Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Pingsan.


__ADS_3

Acara tujuh bulanan sudah selesai, semua berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun. Kini tuan Ken memutuskan untuk kembali pulang.


Sekretaris Lee mengajak Dewi untuk mengantarkan tuan Ken kembali kerumah, setelah itu mereka baru akan pulang ke Apartemen.


Mereka sudah berada didalam mobil. Kei menjatuhkan kepalanya dilengan tuan Ken, menutup mata dan mengatupkan mulut. Kei sudah merasa pusing tapi tidak mengatakan pada tuan Ken, tidak mau membuat suaminya itu khawatir. Mungkin setelah dirinya tidur sebentar maka rasa pusingnya akan segera hilang. Tuan Ken melirik wajah Kei yang terlihat lelah.


"Honey, kau tidak pa-pa?" tuan Ken mengerutkan dahi, merasa janggal dengan istrinya. Biasanya Kei akan bawel, tapi saat ini istrinya itu diam saja. Apakah terjadi sesuatu?


"Tidak pa-pa sayang. Aku baik-baik saja." jawab Kei tanpa membuka mata. "Apa kau kelelahan?"


"Iya, jadi biarkan aku tidur sebentar." jawab Kei malas, semakin tuan Ken bertanya semakin pusing untuk menjawab. Tetapi setelah itu tuan Ken tidak lagi bertanya, ia mengusap rambut istrinya supaya tidur dengan nyenyak.


Berapa lama diperjalanan, mobil itu sudah sampai didepan rumah. Tuan Ken tidak tega harus mengganggu tidur istrinya, dia tidak berniat untuk membangunkan Kei. Tapi setelah mobil itu terhenti, Kei bisa merasakan dan ia-pun terbangun.


"Mbak Dewi nggak mau mampir dulu?" tanya Kei kepada Dewi yang duduk dikursi depan bersama sekretaris Lee. "Lain kali saja ya, Kei. Aku ingin sekali makan di Restauran xxx, setelah ini aku mau langsung kesana." Dewi menolak ajakan Kei.


"Ya sudah mbak, nggak pa-pa. Kalau begitu aku turun dulu ya." Kei masih tetap baik dengan Dewi, hanya perempuan itu yang menjadi teman dekatnya.


Sekretaris Lee membukakan pintu untuk tuan mudanya dan juga Kei, tuan Ken menyuruh sekretaris Lee untuk melanjutkan tujuannya dan tidak perlu mengantarkannya masuk kedalam rumah. Sekretaris Lee membungkukkan badannya sebentar dan kembali masuk kedalam mobil.


Tidak berapa lama mobil Ray juga sudah sampai, ketika mami Lyra dan Ray sudah turun mereka masuk bersama.

__ADS_1


Tangan Kei menggenggam lengan tuan Ken dengan erat. Tuan Ken merasakan ada yang aneh dengan Kei. "Honey, kau tidak pa-pa? sepertinya yang aneh?" tuan Ken terus memperhatikan istrinya. Mereka sudah berada didalam Lift.


"Mungkin kakak ipar kelelahan kak, tadi terlalu bersemangat bermain sama anak-anak Panti." sahut Ray. "Iya Ray, kamu benar. Kakak cuma kelelahan." jawab Kei singkat, ia membenarkan perkataan adik iparnya. Saat ini menahan rasa pusing yang mendera dan kepalanya semakin terasa berat.


Sampai didalam kamar Kei segera menjatuhkan diri diatas ranjang empuk, berharap setelah ini rasa pusing itu akan segera hilang. Tuan Ken menghampiri Kei dan membenarkan selimut, tidak tau jika Kei sedang pusing. Dipikir istrinya memang hanya kelelahan dan butuh istirahat. Dia membantu melepas aksesoris yang menghiasi rambut Kei. Kei tidak bergeming, tuan Ken mencium kening Kei sebentar sebelum meninggalkannya kekamar mandi untuk membersihkan diri.


Selesai membersihkan diri, tuan Ken masuk keruang kerja untuk melihat laporan E-mail yang masuk. Mengerutkan kening, kala ada satu hal janggal. Melihat laporan bisnis bahwa perusahaan Tristan bergabung dengan perusahaan milik Senjaya Grup. Perusahaan yang sedari dulu menjadi pesaingnya.


