Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Kejutan Part 2 (Dimanakah keadilan)


__ADS_3

Mengarungi mimpi indah dan harus terbangun dengan cara tak lazim membuat Ken terbengong, mungkin nyawa yang sedang melayang belum sepenuhnya kembali, hingga ia belum mencerna kejutan untuknya.


Mata tajamnya mengerjap beberapa kali, meneliti orang-orang yang berdiri didepan pintu. Lampu temaram membuat pandangannya kurang jelas.


Lee meraih saklar lampu dibalik pintu, seketika lampu utama menyorot dengan sangat terang. Membuat pandangan tertuju pada Ken yang masih duduk dibawah, karna sehabis terjungkal.


"Happy birthday, Sayang Daddy."


"Selamat ulang tahun, anak mami."


"Kakakku tertampan, happy birthday."


Ken hanya mematung, mulutnya seakan terkunci. Ini kejutan yang tak terduga.


Bukanya berlari memeluk istri dan anaknya yang sangat dirindukan, Ken terdiam tak mampu untuk melakukan itu.


Kebahagiaan yang dirasakan tak bisa diungkap hanya dengan kata-kata, airmata kembali menggenang. Ken malu untuk menunjukan kelemahannya karna cengeng. Ia menunduk untuk menyembunyikan dan segera menghapus.


Kei yang menggendong baby Kio berjalan mendekat, berjongkok disamping Ken yang masih menunduk.


"Happy birthday, Daddy. Semoga dengan bertambahnya umur Daddy semakin dewasa, selalu dalam lindungan Tuhan." Kei mengatakan kalimat ucapan dengan senyuman. Yang dibalas dengan pelukan hangat, Ken mendekap tubuh Kei tanpa ingin menyakiti baby Kio.


"Honey," panggil Ken dengan suara parau.


Kei mengangguk. "Maafkan kami yang telah menyusun rencana kejutan ini."


"Kalian melupakan keberadaan kami." Ray mendengus, ia ingin menyadarkan dua kakaknya bahwa bukan hanya mereka yang ada dikamar itu.


Ken melepas dekapannya, ia beralih melihat kearah Ray dan Mami Lyra, bukan itu yang menjadi titik fokus melainkan ada Lee yang berdiri diantara mereka.


"Lee, kau ada disini? jangan-jangan..." ucapannya terpotong.


Lee berdiri dengan kikuk, menggaruk pelipis yang tidak gatal. Ia sudah tau jika Ken pasti akan heran dengan keberadaannya.


"Kalian benar-benar merencanakan kejutan dengan sempurna! bahkan aku hampir gila." kata Ken, ia meneliti satu persatu wajah orang-orang yang ada disana, termasuk Kei.

__ADS_1


Mami Lyra tersenyum, Ray tertawa lucu dan Kei juga menertawai ekspresi Ken yang terlihat kesal.


"Ini hari bahagiamu Sayang, kau tidak boleh marah-marah." kata Kei, ia yang lelah berjongkok kini berdiri dan duduk diranjang. Ken mengikuti.


"Ah, kalian ini malah bermesra-mesraan. Ayo kak, tiup lilin dan potong kue." Ray mendorong troli makanan, tapi diatas berisi kue ulang tahun yang sangat besar dengan tulisan 'Happy Birth Day, Daddy.'


"Aku bukan anak kecil, kenapa kalian menyiapkan kue ulang tahun dan lilin." kata Ken, meski didalam mulut menolak tapi hatinya begitu bahagia mendapat surprise yang mengejutkan.


"Ini bukan anak kecil atau anak dewasa, namanya ulang tahun ya harus ada tiup lilin dan potong kue." kata Ray.


Kendra Kenichi sangat jarang mengurusi hari kelahiran, dulu saat bersama Olive selalu merayakan dengan makan bersama tapi tidak ada pesta kejutan atau acara prank. Semua rencana disusun dengan rapi itupun dengan sepengetahuannya.


Kei menidurkan baby Kio diatas bad, setelah itu ia menarik tangan suaminya untuk bergabung dengan yang lain dikursi sofa.


Kue yang ada diatas troli sudah dipindah keatas meja.


Saat sudah bergabung dan duduk bersama, kini senyum dibibir Ken tampak terbit.


"Ayo tiup lilin dan potong kue, sayang." kini berganti Kei yang menyuruh.


"Kakak apa kita perlu menyanyikan lagu selamat ulang tahun?" tanya Ray dengan tertawa.


