Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Ikan Asin.


__ADS_3

Sampai pagi hari pun kondisi Kei masih sama. "Honey, kapan kau akan membuka mata lagi." tuan Ken semalaman terjaga, kedua matanya enggan terpejam, ia ingin menunggu istrinya sadar dan ketika Kei membuka mata hanya dirinya orang pertama yang dilihat.


Meski matanya terlihat lelah dan mengantuk tapi tuan Ken tetap bertahan. Hingga fajar menyongsong pun dia enggan beranjak dari duduknya. Tangannya begitu setia menggenggam tangan Kei, berharap Kei akan menggerakkan jari jemari.


Pagi itu juga mami Lyra dan Ray sudah terlihat datang, menghampiri sekretaris Lee yang duduk dikursi tunggu dengan mata terpejam.


"Lee..." mami Lyra memanggil lirih. Sekretaris Lee mendengar ada suara yang memanggilnya langsung terbangun. "Nyonya besar." Lee menegakkan tubuhnya. "Ken ada didalam?" tanya mami Lyra. "Iya Nyonya. Dari semalam tuan muda menunggu Nona Kei."


"Lalu bagaimana kondisi Kei?" mami Lyra memberi pertanyaan kedua, dia ingin mengetahui kondisi Kei saat ini. "Masih sama seperti kemarin Nyonya. Nona Kei masih belum sadar dan masih dalam kondisi lemah, dokter terus memantau kondisi Nona Kei dan juga bayinya." sekretaris Lee memberi penjelasan sedikit. Mami Lyra menghembuskan nafas, dia berpikir Kei sudah dalam kondisi baik-baik saja, namun ia harus menelan kekecewaan. Kondisi menantu dan calon cucunya masih mengkhawatirkan.


"Kamu pulanglah, aku dan Ray akan bergantian menjaga Kei." perintah mami Lyra. "Baik Nyonya, jika ada apa-apa tolong hubungi saya." mami Lyra menganggukan kepala. Sekretaris Lee mulai meninggalkan rumah sakit. Dia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai diApartemen.


Sekretaris Lee sudah sampai didepan pintu Apartemen. Dewi membuka pintu dengan wajah ditekuk. Apa yang dilakukan sekretaris Lee selain menghela nafas panjang, dirumah sakit dia harus sabar menghadapi sikap tuan mudanya. Ketika sampai di Apartemen juga kesabarannya harus diuji lagi dengan istrinya.


"Ada apa denganmu, istri?" Lee bertanya dengan nada selembut mungkin. "Aku kesal!" menjawab dengan muka yang dilipat seperti lipatan kertas. "Iya, kesal karna apa?" bukannya disuruh masuk, tapi Dewi tetap berdiri didepan pintu dan tangannya membuat portal jalan.


"Aku tadi goreng ikan asin, tapi dimakan sama kucing. Aku lupa nutup pintu jadi kucingnya masuk." Dewi masih saja cemberut.


Lee mematung, dikira ada hal serius ternyata hanya gara-gara ikan asin. Eh... dia baru sadar dengan lauk yang disebutkan istrinya itu.


"Istri, aku sudah memberi larangan jangan suka makan ikan asin tidak bagus untuk gizi anak kita." meski ingin marah tapi Lee menahannya.

__ADS_1


"Tapikan itu juga keinginan anakmu, Suami. Nanti kalau nggak dituruti anak kita ileran, mau?" Dewi menakuti. Jika sudah begitu Lee akan kalah telak, dia harus bagaimana lagi untuk mencegahnya.


"Baiklah, tapi jangan keseringan makan pakai lauk itu, pikirkan juga gizi dan nutrisi untuk calon anak kita. Kau harus banyak mengkonsumsi makanan sehat dan banyak protein." dulu sekretaris Lee dingin dan cuek, semenjak menikah dengan Dewi perlahan sikapnya berubah. Apalagi semenjak Dewi dinyatakan positif hamil, istrinya itu sangat sensitif dan juga perasa. Kini ia merasakan apa yang dirasakan oleh tuan Ken dulu. Ibu hamil akan berubah mood dan suka menginginkan hal aneh.


"Tapi aku sangat ingin makan dengan lauk ikan asin." Dewi memaksakan keinginannya. "Ya sudah kau boleh makan dengan lauk itu tapi hanya 1biji saja." Dewi memutar bola matanya keatas, menimang syarat dari suaminya itu. Padahal dirinya sudah membeli 1kg ikan asin, lalu sisanya untuk apa?


