
Ken sedang bersantai dipinggiran kolam, Kei mendekat membawa nampan berisi dua cangkir teh dan kue. Menaruh nampan diatas meja.
"Kenapa kau yang membawa?"
"Tidak apa-apa, cuma bawa minuman saja tidak akan terluka." Kei sengaja mengatakan itu didepan tuan Ken, suami over protective. Tidak membiarkan dia melakukan pekerjaan apapun.
"Ada pelayan, kalau kau membawa itu sendiri percuma mereka bekerja disini."
"Huft... mereka sudah banyak tugas tuan, ini juga kemauanku. Bukan salah mereka."
"Terus saja membantah."
Terkadang Kei ingin hidup normal, tidak seperti saat ini bagaikan hidup di jaman kerajaan dimana selir kerajaan hanya melayani rajanya selebihnya tidak boleh melakukan apapun. Menjadi istri dari tuan muda Kendra Kinechi benar-benar seperti seorang ratu, kehidupan yang mewah, semua yang diinginkan selalu terpenuhi Kei bersyukur untuk itu. Tetapi terkadang mengeluh dengan sikap tuan Ken yang terlalu berlebihan dan terlalu posesif, entah Kei harus bersyukur atau harus bersedih mendampingi tuan Ken dengan segala isi kepala yang aneh.
"Hei, Kei..." mami Lyra menghampiri mereka berdua. Kei tersenyum.
"Mami darimana?" Kei bertanya.
"Biasa bertemu teman-teman mami, bosan kalau dirumah terus."
"Benar itu mi, sangat membosankan jika berdiam diri dirumah." Kei melirik kearah Ken, sengaja mengatakan itu menyindir tuan Ken. Ken memutar bola mata, mami Lyra yang tau maksut ucapan Kei hanya tersenyum.
"Eum,,, suami, mami, aku kekamar sebentar." Kei meminta izin, sebenarnya Kei merasa aneh saat menyebut tuan Ken dengan sebutan suami. Tetapi dia harus melakukan itu karna saat ini ada mami Lyra, Kei ingat harus menyebut suaminya dengan panggilan romantis.
"Iya sayang." kata mami Lyra. Kei lalu beranjak pergi dari sana. Setelah memastikan Kei tidak terlihat, mami Lyra bergeser duduk mendekati putranya.
"Ken..."
__ADS_1
"Iya, mi."
"Pernikahanmu dengan Kei sudah beberapa bulan, apa istrimu belum ada tanda-tanda hamil?" mami Lyra memelankan suaranya. Ken menunduk tangan sebelah kanan memijat pelipis, bingung harus menjawab pertanyaan maminya. Dia tau mami sangat menginginkan kehadiran seorang cucu, hal itu sama seperti dirinya yang juga menginginkan malaikat kecil segera hadir. Setelah mendengar pengakuan dari Kei waktu itu Ken memendam keinginannya, dilema dalam 2pilihan antara mempertahankan pernikahan atau bercerai. Ken tidak ingin berpisah sedetikpun, Kei sudah menjadi candu yang mutlak ada. Beberapa jam tidak melihatnya sudah membuatnya tidak waras, lalu apa yang akan terjadi jika ia berpisah dengan candunya. Tidak, dalam bayangan pun Ken tidak sanggup. Ken masih menimang akan mengambil keputusan bijak, antara mengadopsi anak atau melakukan usaha lain.
Yang jelas, Ken pun memikirkan jalan keluar. Mencari jalan keluar yang bijak agar keputusannya tidak menyakiti perasaan siapapun.
"Masih beberapa bulan mi, belum bertahun-tahun. Mungkin Tuhan belum memberikan takdir Kei untuk hamil." mami Lyra membuang nafas pelan, raut kesedihan langsung terlihat.
"Memang belum bertahun-tahun, tetapi mami sangat berharap istrimu segera hamil. Usiamu sudah cukup matang untuk mempunyai anak."
"Mi, mempunyai anak itu tidak memandang usia. Takdir Tuhan yang menentukan." Ken menjawab cepat.
"Mami tau Ken, anak-anak teman mami yang seumuran denganmu sudah memiliki anak Ken. Mereka sangat lucu, mereka memperlihatkan kepada mami." raut wajah mami Lyra menunjukan kesedihan.
"Mi..." Ken memanggil, menatap maminya dengan serius. Mami Lyra melihat kearah putranya.
