
Ken mendekap tubuh Kei dengan lembut, mentransfer kenyamanan yang beberapa jam lalu tidak bisa tersalur.
Setetes dua tetes airmata selalu lolos mengaliri pipi pucatnya. Bukan airmata kesedihan, namun itu lah airmata kebahagiaan.
Demi mengingat ia telah melahirkan seorang putri cantik yang mampu membangkitkan senyum indah. Harapan mereka selama ini telah terkabul.
Begitulah Tuhan Yang Maha Adil dan Maha Pemurah, hidup yang dulu bersalur derita kini beberapa tahun terakhir telah berganti dengan kebahagiaan tiada tara. Ia sangat bersyukur.
"Terima kasih, Tuhan." ucapnya lirih.
Ken melepas pelukan dan sedikit membungkuk. Kedua tangan yang masih memegang kedua pipi Kei dengan lembut untuk membersihkan sisa airmata yang mulai mengering.
Kedua matanya menatap lekat-lekat, menyusuri wajah indah milik Kei. Mata, hidung dan terakhir bibir mungil yang sangat pas dengan perpaduan wajah Kei yang juga mungil.
Senyum indah telah terbit dan mengembang sempurna. Mempersembahkan senyum terbaik yang dimiliki hanya untuk istri tercinta.
Senyum dibibir Kei ikut mengembang, dan lagi airmatanya kembali menggenang membuat penglihatan sedikit tidak jelas.
Keduanya diam, seolah saling berbicara dari hati ke hati. Mengagumi satu sama lain.
Pandangan Kei fokus melihat wajah tampan nan tegas milik Ken. Wajah yang dingin namun dihadapannya selalu telihat lembut. Wajah yang mampu menggetarkan hati. Bahkan dari pertama kali melihatnya sudah mampu menghipnotis alam bawah sadar bahwa lelaki itu sangat tampan dengan sejuta daya tarik dari wajahnya.
Keduanya saling bersitatap dan mendalami perasaan masing-masing. Sampai tak sadar keduanya telah larut dalam sentuhan melenakan. Bukan ciuman penuh nafsu, melainkan ciuman luapan isi hati.
Sampai beberapa detik keduanya hampir kehabisan nafas dan mengakhiri ciumannya.
Ken kembali tersenyum dengan berbisik. "Terima kasih,"
__ADS_1
Kei mengangguk lemah, senyum di bibirnya ikut terbit.
"Terima kasih... Kau istri terhebat. Aku sangat mencintaimu," Ken memperjelas.
"A aku juga mencintaimu. Selalu." jawab Kei dengan semburat kemerahan. Ini bukan pertama kali Ken mengucap cinta, tetapi setiap mendengar kata manis penuh sarat makna itu selalu membuatnya bersemu merah.
"Aku beruntung bisa memilikimu, wanita hebat ku." malam ini Ken seperti pujangga yang pandai merangkai kata. Seolah meluapkan rasa syukur dan rasa bangganya memiliki istri yang selalu kuat dan tegar dimasa sulitnya.
"Aku yang lebih beruntung bisa bersanding dengan orang hebat, seperti mu." jawab Kei dengan menunduk. Saat ini perasaanya sedang membuncah bahagia.
Jadi jemari lekat bertautan, seolah tak ingin melepas. Dengan pandangan mata yang juga saling memandang dengan penuh cinta.
Tiba-tiba daun pintu terbuka. Dua perawat berjalan beriringan untuk mendekat. Menggendong bayi mungil yang masih memejamkan mata.
Ketika salah satu perawat memberikan bayi mungil diatas pangkuannya, senyum yang tersungging semakin lebar. Airmata yang mengering kini kembali menggenang. Ia sangat bahagia, sangat.
Bayi mungil nan cantik mulai bergerak, lalu disusul suara tangis yang memecahkan kesunyian. Kei menimang dengan sayang, lalu membuka kancing baju untuk memberi ASI pada gadis kecilnya.
