
Tepat pukul delapan malam sirine mobil ambulance kembali terdengar nyaring membelah jalanan yang padat kendaraan. Mobil ambulance yang membawa Ken untuk berpindah ke rumah sakit lebih besar dibawah naungan perusahaan Taisei Comporation.
Kei yang sudah berderai airmata tak henti menggenggam tangan Ken dengan erat. Memandangi wajah suaminya yang begitu pucat.
Lee dan anggota keluarga yang lain mengendarai mobil milik mereka, tidak bergabung dengan Kei dan Ken.
Penyesalan hanya mengakibatkan sebuah tangis yang memilukan, semakin terperosok dalam lubang kesedihan. Kei benar-benar menyesali semuanya, tidak menyangka dan tidak terbayang jika hal yang sepele karna cemburu buta Ken bisa mengalami kejadian tragis bahkan hampir kehilangan nyawa.
Jika bisa diulang maka ia akan mengubah semuanya, tidak akan pergi ke toilet, tidak akan bertemu Izham dan menimbulkan kesalah pahaman yang menimbulkan cemburu buta. Ia benar-benar menyesal.
Airmata yang mengalir deras tak mampu mengubah semuanya, Ken tetap berbaring lemah dengan kondisi yang sangat mengkhawatirkan.
Terlalu lama menangis tubuh Kei ikut melemah, seluruh sendi seolah tak bertulang dan membuat dirinya tak berdaya. Kei merebahkan tubuh diatas dada Ken.
Beberapa jam tidak melihat senyum Ken ia sudah sangat rindu.
"Maaf," bibirnya bergetar mengucap kata maaf. Mungkin sudah ribuan kali ia mengatakan itu pada Ken, tapi percuma, Ken tidak mendengar.
Ia mungkin tidak akan memaafkan dirinya sendiri kalau sampai terjadi hal buruk pada Ken.
Mobil ambulance telah sampai didepan rumah sakit besar, para perawat telah sigap menyambut kedatangan mereka untuk membantu menurunkan tubuh Ken dari dalam mobil dan langsung mendorong brankar menuju ruang unit gawat darurat yang ada dirumah sakit itu.
Tidak lupa menyiapkan kursi roda untuk Lee yang juga terluka.
Kei, mami Lyra dan Herlambang mengikuti brankar yang membawa Ken. Sedangkan Dewi berjalan dengan mendorong kursi roda yang diduduki suaminya.
Jarum infus dipunggung tangan Lee sudah dilepas atas izin Lee sendiri dengan alasan sudah membaik. Sang tangan kanan itu ingin leluasa menunggu tuan mudanya sadar.
"Hahaha... Tupai bo doh nggak bisa kejar aku. Ye..."
__ADS_1
"Dasar Tupai jelek, jangan berani rebut Papiku! kalau kau rebut, aku akan menghajar mu dengan kekuatan super!!"
"Koi pintar. Koi pintar, wleek... Tupai bo doh dan menyebalkan. Hahaha..."
Lee tersadar dari lamunan saat tangan halus milik Dewi menyentuh sebelah bahunya.
"Papa yakin nggak mau diinfus lagi? kita langsung ke ruang perawatan saja. Luka Papa masih harus mendapat penanganan." Dewi membujuk dengan halus, tapi Lee menggeleng.
"Lukaku tadi sudah ditangani dokter dirumah sakit xxx, tidak perlu khawatir, Ma." Lee meyakinkan Dewi bahwa kondisi dirinya sudah tidak mengkhawatirkan.
Meski sang suami mengatakan kata yang meyakinkan, tapi tetap saja sebagai seorang istri, Dewi sendiri tidak tega melihat tubuh suaminya terdapat luka lebam. Dahi yang dijahit dan tertutup perban. Bahkan pergelangan tangan kiri juga dibalut biocrepe atau perban khusus untuk tulang yang patah dan cedera.
Padahal Lee hanya menolong tanpa terlibat langsung dengan kecelakaan itu, tapi luka-luka pada tubuhnya memang terbentuk dari aksi penyelamatan untuk Ken.
Bahkan Lee membahayakan dirinya sendiri dengan menuruni medan yang terjal demi menyelamatkan si Koi.
Kenapa Lee bersikap begitu pada Ken yang kita tahu selama ini hanya sebagai atasan Lee saja.
