
Perjalanan waktu tak akan pernah kembali, pergi dengan begitu cepat meninggalkan sebuah kenangan dengan dua pilihan. Kenangan manis atau pahit.
Sebuah kenangan yang tercipta oleh dirimu sendiri, bebas memilih.
Kenangan yang bergulir hanya mampu kau ingat, tanpa bisa dilalui kembali.
Penyesalan sebuah rasa yang teramat menyakitkan. Hanya bisa menoleh tanpa bisa berbalik. Selagi diberi waktu harusnya berpikir dengan logika agar tak ada penyesalan dikemudian hari.
Penyesalan bersejajar dengan kata terlambat, sama-sama menyakitkan.
Dua kata itu menggambarkan isi hati seorang Izham Fairuq. lelaki yang sudah membuang berlian hanya demi sebongkah batu dijalan.
Penyesalan yang sudah tak berguna, semua sudah terjadi. Hanya bingung untuk melanjutkan kehidupannya yang cukup pelik.
Tuan Ken kembali mendorong kursi roda yang diduduki Kei, ia tak ingin mendengar pertengkaran orang-orang tidak penting. Melewati mereka begitu saja.
Izham dan Ibu Esih sangat terkejut melihat tuan Ken dan Kei yang lewat didepannya. Kedua pasang mata yang sama-sama mematung, hanya pemikiran yang mampu bertanya, 'kenapa ada mereka disini? apakah mereka mendengar semuanya?' Tak ada keberanian untuk mencegah atau berbasa-basi, derajat mereka sudah berbeda. Lelaki yang dulu berambisi mencari pekerjaan di Ibu Kota, kini hidup diatas belas kasih tuan Ken. Ia bisa menginjak rumah sakit juga karna kebaikan lelaki berkuasa itu. Keberanian Izham lenyap jika berhadapan dengan tuan Ken, bagaimanapun ia tak akan menang melawannya. Berpikir seribu kali jika ingin menganggu.
Hanya saja penyesalan yang dirasakan Izham semakin nyata kala melihat mantan istri yang ia sakiti terlihat sangat bahagia dengan lelaki lain, sederet memori tentang kebersamaan berputar kembali. Dari awal bertemu, menikah, melewati kebahagiaan yang singkat. Bahkan memori saat ia mengkhianati dan berselingkuh dengan Mira, bayang-bayang kehidupan Kei bersamanya yang penuh luka dan airmata.
Menyesal, ia tak pernah membuat Kei bahagia. Hanya goresan luka yang selalu ia sayatkan.
Ia menyakiti perempuan berhati malaikat, sebanyak luka dan kekecewaan yang dirasa, Kei tak pernah membalas atau menyimpan dendam. Bahkan berkat kebaikan wanita itu ia masih bisa keluar dari kesulitan ekonomi yang mendera.
__ADS_1
Kei menundukkan pandangan ketika kursi roda yang ditumpangi melewati mantan suami yang dulu pernah menyakiti hati dan membubuhi luka. Pura-pura tak tau apa yang terjadi, ia tak akan ikut campur karna itu bukan urusannya.
Ia tau lelaki itu menyesal, tapi semua tak bisa diubah. Salah lelaki itu tidak menghargai keberadaan seseorang, tak menghargai waktu yang dilalui. Membuat kesalahan yang disesali dikemudian hari, seperti saat ini. Kebenaran yang sekian lama tak terungkap, meski belum menemui titik terang tentang data biologis anak itu, tapi sudah mulai menunjukan sebuah fakta.
Bukan hanya Izham, Kei memutar kembali ingatan saat bersama mantan suami yang dulu. Bersyukur waktu yang penuh luka itu berlalu, kini hanya kebahagiaan yang dirasa.
Sampai diruangan, tuan Ken menggendong Kei untuk berpindah keatas ranjang, membenarkan letak selimut. Melupakan sebuah rindu untuk candu itu. Duduk disamping Kei. Keduanya masih sibuk dengan pemikiran masing-masing hingga tak ada percakapan, cukup lama dalam diam.
Posisi Kei setengah duduk, menggerakan tangan dengan pelan dan merengkuh pinggang suaminya, memejamkan mata merasakan kehangatan yang menjalar.
Tuan Ken membalas rengkuhan itu, mencium pucuk kepala.
