
Mobil yang mengantar mereka sudah berhenti dirumah sakit, Kei yang sibuk dengan pemikirannya sampai lupa tidak memberitahu mami Lyra kalau dirinya ingin menjenguk Ken.
Kei menggandeng tangan putranya menuju ruang rawat Ken. Ketika keluar dari lift, terasa jantungnya berdebar lebih cepat. Hanya tinggal melewati hamparan lorong dirinya dan Kio sudah sampai diruangan itu.
Terlihat ada dua pengawal yang berjaga didepan pintu, Kei semakin dekat kesana.
Kedua pengawal itu baru mengetahui kedatangan Kei setelah berjarak beberapa meter.
"Nona, Tuan Muda Kecil." keduanya menyapa, lalu menundukkan kepala sebentar sebagai tanda hormat.
Kei menganggukkan kepala untuk membalas sapaan mereka.
"Apa Nona ingin bertemu Tuan Ken?" tanya salah satu pengawal.
"Iya, tapi aku hanya lihat dari sini saja." jawab Kei. Kedua pengawal itu saling pandang, tentu kebingungan, kenapa hanya melihat tuan muda dari luar? kenapa tidak masuk?
"Kalian tidak usah bingung. Dan jangan bilang pada siapa-siapa. Kami hanya sebentar saja." kata Kei.
Akhirnya dua pengawal itu mengangguk dan memberi ruang pada mereka. Keduanya berpindah tempat sedikit menjauh.
Kei mulai memutar handel pintu dengan pelan. Membuka sedikit untuk melihat keadaan didalam. Ternyata hening, tidak ada suara apapun. Entah mami Lyra dan Herlambang kemana.
Kedua bola mata Kei langsung tertuju diatas ranjang. Manik matanya sudah menggenang cairan bening. Di atas ranjang ada sosok lelaki yang amat sangat ia rindukan. Suaminya tengah memejamkan mata.
Cairan yang menggenang sudah meluncur bebas tanpa bisa dibendung.
"Mom, itu Dad." kata Kio kegirangan, tapi dengan suara tertahan. Kio sudah mengerti untuk tidak bersuara keras, agar Daddy nya tidak mengetahui kedatangannya.
Kei mengangguk beberapa kali, sebelah tangan menutup mulut agar suara tangisnya tidak terdengar. Dari keberangkatannya ke rumah sakit, Kei sudah berniat untuk menegarkan hati. Ia tidak mau Kio melihatnya bersedih.
Sebisa mungkin tidak akan menumpahkan airmata, tapi tidak bisa, tetap saja airmata itu berhasil lolos.
"Iya Sayang, itu Daddy." Kei menjawab Kio.
Tiba-tiba Kio memeluk pinggang mommy nya. Bocah itu menyembunyikan wajahnya, terdengar suara tangis yang tertahan. Seperti dirinya.
Kei melepas tangan Kio yang melingkar di pinggangnya, berjongkok didepan Kio dan berganti memeluknya.
__ADS_1
"Maaf Mom, Io menangis." ucap Kio didekat telinga Kei. Suara yang seperti bisikan itu mampu membuat tubuh Kei terhenyak.
"Tidak pa-pa Sayang. Io boleh nangis sekarang," jawab Kei.
"Tapi kata Dad, laki-laki nggak boleh cengeng. Kalau Dad tahu Io nangis, Dad pasti nggak mau lagi peluk Io?"
"Begitu? kapan Dad bilang itu?" tanya Kei, rasanya Ken tidak pernah mengatakan itu.
"Waktu kita mau berangkat ke pesta, sebelum Dad kecelakaan. Dad bilang, laki-laki harus kuat dan nggak boleh nangis. Tapi Io sedih sekarang Dad nggak ingat Io? Apa Io cengeng makanya Dad nggak ingat sama Io? apa Io nakal?" berkali-kali Kio mencari keselahanya sendiri, apa penyebab Daddy nya tidak mengingat dia sebagai anaknya.
Kei melepas pelukannya, mengusap pipi Kio yang masih ada sisa airmata.
"Nak, dengerin Mom, sekarang Daddy masih sakit dan tidak tahu kalau Io menangis. Io boleh menangis, Sayang. Setiap orang pasti pernah menangis, bahkan orang dewasa juga menangis kalau lagi sakit.
Mungkin maksut ucapan Daddy kemarin Io nggak boleh cengeng dan nakal supaya belajar mandiri, karna anak laki-laki harus bisa menjaga keluarganya dan tidak boleh lemah." ibu jari Kei mengusap pipi Kio dengan lembut dan memberi pengertian.
