
Sudah terlalu lama tuan Ken meninggalkan urusan kantor. Lelaki itu berjalan menuju ruangannya, ada sesuatu yang harus diurus. Pagi-pagi sekretaris Lee sudah membawakan pakaian formal untuk dikenakan tuan mudanya.
Ceklek...
sekretaris Lee membukakan pintu, tuan Ken segera masuk dan duduk dikursi kebanggaannya, mengambil kertas-kertas yang tersusun rapi dan akan dibubuhi tanda tangannya.
"Kau masih memantau Deny?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan, fokus dengan goresan pena diatas kertas.
"Masih tuan muda. Deny sedang mengurus visa, dia akan pindah ke Singapore." jawab Lee.
"Hem... biarkan saja. Jika dia membuat ulah lagi, kita akan bereskan." tuan Ken tidak melaporkan tindakan Deny kepihak berwajib, ia hanya memberi pilihan agar Deny pindah ke negara lain.
"Baik, tuan muda."
Dirumah sakit.
Kei nampak bosan hari-hari dilalui hanya dengan berbaring, bahkan untuk melihat indahnya fajar menyongsongpun ia tak bisa lakukan. Dokter menyuruhnya untuk bet rast tidak melakukan apapun, tidak boleh bergerak sedikitpun. Menghela nafas yang semakin sesak, rasanya seperti mayat hidup yang tak bisa melakukan apapun.
Perawat datang membawa troli sarapan pagi, tersenyum kearah nona muda itu. "Selamat pagi, Nona Kei." sapanya dengan ramah.
"Pagi, Sus." Kei membalas sapaan itu.
Setelah perawat itu mendekat, ia menyusun meja kecil diatas tubuh Kei dan menata makanan diatasnya. Ia masih berdiri disana, tuan Ken menyuruhnya untuk mengawasi Kei sampai istrinya itu menghabiskan makanannya.
Tak lama ada 2 dokter perempuan masuk, melakukan hal yang sama seperti perawat tadi, menyapa dengan ramah dan mendekat keranjang Kei.
__ADS_1
"Sepertinya kondisi Nona sudah mulai pulih, gerakan bayinya juga normal. Sudah tidak ada yang anda dikeluhkan?" tanya dokter yang masih muda, dari name tag bernama Sofia.
"Tidak ada dok, hanya satu yang saya keluhkan." kata Kei cemberut, tersiksa dengan keadaan.
"Anda mengeluhkan apa?" tanya dokter Sofia.
"Saya bosan, jenuh terus-menerus berbaring dok. Pinggang saya seperti mati rasa, mata saya juga gatal ingin melihat pemandangan luar." keluh Kei. Dokter Sofia dan yang lain tersenyum mendengar keluhan nona muda itu.
"Iya Nona, itu sudah wajar dikeluhkan setiap pasien yang berbaring berhari-hari. Mereka pasti jenuh, bosan karna tidak ada aktivitas lain." jawaban dari dokter Sofia tidak membuat lega, Kei sangat kesal.
"Apa aku boleh keluar ke Taman depan? aku ingin melihat pemandangan diluar." pinta Kei. Ia sangat berharap dokter itu memberi izin. Meskipun hanya ditaman rumah sakit, setidaknya ia bisa menghirup udara segar dan memanjakan matanya dengan bunga-bunga berjajar indah.
Kedua dokter itu saling pandang, bingung dengan permintaan nona muda itu. Apakah harus memberi izin atau tidak. Mereka harus menimbang keputusan dengan matang, ia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Nona muda itu seperti ratu kerajaan yang harus dijaganya dengan segenap jiwa, jika terjadi hal sedikit saja maka nyawanya yang akan menjadi taruhan.
Bahkan untuk memberi keputusan tentang permintaan kecil itu, mereka menghubungi dokter yang lain agar ikut memberi keputusan. Setelah berdiskusi selama setengah jam, akhirnya mereka memberi izin dengan syarat mereka akan menemani.
