
Setelah menenangkan istrinya sampai tertidur, Ken dengan pelan turun dari atas ranjang, ia berjalan menunju ruang kerja.
Didalam sana langsung melihat layar CCTV mengamati kejadian didalam rumahnya juga sekitar halaman belakang, tapi tak ada hal yang mencurigakan.
Ia tak bisa melihat kearah kolam karna disana tak ada jangkauan CCTV dan Ken menyesalkan akan hal itu. Menggigit bibir bawah dengan terdiam sejenak, memikirkan perkataan Kei tadi.
Kini kaki itu berjalan keluar, melihat kearah ranjang sebentar Kei masih terlelap dengan nyaman, dengan pelan ia keluar dari kamar.
"Mi..." Ken sudah berada didalam kamar Mami Lyra.
"Ken, bagaimana Kei?" Mami Lyra langsung menghampiri, tentu saja terlihat khawatir.
Ken tidak langsung menjawab, ia mendudukan tubuhnya diatas sofa. Mami Lyra mengikuti, terlihat antusias ingin mendengar keadaan Kei. Semoga baik-baik saja.
"Kei menyuruhku untuk memecat Ita, apa sebelumnya Mami pernah melihat Ita berbuat kesalahan dengan Kei?" tanya Ken. Ia tak menjawab pernyataan Mami Lyra malah memberinya pertanyaan karna ia sendiri begitu penasaran.
"Mami tidak pernah melihat Ita berbuat aneh, tapi semenjak tadi pagi Kei yang bersikap aneh dengan Ita, terlihat kalau istrimu tidak menyukai Ita kembali bekerja disini." jawab Mami Lyra.
"Aku melihat Kei begitu ketakutan, ia bilang ada yang ingin mencelakai dia dan putraku."
Mami Lyra menutup mulut, ia terkejut mendengarnya. "Siapa Ken? atau jangan-jangan Kei menuduh Ita?" tanya Mami Lyra nampak tak percaya. Sedikit sulit untuk percaya, Ita pembantu yang sudah lama bekerja dirumahnya. Ia menjadi kepala pelayan karna dilihat dari cara kerja yang cukup bagus. Selama bekerja jarang membuat kesalahan, semua dikerjakan dengan cekatan.
Tanpa ia ketahui jika wanita itu pintar mencari muka, dan munafik.
Ken mengangguk, pandangannya lurus kedepan. Tak mengindahkan Mami Lyra yang terus memperhatikan kearahnya.
"Lalu, apa kejadian Kei jatuh kedalam kolam tadi ada hubungannya dengan Ita?" tanya Mami Lyra lagi.
"Entah Mi, Ken tidak bisa melihat, disana tidak terjangkau adanya CCTV. Jika ada yang berani menyakiti istri dan anakku, Ken benar-benar akan memberi hukuman setimpal Mi."
"Eum, Mami setuju Ken. Tapi bagaimana kita mencari tau dan menangkap basah entah siapapun itu orangnya yang ingin mencelakai Kei dan baby Kio." Mami Lyra masih belum seratus persen menyalahkan atau menuduh Ita, bagaimanapun belum ada bukti. Ia tak bisa menghakimi seseorang hanya dengan perkataan, karna itu seperti fitnah. Sebagian orang mengatakan, fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Untuk itu, Mami Lyra tidak berani menetapkan Ita sebagai tersangka.
"Mami tenang saja, biar aku yang memikirkan caranya. Ken minta tolong, Mami juga awasi Kei dan baby Kio saat Ken tidak dirumah. Secepatnya aku harus melakukan sesuatu."
__ADS_1
Mami Lyra mengangguk dengan cepat.
"Dan, untuk beberapa hari ini Mami jangan pergi dulu. Tugas Mami mendampingi Kei dan putraku, jangan sampai lengah." imbuhnya.
"Iya Ken, Mami akan menjaga Kei dan cucu ku. Mudah-mudahan kita bisa mengusut orang jahat itu." kata Mami Lyra dengan geram.
"Tapi keadaan Kei sudah baik-baik saja 'kan?" setelah kejadian tadi Mami Lyra belum melihat menantunya lagi, saat ingin membuka pintu kamar Ken tapi kamar itu terkunci.