Beberapa kali Sanjaya Grup mengirim berkas kerja sama tapi tuan Ken selalu menolak, tentu ada alasan dibalik penolakan itu.


Tuan Ken tau, Sanjaya Grup memiliki pemimpin sangat cerdik dengan akal bulus yang mengambil keuntungan banyak, tanpa memikirkan kesejahteraan dan keamanan orang lain. Untuk itu tuan Ken tidak pernah mau bergabung dengan perusahaan itu.


Setelah pengajuan kerja sama yang ditolak, Sanjaya Grup mengibarkan bendera perang untuk bersaing dengan Taisei Comperation.


Tuan Ken menghembuskan nafas, itu berarti ia harus berhati-hati.


Tuan Ken masih fokus dengan pekerjaan kantor, dikeadaan yang sunyi tenang itu ia mendengar suara sesuatu yang terjatuh. Karna penasaran tuan muda itu langsung bangkit dan keluar dari ruang kerjanya untuk melihat sumber suara tadi.


Ketika membuka pintu kedua bola matanya langsung terfokus pada tubuh istrinya yang sudah tergeletak diatas lantai.


"Kei....!" segera berlari dan menghampiri Kei yang sudah pingsan. "Kei, Honey..." tuan Ken menepuk pipi Kei pelan untuk menyadarkan, tapi Kei tidak bergerak. Tuan Ken yang panik segera menggendong tubuh Kei keluar dari kamar.

__ADS_1


"Ray...! Ray...!" tuan Ken berteriak sekuat tenaga memanggil adiknya. "Ada apa sih kak?" Ray keluar dari kamar juga terkejut melihat kakak iparnya pingsan digendong tuan Ken.


"Kakak ipar kenapa?"


"Jangan banyak tanya, cepat siapkan mobil!" tuan Ken yang panik membentak Ray. "I-iya, Kak." jawab Ray, segera berlari menuruni anak tangga. Tuan Ken tida sabar menunggu lift terbuka, rasanya ia ingin menghancurkan lift itu hingga berkeping-keping.


Saat ini benar-benar panik, melihat Kei yang pucat. Setengah berlari membawa Kei menuju kemobil yang sudah disiapkan Ray.


"Honey... Honey, ada apa denganmu?" ketika sudah didalam mobil tuan Ken baru menyadari ada darah yang mengalir disela-sela kaki Kei. Pikirannya semakin kacau, saat ini tuan muda itu benar-benar ketakutan. Mendekap tubuh Kei. "Sweety ku, bertahanlah. Aku mohon, sebentar lagi kita akan sampai di Rumah Sakit. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan kalian, bertahanlah."


Kini sudah menyusuri lorong rumah sakit. Setengah berlari perawat dan tuan Ken mendorong brankar itu untuk dibawa diruang UGD. 6 Dokter sudah masuk keruang itu. Tuan Ken memaksa untuk masuk, tapi perawat menghalangi, sudah ketentuan dari pihak rumah sakit jika anggota keluarga pasien tidak boleh masuk karna bisa menggangu konsentrasi para dokter.


Tuan Ken hanya berjalan kesana kemari, kegelisahannya begitu besar hingga jauh dari kata tenang.


Ray mengambil ponsel untuk menghubungi maminya da juga sekretaris Lee. Disaat seperti ini tangan kanan tuan Ken itu harus ada, hanya dia yang bisa menangani kakaknya.


Sekretaris Lee yang baru sampai dirumahnya segera melesat menuju kerumah sakit.


Beberapa lama, tuan Ken masih tetap tidak bisa tenang. Ray pusing sendiri melihat kakaknya itu mondar mandir tidak jelas.


"Kakak tenanglah, kakak ipar sedang ditangani oleh dokter. Semoga saja keadaanya baik-baik saja." Ray mencoba berbicara pada kakaknya supaya bisa tenang. Tapi siapa yang mampu menenangkan kekhawatiran tuan Ken dalam keadaan seperti ini. Kata-kata penenang dari Ray itu semakin memperburuk moodnya.

__ADS_1


Brak...


"Diam kau! apa kau tidak bisa liat Kei tadi berdarah. Apa keadaan itu kau bilang baik-baik saja. Hah...!" nafas tuan Ken naik turun menahan amarah. Ray sempat ketakutan melihat kakaknya seperti itu.


__ADS_2