Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Menunggu Sampai Sadar


__ADS_3

Tuan Ken duduk dikursi tunggu bersama mami Lyra dan juga sekretaris Lee. Tuan Ken masih saja terbengong, kesadaran yang masih melayang. Pemikirannya juga belum bisa terkendali, ada rasa senang, namun dibalut kesedihan.


Dokter keluar dari ruangan, tugas mereka sudah selesai. Kini hanya tinggal menunggu Kei sadar.


Setelah dokter keluar, mami Lyra segera masuk. Ingin melihat cucu pertama yang sangat diidam-idamkan kelahirannya. Tak sabar ingin melihat rupa sang penerus Taisei Comporation.


Tuan Ken dan sekretaris Lee masih duduk tenang, lebih tepatnya duduk termenung dengan pemikiran masing-masing. Jika tuan Ken disini tak mungkin dirinya akan ikut masuk melihat anak tuan mudanya. Meskipun ia sangat ingin.


"Tuan muda," Lee memanggil, ia keheranan dengan sikap tuan mudanya yang diam saja. Harusnya bahagia, semangat. Tapi diam saja, seperti memikirkan sesuatu? ia penasaran.


"Hem..." tuan Ken tidak menoleh, tapi menjawab dengan deheman berat.


"Kenapa anda diam saja tuan?" sekretaris Lee memberanikan diri untuk bertanya, ia tak bisa menutupi rasa penasaran yang semakin tinggi.


"Aku sedang mengatur bagian tubuhku Lee, kau belum tau keadaan diruang bersalin seperti apa. Itu lebih mengerikan dari kejadian apapun. Kau bisa shok, bahkan bisa pingsan. Apalagi saat dokter bermain gunting. Aku terbayang itu Lee, tubuhku lemas." tuan Ken terlihat shok.


'Apa maksutnya dokter bermain gunting? bukankah nona Kei melahirkan dengan normal? Lalu apanya yang digunting?' Lee hanya mampu menyimpan pertanyaan dalam hati. Tidak akan berani menanyakan kepada tuan Ken yang masih terlihat shok.


Tuan Ken melihat kearah sekretaris Lee, ia bisa menebak diwajah kebingungan dari tangan kanannya itu. "Tunggu saja giliranmu, Lee. Nanti kau akan tau untuk apa dokter bermain gunting."

__ADS_1


Lee terkejut dengan ucapan tuan Ken, ia melihat tuan mudanya yang tersenyum miring. "Anda menakutiku, tuan. Tinggal beberapa bulan lagi Dewi juga melahirkan. Belajar dari anda, aku harus memakai baju baja dan juga memakai helm, mungkin." jawabnya asal.


"Sial, kau Lee." tuan Ken melirik sebentar, dengan raut kesal. Bisa-bisanya Lee berbicara seperti itu. Ia menerutuki dan mengancam, jika Dewi melahirkan ia orang pertama yang ingin menyaksikan penampilannya saat keluar dari ruang bersalin.


Dua pengawal berjalan mendekat, salah seorang memberikan paper bag berisi baju kepada tuan Ken, itu semua atas perintah sekretaris Lee. Menerima baju itu tuan Ken segera memakai, setelah selesai ia masuk kedalam dan diikuti sekretaris Lee yang juga penasaran akan penghuni rahim wanita hamil.


Ketika sudah mendekat ke-box bayi, ia mengatakan "Makhluk kecil tapi imut dan menggemaskan,"


Mami Lyra juga belum beralih memandangi cucu pertamanya yang masih memejamkan mata. Bibir tuanya tak henti menyemburkan senyum kebahagiaan.


"Tidak lama lagi kau juga punya bayi imut begini, Lee." kata mami Lyra, masih tak bosan memandangi.


"Iya Nyonya besar, aku juga tidak sabar menantikan kelahirannya. Tapi... melihat keadaan tuan muda, aku juga merasa takut. Apakah keadaan Dewi akan seperti nona Kei?" melihat kearah Kei yang lagi-lagi terbaring lemah dengan kantong darah dan juga infus, membuatnya bergidik. Ada bayangan saat Dewi melahirkan, apakah akan sama seperti itu?


