Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Sangat Merindukanmu


__ADS_3

Akio terus mengawasi Zee yang terlihat gusar. Beberapa kali bergerak tidak nyaman, jari jemari yang saling meremas, sesekali melihat ke depan dan jendela. Entah apa yang di lihati atau di nanti. Beberapa kali juga Zee melihat ke arahnya dengan pandangan seolah sedih, kasihan dan pandangan aneh lainnya.


Ketika ditanya, "ada apa?" Zee selalu menyanggah "tidak ada apa-apa".


"Apa terjadi sesuatu?"


"Nanti Kakak akan tahu sendiri." Selalu begitu jawabannya. Lelah bertanya, Akio membiarkan saja Zee bersikap aneh. Dia abai, dan memilih melihat pemandangan luar jendela.


"Cepat sedikit, Pak. Kita harus cepat sampai ke rumah sakit," ujar Zee keceplosan. Setelahnya perempuan itu menutup mulut dan kembali diam.


"Kita ke rumah sakit lagi, Nona?"


"Tentu saja iya," jawab Zee mendengus. Sang supir justru mempertegas perkataanya. Meski Zee dan supir itu berbicara menggunakan bahasa asing, Akio pasti tahu artinya. Dan terbukti pria itu langsung bertanya dengan raut terkejut.


"Ke rumah sakit? Siapa yang sakit? Zee! Ada apa sebenarnya? Aku bertanya serius, siapa yang sakit? Kenapa kita harus ke rumah sakit?" cecar Akio tak sabaran. Dia benar-benar dibuat bingung dan penasaran.


"Sabar Kak. Tunggu sebentar."


Mobil yang di tumpangi sudah memasuki pelataran rumah sakit dengan bangunan berlantai lima. Zee semakin tidak sabaran mengajak Akio turun. Pria itu hanya menurut dan mengikuti di belakang langkah Zee.


Setelah keluar dari lift, Zee mengajak Akio menyusuri lorong panjang yang mencekam. Di depan sana, Faskieh terlihat berdiri dengan satu tangannya bertengger di belakang kepala. Zee gegas mendekat.


"Faskieh ...!" panggil Zee.


"Kak ... lama banget." Faskieh berkata dengan Zee namun pandangannya fokus ke arah Akio.


"Kak Io ...," sapa Faskieh.


Akio tersenyum singkat dengan kening berkerut, sedang mengingat-ingat pria di depannya yang terlihat berumur lebih muda darinya.


"Kakak tidak mengenaliku. Aku, Faskieh, temannya Al." Faskieh memperkenalkan diri.


"Oh, temannya Al." Akio mengangguk. "Memang siapa yang sakit?" Dia bertanya pada pemuda itu supaya rasa penasarannya terjawab.


Faskieh beralih pada Zee. "Kakak belum kasih tahu?" tanyanya.

__ADS_1


"Belum lah. Aku bingung," jawab Zee. Akio melihati Faskieh dan Zee bergantian. Mereka hanya saling melempar tatapan.


Sebelum menjawab dan menjelaskan. Sebuah pintu yang mereka tunggui sudah terbuka. Salah satu dokter keluar bersama seorang perawat yang terlihat mendekap sebuah bebatan kain. Siapa sangka, kain itu digunakannya untuk menutupi makhluk kecil.


"Kami sudah berhasil melakukan operasi caesar. Bayinya sudah lahir dengan sehat dan lengkap," ujar dokter.


Bola mata Zee melebar dengan mulut terbuka. Setelahnya dia meneteskan air mata. "Alhamdulillah ...," ucapnya bersyukur. Makhluk kecil itu sudah lahir dengan selamat, kemungkinan Naya juga akan segera pulih.


"Bayinya laki-laki atau perempuan, Dok?" tanya Faskieh spontan.


"Bayinya laki-laki."


"Tapi ...." Dokter itu melihat ke arah Naya, Faskieh dan Akio secara bergantian. Seolah berat untuk menyampaikan sesuatu. Raut wajahnya sendu.


Sedangkan Akio yang masih belum menyadari keadaan, hanya diam dan mendengarkan.


"Tapi saya harus menyampaikan berita buruk bahwa kondisi Nyonya Naya sedang kritis."


Deg ... deg ... deg ....


Akio membatu. Bergeming. Diam seribu bahasa. Terkatup rapat. Berdebar tak karuan. Tubuhnya mendadak terasa lemas.


