selain membiarkan Kei seperti itu.


Kei langsung menuju ke lift tanpa menunggu Ken.


Dibelakang, Ken menggelengkan kepala "Sikap anak kecilnya kambuh," mendesis pelan.


Kaki panjangnya menuju ke dapur untuk mencari koki dan memberi perintah untuk segera membuat mie ayam, seperti keinginan Kei tadi.


Selesai memberi perintah, ia langsung menuju kekamarnya.


Siang hari dengan cuaca cerah, terik matahari benar-benar terasa panas, seperti membakar kulit. Saat ini tepat pukul 1siang, untuk sebagian orang hari weekend sangat nyaman untuk berbaring diatas bed.


Ken yang baru masuk langsung merebahkan Kio diatas ranjang agar putranya semakin nyaman dan tertidur pulas.

__ADS_1


Gerak mata Ken mencari keberadaan Kei, dimana Kei sedang merajuk?


Sudut bibir yang terangkat keatas, ia segera menghampiri Kei yang berdiri di pinggiran balkon. Mendekap dari arah belakang. "Apa kau masih marah?" tanyanya.


"Tidak, siapa yang marah? Aku sangat mencintaimu, tidak mungkin Aku marah padamu." jawab Kei dengan wajah berbinar.


Jawaban dari Kei membuat Ken terkejut, harusnya ia tak mendapatkan pengampunan semudah itu. Tapi bukan lagi pengampunan, bahkan Kei mengucap kata cinta. Bukankah itu aneh?


"Hei, kenapa kau diam saja?" Kei membimbing tangan Ken untuk lebih mengeratkan pelukan tangan yang melingkar di pinggangnya.


"Uh... tidak pa-pa. Tentu, aku juga sangat mencintaimu, Honey." Ken menurut untuk lebih erat mendekap.


"Sayang, kamu lupa?" Kei bersuara lagi.


"Lupa apa?"


"2minggu lagi Kio berulang tahun,"


"Oh, bagaimana bisa aku melupakan hari penting itu. Kita harus menyiapkan pesta besar," Ken bersemangat.


"Lebih besar dari tahun yang kemarin." imbuhnya.


"Jangan terlalu, kita beri kejutan seperti biasanya saja. Jika ingin lebih besar, tambah juga uang santunan untuk anak-anak panti dan kaum miskin." jawab Kei.


Ketukan pintu membuat keduanya menoleh, "Siapa?" tanya Kei.


"Pelayan. Biar aku buka," Ken berjalan menuju pintu.


2Koki menunduk hormat. "Tuan Ken, mie ayam keinginan Nona Kei sudah matang. Mau dibawa kekamar atau di makan dibawah?"


"Bawa kesini saja dan taruh diatas meja," Ken menunjuk dengan dagunya. Setelah itu ia kembali menghampiri Kei.


Kei tidak bertanya, mungkin hanya urusan biasa tentang menu makanan.


"Mie ayam yang kau inginkan sudah jadi, mereka akan membawanya kemari." ucap Ken.


"Hei.. siapa yang mau mie ayam? Aku tidak ingin makan itu." Kei menolak.


"Aneh. Bukannya dimobil tadi kau menginginkan makan mie ayam dipinggir jalan?" tanya Ken keheranan.


"Itu 'kan tadi. Sekarang aku sudah tidak ingin." jawab Kei santai.


Ken menggaruk rambut depan yang sedikit memanjang. Menyisipkan poni sampai diatas mata.

__ADS_1


"Cuaca panas begini tidak cocok makan makanan yang berlemak, enaknya bikin rujak jambu air. Uh... pasti seger..." Kei menelan air liur susah payah, seolah bayangan jambu air menggantung didepannya ingin sekali memetik dan memakannya. Apalagi dengan sambal petis yang bertabur kacang almond. Sungguh nikmat.


Ken terbengong, manik mata menatap penuh kearah Kei. Keinginan istrinya sudah berubah lagi. Benar-benar membingungkan.


"Nanti biar disiapkan pelayan." kata Ken dengan lirih. Ia masih belum fokus dan masih berpikir-pikir tapi tak menemukan jawaban. Mungkin saja keinginan Kei wajar karna memang di terik cuaca yang panas memang lebih enak untuk memakan buah segar.


2Koki sudah datang dengan nampan berisi mie ayam, menaruh diatas meja seperti yang diperintahkan.


"Kalian kemari lah." perintah Ken.


Keduanya mendekat. "Ada apa tuan?"


"Apa pohon jambu dibelakang rumah berbuah?"


"Ada tuan, tapi belum masak masih muda semua."


Ken beralih melihat Kei, menanyakan pendapatnya.


"Tidak pa-pa, aku sangat ingin." Kei merengek seperti tadi.


"Ambil jambu air yang sudah bisa dimakan, istriku ingin petisan jambu air dengan sambal kacang yang ditaburi kacang almond."


"Baik tuan muda,"


Keduanya mengambil mangkuk mie ayam dan membawanya kembali kebawah. "Apa Nona Kei mengerjai kita? kita sudah capek-capek masak mie ini tapi dengan entengnya sudah ganti haluan minta petisan. Mentang-mentang Nona muda, tapi tidak memikirkan kerja kita." sungut salah satu koki.


"Hust.. disini banyak kamera pengawas, kecilkan suaramu. Kamu mau dipecat? kalau kita berhenti bekerja, akan sulit bekerja dirumah pembisnis besar. Ingat, gaji kita disini 3x lipat dari tempat lain."


"Kalau nggak ingat gaji udah dari dulu aku keluar,"


"Sama,"


Mereka berdua masih saling berbisik tetapi tetap menjalankan perintah tuan Ken. Menuju ke kebun belakang untuk memetik jambu air.


Didalam kamar, tiba-tiba Kei merasa pusing. Ia menahannya dan tidak bercerita pada Ken. Ia meninggalkan Ken dan beralih berbaring diranjang.


"Honey, apa ini kode untuk..." Ken menggantung kalimatnya. Tapi sudut bibir sebelah terangkat dengan kedua alis yang naik turun.


"Apa sih, aku ingin rebahan sebentar sebelum Kio terbangun."


"Jangan ganggu aku!" imbuhnya dengan ketus.


Seketika wajah Ken menjadi layu, binar kesenangan tadi harus luntur dengan paksaan.

__ADS_1


Hanya decakan yang keluar dari mulutnya, dengan gerakan pelan ia ikut bergabung dan berbaring disamping Kei.


__ADS_2