"Kau baik-baik saja?" mengesampingkan ego, tuan Ken bertanya. Saat ini tak tau perasaan apa yang ia rasakan, tapi kata-kata perdebatan tadi cukup membuatnya terhenyak.
"Kei, kau mendengar semuanya. Lelaki itu menyesal sudah membuangmu, apa kau merasa sama? apa kau masih ada perasaan untuknya? kau ingin kembali padanya?" semakin dalam mencium ujung kepala istrinya. Entah perkataan dari mana ia mengatakan itu? lebih tepat, karna ada rasa takut.
"Pertanyaan apa itu! biarkan ia menyesal dengan keadaanya. Aku tidak menyesal, justru aku berterima kasih bisa lepas dari jeratan luka yang dibuat. Melepas bara api kini aku mendapat batu permata." Kei mengatakan kejujuran, sebuah rasa yang kini hanya diperuntukan tuan Ken, masa depannya. Bukan menengok kebelakang yang hanya ada luka.
Jawaban itu membuat hati tuan Ken lega, tak dipungkiri ada rasa cemburu tapi harus bersikap bijak. Ia tak mungkin menghakimi istrinya yang juga tak berbuat apa-apa, yang harus disalahkan adalah Izham. Jika lelaki itu berbuat macam-macam, tak ada ampun baginya.
"Ada perasaan takut jika kau akan...."
"Ssttt... itu hanya ketakutanmu saja, sayang. Bukankah aku sudah berjanji tidak akan meninggalkanmu? kau tidak mempercayaiku? biarkan takdir Tuhan yang berperan, tetapi apapun godaan yang kuhadapi aku tidak akan pergi dari sisimu jika bukan kau sendiri yang memintanya. Hatiku sudah terpaut bersamamu. Apapun yang terjadi, kelak bukan hanya kita saja, tapi pikirkan juga tentang buah hati kita." Kei mendongak menatap wajah tuan Ken.
__ADS_1
"Kau semakin dewasa dengan pemikiran bijak. Peganglah kataku, sampai kapanpun tidak akan pernah memintamu untuk pergi. Jika bisa biarkan aku dulu yang pergi agar aku tak kesakitan melepasmu."
"Aku mencintaimu, Kendra Kenichi." airmata Kei menetes menatap manik mata suaminya.
"Aku juga mencintaimu, Keihana Kazumi." tuan Ken mendekatkan wajah untuk mengecup kening, kedua mata, pipi dan terakhir dibibir manis istrinya. Cukup lama menikmati candu yang ia rindukan. Ketika sudah terlepas, tangan kekar tapi lembut itu menghapus sisa cairan bening.
"Apa sekarang suamiku udah nggak cemburu lagi?" Kei menggoda.
"Kau ini, jika masih cemburu kau mau apa?" tantang tuan Ken.
"Hah, aku biarkan saja. Anak kecil saja bisa membedakan, dia yang menyesal bukan aku." kata Kei.
"Tapi awas saja jika lelaki itu berbuat macam-macam, riwayat akan segera tamat." tuan Ken menunjukan kekesalan.
"Jadi foto waktu itu asli? bukan rekayasa?" tanya Kei, ia mengingat-ingat.
"Heum... itu asli. Bahkan ada rekaman video, tapi aku hanya menunjukan foto saja. Jika dia bisa berpikir dan membedakan, tentu ia sudah tau dari dulu. Lelaki itu saja bodoh." tuan Ken geram kala ia menyebut Izham lelaki bodoh.
Kei membuka mulut, kasihan sekali nasib mantan suaminya yang tertipu dengan wajah polos seorang wanita bernama Mira.
Terdengar beberapa kali ketukan pintu. Tak lama pintu terbuka dan muncul seorang lelaki seumuran tuan Ken masuk dengan membawa sebuket bunga dan paperbag. Dari sudut bibir menyunggingkan senyum cerah, sekretaris Lee juga ada dibelakangnya.
"Hai... apa kabar?" lelaki itu menyapa dengan ramah, kaki yang panjang melangkah dengan lebar menuju keranjang Kei.
__ADS_1
Kei canggung untuk menjawab, ia menatap wajah suaminya. Tuan Ken terlihat cemberut dan mendengus sebal.