Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Waktu Sebelumnya


__ADS_3

Satu minggu berlalu. Belum ada tanda-tanda Naya akan terbangun dari tidur panjangnya. Meski harapannya mulai terkikis, tetapi Akio mencoba yakin bahwa Tuhan maha romantis, Dia tidak akan mengecewakan harapannya.


Tuhan akan mengembalikan Naya padanya, untuk di jaga dan di bahagiakan.


Akio mengusap pelan bagian tubuh Naya menggunankan handuk kecil, yang sebelumnya dibasahi dengan air hangat. Dengan telaten Akio merawat Naya, membersihkan tubuh Naya pagi dan sore. Dengan kesetiaan juga dia menunggunya terbangun kembali.


"Sudah satu minggu, kamu tidak lelah hanya tertidur saja? Bangun Nay! Kembali ke duniamu, aku dan putra kita tidak sabar menunggu kamu terbangun." Akio tidak pernah lelah mengatakan hal itu. Dia genggam dan dia ciumi telapak tangan Naya.


Tok ... tok ...


"Permisi, Tuan, saya harus memeriksa pasien."


"Silahkan."


Perawat itu memeriksa semua alat yang menempel di tubuh Naya. "Bagus, detak jantungnya normal, semua mulai membaik. Kemungkinan sebentar lagi nyonya Naya segera sadar," terang perawat itu.


"Benarkah? Alhamdulillah ... terima kasih, Sus."


"Sama-sama, saya permisi."


Akio tersenyum lebar. "Aku yakin kamu bertahan, Nay. Kamu harus segera bangun demi aku dan putra kita." Akio mencium pipi Naya dengan penuh kerinduan. Dia tersenyum namun dengan pandangan berkabut.


Ceklek ....


Pintu ruangan kembali terbuka.


"Kita lihat mimi dulu, ya, sayang. Mimi sudah bangun atau belum." Kei mendekat dengan menggendong bayi Naya. Dia meletakan bayi itu di samping ibunya.

__ADS_1


Mata bulatnya bersinar terang, berkedip-kedip seolah sedang mengabsen ruangan tempatnya berada. Mulut yang kecilnya di gerak-gerakan dengan sesekali mengeluarkan lidahnya. Kulit putihnya bersih tanpa bercak noda. Sudah dapat di puji, betapa tampan makhluk kecil itu. Benar-benar menggemaskan.


"Dia tenang banget, Mom," kata Akio.


"Dia abis minum susu banyak, perutnya kenyang, jadi dia tenang banget," cerita Kei. Matanya tak lepas menatapi cucunya


"Pangeran kecil ini tampan sekali. Sudah harum, ya? Kamu lagi nungguin mimi terbangun, iya? Coba mimi dibangunin." Akio mengajak bayi kecil itu bicara. Seperti yang dia lihat ketika mommy Kei mengajaknya bicara. Meski bayi itu belum bisa apa-apa, tetapi seolah sudah bisa mendengar suara di sekitarnya. Aneh dan tidak masuk akal, tapi setelah melihat reaksinya, Akio mempercayai.


Kei menggeser langkah, mengelus pucuk kepala rambut Naya. "Kapan kamu sadar, Nay? Lihat putramu, dia sangat tampan dan menggemaskan. Sampai satu minggu belum punya nama, Io tidak mau memberi nama sebelum kamu bangun," ujar Kei lembut di telinga Naya.


"Kata suster yang memeriksa Naya, semua sudah normal, Mom, tinggal menunggu Naya bangun," sahut Akio memberitahu.


Di rumah sakit hanya Akio dan Kei, sedangkan Ken tidak bisa berlama-lama meninggalkan urusan kantor. Ken memutuskan pulang lebih dulu ke Indonesia, dan beberapa hari ke depan dia akan kembali lagi.


Zee dan Faskieh harus kuliah, meski waktunya tidak menentu, tetapi mereka tetap datang.


Bayi yang sedari tadi tenang tiba-tiba memanyunkan bibir dan menangis kencang. Sedangkan di dalam ruangan itu hanya Akio sendiri. Perawat baru saja keluar, sedangkan Kei juga sedang menemui dokter untuk memeriksakan keadaanya yang mengeluh pusing.