"Sebelum tiup lilin jangan lupa untuk make a wish." ucap Kei.


"Kalian ini benar-benar membuatku seperti anak kecil." kata Ken dengan tersenyum.


"Tapi kalau marah seperti paduka raja yang mengerikan." sahut Lee tanpa melihat. Ia dengan santai menatap langit-langit kamar hotel.


"Ah... Lee, tunggu saja balasan dariku." ancam Ken, ia dendam dengan Lee yang sengaja mengerjainya.


"Sudah, cepat berdo'a dan tiup lilin."


Kali ini Ken menurut, ia memejamkan mata dan berdo'a dengan sungguh-sungguh. Tidak tau meminta apa, itu rahasianya dengan Tuhan.


Setelah selesai berdo'a, ia membuka mata dan mulai meniup lilin satu persatu.

__ADS_1


"Sekarang potong kuenya, untuk potongan pertama berikan pada orang spesial." Ray seperti komando pada acara itu, ia sangat antusias memerintah.


Ken tidak lagi protes, ia memotong kue dengan ukuran sedang dan memberikan pada Mami Lyra.


"Untuk Mami." ucap Ken dengan memberikan potongan kue. Mami Lyra menerima dan bergeser mendekati putranya lalu dipeluk.


"Selamat ulang tahun ya Sayang, semoga kau selaku berada dilindungan Tuhan. Bertambahnya umurmu, akan selalu dilimpahkan kebahagiaan dan kesehatan Nak." Mami Lyra meneteskan airmata, do'a yang tulus dari seorang ibu yang melahirkan putranya. Jika ditanggal ini adalah kelahiran putranya berati ditanggal ini juga ia dulu pernah berjuang.


"Iya Mi. Terimakasih untuk do'a dari Mami. Semoga Mami juga selalu sehat, Ken sayang Mami." ucap Ken, membalas pelukan Mami Lyra.


Setelah melepaskan pelukan itu Ken memotong kue yang kedua, tentu potongan untuk istri tercinta.


Kei menerima potongan kue, tapi ia merasa canggung untuk memeluk Ken didepan yang lain.


Tapi Ken tidak perduli dengan keberadaan yang lainnya, ia segera memeluk Kei dengan erat, meluapkan rasa rindu yang teramat berat. 2hari jauh tanpa bisa memandang wajah cantik Kei, membuat Ken benar-benar sangat merindukannya.


"Potongan kue yang kedua, untuk istriku tercinta dan juga ibu dari anakku." Ken melepas pelukannya dan tersenyum hangat, memandang kearah Kei yang juga memandangnya.


"Stop Kak! adegan kedua jangan diteruskan, hargai keberadaan kami." Ray menutup mata dengan telapak tangan.


"Dasar anak kecil! kau pikir aku akan melakukan adegan apa!" Ken mendengus sebal, suasana haru berubah ambyar.


Ray tertawa dan menunjukan deretan giginya, "Pasti potongan ketiga untukku? iya 'kan?" tebaknya, ia tak mengindahkan kekesalan kakaknya. Mereka berdua memang seperti itu.


"Tidak ada potongan ketiga. Kalian berdua tidak akan mendapat kue, tapi mendapat pasal hukuman dariku." Ken melihat kearah Ray dan Lee bergantian.


Kini Ray dan Lee yang saling pandang dengan sorot mata yang saling menyalahkan.


"Elah kak, dihari bahagia kakak kenapa harus menghukum orang. Kakak tau, ini semua ide dari sekretaris Lee."


"Heh, enak saja anda menuduh saya. Bukannya anda yang telah merencanakan ini!" Lee tidak mau disalahkan, dari awal ia sudah mendapat kesulitan luar biasa. Kini ia juga akan menanggung hukuman? rasanya Lee ingin berteriak, 'dimanakah keadilan?'


"Terserah, siapa pun yang merencanakan tetap saja peran kalian yang paling penting. Tidak mungkin para wanita bisa menyusun strategi sebagus itu. Kalian membuatku hampir gila."


"Masih hampir kak," sahut Ray.

__ADS_1


"Apa dalam rencana kalian ingin membuatku benar-benar gila?" Ken menatap Ray.


Mami Lyra dan Kei hanya tertawa mendengar Ken, Ray dan Lee beradu mulut. Mereka tau, ketiganya hanya saling bercanda.


__ADS_2