
Acara jalan-jalan harus gagal karna Kio tidak mau ikut. Bocah itu menolak dan meminta Kei untuk mengantarkannya tempat Zee.
Dua hari berselang, selama itu Ken sangat murung, uring-uringan tidak jelas. Bahkan bersimpuh dikaki mami Lyra untuk membantu membujuk Kio agar mau memaafkan dirinya.
Tapi orang-orang dewasa sudah mengupayakan segala cara untuk membujuk Kio, nyatanya Kio masih kekeh dengan kemarahannya.
Kei tidak kurang-kurang memberi nasehat dengan lembut, tapi Kio tetap sama saja.
Pagi ini seperti biasa, Kio berangkat sekolah bersama keluarga Lee. Karna disekolah sedang ada acara, maka kedua wali murid wajib datang dan menyaksikan anak mereka berpentas.
Karna mobil Lee tidak cukup maka Kei naik mobil jemputan yang disiapkan Ken untuknya.
Tapi saat mobil jemputan datang ternyata Ken sudah ikut didalam mobil itu.
"Sayang, kamu tidak ke kantor?" tanya Kei.
"Aku ambil jam cuti, kata Lee disekolah Io ada acara dan putra kita akan ikut berpentas." jawab Ken.
Kei mengangguk. "Iya, sebenarnya kedua orang tua harus ikut hadir. Tapi Io nggak mau bicara, mungkin masih marah."
"Honey, sampai kapan putra kita akan membenciku? sampai kapan dia bisa menerima ku lagi? aku tidak mau kita terpisah. Aku ingin semua berkumpul seperti dulu." Ken memandang langit-langit atap mobil. Masih dengan kesedihan yang terus mengikuti. Bayangan Ken buram untuk menerawang keadaan keluarganya agar kembali bersama.
Ternyata begitu sulit menyembuhkan hati kecil putranya. Ken bahkan sudah sangat frustasi.
Kei tidak bisa menjawab perkataan Ken. Hatinya pun menginginkan hal itu. Berharap keluarganya bisa berkumpul bersama lagi, tapi keadaan masih belum bisa mengabulkan.
Mobil yang dikendarai sudah sampai didepan gedung sekolah. Ini pertama bagi Ken menginjakkan kaki didepan halaman gedung sekolah putranya.
Mata Ken meneliti bangunan yang tidak terlalu mewah. Belum selesai mengamati, Ken berkata. "Honey, kenapa tidak mendaftarkan Io disekolah elite?" tanya Ken.
Kei mendengus sebal. "Apa kau lupa, waktunya Io masuk sekolah kamu hilang ingatan? aku tidak punya uang untuk mendaftar disekolah elite!"
"Kamu tahu, untuk biaya pendaftaran menggunakan uang Papa Herlambang, Mami juga uangnya sekretaris Lee. Jasa mereka sangat besar selama aku tinggal di apartemen, semua biaya hidup mereka yang membantu. Dan lagi sekretaris Lee, keluarga kita punya hutang Budi besar kepadanya. Mulai dari materi juga pengembalian keceriaan Io. Keluarga sekretaris Lee setiap hari datang untuk menghibur aku dan Io. Keluarga mereka sangat baik."
"Tapi sekretaris Lee memang keluarga kita. Dia anak angkat dari almarhum papi Hiro." ucap Kei.
__ADS_1
Seketika kening Ken mengernyit, belum mengerti maksut ucapan Kei yang terakhir.
"Apa maksud mu?" Ken bertanya bingung.
Kei menepuk jidatnya dengan pelan, "Astaga... kamu pasti belum mendengar ceritanya." ucap Kei.
Ken semakin bingung.
"Kamu ingat dengan Tupai?" ucap Kei.
Deg... Ken langsung terkesiap, bagaimana istrinya menanyakan tentang tupai?
Nama itu hanya dia, tupai sendiri dan juga almarhum papinya yang tahu. Apakah hanya kebetulan? batin Ken.
"Tupai?" ulang Ken dengan lirih.
"Iya, Tupai dan si Koi." ucap Kei dengan tersenyum. Dua nama istilah itu terdengar lucu.
Ken semakin terhenyak, Kei mengetahui dua nama istilah itu. Berarti bukan sebuah kebetulan.
"Si Tupai itu adalah sekretaris Lee. Dia keturunan dari almarhum Tuan John Lee." Kei memberitahu.
