
Akibat kecelakaan yang menimpa Ken, semua menjadi kacau. Apalagi setelah Ken dinyatakan kehilangan sebagian memori ingatan, membuat semuanya berubah.
Dia bersikap seperti dulu, dingin dan mudah marah. Hanya sekretaris Lee yang tahan berhadapan dengan Ken.
Bahkan mami Lyra harus menahan kekesalan karna Ken telah mengusir Kei dari rumahnya.
Walau mami Lyra memendam kekesalan, tapi tak sampai hati jika membiarkan Ken tidak terjaga kesehatannya. Bagaimana pun dia yang harus mengupayakan kesembuhan Ken demi kembalinya ingatan pada keluarganya.
Fisik Ken memang sudah sembuh tapi tidak pada ingatannya, selama satu minggu ini Ken rutin melakukan terapis untuk memulihkan ingatan. Dimulai dengan foto-foto bersama keluarga. Barang-barang berharga yang dapat memicu ingatannya. Tapi semuanya tetap memakai waktu, tidak bisa memaksa sekaligus untuk mengingatnya.
Dalam satu minggu ini Dewi dan Zee hampir setiap hari mengunjungi Apartemen Kei.
Seperti beberapa minggu lalu yaitu menjadi penyemangat dan juga untuk menghibur Kio.
Beruntung Kio tidak bersikap berlebihan, bahkan bocah itu sudah lebih mandiri dalam merawat dirinya sendiri.
Dia mau menjaga Kyura saat mommy nya tengah memasak atau sedang mandi.
Babysister yang menjaga Kyura di rumah Ken sedang mengambil cuti, keduanya akan datang ke Apartemen Kei nanti sore.
Semua fasilitas tentu menggunakan kartu debit milik Lee, karna mami Lyra pun tidak bisa mencairkan uang dalam jumlah banyak karna Ken memeriksa pengeluarannya.
Disaat Kei pergi pun tidak membawa apapun, bahkan tas kecil yang dilemparkan Ken waktu itu tidak dibawanya. Semua baju ganti dibelikan oleh Lee. Sungguh jasa Lee sangat besar.
Dewi pun tidak merasa keberatan, karna semua yang dilakukan untuk membantu sahabatnya. Meski budget yang harus dikeluarkan bukan sedikit tapi Dewi yakin Tuhan pasti memberi rezeki.
Mami Lyra juga membantu sekedarnya, sama halnya dengan Herlambang yang juga ikut membiayai sekolah cucunya. Karna Kio sudah mulai mendaftar untuk masuk sekolah tingkat Paud/Taman Kanak-kanak.
"Ciluk.. Ba.." Kio mengajak adiknya bermain. Bocah itu tengah menjaga Kyura, sedangkan Kei tengah memasak.
Kyura pun nampak tenang bermain bersama kakaknya.
Kei tersenyum memandang Kio yang mulai ceria. "Kak Io mau dibuatkan apa untuk makan siang?" tanya Kei.
__ADS_1
Biasanya Kio selalu pemilih menu makanan yang akan dimakannya, maka dari itu Kei lebih dulu bertanya.
"Terserah Mom saja." jawab Kio tanpa mengalihkan pandangannya.
Kei berjalan menuju lemari pendingin untuk mengambil bahan makanan yang akan dimasak. Ketika membuka kulkas, ternyata hanya ada sedikit bahan makanan, terang saja dia lupa untuk berbelanja kebutuhan dapur.
"Io, dikulkas bahan makanan sudah habis. Hanya tinggal sayuran sup. Io mau nggak?" Kei masih berdiri didepan kulkas.
"Iya Mom, Io mau." jawabnya.
"Yakin?" tanya Kei memastikan. Biasnya Kio paling susah jika makan sayuran. Dia lebih suka olahan daging atau ayam.
Di Apartemen tidak begitu banyak mainan, hanya beberapa mainan saja yang Lee bawa dari rumah Ken. Itu pun harus sembunyi-sembunyi.
Mami Lyra jarang menemui mereka, kesehariannya disibukan mengurus Ken karna Ken sendiri belum diperbolehkan pergi ke kantor.
"Nanti siang kita pergi ke Mall ya, buat beli bahan makanan." kata Kei.
"Hore... asik.. Io mau beli eskrim."
"Io mau beli mobilan besar." pinta Kio lagi.
