Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Bukan Waktu yang Tepat


__ADS_3

Pukul 6.30 Akio baru menginjakan kaki di istana megah orang tuanya. Pria itu langsung disambut oleh sang mommy dan oma Lyra. Kedua perempuan yang berbeda usia terlihat mengenakan pakaian rapi.


"Ada acara apa, Mom, Oma, sudah rapi begini?" tanya Akio melihat Mommy Kei dan oma Lyra bergantian.


"Kita akan makan malam bersama keluarga paman Lee," jawab Kei.


Akio mengerut. "Bukannya satu Minggu lalu udah? Bikin acara lagi?"


"Kan yang lalu nggak jadi. Kamunya nggak ada. Makanya diganti sekarang."


Mendengar itu hati Akio mendadak gelisah. Makan malam yang dikatakan gagal pada Minggu lalu membahas tentang kebersamaanya bersama Zee. Lalu malam ini, kemumgkinan akan membahas topik yang sama? Sama-sama membicarakan kebersamaannya bersama Zee, atau membahas perjodohannya. Oh no! Dia belum siap.


Mendapat mandat dari Kei untuk membersihkan diri dan bersiap, Akio melangkah ke kamarnya dengan gamang dan pikiran kacau. Kenapa tiba-tiba dirundung dilema.


Waktu terus bergulir. Keluarga Ken sudah berkumpul di ruang tamu, kecuali Akio. Pria itu berdalih belum selesai bersiap. Padahal lebih tepatnya malas untuk bersiap.


Lee, Dewi, dan Zee sudah turun dari mobil. Satu adik Zee, Alvaro tidak ikut karena ada acara sendiri dengan teman-temannya untuk mengerjakan tugas. Itu tidak masalah.


Ken tidak begitu meyambut Lee, baginya, kedatangan Lee sendiri sudah seperti rutinitas setiap harinya. Maka dari itu, Ken tidak perlu menyambutnya lagi.


"Koi, sebentar lagi kita akan berbesan, kau tidak menyambutku?" ujar Lee dengan senyum simpul.


"Tupai sialan! Kenapa aku harus menyambutmu! Rumah ini sudah tidak ada privasi karena setiap hari kau sudah memasukinya."


Lee tersenyum menanggapi wajah kesal Ken. Dia sedikit tenang karena telah lewat dari jam kerja. Maka bebas bersikap tidak formal pada Ken.


Tak jauh dari mereka, Zee menuju Kyu. "Kyu, kenapa Kak Io nggak turun untuk menyambut?"


"Kak Io baru pulang 20 menit lalu, mungkin belum selesai bersiap."


"Baru pulang 20 menit lalu? Tapi pas pulang dari mall, Kak Io nggak mampir ke rumah. Zee kira kakak kamu langsung pulang."

__ADS_1


"Kak Io mampir ke cafe dulu tadi."


Obrolan masing-masing terhenti saat Akio terlihat menuruni anak tangga. Dari semuanya, hanya Zee tanpa berkedip memandangi pria yang diklaim sebagai pangerannya. Kak Io perfect banget. Jadi panas dingin gini.


"Selamat malam, Paman Lee, Tante Dewi." Akio menyapa dan mengambil duduk di depan orang tua Zee.


Dua kelurga itu berbincang-bincang ringan sebelum memulai pembahasan inti.


"Io, kamu pasti sudah tahu apa pembahasan kita malam ini. Dad ingin memastikan kembali kedekatanmu dengan Zee." Ken memulai pembicaraan serius. Semua mendengar dengan seksama.


"Kemarin kita bicara tanpa adanya kamu, hubungan kalian akan kejenjang serius. Kami sepakat, kamu dan Zee bertunangan satu bulan lagi."


"Apa?!" Bukan lagi mengejutkan, Akio sampai membatu beberapa detik. Mencerna ucapan Daddy Ken sungguhan atau dia salah mendengar. Satu bulan lagi?! Oh my God?


"Dad, tiga bulan lagi kita akan ujian akhir. Menurut Io itu bukan waktu yang tepat." Akio berusaha menolak secara halus. Hatinya sungguh dilema.


Ken nampak berpikir, mengabsen semua orang yang ada di sana. "Kemarin kita sudah sepakat. Io, kamu dan Zee hanya bertunangan lebih dulu. Untuk pernikahan, kalian bebas menentukan kapanpun. Itu keputusan kita kemarin."