"Pangeran, diam, ya. Ssssttt, diam. Oma tidak ada, kamu tidak boleh menangis. Pipi nggak bisa gandong kamu." Akio panik ketika anaknya menangis kencang. Dia tidak berani untuk mengangkat tubuh mungil itu.


"Hei ... diam, jagoan. Diam, ya." Menyentuh tangan putranya saja tidak berani, apalagi menggendongnya.


Akio mengusap wajah kasar. Dia terus berpikir harus bagaimana. Apa di coba saja seperti mommy nya saat menggendong bayi. Karena tidak ada pilihan, akhirnya dengan gerakan kaku dia menggendong makhluk kecil itu.


"Lihatlah Nay, kalau kamu tidak bangun-bangun aku tidak bisa ngurus anak kita sendirian. Aku harus bagaimana? Bangunlah ...," ucap Akio sambil menimang-nimang anaknya. Tangis bayi itu sudah tidak sekencang tadi.


Saat Akio memperhatikan Naya, tak sengaja ekor matanya melihat bola mata Naya bergerak-gerak. Dia sampai melebarkan bola mata antara percaya atau tidak dengan apa yang dilihat.

__ADS_1


"Na-y ....?" panggil Akio lirih. Detik berikutnya, seolah mendapat keajaiban dari Tuhan, kelopak mata Naya perlahan-lahan terbuka. Akio yang melihatnya sampai terpaku.


"Nay ...?" ulangnya dengan suara tercekat.


Bola mata Naya lagi-lagi berkedip pelan. Namun bibir pucatnya masih terkatup rapat.


"Sayang ... mimi sudah bangun, Nak. Mimi sudah bangun ...," ucap Akio terharu bercampur perasaan yang membuncah. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dia ucapkan sebagai penggambaran rasa bahagianya.


Tak lama perawat masuk ke ruangan, Akio langsung menyerukan untuk memeriksa istrinya. Sedangkan perawat yang satu lagi mengambil alih bayi kecil itu dari gendongan Akio. Terlihat sekali bahwa Akio sangat kaku.


"Ini aku, Nay, suamimu." Akio benar-benar tidak tahu harus seperti apa. Dia menciumi punggung tangan Naya berkali-kali. Bahkan dia sampai tak kuasa menahan tetesan air matanya. Tidak peduli dengan keberadaan dua perawat yang mungkin menilainya berlebihan.


Naya sedikit menolehkan kepala, melihat Akio menciumi tangannya. Dia ingin menggerakan bibir untuk berucap, tetapi lidahnya sulit untuk di gerakan.


Bola mata Naya beralih kepada bayi kecil yang ada di gendongan perawat. Matanya tiba-tiba memanas dan tertutup cairan bening. Bulir kristal itu berhasil lolos dan membasahi sudut mata.


Satu jam berikutnya.


Jemari Akio tak lepas sedikit pun dari tangan Naya. Beberapa saat lalu dokter memeriksa kondisi Naya dan mengatakan semuanya normal. Hanya saja Naya memang sedikit kesulitan berbicara, karena saraf-sarafnya masih harus di terapi.


"Nay ... akhirnya, Tuhan memberi petunjuk dan aku bisa menemukan mu," ucap Akio.


"Kalau Zee tidak memberitahu ku, mungkin sampai waktu lama aku masih belum menemukanmu."


"Terima kasih, sayang. Kamu sudah berjuang melahirkan bayi kita. Dia laki-laki dan sangat tampan."


"Ba-yi ku, laki-laki ...?" Sekian terdiam, akhirnya Naya mulai memperdengarkan suaranya. Meski serak, dan terbata, semua itu sudah membuat Akio senang.

__ADS_1


Satu minggu Naya tidak sadarkan diri pasca melahirkan, saat ini Naya sudah bisa membuka mata, bahkan mulai berbicara. Ini seperti keajaiban bagi Akio, bagaimana tidak, tiga hari lalu tiba-tiba kondisi Naya menurun, dokter sampai harus melakukan tindakan kejut jantung demi mengembalikan detak jantung Naya.


Kondisi itu sudah membuat Akio putus harapan, bahkan menangis tersedu. Dia belum siap untuk kehilangan. Tetapi, dia mulai percaya bahwa Tuhan maha segalanya karena tiga hari berselang, kini keadaan Naya mulai membaik dan saat ini sudah sadar Dalam hati dia tak henti mengucap rasa syukur.


__ADS_2