
Satu bulan berlalu. Kini tiba waktunya pertunangan Zee dan Akio berlangsung. Ken mengadakan acara itu di hotel miliknya, dia juga mengundang beberapa kolega bisnis untuk menyaksikan hari bahagia putra sulungnya dengan putri sekretarisnya sendiri.
Namun, tak ada satupun teman Zee atau teman Akio yang hadir. Pesta tunangan itu digelar private. Seperti itu permintaan Akio. Zee tidak bisa menolak, baginya perkataan Akio seperti titah yang tak bisa diganggu gugat.
Akio begitu tampan menggunakan jas putih tulang yang sangat pas membalut tubuhnya. Begitupun dengan Zee menggunakan gaun berwarna senada. Keduanya dipuji sangat serasi.
Riuh tepuk tangan menjadi penghantar keduanya pada saat penyematan cincin.
Acara berjalan lancar, Akio dan Zee berfoto bersama sebagai bukti pertunangan mereka. Akio berusaha menebar senyum meski hatinya bertolak belakang.
Lee melempar senyum simpul ke arah Ken. Lalu berkata, "apa yang aku takutkan terjadi."
"Tenang Lee, separuh pasal-pasalku gugur kalau Kei dan Kio melarangnya." Ken menjawab tanpa melirik sedikitpun. Dia fokus pada objek di depannya.
•
Di cafe.
Alfin sedang berbincang dengan salah satu pelayan pria. Dia menyodorkan ponsel seolah sedang memberitahu sesuatu pada orang itu.
"Malam ini momen spesial si Bos. Lihat, mereka serasi sekali, bukan?"
"Jadi tunangan juga dengan anak sekretaris daddy -nya. Tapi kalau mereka berdua mah serasi banget," tanggap yang satunya.
"Sayang kita nggak dikenankan hadir. Tuan Kendra Kenichi membatasi tamu yang di undang. Bahkan denger-denger, nggak ada media yang boleh ambil gambar. Benar-benar dibuat private."
"Kamu yang menjadi kepercayaan Tuan Muda Akio saja nggak diundang, apalagi staf bawahan sepertiku. Lewaaat." Sosok pria itu mencebik.
Naya yang kebetulan lewat mengerutkan kening mendengar dua orang itu menyebut nama Tuan Muda Akio. Akio ... mengingatkannya pada pemuda yang berhasil membuainya. Ugh, Naya menggeleng pelan. Sejak kejadian waktu itu, seolah dia sensitif begitu mendengar tentang nama Akio. Padahal di antara mereka tak bertegur sapa sama sekali selama satu bulan terakhir.
Tiba-tiba Naya sedikit oleng, lalu dengan sigap Alfin menangkap kedua lengannya. "Naya, kamu kenapa?"
__ADS_1
Akhir-akhir ini Alfin terang-terangan menunjukan perhatian kepada Naya. Itu bukan permintaan Akio, tetapi impulsif dari diri sendiri. Yah, mendapat mandat dari Akio untuk memberi tumpangan setiap malam kepada Naya, hal itu justru menumbuhkan perasaan suka.
Alfin terang-terangan menunjukan rasanya, tetapi di tolak oleh Naya. Perempuan itu beralasan tidak pernah berniat pacaran karena hal itu dapat memengaruhi studi-nya.
Naya menarik diri dari Alfin. "Saya nggak kenapa-kenapa, Pak. Cuma sedikit berkunang." Naya jujur, karena kepalanya memang berat dan terasa berdenyut.
"Kamu sakit? Sebaiknya izin pulang aja. Sebentar lagi jam kerja juga selesai."
Naya menggeleng. "Enggak, Pak. Biar saya selesaikan pekerjaan saya dulu."
•
Sebelum jam kuliah dimulai, semua dibuat heboh dengan unggahan foto Zee di story whassAp. Foto yang menampilkan dua jari yang masing-masing terpasang sebuah cincin couple memiliki arti sebagai pasangan.
Di situ tertulis. 'Hari paling membahagiakan. Semoga diberi kelancaraan sampai sah di depan penghulu.'
Kalimat itu tentunya membuat penasaran sekaligus berita paling menghebohkan selama hari itu berlangsung.
"Zee, kamu post story bikin orang penasaran."
"Jangan-jangan kamu dan si tampan yang jadi peran utama itu?"
Zee menghendikan bahu dan tersenyum simpul.
Naya yang duduk di bangkunya bisa jelas mendengar lontaran puluhan kalimat dari teman-temannya yang mengerubungi Zee.
Dia yang tak luput dari rasa penasaran ikut membuka profile Zee dan mengecek berita heboh pagi itu. Bahkan foto itu dibuat foto profile.
