Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Menceritakan Masalalu dan Ketidaksempurnaan.


__ADS_3

Seperti yang sudah ditunggu-tunggu, ketika Kei sudah terlihat sembuh Ken akan menagih alasan darinya. Saat ini dirasa waktu yang tepat, Ken duduk disofa yang ada didalam kamarnya. Pandangan sibuk menatap layar ponsel. Kei baru saja selesai membersihkan diri, masih memakai kimono. Ken yang melihat Kei berjalan menyuruh Kei untuk duduk disampingnya. Kei menurut dan menghampiri tuan Ken yang masih fokus.


2hari ini sikap tuan Ken biasa saja, bahkan sama sekali tidak menyinggung tentang Izham atau Mira. Kei merasa tenang, mungkin suami barunya itu sudah melupakan hal itu. Kei sendiri takut jika harus menyinggung tentang masalalunya dia takut tuan Ken akan marah besar, sampai saat inipun Kei masih diam.


"Ada apa tuan?"


"Eum, lukamu sudah sembuh?"


"Sudah, anda tidak perlu khawatir lagi."


"Bagus. Sudah minum obat?"


"Lukanya sudah sembuh tuan, tidak perlu minum obat."


"Hei, harus tetap kau habiskan! itu anjuran dari dokter." menegakkan tubuhnya menghadap kearah Kei. 'Huh, selalu berlebihan. Obat itu pahit tuan, jika sudah sembuh aku tidak mau minum lagi.' Kei hanya bisa menyuarakan protes itu didalam hati.


"Baik tuan, nanti akan aku minum lagi." Ken mengangguk dan bersender disofa lagi.


"Kei, apa tidak ada hal yang ingin kau jelaskan?" Ken bertanya dengan nada santai. Meski santai tetap menakutkan bagi Kei, melirik sekilas kearah tuan Ken menerka lebih dulu bagaimana keadaan suaminya baik-baik saja atau terlihat awan hitam. Jika baik-baik saja dia bisa menjelaskan, tetapi jika ada awan hitam terpaksa dia meminta bantuan sekretaris Lee untuk membantu.


Lama tidak mendapat jawaban Ken menoleh. Melihat suaminya menoleh sudah seperti tanda bahwa Kei harus cepat memberi jawaban.


"Memang ada yang ingin aku jelaskan tuan, tetapi aku bingung harus memulai dari mana." Kei menunduk.


"Jelaskan semuanya, aku pasti mendengarkan."


"Apa aku juga harus menceritakan masalalu ku, tuan?"

__ADS_1


"Ceritakan semuanya, jangan ada yang kau simpan lagi. Tetapi ada syaratnya."


"Syarat?" Kei mengulang.


"Kau tidak boleh menangis." Kei menghembuskan nafas. Tadinya sudah takut jika tuan Ken akan mengajukan syarat yang sulit ternyata hanya tidak boleh menangis. Kei mengangguk setuju.


"Tuan juga harus berjanji."


"Hiya,,, disini aku yang terdakwa atau kau!" sudah kesal, kakinya dipentokkan dikolong meja. 'Huh, belum apa-apa saja anda sudah seperti itu membuatku takut.'


"Baiklah, baiklah... aku akan mulai." Kei menjeda, sebelum melanjutkan ceritanya.


"Wanita yang bertengkar denganku kemarin bernama Mira."


"Kau pikir aku tidak tau! aku sudah tau!" Ken sudah memotong cerita. 'Ya Tuhan, bagaimana caranya menjelaskan dengan monster posesif ini.' Kei sedikit kesal.


"Bagaimana kau punya pemikiran seperti itu." awan hitam sedikit terlihat.


Kei terkejut saat tuan Ken tiba-tiba memotong perkataanya.


"Tolong dengarkan aku dulu, tuan."


"Eum, baiklah."


"Aku menikah dengan mas Izham kurang lebih 1tahun...."


"Jangan menyebutnya seperti itu! itu terdengar romantis!"

__ADS_1


'Astaga tuan, untuk sebuah sebutan saja kau juga mempersalahkan. Kalau kau tidak bisa diam rasanya aku ingin menutup mulutmu dengan lakban!' Kei kesal setengah mati, tuan Ken selalu memotong kalimatnya. Tetapi ia juga tidak bisa membentak tuan arogan itu.


