Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Membuat Kecewa Semua Orang


__ADS_3

Akio berkeliling sekitar rumah sakit, namun tidak berhasil menemukan Zee. Ia mengusap wajah kasar dengan mendengus panjang. Dalam hati mengumpat dan menerutuki kebodohannya.


Hanya karena takut Naya benar-benar nekad pergi jauh, ia lantas berjalan menuju ruangan Naya. Tanpa berpikir panjang bila Zee ataupun anggota keluarganya ada yang melihatnya masuk ke ruangan Naya. Dan, sekarang nasi sudah menjadi bubur. Ia tak bisa mengembalikan situasi.


Sejauh Akio mencari, pria itu tak putus untuk menghubungi gadis yang tengah patah hati itu. Tetapi, beberapa detik lalu nomor Zee justru tidak aktif.


Akio kembali menuju rumah sakit, tak lama ponselnya berdering dan ternyata adiknya yang menghubungi.


"Ada apa, Kyu?" tanya Akio.


"Kakak di mana? Dari tadi Mom nanyain," kata Kyu dari seberang telepon.


"Kakak lagi mau ke sana." Setelahnya sambungan diakhiri oleh Akio.


*


Di ruangan Kei, entah kenapa suasana tercipta begitu canggung. Ken terlihat cenderung diam, bahkan di ruangan itu didominasi obrolan oma Lyra, Kyu dan Dewi.


Melihat Tuannya diam, Lee tak berani banyak berkata. Ia tahu tuannya sedang menyembunyikan sesuatu.


"Kakak ini dari tadi di jalan mulu nggak nyampek-nyampek," gerutu Kyu.


"Loh, sewaktu kami datang, Tuan Muda sudah ada di depan rumah sakit. Tapi tadi masih kebingungan mencari Zee, sepertinya mereka lagi marahan," timpal Dewi.


"Apa iya, Tan?" Kyu mengernyit bingung. "Padahal Kakak belum ke sini sama sekali, kok udah marahan aja sama kak Zee. Apa mereka ketemu di depan dan bertengkar gitu?"


"Tante nggak tahu, cuma nebak saja kalau mereka lagi marahan karena Tuan Muda terlihat cemas. Memang dari kecil Zee kalau ngambek suka ngumpet, eh, taunya sampek besar juga masih begitu." Dewi menampilkan senyum singkat.


Tanpa dikomando, Ken dan Kei justru saling melirik. Mereka berdua memiliki pemikiran sama. Apakah Akio sudah memberitahu Zee?


Tak lama daun pintu tiba-tiba terbuka, menampilkan Akio dengan wajah mengerut hanya melangkah ragu mendekati ranjang mommy Kei.


Rahang Ken mengeras, tetapi mencoba meredam emosi. Ia tak mau melampiaskan kekesalan sekaligus kekecewaannya di depan semua orang.


"Tuan Muda." Lee menyapa begitu Akio menunduk sebentar padanya.


"Bagaimana keadaan Mom?" tanyanya.


"Mom tidak cukup baik, tapi masih cukup bertahan," jawab Kei lirih.


Akio hanya bisa terdiam. Ia tahu mommy begitu kecewa padanya, tak terkecuali juga daddy Ken. Tatapannya masih menyorot dengan kemarahan.

__ADS_1


Tapi melihat yang lain tidak memasang wajah tegang, Akio menebak semuanya belum diberitahu. Kekalutannya sekarang bukan pada mereka, tetapi pada Zee. Ia cemas karena belum menemukan gadis itu untuk memberi penjelasan. Ia takut Zee


*


Di dalam taksi, mulut Zee terkatup rapat, namun air matanya melimpah ruah membanjiri pipi. Tak henti-henti ia mengusap cairan bening itu, nyatanya selalu keluar terus menerus.


Rasanya sakit sekali dikhianati oleh orang terkasih. Hancur, sehancur-hancur tak bersisa. Mengingat kebersamaan dan sentuhan lembut dari ciuman Akio semakin menambah luka menganga lebar. Angannya tak mampu membayangkan Akio bersama Naya. Bagaimana keduanya bisa melakukan hal keji, padahal ia tak pernah melihat Akio bersama Naya. Entah kapan mereka bermain belakang. Zee tak habis pikir.


Sedari tadi hatinya terus berkata bertanya. Kenapa Akio tega mengkhianatinya? Kenapa tega menyakiti bahkan menghancurkan hatinya sampai tak berbentuk lagi.


