Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Faskieh dan Zee


__ADS_3

"Sudah berapa kali aku tegesin, Faskieh! Jangan terlalu ikut campur. Aku nggak nyaman! Kalau kamu nggak dengerin omonganku, aku bakal bilang ke papi buat pulangin kamu ke Indonesia!" ancam Zee dengan gigi bergemeletuk.


Pria muda bernama Faskieh itu hanya diam dan menunduk, menunggu Zee selesai mengomelinya.


Beberapa waktu lalu, dia melerai perdebatan Zee dengan salah satu temannya. Dia pikir Zee dalam bahaya, karena perdebatan itu lumayan tegang. Merasa punya beban untuk mengawasi Zee, dia berusaha menjadi penengah. Namun, hal itu justru membuat Zee marah.


Ternyata, dia salah paham dengan apa yang dilihat. Zee hanya melakukan akting di luar kelas, karena dia mendapat tugas memerankan sebuah drama antagonis. Dan ... jadilah sekarang Zee kesal, juga mengomeli Faskieh di sepanjang jalan.


Untuk pria muda itu sendiri, Lee sudah mendaftarkan kuliah di tempat yang sama dengan Zee agar lebih mudah mengawasi di manapun Zee melakukan aktifitas. Ah, sampai sedetail itu Lee menyiapkan pengawasan untuk putri pertamanya. Namun, semua itu jua tak luput ikut campur oleh Ken.


"Maaf, Kak, aku benar-benar nggak tahu." Entah sudah ke tiga atau empat kali Faskieh meminta maaf.


"Makanya jangan sok tahu!" Zee mendengus.


Semenjak Faskieh datang, Zee selalu dibuntuti pria itu. Dia tidak nyaman karena teman-teman kampusnya meledek dengan candaan dia suka berondong. Padahal kenyataan bukan begitu. Di jelaskan satu per satu pun hanya akan menambahi rumit.


Saat ini mereka sedang duduk di kursi yang tersedia di pinggir jalan. Dua cup minuman cola dan soft drink bertengger di samping mereka duduk.


"Kenapa sih mau aja jadi bodyguard-bodyguard segala?!" Beberapa kali Zee bertanya, namun jawaban Faskieh tidak jelas. Tidak membuatnya puas.


"Karena uang, Kak."


Memang, keluarga Faskieh bukan orang sangat berada. Namun tidak juga dari kalangan tidak mampu. Aneh saja dipikiran Zee.


"Uang untuk apa sampai kamu rela jauh-jauh ke sini ngikutin aku," desak Zee. "Aku benar-benar nggak nyaman, pengen sendiri, nenangin diri. Please, kamu kembali aja ke Indonesia. Bilang aja di sini nggak betah atau cari alasan lain," ujar Zee menggebu.


Pria yang duduk di kursi paling ujung dengan wajah tertekuk itu menghela napas panjang. "Kakak pengen aku beneran aku balik ke Indonesia?"


"Pengen banget. Itu yang aku pengenin!" sahut Zee cepat.

__ADS_1


"Kalau aku mengundurkan diri, aku nggak tahu harus pindah kerja di mana dengan gaji besar seperti yang ditawarkan Om Lee."


Zee menoleh. "Apa kamu sangat membutuhkan uang?"


"Pacarku mengidap penyakit kelenjar getah bening. Walau mendapat donasi dari rumah sakit, tapi tetap membutuhkan dana yang lumayan besar. Kami punya rencana enam bulan lagi akan menikah, tapi harus di undur sampai nggak tahu kapan. Aku sih terima dia dengan ikhlas walau dia sudah tidak sempurna seperti dulu, tapi dia nggak mau. Dia mau dinikahi setelah dia sembuh nanti."


Zee terdiam dengan pandangan sulit diartikan. Hatinya langsung tersentuh mendengar cerita Faskieh. Pria yang sedikit lebih tua dari umur adiknya.