"Izham si lelaki jelek." ucap Kei kesal. Berbanding Ken tersenyum tipis mendengar Kei mengganti sebutan mantan suaminya.


"Tadinya pernikahanku dengan Izham si jelek itu baik-baik saja, hingga dia melamar kerja diJakarta dan kami harus berhubungan jarak jauh. Aku tidak bisa ikut ke Ibukota karna almarhum Ibuku sakit, setelah Ibu meninggal aku memutuskan untuk menyusul ke Jakarta. Tetapi sampai disini, aku sangat shok mengetahui Izham si jelek itu sudah menikah lagi dengan nenek sihir. Mereka menikah sirih, dengan alasan tidak perlu meminta izin dariku. Sudah terlanjur sampai disini, akhirnya aku tinggal bersama mereka setiap hatiku kulalui dengan... yah... dengan kesedihan, sakit ketika melihat mereka bersama karna sejatinya tidak ada wanita yang ingin dimadu..." sampai disitu Kei tidak kuasa meneteskan airmata, dengan cepat dia menghapusnya. Ken masih diam dengan menyimak cerita masalalu dari istrinya.


"Hampir setiap hari aku dan Mira bertengkar, dia memang wanita yang bisa dibilang sedikit sadis. Seringkali dia menamparku, menendang kakiku yang cacat. Menghinaku yang tidak sempurna, tetapi aku masih bisa bertahan karna aku masih menyayangi lelaki jelek itu. Hingga satu malam, aku dan Mira terlibat pertengkaran hebat seperti kemarin dan Izham lelaki jelek itu, lelaki bodoh itu menjatuhkan talak tiga dan mengusirku." sungguh Kei tidak bisa menahan tangis, seperti kembali teringat sebuah luka. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, melupakan larangan tuan Ken tadi.


Ken tidak memarahi Kei atau menuntut agar Kei tidak menangis, dengan kisah seperti itu dia tau Kei sangat terluka. Ken mengulurkan tangan untuk membimbing Kei kedalam pelukannya. Memberikan kekuatan dan rasa nyaman, tetapi satu tangan sudah menggenggam kuat bukti kemarahan dari tuan Ken kepada Mira dan Izham. Kedua orang itu begitu jahat.


"Ada satu alasan lagi yang ingin aku katakan, tuan." Kei melepas dekapan tuan Ken dan menatap kedua mata tuan Ken.


"Katakan.." sebelum mengatakan, Kei lebih dulu menghirup udara dan menghembuskan.


"Untuk pernikahanku yang pertama gagal karna ketidak sempurnaanku menjadi seorang wanita, dan jika pernikahanku yang kedua juga harus gagal karna itu aku siap. Aku memang wanita yang tak sempurna." Kei menunduk sedih. Ken semakin penasaran dengan kelanjutannya.


"Aku-aku wanita yang tidak bisa mempunyai keturunan, aku wanita mandul." Kei semakin terisak.


Deg...


Untuk kalimat Kei yang terakhir membuat Ken terkejut, membuatnya diam mematung. Kalimat itu tidak ingin dia dengar. Disetiap pernikahan pasti ingin mempunyai keturunan.


Kei menyadari tuan Ken yang terkejut, diapun tidak bisa berbuat apa-apa. Kei menghembuskan nafas, dirasa suaranya tercekat di tenggorokan hingga dia sangat sulit untuk mengatakan kalimat selanjutnya.


"Tuan..." Kei menatap dengan serius.


"Aku tau anda dan mami sangat menginginkan malaikat kecil, tetapi maaf.. aku tidak bisa mengabulkan. Jika anda menginginkan keturunan, tolong ceraikan saja aku. Aku tidak ingin dimadu untuk yang kedua kalinya. Aku lebih ikhlas anda menjatuhkan talak daripada harus dimadu."

__ADS_1


Ken membalas tatapan mata Kei, tangannya menghapus airmata yang berjatuhan. Ken tidak ingin banyak bicara, lagi menarik Kei kedalam pelukannya. Dia sendiri tidak tau harus memberi respon seperti apa, yang jelas terkejut mendengar semuanya.


__ADS_2