Pertama kali ia memberi sumber makanan untuk putri kecilnya. Sedikit kesulitan karna baru pertama kali. Tapi Kei terus membimbing, bahkan perawat juga ikut mengarahkan, hingga bayi cantik nan mungil berhasil melahap sumber makanan dengan rakus.
Ken tersenyum saat putri kecilnya sudah berhasil. Ia pun tersenyum tipis mengingat ia dulu harus berebut dengan Kio, putra kesayangannya. Saat ini ia harus rela berebut dengan putri kecilnya.
"Yang ini curang," ucap Kei dengan sedikit kekecewaan.
"Curang?" Ken mengulang. Ia tak mengerti dengan perkataan Kei.
"Kenapa putri kita sangat mirip denganmu?" kesalnya.
__ADS_1
Tapi Ken menanggapi dengan senyum lebar.
"Lebih baik mirip dengan Ku, 'kan .... dari pada mirip orang lain?"
Kei melirik dengan ujung matanya, sedikit mencebikan mulut. Sedetik kemudian ia teringat dengan putra pertamanya.
"Io dimana?" tanyanya.
"Io tadi pulang bersama mami dan papa. Kasihan jika tidur dirumah sakit. Besok pagi pasti kesini," jawab Ken.
Kei mengangguk setuju. Kei mengangkat tubuh mungil itu diatas bahunya, menunggu bayi mungil itu untuk bersendawa. Ia sudah tau langkah-langkah merawat dan memperlakukan bayi karna pengalamannya dulu merawat Io.
Setelah selesai, ia kembali menimang putri kecilnya sampai terlelap lagi.
Jam didinding menunjukkan pukul 23.00WIB. Meski hampir tengah malam tapi matanya tak juga terserang kantuk, ia masih betah untuk memandangi gadis kecilnya. Akhirnya ia menyuruh perawat untuk kembali, karna dia sendiri akan menjaga putrinya.
Kini hanya dirinya yang masih terjaga, Ken yang sangat kelelahan sampai tak sadar sudah terpejam dengan posisi duduk disampingnya.
Kei tersenyum dan menyusuri wajah tampan suaminya, lalu beralih pada putri kecil yang juga memejamkan mata. Benar-benar perpaduan yang sangat mirip. Untuk wajah Io, masih ada perpaduan dirinya, tapi untuk yang ini kenapa semua mirip suaminya.
Kei menghembuskan nafas panjang.
Perjalan hidup yang dilalui terasa penuh warna, dengan kisah yang pelik, penuh liku, derai airmata, kesakitan, luka yang bertabur garam, jika dirasakan begitu sakit. Tapi dalam sekejap mata seolah semuanya sirna.
Demi kehidupan masa kini yang dijalani dengan penuh warna kebahagiaan, kesenangan, tawa ceria, senyum merekah. Ucapan seribu terima kasih pun belum cukup untuk mewakili perasaan bahagia nya saat ini.
Bayangan kisah hidup dari awal hingga saat ini semua tak luput dari ingatan. Senyum yang berbalut airmata tak mampu ia cegah. Mengalir begitu saja saat mengingat perjalan hidupnya.
__ADS_1
"Terima kasih Tuhan, Engkau memberi ku anugrah teristimewa. Kau ciptakan kebahagiaan setelah perjalanan luka yang kulalui. Engkau menunjukan keadilan, bahwa airmata dan derita tak selamanya ku rasakan. Semua bisa berlalu dengan membuka lembaran baru. Di titik ini aku menjadi wanita beruntung telah memiliki keluarga yang utuh. Anak-anak yang tampan dan cantik, suami yang begitu sayang dan cinta. Meski terkadang menyebalkan dengan sikap over posesif tingkat akut. Tapi aku sangat mencintainya." meski tak ada yang melihat, tapi Kei tersenyum manis.