Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Martabak Isi Kacang Hijau.


__ADS_3

Dimalam ini ada sekretaris Lee dan Dewi yang sama-sama merasa bahagia, tapi dilain tempat sedang terjadi perdebatan sengit antara suami posesif dan istri manjanya. Sikap manja yang baru muncul setelah dinyatakan hamil.


"Baby, kau yakin?" Ken bertanya. Kei menganggukkan kepala, bibirnya dimajukan seperti anak kecil yang sedang manja. "Ini sudah jam 11malam." Tuan Ken hanya mampu mengedip-ngedipkan mata, semoga istrinya membatalkan keinginannya. Mereka tadi sudah terpejam, tapi tiba-tiba Kei terbangun dan merengek ingin makan martabak kacang hijau. Bukan masalah jenis makanannya, seperti biasa Ken kebingungan karna Kei menginginkan dirinya yang membuat.


'Hei.. kenapa anakku menginginkan sesuatu yang menyulitkan seperti ini? apa seperti ini perjuangan menjadi seorang ayah. Jika ada obat penangkal bagi ibu hamil yang ngidam aneh-aneh begini, aku pasti akan membelinya.' Ken terdiam, menggaruk rambutnya yang sudah kembali seperti semula. Bukan seperti rambut jaman old dengan belahan tengah seperti model rambut jaman penjajahan.


"Katanya mau jadi calon ayah yang siap siaga? aku sangat ingin sayang, kamu nggak mau bikinin?" Kei menggunakan jurus merengek. "Tapi aku tidak bisa membuat martabak isi kacang hijau, jangan 'kan pakai isi, yang polos saja tidak bisa." bukan karna Ken tidak ingin membuatkan, tetapi memang tidak bisa. Seseorang pemilik perusahaan Taisei Company dengan anak cabang tersebar dimana-mana biasa mengurus berkas, mengecek laporan keuangan, menghitung kekayaan yang setiap menitnya bertambah tentu tidak pernah menjejakkan kakinya didapur. Semua yang diinginkan tersedia, lalu semenjak istrinya hamil muda dia harus menjadi koki dadakan setiap saat. Apalah Ken menyukai profesi barunya? tentu saja, tidak! dia sangat benci berada didapur. Apalagi saat memilih bumbu-bumbu yang membuatnya kebingungan karna bumbu dapur dirasa banyak yang kembar.


"Tidak pa-pa, bikin martabak itu enak nggak susah dan sebentar saja sudah matang." Kei membujuk agar suaminya itu lekas beranjak. "Hem...baik. Kau disini saja, biar aku yang buat sendiri." perintah tuan Ken, dia tidak ingin Kei ikut turun dan kedinginan. "Kau tidur lagi saja setelah martabaknya sudah matang, aku akan membangunkan mu." kata Ken lagi.


"Tidak! aku ikut turun. Ingin melihat suamiku membuat martabak." pinta Kei.


"Tidak baby, kau tidak boleh ikut turun. Lebih baik istirahat lagi, setelah matang aku akan membangunkanmu. Ibu hamil tidak bagus jika begadang. Oke..."


"Aku tetap ingin turun! titik." apa yang bisa tuan Ken katakan, semua perintah dan perkataanya selalu dibantah. Dia benar-benar bingung, apa semua ibu hamil memang mengidam seperti ini? Ken turun dari ranjang dan berjalan menuju keruang ganti, tidak lama sudah keluar dengan membawa jaket tebal dan memakaikan pada tubuh istrinya. Kei tersenyum lebar, "Terima kasih calon ayah." ucap Kei.


"Bukan ayah, tapi Deddy." tuan Ken meralat panggilannya, ketika anaknya sudah lahir dia akan lebih senang dipanggil dengan sebutan Deddy. "Oke... terserah kamu saja, sayang."

__ADS_1


Kaki Kei turun memakai sendal rumahan, baru saja ingin berdiri tapi tuan Ken sudah menggendongnya. "Sayang...!" pekik Kei yang kaget saat tiba-tiba tubuhnya melayang.


"Kau jangan banyak bergerak, nanti kelelahan!" sergah Ken. Dia berjalan kearah pintu, menyuruh Kei untuk memutar handel karna tangannya sendiri sedang memegang tubuh Kei dengan era. Menuruni anak tangga dengan pelan, "Besok aku akan menyuruh orang untuk memasang Lift biar istriku ini tidak lelah naik turun tangga."