Lee memperhatikan kegundahan dibenak Dewi, raut wajah yang terang-terangan menunjukan kekhawatiran.
"Ma, Zee dengan Al dengan siapa?" Lee menanyakan keberadaan putra putrinya, agar
kegundahan Dewi bisa dialihkan.
Lee tidak memperdulikan luka pada tubuhnya, baginya luka luar yang dialami tidak sebanding dengan Ken yang masih belum jelas keadaannya.
"Zee sama Al aku titipin sama Ibu. Ibu akan menjaga mereka dengan baik." Jawab Dewi.
Setelah menjawab Dewi kembali terdiam, tidak menanyakan pertanyaan yang bertubi karna sangat tahu kondisi suaminya masih sangat lemah.
__ADS_1
Disudut ruangan Kei tengah duduk dikursi tunggu dan tak hentinya bahu itu bergetar hebat karna tangisnya.
Mami Lyra yang duduk samping Kei ikut menangis dan juga mengelus bahu Kei beberapa kali untuk menenangkan.
Herlambang berdiri disamping pintu dengan bersandar didinding.
"Sabar Sayang, Ken pasti kuat melewati ke sakitannya. Kita jangan berhenti berdo'a untuk keselamatan Ken." ucap mami Lyra.
Kei mengangguk dengan sesenggukan.
"Ini semua salah Kei, Mi. Kalau saja kesalah pahaman itu tidak terjadi, maka Ken tidak akan kecelakaan. Ini semua salahku. Salahku." Kei semakin terisak dan menjatuhkan diri dipelukan mertuanya.
Mami Lyra ikut menangis tersedu-sedu, mengusap bahu Kei yang bergetar.
"Semua sudah takdir. Semua bukan salahmu. Tapi Tuhan yang mengatur." kata mami Lyra dengan bijak. Meski ia sangat khawatir dengan kondisi Ken, tapi tidak bisa menyalahkan Kei.
Kursi roda Lee mendekat kearah mereka. "Nyonya, Tuan besar dan juga Nona, saya mohon maaf jika gagal melindungi keselamatan Tuan Muda," ucap Lee tiba-tiba merasa bersalah.
"Kau tidak gagal, Lee. Jelas-jelas kau sudah menjadi pahlawan untuk Ken. Semua yang kau lakukan benar-benar mengesankan. Kau membahayakan dirimu sendiri demi Ken. Terima kasih, Lee, selama ini kau sudah menjaga Ken dengan sangat baik. Bahkan kau rela mengorbankan dirimu demi menyelamatkan Ken." kata mami Lyra. Ia sangat kagum dengan kesetiaan yang dimiliki Lee. Selalu sigap berdiri dibelakang Ken.
Terkadang menimbulkan rasa penasaran yang tinggi. Bagaimana sikap sekretaris Lee pada Ken. Kebaikan dan kesetiaan Lee pada putranya benar-benar tidak bisa diragukan.
Lee selalu siap berdiri digarda paling depan untuk melindungi Ken dari marabahaya sedikitpun.
"Kedatangan ku telat, andai aku menyusul tepat waktu maka Tuan Muda masih bisa terhindar dari kecelakaan itu." kata Lee dengan menunduk.
"Meskipun kau datang tepat waktu, jika sudah digariskan mengalami kejadian buruk maka semua akan terjadi."
"Tidak perlu menyalahkan diri sendiri, Lee. Ini semua bukan salahmu. Kita berdo'a semoga Ken bisa segera pulih." kata bijak dari mami Lyra. Meskipun berusaha tegar tapi airmatanya tidak henti menetes, masih sangat jelas terbayang saat perawat membawa bekas baju yang dikenakan Ken waktu terjadinya kecelakaan. Baju yang sudah tidak berbentuk dengan kemeja putih yang berubah warna menjadi merah.
Tak dapat dibayangkan betapa tragisnya yang dialami Ken.
"Orang yang pantas disalahkan hanya lah aku. Aku yang membuat suamiku sendiri seperti itu." Kei kembali bersuara dan menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Mami Lyra kembali memeluk Kei. Memberikan kekuatan agar Kei bisa lebih tenang.
Jika Kei sedih dan lemah maka akan berpengaruh dengan Kyura. Karna ikatan batin antara ibu dan anak sangat kuat terjalin, jika ibunya bersedih maka berdampak juga pada Kyura yang rewel dan terus menangis..