Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Keluarga Lee yang harmonis


__ADS_3

Satu hari satu malam sudah terlewati dengan sebuah ketegangan. Ratusan bulir airmata keluar dan menetes membasahi pipi dua wanita yang sangat menyayangi Ken.


Dua kali Ken kondisi Ken mengalami penurunan membuat semuanya sangat tegang dan khawatir. Terlebih rasa takut kehilangan. Mereka merasakan spot jantung yang benar-benar menakutkan.


Detik ini pun masih menyisakan ketegangan, pasalnya dokter sendiri masih terlihat tegang dan belum bisa memastikan keadaan Ken akan baik-baik saja. Setiap jam bagai penantian yang menegangkan.


Lee baru akan pergi kerumah sakit setelah Herlambang menghubunginya dan mengatakan kondisi Ken memburuk.


Dia yang sebelumnya sudah berniat pergi ke rumah sakit kini segera menyelesaikan rutinitasnya.


Lee menuruni anak tangga ketika Dewi sedang sibuk menyiapkan sarapan, sedangkan Alzeena sedang duduk tenang dikursi meja makan dengan boneka barbie kesukaan.


Manik mata kecil itu langsung tertuju pada ayahnya saat suara gaduh sepatu yang digunakan Lee beradu dengan granit lantai.


Meski tidak menggunakan pakaian formal, tapi Lee cukup rapi dan terlihat akan bepergian.


"Papa mau kemana?" tanya Zee saat Lee tergesa-gesa memakai jaket kulitnya.


"Papa mau pergi ke rumah sakit, Sayang." jawab Lee tanpa memandang Zee.


"Ke rumah sakit lagi? Papa juga masih sakit, kenapa tidak istirahat dirumah saja." Zee memang masih kecil tapi perkataan dan pemikirannya sudah seperti orang dewasa. Suka merekam percakapan antar orang dewasa.


Lee mengecup pucuk kepala putrinya, lalu mengelus surai rambut yang dikuncir keatas itu dengan sayang.


Kini mata Lee menatap lekat pada manik putrinya.


"Sayang, Papa punya tugas penting untuk menjaga Daddy nya Kio. Saat ini Daddy nya Kio sedang sakit, Papa harus menemaninya." Lee berkata dengan lembut, memberi pengertian yang mudah dipahami oleh Zee.


"Paman Tuan Muda belum sembuh ya, Pa?" tanya Zee.

__ADS_1


"Belum. Zee bantu do'a ya, supaya Daddy nya Kio segera sadar dan cepet sembuh." kata Lee.


"Oke, Pa. Zee pasti do'ain Paman Tuan Muda, soalnya Daddy nya Kak Io seperti Papa, nanti setelah Kak Io nikahin aku, Zee akan menyebut Paman Tuan Muda menjadi Daddy, seperti Io memanggilnya seperti itu." Zee berceloteh polos tentang masa depannya yang ingin menikah dengan Kio. Bahkan dari sekarang sudah mengklaim Kio sebagai pacarnya. Sungguh lucu, tapi itu hanya pemikiran anak kecil yang berimajinasi tentang masa depan mereka.


Lee tersenyum tipis mendengar celotehan putri tersayangnya. 'Apakah aku akan berbesan dengan si Koi? sungguh mengerikan.' batin Lee.


"Zee, masih kecil tidak boleh berpikir seperti itu. Masa depan mu masih panjang, jodoh untukmu sudah diatur oleh Tuhan, jangan terlalu mengharapkan sesuatu. Biarkan semua berjalan sesuai waktu, dan sekarang belum waktunya kau berpikir tentang itu. Kau mengerti, Zee?" Lee memberi nasehat.


Tapi Zee masih anak kecil, ketika pemikiran tidak didukung maka hanya mampu merajuk dengan memanyunkan bibirnya. Sungguh lucu bukan dan lagi menggemaskan.


"Ma..." Zee yang merajuk dengan papanya kini mencari pembelaan pada Dewi.


"Apa Sayang?" Dewi segera muncul dari balik pintu dapur. Di bagian tubuh depan masih menggunakan apron bergambar doraemon.


Dewi mendekati Zee dan berdiri disampingnya, tapi mata Dewi tidak berpaling meneliti penampilan suaminya yang sudah rapi.