"Apa itu tidak berlebihan?" tanya Kei. "Tidak, siapa bilang itu berlebihan! aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu." tuan Ken tidak akan membiarkan istrinya bergerak sedikitpun, over protective-nya tetap melekat.


Sampai didapur Ken menurunkan Kei dikursi, "Kau tunggu sebentar baby. Aku akan membangunkan 2koki untuk bertanya bahan-bahan." selesai berkata Ken sudah hilang dibalik pintu dapur.


Ken mengetuk pintu kamar 2kokinya dengan keras, sudah pasti penghuni rumah sudah terlelap. Tidak lama pintu itu terbuka. "Ada apa sih, malam-malam mengganggu!" Desti salah satu koki yang membuka pintu, dengan sedikit kesal membentak seseorang yang sudah mengganggu tidurnya.


"Berani kau membentakku!!" Ken balas membentak, tentu saja mata Desti yang tadinya terasa berat itu kini terbelalak karna yang mengganggu tidurnya itu ternyata tuan Ken. Jika dia tau itu tuan Ken, mana berani dia melayangkan bentakan. "Tu-tuan... mohon maafkan saya. Saya tidak tau jika itu anda." Desti meminta maaf dan menundukkan kepalanya. Tuan Ken masih menatap tajam. Meski dengan Kei sudah jinak, tetapi dengan orang lain tuan Ken tetaplah tuan yang dingin dan ganas.


"Istriku menginginkan martabak kacang hijau, kau harus membantu membuatnya." perintah tuan Ken.


"Baik tuan."


Ken lebih dulu berjalan kembali kedapur, saat kembali tenyata Kei sudah tertidur dengan menaruh lengan tangannya diatas meja sebagai bantalan. Ken hanya menggelengkan kepala, baru berapa menit ditinggal sudah terlelap.

__ADS_1


"Tuan..." 2koki, Rina dan Desti sudah menyusul. " Ssttt... jangan keras-keras! istriku sedang tidur!" Ken memperingati kedua kokinya. Keduanya mengangguk mengerti.


"Sekarang kemarilah, buatkan martabak isi kacang hijau." titah Ken, dia sudah duduk didepan Kei. Ada untungnya juga istrinya itu kembali tidur, dia bisa menyuruh kedua koki yang akan membuat martabak itu.


"Kalian harus melakukannya dengan cepat sebelum istriku terbangun!" kata tuan Ken. "Baik tuan." keduanya menjawab serempak, dengan cekatan menyiapkan segala bahan yang dibutuhkan.


20menit terlelap, Kei merasakan pinggang dan tangannya yang pegal, matanya terpaksa terbuka. Didepannya ternyata tuan Ken juga ikut tertidur, dengan segera Kei menegakkan tubuhnya. "Sayang... bangun!!!!!!!!" Kei berteriak. Ken yang terkejut langsung terbangun. "Ada apa Baby? kau mau apa? apa perutmu sakit?" tuan Ken yang belum sepenuhnya sadar mengajukan beberapa pertanyaan, dia sangat kaget saat Kei berteriak dengan keras.


"Aku tadi menyuruhmu membuat martabak, kenapa malah tidur disini!" Kei terlihat kesal. "Maaf Honey, aku ketiduran." tuan Ken meminta maaf, agar Kei tidak terlihat kesal.


"Desti, Rina! menjauhlah, biar suamiku yang bikin martabaknya. Aku hanya mau makan martabak buatan suamiku bukan yang lain. Titik!" menyilangkan tangan didepan dada, diwajahnya terlihat kekesalan.


"Ini sudah mateng nona, martabaknya." Desti membawa piring berisi martabak yang baru saja selesai dibuat. Tampilannya sungguh sangat menggugah selera. Tetapi sama sekali tidak menggugah selera ibu hamil itu, Kei menggelengkan kepala.


"Pokonya aku hanya ingin makan martabak buatan suamiku....!!!" Kei bertambah kesal.


"Oke Sweety, jangan marah-marah. Aku akan buatkan lagi untukmu. Ken beranjak berdiri didepan kompor api, menyiapkan alat tempur didapur. Beruntung sisa adonan masih ada, jadi tidak perlu membuat adonan bahan lagi.

__ADS_1


Dengan dipandu Rina dan Desti, tuan Ken mulai membuat martabak isi kacang hijau untuk tuan putri manjanya.


__ADS_2