Mereka sudah berada di Taman rumah sakit. Senyum Kei semakin cerah, memejamkan mata menikmati semilir angin dan menghirup harum bunga-bunga. Seperti itu saja sudah membuat nona muda yang dikurung dalam sangkar mas itu merasa bahagia. Bisa menikmati pemandangan indah, langit cerah, kulit pucatnya bisa merasakan hangatnya mentari.
Berapa lama dalam posisi itu, hingga matanya yang terpejam terpaksa terbuka karna mendengar suara yang tidak asing.
"Bagaimana bisa istriku berada disini!!" tuan muda itu sudah datang. Menatap tajam para perawat dan dokter, terlihat jelas kemarahannya. Sekretaris Lee ikut menatap tajam, seolah menyalahkan tindakan dokter itu yang memberi izin nona Kei keluar.
"Ma-maaf tuan, kami sudah mendiskusikan hal ini kepada dokter lainnya. Kondisi nona Kei sudah berangsur membaik, untuk itu kami berani membawa nona Kei kemari." dokter Sofia menjelaskan dengan pandangan menunduk, tidak akan berani menatap tuan Ken.
"Jika terjadi sesuatu pada istriku, kalian akan menanggung akibatnya!" ancaman yang terdengar mengerikan. Tuan Ken tidak pernah main-main dengan ucapannya.
__ADS_1
"Baik tuan, kami minta maaf. Tidak akan mengulangi hal ini lagi." mereka menunduk takut.
"Hei apa-apaan.. baru saja bisa menghirup udara segar, begitu sudah dilarang. Sayang, kau jangan berlebihan." Kei merengek.
"Honey, kau lupa? harusnya tidak membantah perintahku?" tuan Ken tidak akan memarahi istrinya. Meski kesal, ia mengatakan dengan kelembutan. Tuan Ken duduk dikursi panjang yang ada dihadapan istrinya.
"Aku jenuh." kata Kei singkat, raut wajahnya menunjukkan kekesalan. Menghembuskan nafas kasar.
"Kau boleh duduk disini tapi hanya denganku, dengan pengawasanku. Aku tidak mau mengambil resiko lagi, Honey." tuan Ken menggenggam tangan Kei.
Dokter dan perawat itu mengamati pasangan sultan didepannya. Hati mereka yang meronta-ronta karna iri, baginya itu sweet sekali.
"Hem... kalian, tunggulah disana." sekretaris Lee memberi perintah agar menunggu dideretan kursi panjang yang sedikit jauh. Mereka mematuhi dan segera berpindah. Bagi Lee pemandangan seperti itu sudah biasa, bahkan melihat adegan ciuman langsung juga sudah sering. Tapi untuk orang lain tentu menimbulkan pemikiran tersendiri, untuk itu sekretaris Lee menyuruh mereka menjauh.
Sekretaris itu terlihat santai berdiri dibelakang tuan dan nona mudanya.
"Sayang, kau tau?" kata Kei.
"Tau apa?" tanya tuan Ken tidak mengerti.
"Seperti ini saja membuatku senang, aku bisa melihat pemandangan luar. Menghirup udara segar, tanpa menghirup bau obat-obatan."
"Jika begitu, aku akan membawamu kesini setiap pagi." kata tuan Ken.
"Benarkah?" Kei memastikan. Tuan Ken mengangguk, melihat istrinya bisa tersenyum senang membuatnya ikut senang.
__ADS_1
'Untuk saat ini aku harus mengurungmu seperti burung, memberi pengawasan extra. Tapi aku berjanji, setelah anak kita lahir, kondisimu baik-baik saja aku akan membawamu ketempat yang indah. Membawamu mengelilingi dunia, untuk saat ini bersabarlah demi calon anak kita. Bukan hanya dirimu yang merasa jenuh dan sedih, bahkan aku sangat sedih tidak bisa melihat senyum kebahagiaanmu seperti dulu.' batin tuan Ken. Didalam hati merasa kasihan dengan ketidakberdayaan Kei yang tidak bisa melakukan apapun yang ia inginkan, tapi itu semua demi kebaikan istri dan calon anaknya. Hanya tinggal menunggu sebentar lagi, maka belenggu itu akan terlepas.