
"Tuan muda...!" Lee berlari menghampiri tuan Ken dan Tristan yang masih berkelahi walau keduanya sudah babak belur dan kehabisan tenaga. Tubuh Ken melemas dan terjatuh ditanah, Tristan sama seperti Ken yang sudah setengah sekarat. Kei tetap memegangi perutnya yang sakit dan terus menangis menyaksikan dua pria dewasa yang tergeletak diatas tanah dengan kondisi yang mengenaskan.
"Tuan muda... tuan.." Lee sangat khawatir melihat kondisi tuan mudanya.
"Kei..." disela setengah kesadarannya Ken masih menyebut nama Kei.
"Aku akan menjaga nona Kei, tuan." Lee menghubungi pengawal untuk datang ke lokasi. Tidak lama segerombolan pengawal berlari kearahnya. Lee memberi perintah untuk membawa tuan Ken kedalam mobil, begitu-pun dengan Tristan yang juga akan dibawa ke Rumah Sakit. Walau bagaimanapun Lee tidak bisa meninggalkan Tristan dalam keadaan seperti itu.
"Anda kesakitan Nona, mari kita kemobil." Lee memapah tubuh Kei, karna Kei terus meringis kesakitan. Tuan Ken sudah lebih dulu dibawa ke Rumah sakit, Lee berada satu mobil dengan Kei membuntuti di dibelakang.
Sampai di Rumah Sakit semua siap siaga menangani tuan Ken, membawanya keruang UGD kelas VIP. Tristan juga dibawa keruang yang berbeda.
Lee dan Kei menunggu diluar, keadaan Kei sedikit melemas kemudian terjatuh pingsan.
"Nona Kei.." Lee sangat terkejut Kei tiba-tiba pingsan tergeletak dilantai. Lee mengangkat tubuh Kei, meminta bantuan kepada perawat yang sedang lewat dengan sigap perawat menunjukan ruang rawat untuk menangani nona Kei. Beberapa Dokter datang untuk melakukan tindakan, disana hanya Lee sendiri bingung ketiga orang sedang dirawat. Teringat, Lee mengambil ponsel dan menghubungi mami Lyra tidak banyak yang ia jelaskan hanya menyuruh mami Lyra segera menyusul ke Rumah Sakit.
Beruntung ruang rawat tuan Ken tidak jauh dengan ruang rawat Kei sehingga Lee bisa menjaga keduanya dari luar ruangan. Satu jam mami Lyra sudah datang dengan terburu-buru mami Lyra menghampiri Lee yang sedang duduk dikursi tunggu.
"Lee... bagaimana? apa yang terjadi? Ken kenapa bisa dirawat, lalu Kei mana?" baru sampai mami Lyra sudah banyak mengajukan pertanyaan, sangat khawatir dengan keadaan putranya.
"Nyonya besar tenanglah. Tadi kami mendatangi teman nona Kei dan benar nona Kei semalam menginap disana, tetapi pagi tadi nona Kei pergi kejalan xxx untuk mencari kontrakan ketika kami menyusuri jalanan itu tuan Ken menyuruh berpencar dan entah bagaimana saat saya melihat tuan Ken dan tuan Tristan sudah dalam keadaan terluka."
"Ya Tuhan..." mami Lyra menutup mulutnya, shok mendengar penjelasan dari Lee, Ken memang arogan sedikit ada yang menyinggung emosinya mudah meninggi.
__ADS_1
"Siapa Tristan, apa dia musuh Ken?" mami Lyra tidak tau siapa Tristan, dia lupa dengan pemuda bernama Tristan.
"Tuan Tristan teman kuliah tuan Ken, tetapi mereka bermusuhan karna merebutkan almarhum nona Olive. Sebenernya tuan Tristan anak dari tuan Bramantyo."
"Bramantyo?" mami Lyra mengulang. Lee mengangguk.
"Bukankah Bramantyo saudara dari Frans papanya Olive?"
"Benar Nyonya, tuan Tristan menyukai sepupunya sendiri. Setahu saya keluarga mereka tidak menyetujui lalu menikahkan nona Olive dengan tuan Ken, memang sedari awal tuan Ken dan nona Olive saling mencintai tetapi tuan Tristan tidak terima dan ingin bersaing dengan tuan Ken semenjak kejadian itu pertemanan mereka menjadi permusuhan."
Mami Lyra benar-benar terlihat shok, ternyata Ken menyembunyikan fakta itu. Memijat kepala dengan pelan dan menghembuskan nafas.