Tak selang lama, Akio yang terlihat baru datang memasang wajah dingin. Pria itu mendekati Zee dan berbicara pelan. "Zee, ikut aku."
Zee mengikuti langkah Akio menuju taman kampus. Mencari tempat longgar yang lumayan berjarak dengan mahasiswa lainnya.
__ADS_1
"Kak, ada apa?"
"Kita udah sepakat nggak akan post apapun di sosial media. Tapi kamu melanggar," sungut Akio.
Zee mengerutkan kening dalam. "Tentang Story whassApp? Kan cuma jari kita yang terpasang cincin, Kak. Bukan terang-terangan foto kita," ujarnya sedikit bergetar. Melihat tatapan Akio tanpa keteduhan seperti biasanya. Lalu kenapa hanya dengan mem--post foto jemari, Akio terlihat marah.
Memang, mereka berdua telah sepakat untuk tidak mengunggah apapun foto terkait pertunangan mereka. Bukan alasan istimewa, Akio berdalih tidak suka bila pertunangannya menghebohkan kampus dan masyarakat.
"Anak-anak jelas heboh dengan story whassApp--mu. Apalagi kamu menyertakan kata 'hari paling membahagiakan. Semoga lancar sampai sah di depan penghulu.' Dari kata-kata yang kamu tulis, mereka dengan mudah menebak sesuatu yang terjadi." Akio berkata dengan nada mengintimidasi, membuat Zee duduk lemas di bangku panjang yang tak jauh dari posisi mereka.
Zee menunduk. Tangannya merogoh tas guna mencari ponsel dan membuka fitur whassApp. Secepat itu dia menghapus foto yang diunggah. "Su-sudah aku hapus, Kak. Zee janji nggak akan post apapun lagi. Apalagi terkait foto pertunangan kita." Dia menunjukan ponselnya di depan Akio, memberi bukti bahwa dia benar-benar telah men--delete foto unggahannya.
Akio bergeming melihat ponsel Zee, pria itu menelan ludah dengan susah payah. Dia telah berhasil membuat mata Zee berkaca. Apa aku keterlaluan?! Aghrrr ...
Zee bangkit sambil mengucap satu kata, "maaf." Namun tidak berani beradu pandang dengan netra Akio. Dia berjalan melewati begitu saja tanpa berkata lagi. Terlalu kecewa dengan sikap Akio yang menurutnya aneh. Atau ... sikapnya berhasil membuatnya sakit.
"Zee! Tunggu Zee!" Akio berusaha memanggil, namun Zee tidak menoleh dan berjalan menuju arah beda dengan kelas mereka. Sepertinya pergi ke toilet.
Akio mengusap wajah kasar. Lalu mendekus. Inilah sikap Zee yang sering membuatnya kerepotan. Benar-benar harus sabar dan penuh kehati-hatian saat berkata dengan gadis--cerewet namun mudah baper itu.
Akio tidak mengejar Zee, memilih kembali ke kelas karena jam kuliah sebentar lagi dimulai. Membiarkan Zee sementara waktu.
Saat Akio berjalan menuju bangku yang biasa dia tempati, mau tak mau tatapan matanya melihat ke arah Naya yang memang duduk persis di belakangnya. Dia dapat melihat keadaan Naya yang berbeda dari pertama kali mereka bersama.
Bersama yang dimaksud, bersama waktu perkata kali mereka saling membuai. Naya terlihat lebih kurus dengan cekungan mata yang tak dapat disembunyikan. Agrh! Itu bukan urusanmu ...
Akio langsung tanpa menoleh atau melirik Naya lagi. Begitupun Naya, meski dapat melihat Akio dari lirikan, tetapi perempuan itu lebih memilih menyibukkan diri membuka buku yang sebenarnya tidak begitu penting. Karena dia pun tidak dalam konsentrasi penuh.
Hembusan angin membawa harum parfum pemuda di depannya, sesaat membuat tubuh Naya tegang. Dia menggeleng demi menghilangkan pikiran ... anehnya.
Di dalam toilet, Zee sedang sibuk bercermin. Mengamati tetesan air mata yang beberapa menit lalu dia tumpahkan. Dia tidak ingin cengeng. Tidak. Tapi, teguran dari pria yang semalam menyematkan cincin di jari manisnya membuat hatinya berdenyut. Harusnya Kak Io nggak begitu. Bisa kan kasih tahu dengan baik-baik.
__ADS_1
Zee terdiam sejenak merenungi diri. Jangan cengeng, Zee. Itu salahmu juga yang melanggar perjanjian.
Sadar terlalu lama di sana, dia segera membasuh wajah agar terlihat segar, juga menghilangkan bekas air matanya.