"Kok cuma satu? lima ya..ya...?" mencoba keberuntungan dengan bernegosiasi. "Itu kebanyakan. Sudah satu saja!" kali ini Lee harus lebih tegas. Dewi lebih memajukan lagi mulutnya, mendengus sebal.


Lee menahan pusing, dirumah sakit sudah sangat pusing diApartemen juga harus pusing hanya karna ikan asin.


"Suami..."


"Apalagi?"


Lee mengedipkan mata, menatap lurus wajah istrinya yang benar-benar menguji kesabarannya. Lee sudah memiliki firasat bahwa istrinya menginginkan sesuatu, hapal dengan nada manja yang dibuat-buat.


"Katakan, kau menginginkan apa?" bertanya lagi agar acara ngambek istrinya itu tidak berkepanjangan. "Aku sudah kelelahan, tapi ingin makan dengan ikan asin." mengatakan keinginannya. "Ya sudah kalau kau menginginkan itu tidak pa-pa, hari ini boleh makan dengan lauk ikan asin tapi besok-besok lagi tidak boleh."


"Iya aku tau! karna aku sudah lelah, tolong gorengin ikan asin lagi yah..." Dewi merayu suaminya dengan wajah dibuat seimut mungkin. 'Heh...apa-apaan ini! suami baru pulang sudah mendapat tugas buat goreng ikan asin. Seumur dewasa gini belum pernah makan lauk seperti itu!' Lee membatin kesal. Rasanya ia ingin berteriak keras, menolak perintah istrinya itu.


"Suami tidak mau! sudah sana pergi lagi saja, jangan pulang."

__ADS_1


Brak...


Dewi menutup pintu sedikit keras, Lee sampai terlonjak kaget. Untung dahinya tidak terbentur daun pintu. "Haih... sial banget nasib gue!" rasanya Lee benar-benar tidak sabar dengan ujian ini.


Tok...tok...


"Istri... buka pintunya!"


"Nggak mau!" sebenarnya Dewi masih berdiri dibelakang pintu. "Baiklah.. suamimu ini akan menggoreng ikan asin itu demi kau dan anak kita...!" Dewi tau suaminya itu pasti akan menyerah. "Yes... Papamu akhirnya mau gorengin ikan asin buat kita, Nak." Dewi kegirangan, mengepalkan tangan dan membuat gerakan mengayun. Dia tersenyum lebar, segera membuka pintu dan menggandeng tangan suaminya untuk dibimbing kedapur.


Sampai didapur Lee memelototkan mata melihat ada bungkusan ikan asin yang banyak. "Kenapa sebanyak ini?" bertanya tanpa melihat kearah Dewi. "Itu untuk persediaan. Ikan asin enak kalau dicocol sama sambal terasi."


"Huh... istri, makanan yang kau inginkan terlalu aneh-aneh. Sadarlah kau sedang hamil." kini Lee terpaksa mengomel lagi, tidak suka dengan menu makanan yang akan dikonsumsi istrinya. Lee hanya takut anaknya kekurangan gizi.


"Iya-iya... sudah sekarang cepat goreng ikan asinnya." Lee mengambil satu ikan asin sebesar ibu jari dan dimasukan kedalam mangkuk kecil untuk dicuci terlebih dahulu.


"Suami kamu hanya mengambil 1biji itu kurang, hanya nyangkut digigi saja." Dewi protes dengan jumlah ikan asin yang diambil suaminya itu hanya 1biji saja itupun sebesar ibu jari. Lee terpaksa menambah jumlah ikan asin menjadi 5biji dan mulai menggoreng ikan asin itu.


"Ha'chim... ha'chim..." beberapa kali Lee bersin-bersin karna bau ikan asin yang menusuk indra penciumannya. Dewi yang duduk didekat meja dapur malah tertawa lucu menyaksikan suaminya yang bersin. Ikan asin itu sudah selesai digoreng dan disuguhkan dimeja makan, Dewi tidak sabar untuk menyantapnya dengan sambal terasi yang dibuatnya tadi. Lee juga merasakan lapar, ia ikut mencicipi sambal terasi dan menurutnya itu tidak buruk, bahkan selanjutnya ia mengambil lebih banyak.


Pluk..

__ADS_1


Dewi menjatuhkan ikan asin dipiring suaminya. Awalnya Lee tidak suka, tapi Dewi memaksa suaminya untuk mencoba. Setelah tau rasanya, bahkan Lee menghabiskan ikan asin itu.


"Dasar, giliran udah cobain ikan asin makannya udah kayak orang kesurupan." Dewi menyindir, kesal dengan suaminya yang sudah menghabiskan ikan asinnya.


__ADS_2