"Keluarga Frans sangat baik tetapi semenjak terjadinya kecelakaan itu mereka menyalahkan Ken."
"Iya Nyonya dan itu tidak luput dari hasutan tuan Tristan yang masih menyimpan dendam dengan tuan Ken." Lee begitu banyak mengetahui tentang Ken, tidak ada yang begitu dekat selain dia untuk itu Lee sangat berat jika harus meninggalkan tuan Ken. Bertahun-tahun mendampingi tuan Ken dia sangat paham sisi baik buruk seorang Kendra Kenichi. Meski tuan muda bersikap dingin dan arogan tetapi sering kali Lee melihat sisi terpuruk tuan Ken, sisi terlemah yang hanya diperlihatkan kepadanya. Hanya dia yang setia dan mampu berada disamping tuan Ken dengan segala keadaan, seringkali mendapat bogem mentah tidak membuat dirinya meninggalkan tuan Ken dia akan terus mendampingi dan berdiri dibelakangnya. Mengingat kebaikan tuan Ken kepadanya, membuat dirinya berjanji untuk selalu menemani tuan Ken hingga tuan Ken sendiri yang menginginkan dia pergi.
"Tuan Ken tidak pernah menceritakan masalah kepada siapapun Nyonya, dia selalu menyimpannya sendiri."
"Kei, dimana Kei?" mami Lyra baru teringat dengan menantunya dan mencari keberadaannya karna tidak melihat Kei disekelilingnya.
"Nona Kei tiba-tiba pingsan dan juga sedang diperiksa dokter."
"Apa... Kei pingsan? ya Tuhan... kenapa dia bisa pingsan? kenapa semua jadi begini?" setelah terkejut mami Lyra juga merasa pusing.
__ADS_1
"Nona Kei dari tadi memegangi perutnya seperti menahan rasa sakit, tetapi saya juga tidak tau nona Kei sakitnya karna apa."
Mami Lyra membelalakkan mata, "Pe-perut?" kembali terkejut dan khawatir dengan kondisi Kei yang sudah mendonorkan ginjalnya untuk Ken, apakah terjadi sesuatu dengan ginjal Kei yang sebelah?.
Pintu ruangan tuan Ken terbuka tidak lama dokter keluar. "Bagaimana dokter?" mami Lyra bertanya.
"Tidak ada luka dalam, bagian wajah bengkak dan membiru sudut bibir kanan dan kiri robek. Bagian perut juga memar, tuan Ken membutuhkan waktu lumayan lama untuk masa pemulihan." Dokter menjelaskan.
"Separah itu?" mami Lyra tidak menduga ternyata perkelahian itu menyebabkan luka yang parah.
"Saya boleh melihatnya, dok?"
"Silahkan Nyonya, saat ini tuan Ken belum sadarkan diri." dokter mempersilahkan. Mami Lyra bergegas masuk diikuti Lee dibelakangnya.
"Ken, ya ampun... hiks..." ketika sudah mendekat keranjang mami Lyra menangis, tidak tega melihat Ken berbaring lemah dengan wajah penuh luka.
"Separah ini, Ken? mudah-mudahan kamu tidak kenapa-kenapa..." menggenggam sebelah tangan anaknya.
"Ini benar-benar parah Lee, aku akan menuntut Tristan agar mendekam dipenjara Lee, aku tidak terima putraku terluka separah ini." kata mami Lyra penuh emosi.
"Nyonya kita belum tau siapa yang salah, karna kondisi tuan Tristan tidak jauh berbeda dengan tuan Ken. Mereka juga bisa mengajukan tuntutan, kita harus mengetahui terlebih dahulu kejadian yang pasti." Lee memberi pengertian agar tidak terburu-buru mengambil keputusan, keduanya sama-sama kuat persaingan dunia bisnis hanya berselisih sedikit. Mami Lyra hanya bisa menghembuskan nafas kasar tidak bisa berbuat apa-apa.
Belum lagi keadaan Kei yang masih belum selesai ditangani oleh dokter, harusnya jika tidak terjadi sesuatu dokter sudah keluar tetapi sampai saat ini belum ada yang memberi kabar tentang keadaan menantunya.
__ADS_1
"Ya Tuhan, aku harus bagaimana.. kedua anakku sedang terluka berikan kesembuhan untuk keduanya. Terutama Kei, aku takut ginjal Kei bermasalah." mami Lyra berkata lirih.
"Memangnya ginjal nona Kei kenapa, Nyonya?" Lee yang mendengar langsung bertanya.