
Lee harus mengingat kembali jalan hidupnya yang pelik dari ketika ia masih kecil. Usia yang masih sangat membutuhkan kasih sayang dari orang tua yang lengkap. Sekitar umur empat tahun setengah, mami Lyra meninggalkannya didepan panti asuhan.
Jerit tangisnya yang pilu seolah tidak ada yang mendengar. Malam yang gelap ia lalui dengan terus menangis karna terdampar ditempat yang asing. Takdir memaksanya berpisah dari orang yang paling dia butuhkan yaitu kedua orang tuanya.
Saat itu memang usianya masih sangat dini, tapi pemikirannya dipaksa untuk lebih keras dalam memahami orang-orang sekitar.
Setelah beberapa hari tinggal di panti, Lee menutup diri. Keceriaannya terenggut paksa. Setiap hari menyebut nama sang ibu dan ayah. Berharap kedua orang tuanya menjemput dan mereka bisa berkumpul seperti hari sebelumnya.
Satu kalung berharga yang selalu disimpan. Kalung yang bertuliskan namanya yaitu Frank Lee. Kalung yang menjadi penanda bahwa dia adalah keturunan John Lee.
Lee masih ingat. Satu minggu tinggal di panti, seorang pria muda mencari dirinya. Awalnya ia sangat takut, ia takut bersosialisasi dengan orang-orang yang tidak dikenal.
Seolah tidak pantang menyerah, pria muda itu terus menemui dirinya dan mengajaknya berinteraksi. Semakin lama Lee merasa nyaman, akhirnya dua bulan selama tinggal di panti asuhan ia sering bertemu dan bercengkrama dengan pria muda itu.
Pria muda yang sering menemui Lee adalah tuan Hiro, suami mami Lyra.
Orang yang menentang keras mami Lyra mengadopsi Lee, bahkan tuan Hiro sendiri yang menyuruh mami Lyra untuk membuang Lee ke panti asuhan.
Sebelumnya tuan Hiro sudah mendengar semua cerita tentang keluarga John Lee dari mami Lyra. Termasuk tentang pamannya Lee sendiri yang bernama Jason Lee.
"Saya memang diadopsi oleh Ayah Bagas dan juga Ibu Irwanda, mereka memang merawat dan membesarkan saya. Tapi Ayah Bagas dan Ibu Irwanda adalah orang suruhan almarhum Tuan Hiro." jelas Lee.
"Apa?" mami Lyra kembali terkejut dan langsung menyorot Lee dengan tatapan tidak mengerti.
__ADS_1
"Tolong kamu ceritakan semuanya. Rahasia apa lagi yang kalian sembunyikan dari ku, sampai bertahun-tahun aku tidak mengetahuinya."
"Dan, untuk apa almarhum Papinya Ken melakukan kebaikan dengan sembunyi-sembunyi?" mami Lyra belum bisa menjabarkan semuanya, dia belum paham.
"Saya akan menceritakan dari awal." Lee menjeda kalimatnya.
"Waktu saya di adopsi oleh Ayah Bagas, saya masih tinggal di Jakarta. Waktu itu Tuan Hiro hampir setiap hari mengunjungi saya, dia menyuruh saya untuk menganggapnya sebagai ayah."
"Beberapa tahun saya begitu dekat dengan Tuan Hiro dan pertama kali Tuan Hiro datang mengajak Tuan Muda."
"Tuan Hiro memperkenalkan Tuan muda sebagai teman sekaligus seorang adik. Dari semenjak kecil Tuan Hiro mengajarkan saya untuk melindungi dan menjaga Tuan Muda. Saya pun menganggap Tuan Muda seperti adik saya sendiri."
"Dan untuk alasan kenapa Tuan Hiro tidak mengizinkan Anda untuk mengadopsi saya, itu semua demi jati diri saya yang harus ditutupi."
"Anda pasti sudah paham kenapa jadi diri saya harus ditutupi..." perkataan Lee harus terpotong karna mami Lyra menyela ucapannya.
"Benar. Karna Paman Jason terus mencari keberadaan saya dan akan membunuh saya demi harta warisan." jawab Lee.