"Kakak Io sama sekali nggak nakal, kok. Malah pintar dan hebat." puji Kei memberi semangat pada putranya.
"Benar Mom?" tanya Kio sedikit tidak percaya.
"Benar."
"Sayang, Io mau dengerin ucapan Mom?" tanya Kei. Kio mengangguk.
"Meski Dad belum ingat dengan kita, apa Io mau berjanji? Io tidak boleh benci dengan Dad ya."
Kio menggeleng.
"Daddy tidak ingat dengan kita karna sedang sakit, setelah Daddy sembuh, pasti mau peluk Io lagi. Kan Kak Io anak jagoannya Daddy." hibur Kei.
"Daddy nggak ingat dengan aku dan Mom, tapi ingat dengan Opa dan Oma." Kio mengedipkan mata menunggu jawaban dari mommy nya.
Kei kembali diam, putranya sudah semakin pintar. Apa yang harus dijelaskan, bahkan dirinya sendiri juga belum tahu. Kenapa hanya pernikahannya dan kedua anaknya yang dilupakan. Bahkan dengan Herlambang juga masih mengingatnya.
"Kei... Sayang..." mami Lyra dan Herlambang menghampiri keduanya.
"Kalian datang tidak menelpon Mami?" imbuhnya.
__ADS_1
"Iya Mi, Kei lupa." Kei memeluk mami Lyra sebentar. Sedangkan Herlambang langsung mengangkat tubuh Kio. "Cucu Opa yang paling tampan datang. Opa merindukanmu." Herlambang menciumi pipi Kio.
"Io juga rindu dengan Opa." balas Kio.
"Kalian kenapa disini?" tanya mami Lyra.
"Maaf, maksut Mami, kenapa tidak masuk?" mami Lyra meralat pertanyaannya.
Kei menggeleng.
"Takut dengan Dad, Oma. Kita intip Dad dari pintu biar nggak ketahuan." Kio yang menjawab pertanyaan mami Lyra.
Mami Lyra beralih pada Kio, sorot matanya pun terdapat kesedihan.
"Nggak pa-pa Sayang, Dad baru saja minum obat dan tidur. Dia tidak akan bangun, karna obatnya mengandung obat tidur." kata mami Lyra.
"Io mau lihat Dad?" tanya Kei. Kio tidak langsung menjawab, ia sedang berpikir dan terlihat ragu-ragu.
"Ayo dengan Mom," ajak Kei. Lagi-lagi Kio tidak langsung menjawab, bocah itu malah memperhatikan wajah orang dewasa satu persatu.
"Io takut, Mom." akhirnya mulut kecil Kio menjawab.
"Tidak pa-pa Sayang, ada Mom. Sebelum Dad bangun kita sudah keluar." kata Kei.
Herlambang menurunkan Kio dari gendongan. Tangan Kei menyambut Kio dan menggandengnya untuk masuk. Sebelumnya Kei melihat ke arah mami Lyra dan Herlambang, Keduanya menganggukkan kepala.
Kaki Kei dan Kio mulai memasuki kamar Ken. Pelan, sangat pelan sekali keduanya menginjakkan kaki.
Mungkin benar yang dikatakan mami Lyra, saat ini Ken tengah tertidur pulas tanpa terganggu dengan kehadirannya.
Kei dan Kio berdiri disamping ranjang Ken, pandangan mata mereka tak lepas dari wajah Ken yang terpejam dengan damai.
Mata Kei menatap lekat-lekat setiap inci bagian wajah suaminya yang begitu ia rindukan.
Kio pun hanya memandangi wajah ayahnya, setelah itu melihat mommy nya yang menahan tangis.
Menyadari tatapan putranya, Kei segera menyurut airmata dan tersenyum.
__ADS_1
Kio lebih mendekati Ken, entah karna sudah tidak bisa menahan rindu. Kio memberanikan diri menjatuhkan kepalanya dilengan Ken, dengan bersamaan menetesnya dua kristal bening dari ujung mata kecil nan sayu itu.
Kei benar-benar tak kuasa melihat pemandangan itu, sekuat tenaga menahan tangis tapi tidak bisa. Rasa sesak itu semakin menghimpit dadanya. Meleburkan isi hati hingga tak tersisa. Berkali-kali hatinya bertanya pada Tuhan. Kapankah ujian ini akan berakhir.