"Papa jahat, tidak mau mendukung Zee menikah dengan Kak Io." sungut Zee sebal memandang ke arah Lee yang sedang tersenyum lucu.


"Apalagi kalau bukan tentang cita-cita putrimu yang ingin menikah dengan Tuan Muda Kecil." jawab Lee memberitahu garis besarnya yang membuat alasan Zee merajuk. Sudut bibir Lee terangkat sedang menertawai putri kecilnya.


Dewi yang paham kini ikut tertawa kecil yang mana membuat Zee semakin memajukan bibirnya.


"Zee.. Mama udah sering bilang, kan... jangan berpikiran terus tentang pernikahan. Jalan mu masih panjang Nak, kejar dulu cita-citamu setinggi langit. Jika kamu sudah dewasa, jodoh akan hadir menghampiri mu." nasehat Dewi hampir sama seperti yang dikatakan Lee tadi, sebagai orang tua tentu ingin mengarahkan dan memberi pengertian agar Zee tidak larut dalam khayalan masa depannya yang belum pasti.


"Papa dan Mama sama saja. Tidak mendukung Zee bersama Kak Io." sungut Zee lagi.


"Papa dan Mama akan mendukung mu, hanya saja belum sampai pada waktunya." jawab Lee.


"Oke lah, tapi besok kalau Zee sudah dewasa dan menikah dengan Kak Io, Papa dan Mama harus memberi izin ya," Zee mengangkat jari telunjuk mengarah pada Lee dan Dewi.

__ADS_1


"Oke Sayang." jawab Dewi agar semuanya segera disudahi. Ia sangat hapal sikap putri kecilnya yang keras kepala dan akan terus menuntut jika belum puas akan sesuatu jawaban.


"Hore...hore.. Tuhan, semoga kalau Zee sudah besar bisa menikah dengan Kak Io." Zee kegirangan dengan memanjatkan do'a.


Dewi hanya menggelengkan kepala melihat tingkah putri kecilnya. Lee pun sama dengan Dewi, hanya tersenyum miring.


"Kau mau berbesan dengan si monster protective dan arogan itu." ucap Lee ketika Dewi beralih berdiri disampingnya untuk mengambilkan nasi dan ditaruh dipiring suaminya.


"Ya, mau bagaimana lagi. Kalau itu sudah menjadi takdir dari Tuhan, tentu kita harus mendukung." tangan Dewi sibuk memindahkan lauk kedalam piring Lee.


"Tapi jangan terlalu percaya, namanya anak kecil masih belum bisa dipercayai tentang keinginannya, biarkan semua berlalu dan ketika saat itu tiba, barulah kita memberi keputusan." imbuh Dewi.


"Iya aku tau. Papa juga tidak begitu mempercayai ucapan Zee, mereka masih sangat kecil dan belum konsisten dalam berucap." Lee menjawab dengan mengunyah makanan yang terasa sangat lezat.


Mereka menikmati sarapan pagi dengan hangat, Lee yang sedang bersama keluarga Sampai lupa dengan kondisi tuan mudanya.


Ia yang tadi terburu-buru malah asik bercengkrama dengan keluarga kecilnya yang harmonis. Dua hari sibuk mengurus Ken, sampai tidak ada waktu bersama keluarga.


"Papa, kapan Zee dan Dek Al bisa ikut pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Paman Tuan Muda? Zee juga ingin bertemu dengan Kak Io, pasti Kak Io sedih Daddy nya sakit. Zee mau menghibur Kak Io." ucap Zee memecah kesunyian yang baru beberapa menit berlalu.


Kata menjenguk yang diucapkan Zee mampu mengingatkan Lee akan tujuannya harus segera pergi ke rumah sakit. Lee mengambil air putih dan segera meneguknya sampai tandas licin.


"Besok kalau Paman Ken sudah sadar Papa akan ajak Zee menjenguk ke rumah sakit. Sekarang Papa harus pergi, Zee jaga Mama dan Dek Al, ya." Lee mencium rambut Zee dan berganti mencium Dewi.


"Papa pergi dulu," pamit Lee.


"Makanannya nggak dihabiskan, Pa? Papa belum pulih." ucap Dewi.


"Ada pengawal yang akan menjemput Papa, Mama tenang saja."

__ADS_1


"Hati-hati, Pa."


Dewi memperhatikan langkah suaminya sampai menghilang dibalik pintu.


__ADS_2