Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Tidur dilantai.


__ADS_3

Didalam kamar, jam sudah menunjukan larut malam. Ken sudah bersiap akan tidur, tapi Kei masih juga belum selesai menyelesaikan ritualnya. Saat ini Kei memiliki kebiasaan baru yaitu suka berlama-lama dandan. Istrinya sangat suka duduk didepan cermin.


Terkadang berdandan seperti anak kecil, memakai penjepit rambut. Bando dengan berbagai bentuk tokoh animasi.


Ken sendiri terheran, ia tak tau istrinya mendapat barang itu dari mana. Semua sudah ada dimeja rias dengan susunan yang rapi.


"Honey sudah hampir tengah malam, apa kau tidak mengantuk?" Ken sudah lelah menunggu. Dari tadi Kei tak kunjung selesai.


"Sebentar, ini tinggal pakai serum aja." jawab sedikit tidak jelas. Tangan itu sibuk mengusap-usap muka dengan kapas.


Ken yang tadi sudah diposisi tiduran kini bangkit dan bersandar diheadbed.


"Kenapa akhir-akhir ini kau suka berhias?" tanya Ken penasaran.


Kei mengangkat bahu. "Aku juga tidak tau. Tapi rasanya aku ingin terus-menerus didepan cermin." Kei sendiri bingung dengan dirinya.


"Jangan-jangan dugaan Mami benar, kalau kau hamil lagi?" tanya Ken penuh selidik.


"Ha hamil?" Kei begitu terkejut mendengarnya. Ia langsung memandang wajah Ken.


Ken mengangguk mantap. Ia juga menatap kearah Kei.


Kei nampak belum percaya dengan dugaan itu. Tapi jika dipikir-pikir memang bulan ini belum kedatangan tamu bulanan. Tamu bulanan bukan menjadi dasar yang kuat untuk menduga dirinya hamil, pasalnya ia sering telat dan datangannya tidak teratur.


"Tapi aku nggak ngalamin morning sicknees." jawab Kei.


Ken juga nampak berpikir, apakah dugaannya dengan Mami Lyra salah? Kei tidak hamil. Tapi istrinya berubah aneh. Ah... entahlah itu masih belum jelas.


Saat ini pikirannya tertuju pada putranya, tinggal satu minggu bocah itu genap berumur 5tahun. Itu artinya ia harus menyiapkan pesta besar.


"Honey, minggu depan kita adakan acara ulang tahun Kio dirumah atau di Hotel?" Ken mengalihkan pembicaraan tadi. Terlintas dalam pikirannya adalah hari ulang tahun Kio.


"Di Hotel boleh juga, pasti Io seneng banget." Kei tersenyum.


"Baiklah nanti biar aku hubungi pihak Hotel untuk melakukan persiapan."


"Aku boleh ikut kesana?" tanya Kei penuh harap.


"Maksudmu?" Ken tidak mengerti.


"Aku ingin melihat proses persiapannya."


"Hei tidak perlu! untuk apa kau melihat persiapannya. Kurang kerjaan. Kita hanya tinggal terima beres." sudah pasti Ken tidak membiarkan istrinya bebas keluar rumah. Itu sangat berbahaya.


'Apa lagi yang bisa kau harapkan Kei? sampai kapanpun tidak akan mendapat kebebasan.' dalam hati bersungut kesal.

__ADS_1


Bibir mungil itu sudah tertarik maju, dengan raut wajah kesal ia berjalan menuju ranjang kosong disamping suaminya.


Menarik selimut dan menutup seluruh tubuh hingga tak terlihat sedikitpun.


Sudut bibir Ken terangkat dan menyunggingkan senyum miring. Ia gemas dengan tingkah Kei yang merajuk.


"Honey..." panggil Ken ingin menggodanya.


"Apa. Aku sudah tidur. Ups..." dibalik selimut Kei menutup mulut. Ia keceplosan. Harusnya tidak perlu menjawab.


Ken tergelak. Kei semakin kesal, ia membuka selimut dan menatap tajam. "Aku marah dan mau malah tertawa lucu. Keterlaluan." sungutnya.


"Kau bukan marah, tapi menggemaskan." masih tersisa gelak tawa dibibirnya.


"Pergi..." Kei mengusir Ken.


Mendengar itu Ken tersentak dan menghentikan tawanya. Ia memandang serius kearah Kei.


"Pergi sana, aku tidak mau tidur berdua denganmu!" Kei benar-benar terlihat marah.


"Honey, kau tidak perlu marah dan mengusirku. Aku hanya bercanda." Tukas Ken. Ia tak percaya Kei mengusirnya.