Mami Lyra menghirup udara dan mengeluarkannya secara perlahan. Prasangkanya terhadap almarhum suaminya ternyata salah. Ternyata suaminya bukanlah orang jahat dan kejam, tapi berbanding jauh dari prasangka buruknya. Ternyata papi Hiro sangat baik, mau melindungi hingga memperjuangkan Lee sampai Lee dewasa.
Mami Lyra menundukkan pandangan, sekelebat wajah papi Hiro yang tegas dan penuh kehangatan kembali terbayang. Sebaik itu kah almarhum suaminya?
Mau merawat Lee yang bukan siapa-siapanya.
__ADS_1
"Andai aku tahu cerita semuanya, aku pasti akan melakukan kebaikan seperti Papinya Ken. Jika bukan pertemuan kita dimakam tadi, sampai aku menutup mata pun pasti tidak akan tahu tentang rahasia yang kalian sembunyikan rapat-rapat."
"Sampai Papinya Ken pergi jauh, kenapa kamu tidak pernah mengungkapkan jati dirimu? bahkan Jason sudah tidak berdaya karna semua hartanya sudah habis. Dia tidak mungkin bisa menyentuhmu, Ken pasti akan melindungi mu." ucap mami Lyra.
"Anda benar, Jason memang sudah tidak berdaya karna semua harta warisan itu sudah diambil alih oleh Tuan Hiro. Bertahun-tahun Tuan Hiro berusaha menjatuhkan Jason agar dia tidak bisa menghancurkan saya dengan kekuasaannya. Ketika Tuan Hiro sudah berhasil menjatuhkan Jason, tidak lama Tuan Hiro pergi untuk selamanya." Lee menunduk sedih. Mengingat semua kebaikan yang dilakukan papinya Ken.
"Sebelum Tuan Hiro pergi, dia berpesan agar saya menceritakan hal ini pada anda. Tapi sampai sekarang saya belum siap bercerita, hingga tadi anda memergoki saya sedang berada dimakam Om Papi. Dan memaksa saya untuk bercerita."
"Saya sudah nyaman menjadi Samuel Aeron Lee, sebuah nama pemberian dari Tuan Hiro. Bukan Frank Lee yang dikenal sebagai anak haram dan pembawa sial seperti cerita anda beberapa waktu lalu."
"Maafkan Tante, Lee. Maafkan Tante. Jangan sebut dirimu seperti itu. Hanya orang berhati iblis itu yang menganggap mu anak haram. Tante menceritakan apa yang Tante lihat. Tapi Tante tidak menganggap mu seperti itu." mami Lyra tegas mengatakan itu. Isakan tangisnya kembali terdengar.
"Anda tidak bersalah. Saya bisa memahami karna Nyonya memang tidak tahu tentang cerita yang sebenarnya." sepenuhnya Lee tidak pernah menganggap mami Lyra jahat, bahkan Lee menganggap mami Lyra sebagai ibunya sendiri, hingga tekadnya semakin besar untuk melindungi keluarga mami Lyra seperti tuan Hiro yang selalu melindungi dirinya.
"Tapi Ken tidak ingat dengan mu." kata mami Lyra.
"Tuan Muda memang tidak ingat dengan saya, tapi dia pasti ingat dengan si Tupai." Lee tersenyum miring. Banyak sekali kenangan bersama Ken waktu kecil. Ken tidak akan mengingatnya tapi Lee yakin jika Ken akan mengingat tentang si Tupai.
"Aku tidak menyangka ternyata almarhum Papinya Ken sangat baik. Waktu kejadian itu aku sempat marah dan benci karna dia tidak berperasaan menyuruhku untuk membuang mu dipanti asuhan. Tapi... nyatanya dia melakukan itu karna ingin melindungi mu."
"Benar. Om Papi orang paling baik yang pernah saya kenal. Dia mau menganggap saya sebagai putranya. Dari saya kecil tidak pernah membedakan saya dengan Tuan Muda."
"Tapi saya juga sempat kecewa saat Om Papi memindah tugas ayah Bagas ke Bali. Semenjak itu saya dan Tuan Muda tidak pernah bertemu lagi sampai kami tumbuh dewasa." terang Lee.
__ADS_1
"Berati saat Ken tiba-tiba murung dan bersedih, itu pada saat kamu pindah ke Bali?" mami Lyra meminta penjelasan.
Lee mengangguk. "Iya. Saat itu aku dan Tuan Muda terpisah."