"Na-Naya ...? Naya siapa, yang Anda maksud?" Akio bertanya dengan suara bergetar.


Dokter itu melihat daftar riwayat dan membaca nama lengkap Naya. "Nyonya Khanaya Rumi Sahila." Dokter membaca dengan perlahan, kesusahan mengeja huruf karena nama itu jarang di gunakan di negara xxx.


Bruk ...


Akio terjatuh dengan lemas, tak kuasa mendengar sebuah nama yang terpatri dalam hatinya.


"Kak ...." Zee memegangi bahu Akio. Dia tidak bisa menahan isak tangis. Apalagi melihat Akio sangat syok membuat dadanya sebak bercampur nyeri. Apa Kak Io sangat mencintai Naya?


Dokter dan perawat meminta izin untuk pergi, makhluk kecil yang baru lahir itu di bawanya ke ruang bayi.


Akio menguatkan diri, pria itu ingin segera melihat Naya. Sosok perempuan yang selama beberapa bulan terakhir amat sangat dirindukannya.

__ADS_1


Sayangnya petugas rumah sakit membatasi jumlah keluarga pasien yang akan masuk, hanya satu orang saja yang diperbolehkan. Yang lain harus bergantian. Zee memberi kesempatan pada Akio untuk masuk lebih dulu.


Beberapa saat, Akio sudah berganti dengan pakaian lebih steril yang disediakan pihak rumah sakit. Jantungnya berdetak kencang.


Pintu terbuka lebar, hawa dingin terasa merasuki hingga ke tulang-tulang. Dia melangkah pelan, tatapan itu terkunci kepada seorang yang terbaring lemah dengan banyaknya alat medis menempel di beberapa bagian tubuhnya.


Akio berdiri di sisi ranjang. Tatapannya membingkai wajah sayu nan damai itu. Belum apa-apa bola matanya meneteskan air mata.


"I-ni kamu, Nay? Akhirnya kita dipertemukan kembali ...." Suaranya seolah terhenti ditenggorokan. Terasa sangat sakit.


Mata Naya terpejam, hidung dan mulutnya tertutup alat bantu pernapasan. Wajah cantiknya pucat pasi, dengan tulang pipi menonjol.


Tubuh yang terpasang alat detak jantung juga tak luput dari perhatian Akio. Terlihat lebih kurus dari beberapa bulan terakhir, dadi terakhir kali dia melihatnya.


Akio merabai telapak tangan Naya, lalu menggenggam dengan kelembutan. Dia menunduk di samping wajah sang istri.


"Bangun, Nay, bangun," bisiknya lirih. "Aku datang. Aku sudah datang untuk menjemputmu." Dia tidak bisa menahan cairan bening yang terus saja berjatuhan. Sedih dan bahagia bercampur membaur menjadi satu.


Bahagia, sekian lama dia mencari, akhirnya detik ini takdir mempertemukannya dengan sang kekasih.


Sedih, kenapa harus dipertemukan dalam keadaan seperti ini.


"Kamu sudah berhasil melahirkan bayi kita. Dia sudah lahir. Dia laki-laki. Putraku sudah lahir, terima kasih-terima kasih atas perjuanganmu." Isakan Akio semakin menyesakkan. Tubuhnya seperti tak bertulang. Dia hampir tak sanggup menahan diri untuk berbisik dan menyentuh lembut.


Kerinduannya seperti tak berbalas. Naya terdiam, tertidur, tidak bergerak.


Ingin rasanya dia berteriak dan mengguncang tubuh Naya agar mau bangun dan bicara dengannya. Banyak hal yang harus Naya jelaskan.


"Aku merindukanmu, Nay. Sangat merindukanmu. Bangun, yang ingin aku tanyakan. Dan kamu harus bangun untuk menjawab."


"Aku sangat mencintai mu, Nay. Jangan seperti ini, aku takut kehilanganmu."


"Aku selalu mencarimu, tapi kenapa aku harus menemukanmu dalam keadaan seperti ini? Kamu ke sini? Kamu mencari Zee? Kenapa kamu gigih mengembalikan aku dengan Zee kalau aku dan kamu memiliki rasa yang sama."


"Harusnya kamu gigih mempertahankan cinta kita dan kuat demi anak kita."

__ADS_1


"Aku sudah berjanji akan menjagamu, bangunlah agar aku juga bisa menepati janjiku."


Akio terus berkata meski tak sekalipun mendapat jawaban. Dia mencium lembut kening Naya dengan sebuah harapan besar.


__ADS_2