
Akio menggandeng tangan Naya menuju tempat yang telah disiapkan untuk mereka. Naya bergerak canggung mengikuti suaminya.
Beberapa pegawai saling berbisik. Bukan hanya Naya yang menjadi topik pembahasan mereka, akan tetapi sosok Akio sebagai pemilik cafe juga tak luput dibicarakan. Karena selama ini beberapa di antara mereka ada yang belum tahu siapa pemilik cafe sesungguhnya. Dan mereka sangat penasaran dengan orang tersebut. Kini, terbuka bahwa pemilik cafe adalah keturunan Tuan Ken.
"Tuan, benarkah dia istri Anda?" sang manager yang begitu penasaran memberanikan diri bertanya.
"Benar, Naya memang istriku," jawab Akio dengan menahan senyum. Wajah terkejut dari sang manager dan pegawai lainnya terlihat lucu.
"Akio ...," Naya memanggil untuk memberi kode agar pria itu tidak berlanjut berbicara.
Sang manager yang bernama Ferdy itu hanya membatin. 'Pantas saja, Tuan Muda waktu itu menyuruhku menjaga dan mengawasi perempuan itu. Ternyata Naya adalah istrinya si bos? Tapi kenapa si bos tidak memberitahu?'
Setelah Ferdy pergi, Naya melayangkan pertanyaan. "Kenapa mereka memanggilmu dengan Tuan Muda? Apa mereka tahu kalau kamu keturunan Tuan Ken, dan mereka merasa segan denganmu?"
"Mereka segan karena aku pemilik cafe ini."
"Hah?" Naya melotot, tidak percaya. "Cafe ini milikmu?" ulangnya.
Akio mengangguk, kali ini menahan suara tawa karena keterkejutan Naya. "Dari aku masih anak-anak dad sudah memberikan cafe ini untukku, tapi bukan aku yang mengelola. Menunggu aku dewasa, cafe ini di urus oleh paman Lee. Setelah aku kuliah, baru aku terjun langsung mengecek pendanaan," jelasnya.
"Jadi ... kemarin kamu tahu kalau aku kerja di cafemu?"
"Kamu kira setiap penerimaan pegawai bukan atas pilihanku? Ferdi hanya mengurus, tapi aku yang ikut andil."
Jawaban Akio membuat Naya mendengus. "Tapi selama bekerja di sini, aku nggak pernah lihat kamu datang?"
"Aku datang hanya di jam-jam tertentu, biasnya aku langsung ke ruanganku. Tapi ...." Akio menghentikan kalimatnya. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan agar lebih dekat.
"Tapi apa?"
"Tapi aku sering memperhatikanmu dari ruanganku," aku Akio.
"Hah?" Naya terbengong. Sedetiknya dia tertawa. "Ngapain kamu merhatiin aku dari ruanganmu? Memantau lewat CCTV, gitu?"
"Jangan-jangan setiap aku ijin cuti selalu disetujui pak Ferdi, itu juga karena perintahmu?!" tebak Naya. Senyum di bibir Akio sudah mewakilkan jawabannya.
__ADS_1
"Termasuk setiap pesan dari pak Ferdi menyuruhku kembali bekerja?" lanjut Naya.
"Bukan! Itu dia sendiri yang mengirimi pesan. Tapi aku sudah memperingati Ferdi untuk tidak menghubungimu lagi."
Pantas saja, terakhir kali dia bercerita untuk kembali bekerja, setelah itu pria bernama Ferdi tidak pernah menghubunginya lagi.
Mereka meneruskan perbincangan sampai pukul 23. 30. Beberapa kali Naya menguap tak bisa menahan kantuk, tetapi Akio tak henti berceloteh, membuatnya tak enak hati.
"Apa kamu akan mempekerjakan mereka sampai pagi."
"Hanya khusus malam ini aja."
"Memang kenapa dengan malam ini?"
"Malam ini adalah malam spesial."
'Ini malam spesial bagimu, tapi bagiku malam paling akhir dari semuanya,' batin Naya miris.
"Kamu tunggu sebentar." Akio beranjak ingin pergi.
"Cuma sebentar."
Naya menghela napas melihat pria itu menuju lantai atas. Saat itu pun pegawai mulai berseliweran, kesana-kemari. Meski begitu Naya tidak memikirkan mereka. Dia terfokus dengan hati dan perasaanya yang saling menentang.
Antara tetap bertahan lebih lama untuk menikmati kebersamaan, atau membulatkan tekadnya awalnya.