"Sudah terlambat. Pergi, aku tidak mau tidur denganmu. Jangan tidur diranjang ini."


"Honey..." wajah Ken berubah memelas.


"Tengah malam begini kau mau kemana?"


"Aku akan menelpon sekretaris Lee untuk menjemput dan menginap dirumahnya. Dan, aku akan membawa Kio!" ancam Kei dengan wajah serius.


Melihat itu Ken menciut. Jika istrinya berbuat nekad maka ia yang akan kalang kabut untuk membujuk pulang.


"Lalu aku tidur dimana?" tanya Ken.


"Tidur dilantai." jawab Kei santai.


"Apa...?" tentu saja jawaban Kei membuat Ken shok. Seumur-umur ia tak pernah tidur diatas lantai. Tubuhnya yang berharga selalu tidur diatas bed yang empuk dan nyaman.


"Aku ingin kau tidur dibawah sini." dengan enteng Kei menunjuk lantai dibawahnya.


Mata Ken melotot. Ternyata ancaman Kei tidak main-main. "Honey, baiklah aku akan memberimu izin untuk melihat proses persiapan di hotel. Tapi jangan menyuruhku tidur diatas lantai ya... lihat. Itu pasti banyak kuman." Ken menunjuk lantai dengan bergidik ngeri.


"Tapi aku ingin melihat mu tidur dilantai dan diatas karpet." pandangan Kei Tidak bringas seperti tadi.


Wajah Ken memelas. "Honey, keinginanmu sungguh mengerikan. Bagaimana mungkin aku tidur disana?"

__ADS_1


"Kau tidak mau?" Kei sudah mencebik ingin menangis.


Ah... Ken menjadi tidak tega. "Baiklah... baiklah... aku akan tidur disitu." dengan langkah malas Ken mendekat. Ia memperhatikan karpet berbulu yang ada dibawah kolong tempat tidur.


Kei mengambil posisi nyaman diatas bed. Sedangkan Ken mulai merebahkan tubuhnya. Kei memberikan selimut tebal dan tersenyum kearah suaminya.


Dirinya benar-benar aneh, tapi ia sangat enjoy dan senang.


Berbanding terbalik dengan Ken yang menggerutu kesal. Didalam hati telah mengatakan kata-kata kasar. Mungkin malam ini malam yang kelam bagi tuan muda itu.


Meski tak ingin terpejam tapi mata Ken sudah sangat lelah dan mengantuk. Ia memaksakan matanya untuk terlelap.


Beberapa saat terpejam, tiba-tiba Ken berteriak.


Kei yang juga baru memejamkan mata terkejut mendengar teriakan suaminya.


"Ada apa?"


Ken masih mengatur napas. Ia menggelengkan kepala. "Hii... mimpi itu seram sekali." ucapnya tanpa menoleh.


Dalam bayangan ribuan kuman yang ada dikarpet naik keatas tubuhnya. Ia bergidik ngeri.


"Honey. Aku takut ada kuman." ucapnya.


"Dimana?" tanya Kei.


"Dibawah karpet ini." Ken menunjuk bagian karpet.


"Lalu kenapa kau tidur dibawah? kenapa tidak tidur disamping ku? Kau tidak mau menemaniku?" Kei terlihat sedih.


Ken menggaruk pelipis. 'Fix. Aku yakin Kei hamil. Secepatnya aku harus membawa keRumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.


"Eh.... tadi kau menyuruhku tidur dikarpet. Apa kau lupa?" ucap Ken.


"Kapan? aku tidak menyuruh begitu. Kau salah paham." jawab Kei tak mau dituduh.


"Baiklah. kita lupakan. Apa aku boleh tidur disamping mu?" tanya Ken dengan sehalus mungkin. Ia benar-benar berharap istrinya mengizinkan untuk tidur diranjang.


Kei mengangguk. "Tapi ada syaratnya," kata Kei.


Ken yang sudah beranjak menjadi lemas. Kenapa harus memakai syarat. Biasanya Kei akan meminta yang aneh-aneh.


Hari ini ia sangat lelah. Bahkan jam didinding sudah jam setengah satu malam. Tentu rasa kantuk tak bisa tertahan.


"Sarang ku ingin ditengok burung gagak hitammu lagi." kata Kei dengan malu-malu.

__ADS_1


Ken menepuk kening. 'Astaga.' padahal ia tadi sudah khawatir kalau Kei menginginkan hal aneh. Tapi syarat Kei membuat rasa kantuk Ken hilang. Ia takkan menyi-nyiakan permintaan itu.


__ADS_2