"Aku rela berjauhan, asal dia tetap bisa melanjutkan pengobatannya. Mungkin sebagian orang aneh dengan aku, kenapa masih mau dan sampai berkorban untuk mencari uang demi pengobatan seseorang yang hanya berstatus pacar. Mungkin nggak masuk akal. Tapi karena aku sayang banget sama dia." Pria itu menopang dagu dengan kedua tangannya. Menahan malu harus mengatakan kisahnya pada Zee. Tetapi tak ada pilihan lain, Zee selalu mendesaknya.


Zee mengangkat tangan untuk mengusap cairan bening yang meluncur di pipinya. Perempuan itu berganti menunduk.


"Eh, aku yang sedih, tapi Kakak yang nangis," ujar Faskieh menyadari Zee.


Zee tersenyum getir, mengingat nasib percintaannya yang tragis. Andai dia seberuntung perempuan yang menjadi kekasih Faskieh, mendapat pria yang benar-benar tulus pada satu hati. Tetapi kenyataanya ... perempuan lain justru mengubah takdir cintanya menjadi kisah tragis. Hatinya masih mengutuk perempuan bernama Naya, dia masih membenci perempuan itu.


"Ah, kamu ngarang cerita supaya aku simpati, kan?" tuduh Zee untuk mengalihkan perasaan sedihnya.


"Kenapa kamu? Bukankah ada keluarganya yang harusnya mengusahakan pengobatan cewek kamu?" tanya Zee penasaran.


"Dia cuma tinggal sama ibunya, ayahnya meninggal baru satu tahun lalu. Keluarga-keluarga yang lain nggak ada yang peduli. Harta yang dipunya sudah di jual untuk pengobatan ayahnya. Dan tak lama ayahnya meninggal, dia positif di diagnosa ada kelenjar getah bening."


Dari cerita Faskieh yang begitu detail, sepertinya pria itu sudah sangat dekat dengan keluarga kekasihnya. Em, itu tebakan Zee.


"Kelenjar getah bening itu penyakit bahaya, loh, bisa mematikan juga. Kenapa kamu nggak tinggalin aja."


"Sudah aku bilang di awal, karena aku cinta dia."


"Dia belum jadi istrimu."

__ADS_1


"Dan akan segera menjadi istriku," sahut Faskieh cepat.


Sweet, jawaban Faskieh begitu sweet. Ternyata masih ada pria dengan kesetiaan. Huft ... mungkin semua itu tergantung pribadi masing-masing, nyatanya Akio yang selalu di genggamnya pun justru memilih perempuan lain.


Sedangkan Faskieh, cintanya diuji dengan takdir kematian, namun masih sanggup setia.


"Kisah mu jauh berbanding dengan aku."


"Iya. Aku sangat menyayangkan kecerobohan Kak Io. Bisa-bisanya dia khianat dan nyakitin Kakak kek gini."


"Kamu tahu?" Zee menoleh dan menyipitkan mata.


Faskieh menyengir. "Al yang cerita sama aku."


Zee membuang napas kasar. "Aku yang berusaha sesempurna mungkin untuk dia, merubah apapun demi kesenangan dia, tapi aku hanya mendapat kekecewaan. Memang ini takdir, tapi sebuah takdir itu bisa di cegah andai dia benar-benar tulus denganku."


"Dan lebih mengejutkan, kenapa harus wanita itu yang dipilih. Wanita yang dari awal benar-benar nggak aku sukai. Jadi, kekecewaan dan rasa sakit ku jauh lebih besar."


"Suatu saat kak Io pasti menyesal."


"Aku nggak tahu. Tapi rasanya masih sangat sulit untuk lupain."


"Coba Kakak cari cowok lagi di sini, perlahan bisa melupakan kak Io."


"Perasaanku asing. Aku udah terlalu dekat dengan Kak Io dan harus berdekatan dengan pria lain, rasanya begitu asing."


"Oh ya, setelah kakak tahu kak Io dengan perempuan itu, apa Kakak tidak menanyakan bagaimana mereka melakukan hal yang di larang bahkan sampai menimbulkan aib?"


"Apa aku sudah gila untuk tanya lebih detail. Itu cuma bikin aku tambah sakit."

__ADS_1


Faskieh menggaruk pinggir pelipis juga menyengir. "Iya juga, sih."


__ADS_2