"Ikhlaskan hatiku, Tuhan. Beri aku kerelaan untuk keputusan yang ku ambil. Ini sangat berat." Bulir air mata menetes saat dia memejamkan mata.
Tepat saat itu lampu utama mati. "Akio ...!" reflek Naya memanggil Akio.
Seseorang muncul dengan menggumamkan lagu selamat ulang tahun. Merdu, suara itu mengalun merdu membuat Naya bergeming. Cahaya lilin dari hiasan kue mampu nenampikan garis wajah seseorang yang amat dikenali.
"Selamat ulang tahun, Khanaya Rumi Sahila, istriku," ucap Akio ketika sudah berada di hadapan Naya.
Perempuan itu masih bergeming, berusaha menguasai diri. Bagaimana dia lupa hari kalau hari ini adalah hari kelahiranya.
__ADS_1
"Akio ...." Naya tak mampu berkata-kata. Kesedihan kini bercampur dengan kebahagiaan.
"Katakan keinginanmu pada Tuhan, dan tiup lilinnya," perintah Akio. Di sela isak tangis, Naya melakukan seperti yang dikatakan Akio. Dia terpejam dan meminta permohonan pada pemilik kehidupan.
'Tuhan, tolong hapuskan segala perasaan ini. Beri aku ketegaran dan keikhlasan untuk semua yang kulalui. Bantu aku, permudah jalanku untuk mengembalikan Akio pada Zee. Persatukan mereka kembali dengan kebahagiaan. Lindungi calon anakku sampai dia lahir dengan selamat. Dan persatukan aku dengan ibu.'
Tes ... tes ...
Setitik air mata merebak keluar. Tepat hari ini adalah hari kebahagiannya, namun dia relakan semua doa untuk orang lain. Biasanya setiap tahun dia akan berdoa untuk kebahagianya dan ibunya, akan tetapi, satu minggu lalu ibunya telah pergi. Maka doanya di tahun ini dia berikan untuk orang lain dan calon anaknya.
"Terima kasih," ucapnya ketika membuka mata.
Ruangan masih gelap karena lampu utama belum dinyalakan. Akio kembali menyuruh Naya untuk meniup lilin. Dan Ketika lilin telah padam, berganti lampu hias yang menyala.
Naya melihat sekeliling, mulutnya terbuka lebar. Tak menyangka Akio telah mempersiapkan kejutan luar biasa untuknya. Bahkan bibirnya tak mampu untuk berkalimat. Terhipnotis pada sebuah tulisan besar di depan sana.
Terlalu Detik berikutnya perempuan itu menyorot pada Akio. "A-apa maksudnya?"
"Tidak ada maksud apapun, itulah ungkapan perasaanku. Sekian kita menjalani rumah tangga, semakin hari aku semakin mendalami perasaanku. Dan, aku yakin bahwa inilah perasaanku yang sesungguhnya."
"Kita memang sudah sah menjadi suami istri, tapi selama ini aku dan kamu sendiri belum mengetahui perasaan masing-masing. Untuk perasaanku, aku sangat yakin telah jatuh cinta padamu, Nay. Mungkin banyak yang menilai pernikahan kita salah, tapi bagiku inilah kebahagiaan." Tangan Akio menggenggam kedua tangan Naya. Dilain waktu dia selalu benci melihat Naya menangis, tapi untuk kali ini, dia tahu bahwa air mata itu adalah air mata kebahagian.
"Mungkin setelah kita tahu perasaan masing-masing, perlahan kamu bisa menerimaku."
Naya tergugu pilu. 'Bukan aku tidak mau menerimamu, Akio. Tapi keadaan dan rasa bersalah yang membuatku membentengi diri. Ya Tuhan ... kenapa seperti ini?! Sanggupkah aku menyakiti dia?'
"Nay ...."
"Aku ...." Naya tak sanggup melanjutkan. Lidahnya kelu untuk berucap. Jika keadaan normal, tentu dia akan sangat bahagia. Tetapi ....
"Apa sesulit itu untuk menjawab perkataanku? Apa yang membuatmu ragu? Aku janji, Nay, aku janji akan menjadikanmu satu-satunya di hatiku. Aku akan berusaha membahagiakanmu dan anak kita nanti."
Perlahan Naya mengangguk. "Berjanjilah kamu akan membuatku bahagia," ucapnya.
"Aku berjanji. Tapi katakan tentang perasaanmu, aku ingin mendengarnya?"
__ADS_1