Ken melangkahkan kaki memasuki halaman sekolah Kio. Para wali murid yang juga mengantar putra putri mereka begitu penasaran dengan sosok Kendra Kenichi yang baru pertama muncul dilingkungan sekolah.
Ken tidak memperdulikan pandangan orang sekitar. Terus melangkah mencari keberadaan Lee alias si Tupai jelek.
Kei sedikit kewalahan mengejar langkah Ken yang melangkah dengan lebar.
Ken menemukan Lee sedang berdiri disamping papan pengumuman, bersama Dewi dan putranya bernama Alvaro.
Tiba-tiba dari arah belakang Ken memiting kepala Lee cukup keras hingga Lee mengaduh. Dewi yang terkejut sampai membuka mulut lebar-lebar.
"Tu tuan Mu da, a da a pa?!" Lee kesulitan untuk berbicara.
"Dasar bo doh! dasar menyebalkan! kau sudah gila, Lee. Lihat saja, aku akan menggunakan pasal berlapis untuk menghukum mu. Aku akan menghajar mu sampai babak belur. Be de bah gila!!!" Ken mengucap makian untuk Lee. Beruntung ditempatnya berdiri tidak begitu banyak orang. Hanya sebagian yang menyaksikan dan berlalu begitu saja karna tidak ingin ikut campur.
__ADS_1
"Uhuk...Uhuk.." Lee terbatuk saat Ken melepas pitingan tangan yang membelit lehernya.
"Tenang Tuan Muda, tenang. Ada apa ini?" napas Lee tersengal-sengal.
"Ada apa. Ada apa! berani kau mengerjai ku dan membohongiku!" suara Ken masih terdengar tinggi.
"Kau bo doh, Lee. Kau benar-benar Tupai jelek dan bo doh!!" sentak Ken marah tapi seketika menubruk Lee dengan tetesan air mata.
"Kau bo doh! selama itu kau bersembunyi. Kau tau, aku selalu mencari mu. Si Koi kehilangan Tupai sampai aku dianggap gila." ucap Ken dengan menyusut sudut matanya.
Hal sama juga dilakukan oleh Lee, matanya ikut berkaca-kaca. Ternyata bukan hanya dirinya yang mengingat keindahan dan kebahagiaan masa kecil mereka. Kini si monster gila, si Koi arogan itu juga mengingatnya.
Lee tertawa lebar, sedangkan Ken meninju lengan Lee dengan keras. Lee kembali mengaduh.
"Aku tidak sembunyi, aku selalu menjagamu. Aku juga menjadi samsak hidup untukmu." ucap Lee.
"Kau memang pantas mendapat itu!" ucap Ken dengan sinis tapi sejurus kemudian dia tertawa.
"Aku tidak mengenalimu. Ternyata Tupai jelek yang merebut Papiku adalah kau! jika aku tahu itu dari dulu, sudah aku beri hukuman."
"Dasar Tupai, sangat pintar berkamuflase!! Ken tak henti berbicara.
Sedangkan Lee hanya mendengarkan dan tersenyum lebar. Namun dalam hati merasakan kebahagiaan yang besar, kini semua sudah terjabarkan dan tidak perlu ada rahasia yang ditutupi.
"Kalau Tuan sudah tau aku adalah Tupai, apa aku boleh mengundurkan diri berhenti menjadi tangan kananmu juga samsak hidup mu?" tanya Lee dengan datar. Entah itu sungguhan atau hanya guyonan.
"Jika kau berani mengundurkan diri, akan ku bunuh kau!" mata Ken memicing.
Tapi Lee menanggapi dengan tertawa lebar. Membuat Ken geram dan lagi memiting kepala Lee. Lalu mereka berdua tertawa bersama.
Kei dan Dewi yang menyaksikan menggelengkan kepala dan ikut tertawa, mereka berdua seperti anak kecil.
Beberapa orang yang ada disekitar ikut tertawa.
Mereka berempat mencari tempat nyaman untuk melanjutkan perbincangan. Tapi masih disekitar luar ruangan sekolah.
__ADS_1
Acara pentas belum dimulai. Anak-anak masih mengikuti bimbingan pentas agar acara yang akan dipentaskan berjalan lancar.
Beberapa saat berbincang tak terasa waktu pentas sudah akan dimulai. Para wali murid sedikit antri untuk memasuki aula sekolah. Para orang tua sangat antusias ingin menyaksikan pertunjukan pentas dari anak-anak mereka. Begitu juga dengan Ken. Meski anaknya sedang marah tapi hatinya ingin sekali melihat pertunjukan dari putranya.