"Seandainya kalau Kei mandul, bagaimana?" Ken bertanya, ingin mengetahui pendapat maminya.
"Mami jangan berteriak, nanti Kei mendengar."
"Maaf, apa maksut kamu Ken?"
"Kei sendiri yang mengatakan kalau dia tidak bisa punya keturunan." Ken juga menunjukkan raut kekecewaan saat mengatakan itu. Seketika tubuh mami Lyra mematung, airmatanya menetes begitu saja. Hatinya semakin bersedih mendengar fakta itu, terlalu kecewa karna harapannya pupus.
Bukan hanya mami Lyra yang berhasil meneteskan airmata, seorang perempuan yang ada dibalik pintu mendekap mulutnya dengan kuat agar suara tangisnya tidak terdengar. Sebelah tangannya meremas dada yang terasa sesak, dia tidak sempurna menjadi seorang istri dan juga seorang menantu. Tidak bisa melahirkan keturunan, membuat kecewa suami dan maminya.
Hari ini Kei mengetahui kekecewaan dan kesedihan suaminya, ternyata tuan Ken menyembunyikan perasaannya. Berpikir suaminya baik-baik saja, tuan Ken tidak pernah menyinggung masalah ketidaksempurnaannya. Saat ini Kei mengetahui raut wajah kekecewaan dari orang yang sangat dia sayangi, hatinya terasa sakit. Meski fisiknya sudah sempurna nyatanya, raganya yang cacat.
__ADS_1
"Mami tenanglah, Ken akan berusaha mencari jalan keluar terbaik."
"Jalan keluar seperti apa, Ken?" mami Lyra bertanya, tidak yakin dengan ucapan Ken.
"Mengadopsi anak, atau melakukan usaha lain. Ken sedang memikirkan hal itu."
"Tidak Ken, mami tidak setuju jika kamu mengadopsi anak." mami Lyra menolak keras. Ken menghembuskan nafas, sudah pasti maminya menolak hal itu.
"Bagaimana kalau kita cari wanita yang mau mengandung anakmu, setelah anak itu lahir kau bisa menceraikan wanita itu."
"Mami jangan gila, Ken tidak akan melakukan itu!" berganti Ken yang menolak saran dari maminya.
"Kenapa? itu kebaikan untuk kalian berdua. Meski terlahir dari rahim wanita lain tetapi itu keturunanmu, mengandung darah dagingmu Ken."
"Kei tidak mau dimadu mi, jika Ken menikah lagi Ken harus menceraikan Kei. Ken tidak mau hal itu." mami Lyra diam, dia teringat bahwa Kei pernah bercerita jika dia pernah ditalak karna suaminya menikah lagi. Dia tidak mungkin menepatkan Kei diposisi yang sama pasti hatinya akan kembali hancur. Saat ini mami Lyra sama dengan Ken yang bingung memikirkan jalan keluar.
"Iya, pernikahan pertamanya hancur karna adanya orang ketiga, Kei pasti menyimpan trauma. Ya sudah, pelan-pelan kita cari jalan keluar terbaik, kita pikirkan dengan matang-matang."
"Untuk itu Ken tidak menyinggung tentang anak dihadapan Kei, aku tau dia akan terluka. Jika kita kecewa dan bersedih, keadaan Kei lebih dari kita." mami Lyra tersenyum dan mengusap bahu Ken.
"Ternyata anak mami sangat dewasa, berpikir dengan bijak. Sudah tidak dingin dan arogan."
Tidak lagi mendengar kalimat terakhir, Kei sudah berlalu menaiki anak tangga dengan cepat dan masuk kedalam kamar. Menangis terisak disamping tempat tidur. Saat ini benar-benar merasa terpuruk, menuntaskan tangisan masuk kekamar mandi dan membasuh wajahnya.
Mengambil tas kecil dan berjalan keluar rumah.
"Anda akan pergi kemana, nona?" 1pengawal yang berjaga bertanya. Kebetulan 1pengawal lagi sedang pergi kebelakang.
__ADS_1
"Aku ingin membeli keperluan wanita ditoko ujung jalan."
"Saya akan menyiapkan mobil." ketika pengawal itu masuk ke garasi untuk menyiapkan mobil, Kei memanfaatkan itu untuk pergi. Pintu gerbang yang sedikit terbuka memberi kemudahan bisa keluar dari sana. Saat ini hanya ingin menyendiri dan menenangkan pikiran. Ketika dijalan memberhentikan taksi dan segera masuk kedalam mobil taksi.