Sampai di rumah, Zee mengaktifkan daya ponselnya. Seketika itu semua pesan langsung masuk, tetapi ia tak peduli sampai ada panggilan masuk dari ibunya.


Zee berdehem untuk menetralkan suara agar suara seraknya sedikit berkurang. "Halo, Ma."


'Zee, kamu di mana, sayang?'


"Zee di rumah, Ma."


'Kamu seperti anak kecil saja, tunanganmu sampai bingung cariin kamu, eh, taunya kamu malah pulang,' cerocos Dewi.


"Zee sakit perut, jadi pulang duluan," bualnya menahan sesak. Sekuat tenaga tidak memperdengarkan isak tangis. Biar nanti saja ia mengatakan semuanya.


'Zee ....'


'Zee, aku akan jelaskan padamu.'


"Apa yang mau Kakak jelaskan? Ingin lebih mempertegas bahwa kalian berdua saling mencintai di belakangku, begitu? Bahkan sampai ada calon anak di antara kalian?"


"Kurasa semua sudah jelas, dan kamu tidak perlu repot menjelaskan apapun lagi sama aku. Tapi saat ini yang harus mendapat penjelasan adalah orang tuaku."


Klik! Sambungan di akhiri Zee.


Akio kembali masuk ke dalam. Ia fokus melihat Lee dan Dewi. Apa ia harus mengungkapnya sekarang juga?


"Paman ...," panggil Akio dengan kelu. Bukan hanya Lee, Ken dan Kei ikut menoleh pada Akio.


"Paman dan Tante, Io ingin minta maaf ...." Sebelum kalimatnya lengkap, daddy Ken sudah memotong.


"Io, kita bicarakan di luar!"


"Suamiku," sergah Kei.

__ADS_1


"Sayang, kamu ditemani Mami dan Kyu. Ada yang harus dibahas."


"Bagaimana dengan aku?"


Ken menggeleng. "Pikirkan kesehatanmu."


Ken keluar lebih dulu diikuti Akio, Lee, dan Dewi.


"Kei, sebenarnya ada masalah apa? Apa ada yang disembunyikan dari Mami?" Oma Lyra tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Tidak ada, Mi," jawab Kei singkat.


Ken memilih menggunakan salah satu kamar pasien yang kosong. Tempat itu di rasa lumayan aman untuk membahas hal penting.


"Katakan, Io! Kamu harus menjelaskan pada mereka!" titah Ken dengan suara dingin.


"Paman dan Tante, sebelumnya Io ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya pada kalian."


Lee dan Dewi saling pandang dan mengerut bingung.


"Io ... Io nggak bisa melanjutkan untuk menikahi Zee."


Lee dan Dewi bereaksi sama, yaitu sangat terkejut. Lalu berikutnya Lee bertanya, "memang apa masalahnya, Tuan Muda? Kenapa sampai tidak bisa dilanjutkan? Apa Zee melakukan kesalahan besar?"


Lee justru berpikir putrinya yang telah melakukan kesalahan. Selama ini sikap Zee mungkin belum sedewasa umurnya. Ia pun menyadari bahwa Zee sangat telat dalam memahami situasi, kemungkinan hal itu menyebabkan Akio berubah pikiran dan ingin membatalkan rencana pernikahannya.


Meski terkejut tapi Lee masih bisa menahan diri.


"Bukan Zee yang melakukan kesalahan, Paman. Tapi Io. Io benar-benar minta maaf tidak bisa melanjutkan pernikahanku. Io ... menghamili gadis lain."


"Astagfirullah ... Ya Allah." Dewi menutup mulutnya, ia sangat kecewa mendengar pengakuan Akio. Jika Zee tahu, betapa hancur hati putrinya saat ini.


Zee? Seketika ia mengingat putrinya.


"Tuan Muda, apa Zee sudah tahu tentang hal ini?"


Akio mengangguk menyesal, dan membuat Dewi panik. Ya Tuhan ... pasti saat ini putrinya sangat hancur.


"Pa, Mama harus pulang sekarang." Dewi meminta izin pada Lee.


"Tunggu sebentar, Ma. Kita tunggu pembahasan ini selesai."

__ADS_1


"Mama nggak bisa! Saat ini Zee pasti sedang sedih. Mama harus pulang." Dewi bergegas keluar. Terpaksa Lee mengikuti Dewi.


__ADS_2