"Sayang ...." Dewi masuk setelah mengetuk pintu. Netranya disuguhi tubuh Zee yang berbaring di atas tempat tidur. Dia mendekat dan duduk di sampingnya. Tak lupa mengelus rambut lebat Zee dengan gerakan pelan. Berharap membuat Zee lebih tenang.


"Ma ...." Zee bangkit dan memeluk tubuh mamanya.


"Akio sudah menyetujui, kenapa masih nangis?"


"Kak Io setuju, tapi Zee melihat Kak Io seperti terpaksa."


Dewi mengambilkan tisu untuk menghapus air mata putri sulungnya. Perempuan itu mengulum senyum teduh. "Reaksi Akio tadi hanya syok, Sayang. Buktinya, di akhir dia sudah setuju."


Zee menarik napas dan mengembus perlahan. Benarkah reaksi Akio tadi hanya karena pria itu terlalu terkejut, tetapi dia tetap kecewa dengan sikap Akio yang tidak antusias memberi jawaban. Bahkan terkesan terpaksa. Atau ... sungguhan pria itu terpaksa?

__ADS_1



Akio bergulungan di atas tempat tidur. Sangat susah memejamkan mata padahal dia merasa lelah dan ingin segera istirahat.


Dia bangkit dan mengacak rambut. "Satu bulan itu sangat mepet. Kenapa mereka mengambil keputusan begitu saja tanpa berunding denganku. Bahkan aku nggak ada planning untuk menikah muda. Mereka terlalu terburu-buru!" desis Akio.


Dia kembali merebahkan tubuh, mencoba melupakan kerumitan pikirannya. Namun, justru bayang wajah Naya ketika terpejam membuatnya kembali bangkit. "Sial!" umpatnya.


Apa yang ada pada Naya terlintas dengan jelas. Begitu dengan suara lirih yang membuatnya menagih. "Damn it! Damn it! Aaargghhh!"


Pagi hari.


"Kak Io! Kak ...!"


Suara Kyunara begitu memekakkan telinga, membuat pria yang terlelap di bawah selimut itu terganggu. Akio membuka selimut sebatas dagu. Memandang Kyu dengan sebal. "Apa sih! Ini masih pagi buta, Kyu! Berisik!" omelnya.


Kyu menyengir tanpa dosa. "Nomor Kak Zee kok nggak aktif, Kak. Aku ada perlu dengan Kak Zee buat konsultasi urusan cewek."


"Ah, nggak tahu. Lagian ini masih jam segini, pastilah belum bangun."


"Jam segini, jam segini. Liat Kak, ini udah jam 7 kurang 5 menit."


"Hah?" Akio membuka mata lebar-lebar. Ruang kamarnya belum terang, alias tak ada cahaya masuk, yang dia pikir masih pagi buta. "Astaga ... Kakak ada kuliah pagi." Pria itu melompat kalang kabut untuk masuk ke kamar mandi.


"Tumben Kakak bangun kesiangan. Biasanya selalu on-time." Kyu meninggalkan kamar kakaknya dengan keadaan manyun, sambil mengecek ponsel siapa tahu nomor Zee sedang online. Tapi tidak!


Ketika Akio bertemu dengan Zee di kampus, perempuan itu hanya memasang senyum kilat. Lalu berjalan lebih dulu tanpa menunggu atau menggandeng tangannya seperti hari-hari lalu.


Di sisi lain, netra Akio tak sengaja memandang Naya yang juga berjalan mengarah ke kelas mereka. Tak ada tegur sapa, mereka benar-benar seperti orang asing kendati keduanya telah melewati kedekatan pada malam itu.


Dalam benak Naya ikut heran melihat Zee yang justru terkesan cuek dengan keberadaan Akio. Bukankah selama ini Zee lebih lengket ke pria itu. Atau mereka sedang marahan? Ah, apa pedulinya. Untuk berapa detik tatapannya berbalasan dengan Akio, membuat Zee yang menoleh ke belakang mengerut.

__ADS_1


Kenapa tatapan Kak Io berbeda? Uh tidak-tidak! Mereka nggak saling kenal, mana mungkin Kak Io ....


Akio mengakhiri tatapan pada Naya karena tahu Zee menoleh ke arahnya.


__ADS_2