Kei menghembuskan napas. Sedikit berpikir tentang permintaan Kio, uangnya pasti tidak cukup jika membeli mobilan seperti yang di mau Kio. Biasanya Ken membelikan mainan mobilan seharga puluhan juta. Saat ini hanya memegang berapa saja.
Melirik mommynya yang terdiam, Kio langsung berubah pikiran. "Io bosan sama mainan mobilan, Io nggak jadi beli." Kio membatalkan keinginannya. Bahkan selama tinggal di apartemen dia tidak menanyakan tentang ayahnya. Terkadang Kei yang suka memancing untuk membahas Ken agar Kio tidak salah paham dengan sikap ayahnya.
Kei sudah menyelesaikan masakannya, lalu menghidangkan dimeja makan dan disana ada Kio dengan Kyura.
Kei mengambil nasi untuk Kio, bocah itu dengan pandai sudah bisa makan sendiri.
Kyura dibiarkan bermain sendiri dengan mainannya.
"Io suka tinggal disini, Mom. Tidak ada Paman pengawal, seperti dirumah Da..." Kio menghentikan panggilannya.
__ADS_1
Kei sendiri berhenti mengunyah makanan dan menatap lekat pada wajah putranya yang langsung menunduk.
"Io Sayang, Mom boleh bertanya?"
"Apa Io benci Daddy? apa Io masih marah dengan Daddy?"
Kio lebih menunduk dan tidak mau menjawab.
"Sayang, Mom sudah katakan, Daddy sedang sakit. Semua yang dikatakan Daddy jangan dipercaya dan jangan dimasukan kedalam hati. Bagaimana pun Daddy tetap ayahnya Io dan adik bayi." bukan hanya sekali dua kali Kei memberi pengertian, tapi dirinya juga tidak bisa memaksa Kio untuk menahan kemarahan. Kio belum bisa memahami apa yang terjadi.
"Io hanya ingin melupakan Dad." Kio bersuara dengan lirih. Kei terkejut mendengar penuturan Kio barusan.
"Tidak Sayang, Io tidak boleh melupakan Dad." Kei menggeleng, sama sekali tidak setuju.
"Kenapa Mom? Dad saja melupakan Io, kenapa Io tidak boleh melupakan Dad? Dad sudah tidak sayang dengan Io dan adik bayi. Dad tidak pernah datang kesini."
Sudut mata Kei menggenggam airmata, batinnya teriris mengetahui Kio ingin melupakan Daddynya. Kio pasti sangat kecewa setelah Ken mengusirnya.
Meyakinkan hati Kio yang sudah terlanjur kecewa tidaklah mudah, butuh kesabaran dan ketekunan untuk memberi pemahaman.
Baru satu minggu ia melewati ujian ini, lalu bagaimana jika ingatan Ken bisa sembuh dengan jangka waktu enam hingga sembilan bulan. Bagaimana jika Kio semakin benci dan benar-benar melupakan ayahnya?
Tubuh Kei mendadak lemas, membayangkan semuanya begitu rumit. Bukan hanya itu saja, apakah semala itu juga dia harus bergantung pada orang lain? akan terus merepotkan orang lain?
"Sayang, Mom sudah bilang kalau penyakit Daddy sudah sembuh, dia akan menjemput kita. Io yang sabar ya,"
Mereka melanjutkan makan sampai habis setelah itu bersiap untuk pergi ke Mall.
Kei hanya perlu mengambil tas kecil dan mereka sudah bersiap untuk keluar dari apartemen.
Pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Kei melangkah keluar rumah tanpa adanya pengawal yang berjaga.
Seolah dia telah terlepas dari sangkar emas yang membelenggu kebebasannya.
__ADS_1
Kei bisa menghirup udara bebas tanpa perasaan was-was. Segala tingkahnya tidak ada yang mengawasi ataupun melarang. Bebas, apapun yang dilakukan sekarang sudah bebas.
Meski begitu entah ada apa dengan dirinya merasa ada yang kurang, mungkin kehadiran Ken. Lelaki yang amat dia rindukan selama satu minggu tidak bertemu. Selepas pengusiran itu Kei belum pernah bertemu atau pulang ke rumah Ken. Berdiam diri di Apartemen bersama anak-anaknya. Meski pun rindu, tapi tak ada yang bisa dilakukan. Dia tidak bisa bertemu dengan Ken.