Tuan Ken duduk disamping Kei, selang berwarna merah dan juga berwarna bening menghiasi kedua tangan sisi kanan dan kiri.


Sudah kesekian kali melihat kondisi Kei selalu dalam keadaan kesakitan. Tuan Ken sangat jenuh dan bosan. Ia ingin melihat sang istri bisa tertawa bahagia tanpa rasa sakit.


Setelah Kei sadar dan kondisinya sudah membaik, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menuruti segala keinginan dan juga membuatnya bahagia.

__ADS_1


Bayi dalam box bergerak-gerak dan disusul dengan suara tangisan yang terdengar kencang. Perawat bertugas menjaga bayi itu segera mengangkatnya dari dalam box dan mendekat keranjang Kei. Menggunakan satu tangan menutup gorden yang menjuntai. Bayi itu akan melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Meski sang Ibu belum sadar, perawat akan membimbing.


Tuan Ken masih duduk disana, melihat proses itu, hatinya terkagum. Bayi sangat kecil bergerak-gerak dan mencoba mencari sumber makannya sendiri.


Berapa lama, dirasa sudah cukup, perawat memindahkan bayi kedalam box lagi. Sebelumnya memberi penawaran, apakah tuan Ken akan menggendong bayinya. Hanya dijawab gelengan kepala, tuan Ken masih takut ingin menggendong anaknya sendiri yang masih sangat rentan. Selama ini ia tak pernah menggendong makhluk kecil, selain pada waktu itu menggendong adiknya sendiri. Itupun sudah bertahun-tahun.


Setelah perawat pergi, ia menggenggam tangan Kei dengan sangat pelan. "Sweety, kau sudah berhasil berjuang. Segeralah bangun dan lihat, betapa lucunya anak kita. Sayang ia tak sesuai keinginanmu. Anak kita berjenis kelamin laki-laki, meski kau menginginkan anak perempuan tapi kau sudah berjanji akan menyayangi anak kita sepenuh hati, walaupun itu laki-laki. Aku menunggu senyummu, kau harus segera sadar, aku belum akan memberikan nama sebelum kau bangun. Aku mencintaimu, sayang. Menunggumu terbangun."


Hampir satu hari satu malam tuan Ken sama sekali belum memejamkan mata, ia sibuk menunggui istrinya. Badan kekar itu mulai lelah, mata yang juga ikut terasa berat. Ia menjatuhkan kepala disamping Kei dan memejamkan mata, ingin mengistirahatkan anggota tubuh barang sejenak. Kala terbangun bisa melihat Kei yang sudah sadar.


Mami Lyra melihat pemandangan itu tidak berani mengganggu. Ia lebih memilih menunggu cucunya.


Lamanya tertidur dengan posisi kurang nyaman membuat badan terasa sakit dan kaku, mata tuan Ken mulai terbuka. Untuk pertama, tentu saja melihat wajah sang istri, apakah sudah sadar?


Melemas saat kondisi Kei masih sama. Tapi selang merah tadi sudah tidak ada, hanya tinggal selang bening yang menggantung.


Hampir 4jam Kei belum sadar, sampai kapan seperti itu.


Saat tuan Ken akan berdiri, genggaman tangannya seperti mengencang. Ia yang terkejut segera memperhatikan tangan Kei. Benar, tangan Kei menggenggamnya dengan erat.

__ADS_1


"Kei..." tuan Ken mengurungkan niat untuk pergi, dirinya kembali duduk ditempat tadi. Memperhatikan wajah Kei, tidak sabar menunggu mata itu segera terbuka.


"Sa-sayang..." suara itu terdengar dari mulut Kei, meski terdengar lirih dan tidak jelas tapi tuan Ken sudah sangat bahagia.


__ADS_2