"Iya, dia sudah tidur. Rasanya Ken ingin segera menangkap orang itu, dia udah membuat istriku ketakutan Mi, Ken nggak tega liat Kei seperti tadi. Apalagi saat Kei tenggelam kalau Ken telat datang, entah apa yang akan terjadi."
"Iya Ken, Mami juga nggak bisa membayangkan sejauh itu."
"Ken harus kembali kekamar Mi, jika Kei bangun pasti mencari ku." Ken berdiri akan meninggalkan kamar Mami Lyra.
"Iya, saat ini Kei pasti membutuhkanmu."
Ken mengangguk dan segera berjalan menuju kepintu.
Saat membuka pintu ia terkejut Ita sedang berdiri didepan kamar Maminya.
Ken tidak menjawab ia melihat Ita dengan pandangan menelisik, mengabaikan senyum manis tapi sama sekali tak membuatnya menarik atau empati.
Ita sedikit gugup saat Ken melihatnya seperti itu, jantung yang berdebar lebih cepat.
Rasa gugup berasal dari perasaanya untuk tuan Ken.
Tak ingin lama-lama, Ken meninggalkan Ita begitu saja.
'Huh, pandangan tuan Ken padaku udah nggak sehangat dulu. Itu pasti gara-gara wanita sial yang meracuni pikirannya. Tadi siang dia berani mengadukan perbuatan ku pada Nyonya tua sok baik itu. Setelah terjatuh kedalam kolam ia pasti semakin menyebarkan racun. Awas saja kau Kei, akan aku lenyapkan sekalian agar tidak menghalangi jalanku.' wajah Ita terlihat merah padam. Hatinya memendam kekesalan pada Kei, seakan kemarahan itu mendarah daging.
Ia sangat ingin melenyapkan Kei dan menggantikan posisi sebagai Nona muda.
Setelah menutup pintu kamar, Ken bergidik. Melihat Ita yang sok imut tadi membuatnya ilfil.
__ADS_1
Diatas bed, Kei menggeliat. Ken segera menghampiri dan duduk dipinggir ranjang.
"Sayang..." panggil Kei lirih.
"Iya Honey? kau sudah bangun." Ken berpindah disamping Kei, mengusap dahi Kei yang berkeringat. "Kenapa kau berkeringat, bukankah AC-nya menyala?" tanyanya.
"Eum, tidurku tidak begitu nyenyak. Aku kira kau meninggalkanku."
"Aku sudah katakan, aku akan menjagamu. Kau tidak perlu takut lagi."
Baby Kio yang berada didalam box juga menggeliat, tak lama bayi kecil itu menangis.
Ken berdiri dan mendekati putranya. "Eum, jagoan Daddy sudah bangun. Apa tidurmu juga tidak nyenyak? Daddy menjaga kalian, sayang. Tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kalian." Ken membawa baby Kio untuk duduk disamping Kei.
"Sayang, apa kau udah pecat Ita?" tanya Kei.
Ken menghembuskan nafas. Ia menyerahkan baby Kio pada Kei.
Kei menerima dan mulai membuka kancing baju untuk menyusui baby Kio.
"Aku belum memecat Ita. Mami yang akan mengurusnya." jawab Ken.
Kei membuang pandangan, ia sedikit kesal. Jika Ita belum dipecat berarti ia dan putranya masih belum aman.
Ia harus meningkatkan kewaspadaan. Kei bertekad, jika suami atau Mami Lyra tidak segera bertindak, maka ia akan mencari bukti dan akan memberi pelajaran dengan caranya sendiri.
'Maafkan aku Honey, bersabarlah. Aku tidak akan tinggal diam, aku akan pastikan seseorang itu akan mendapat balasan setimpal.' batin Ken melihat kearah Kei yang menunjukan raut kekecewaan.
Ken berjalan menuju kepintu dan menguncinya, setelah itu ia masuk keruang kerja.
Mengambil ponsel dan menghubungi seseorang lewat sambungan telpon.
Terdengar sedang berbincang serius.
__ADS_1
"Aku hanya meminta Ita dipecat tapi kalian tidak memperdulikan permintaanku. Apa kalian lebih mementingkan Ita daripada keselamatanku? bukan hanya aku, tapi harusnya kalian memikirkan keselamatan baby Kio. Aku benar-benar takut dia nekad untuk menyakiti putraku." ucap Kei merasa kecewa dengan suami dan ibu mertuanya.